Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 85 : PIJATAN LUCA


__ADS_3

Di kediaman Kevin.


Saat itu Lala duduk berselonjor di atas sofa. Tangannya mulai pegal memegang buku. Dia melihat sinar matahari, yang kuning keperakan memantul indah ke kolam renang di luar.  


Ranting pohon bergemerisik dan beberapa kali mengetuk pada kaca jendela. Lantunan suara alam itu membuat dia semakin mengantuk sampai mata Lala terpejam tanpa disadarinya.


"Nyonya, apa pijitan saya kurang keras?" tanya Inem sambil memijat pundak kanan sang majikan membuat Lala terbangun.


"Bisa sedikit lebih keras? pegal sekali Inem," kata Lala lalu membalik halaman buku selanjutnya.


Tubuh kiri Lala bersandar pada Sofa. Matanya terasa berat, sedetik terpejam sedetik terbuka. Ia melebarkan matanya dengan susah payah. Dia menggelengkan kepala mengusir kantuknya dan melanjutkan bacaan.


Halaman tiap halaman buku di balik. Pijatan itu berhenti cukup Lama, "Mengapa berhenti Inem? bahu kiriku, please." Lala memiringkan kepala lalu  ... rambutnya disibakkan ke sisi kanan. Ia melanjutkan bacaanya sambil memakan keripik di pangkuannya.


Pijatan di bahu kiri Lala semakin menguat.


"Mengapa tidak dari tadi, Inem. Ini pas, enak.  Uhh bener itu pegel."


Mata Lala sangat berat, dia terpejam sampai menunduk.


"Kak Luca, dimana kau meletakan hpku?" tanya seorang yang baru  datang membuat kepala Lala terdongak.


"Mas Luca?" gumam Lala saat fabio menyebut nama sang ipar.


"Ya?”


Lala menoleh ke asal suara, wajah iparnya ternyata hanya berjarak sejengkal di belakangnya, "Mas Luca kenapa disini!?" tanya Lala, dia melepas tangan ipar dari pundaknya lalu duduk menjauh dari sang ipar.


"Memijat bahu mu."


