
Setelah semalam tak tidur, akhirnya Kevin bisa menghilangkan kantuknya dengan tidur cukup lama. Jam 4 sore, bahkan ia belum sempat makan siang, perutnya keroncongan.
Dilihat sang istri ikut tertidur, Dia merangkak diatas sang istri dan bertumpu pada sikut dan lutut. Kening sang istri yang terplaster itu di kecup pelan.
"Maaf, kamu harus melalui ini."
Rambut Lala terasa lembut, pipi Lala hangat, suara nafas sang istri yang teratur menghadirkan kedamaian dalam hati Kevin.
Kevin mundur pelan, menyelinapkan tangan ke dalam juabah mandi Lala, sambil terus mundur sampai perut besar itu di depan mata. Pusar sang istri dimainkan, dia menjilat sambil mrasakan kehangatan perut sang istri di pipi.
"Hey, girl ... apa kalian tengah tidur? sambut papa dong!"
Jubah mandi disingkapkan hingga memperlihatkan perut bulat mulus sang istri. Keindahan itu dinikmati, sesekali dikecup.
"Apa kalian akan menyayangi papa, girl? bagi sedikit cinta untuk papa, ya!" bisik Kevin.
"Bang cilok."
Kevin menengok, sedetik menyeringai seakan menang lotre melihat istrinya tengah mengecap seperti sedang makan.
"Hey lihat wajah mu, Babe."
Diraih hpnya dari nakas, Kevin memvideo sang istri yang terlihat lucu.
Berbaring di samping Lala, Kevin memutar video Lala berkali-kali.
"Jika kamu sampai mengiler, akan saya siram kamu dengan segelas air, Babe, untung kau tak sampai mengiler ...." senyum kecil terukir saat mengulang video sang istri,
Kevin tertawa kecil.
Tak sengaja dia menggeser foto-foto di hp, hingga dia justru keasikan membandingkan semua foto yang berisi Lala dari bulan ke bulan.
Terus bergulir foto-foto lama, sampai dirinya menemukan satu foto Lala yang paling kurus.
"Saya tak menyangka akan menikah denganmu, Babe. Pantas ada sesuatu yang berbeda saat pandangan pertama, seakan kita telah mengenal lama."
"Dahulu, kamu begitu ceria. Sebenarnya apa yang kau inginkan? mengapa tawa lepasmu semakin surut."
Di letakan hp di nakas, Kevin mendekap Lala yang terlentang.
"Uh! minggir!!" seru Lala dengan kesal.
"Kau mengusirku?!!"
"Uh! gajah berat!!" Lala mengigau dan mendorong tangan Kevin dari atas dada.
Kevin memasang raut kesal dirinya di sebut gajah, "saya akan menghukum mu!" gerutu Kevin sambil menarik tangannya kembali, lebih kesal karena tak di peluk Lala. Sang Istri, kini, justru memunggungi sambil memeluk guling.
Kevin meraih guling, "Ini tidak menghangatkan, Babe."
"Aw!" ringisnya, pangkal jempol Kevin di gigit Lala.
'Ya ampun, apa kau kira tanganku daging!'
"Babe! bangun!" seru Kevin menabok pantat sang istri.
Duuutttt.....
Kevin mendelik, dia tak percaya dengan apa yang di dengarnya, dia menggelengkan kepala pelan.
__ADS_1
Hidung Kevin mengerut, saat bau tak sedap menyergap hidungnya.
"Sial!"
Tangannya menutup hidung dan beringsut menjauh.
"Jorok sekali kamu La!"
Di raih hp di nakas, kakinya menapaki karpet bulu yang begitu lembut.
Di sudut ruangan, tangannya menahan tombol dispenser.
Currr
Dia mengisi air putih panas setengah gelas, dan air dingin sepertiganya. Di cicipinya, lalu di tambahkan air panas lagi.
Dia bergeser kesamping menekan tombol mesin kopi dan meletakan cangkir di bawahnya.
Dia meneguk air putih hangat sambil berjalan ke arah balkon.
Dilihat dibawah sana anak buah Richie tengah rame-rame berlatih kungfu.
Panggilan telepon mulai tersambung, Kevin meletakan gelas kosong, " Hallo, ayah mertua. Bagaimana kabarmu? kudengar, ada masalah dengan jantungmu? mengapa kau tak segera melapor."
"Hanya serangan jantung ringan, dimana putriku aku ingin mendengarnya."
"Kau bilang itu ringan? anda bercanda ayah mertua. Ya..sayangnya putrimu tidur, dia bahkan mengigau 'cilok'katanya."
Alen tertawa...
"Serangan jantung ringan yang hanya satu tahun sekali. Apa aku bisa memberimu saran, kau harus membuatkannya cilok. Jika Lala telah mengigau, aku selalu membuatkannya dan dia terlihat senang bukan main saat memakannya."
"Bagaimana saya bisa membuat itu? melihat saja tidak pernah."
"Aku akan mengirimkan resep dan videonya."
"Bagaimana jika chef yang membuatnya?"
"Kevin, dia tak akan suka. Yang dimaksud putriku adalah cilok yang di buat dengan cinta."
"Baiklah, jadi sejauh mana perkembanganya?"
"Baru dua puluh persen, mereka cukup susah di latih."
"Sebaiknya, anda menambahkan hukuman, mereka akan lebih perhatian. Apa anda yakin baik-baik saja, Ayah mertua?"
"Ya, tak usah khawatir, sembunyikan ini dari Lala."
"Baik ayah mertua, jaga dirimu."
...🍀...
"Kau suruh chef indo mu saja!"
Keluh Richie yang tengah membulat-bulat adonan tepung, Richie terusik sebab Kevin hobi sekali menganggu ketenangan hidupnya.
Adonan yang telah di bulatkan Richie, lalu di gilas Kevin.
Tugas Kevin mengisinya dengan sejumput ayam giling yang telah di masak Richie.
__ADS_1
Berkali-kali Kevin mengulanginya, ayam itu terus berbaur jadi satu dengan tepungnya.
"Ini susah, ah" kesal Kevin, karena isian ayamnya buyar lagi.
"Coba kau kurangi isinya, makanan apa sih sesusah ini," keluh Richie yang wajahnya comeng oleh tepung.
"Richie, kamu melupakan daun bawang!"
"Kau campurkan saja langsung dalam gulungan."
Segenggam daun bawang di kulkas di raih Kevin, dia mencucinya di bawah air lalu di berikan ke Richie.
"Potong sendiri, hanya memotong kau tak bisa? kau biasa memotong jari manusia, samakan saja seperti itu," kata Richie.
"Ini tertulis harus kecil-kecil, tolong kamu saja."
Daun bawang telah dipotong, dia menyodorkan pada Kevin. Richie mengamati Kevin yang terlihat serius membuat bulatan.
"Yeas!!! berhasil"
Richie menggelengkan kepala pelan saat Kevin lompat-lompat dengan tangan meninju-ninju udara karena berhasil membuat bulatan berisi gilingan ayam tanpa cacat, 'sesenang itu? cih'
Wadah kosong di sodorkan Richie pada Kevin, "pisahkan itu, pilih yang terbaik saja," kata Richie dia melihat semangkuk lain yang telah gagal nasibnya.
Saus kacang yang di masak mulai menyusut, Richie mencicipinya. "Ahhhhhhhhh... mulutku terbakar. Kevin, yakin ini tidak terlalu pedas? cicip coba."
"Sama, saya tak suka pedas. Sudah itu sesuai resep."
Kepala pelayan di sudut ruangan bingung menatap dua orang itu, tak biasanya mereka kompak, terlebih kompak di dapur.
Kepala pelayan terbiasa melihat Richie yang terkadang suka memasak sendiri, tapi melihat teman sang majikannya sedang masak... itu luar biasa, 'apa dia pertama kali ke dapur? menyalakan kompor saja tak bisa, ya wajar juga... jarang ada Tuan Muda mau ke dapur.'
"Hey, kau cicipi ini."
Kepala pelayan menghampiri kevin, dia mulai mencicipi saus kacang, 'Ini sangat pedas,' dia mengipas-ngipas lidahnya yang terasa terbakar sambil menunduk.
"Apa sudah pas? jangan bohong kau? mengapa kau menjulur seperti anjing," kata Kevin dingin.
"Saya tidak terbiasa pedas, Tuan. Untuk rasanya memang sudah pas, untuk orang asia yang memang suka pedas, sepertinya ini sesuai selera."
"Oke ini cukup. Tolong bawa istriku kemari," kata Kevin.
"Baik, Tuan."
Bulatan-bulatan mulai di cemplungkan Kevin.
"Richie, dimana Johan?"
"Masih kritis, cukup sejauh ini kau ikut campur, lebih dari ini ... kau siap imbasnya."
"Baik-baik, apa yang kau tembak?"
"Paha."
"Saya sangat menyayangkan itu, dua bulan lagi, dia kompetisi basket di kota ini."
"Kau tahu, aku sengaja. Jika dia mengikuti pertandingan itu bukankah Johan akan semakin terekspos keluarga Vira. Aku mencoba menjauhkan kemungkinan terburuk, karena istrimu begitu mempedulikannya, kamu tak cemburu?"
Richie memperhatikan Kevin yang tengah memindahkan cilok ke piring, dia terlihat tersenyum masam tanpa menjawab pertanyaan Richie.
__ADS_1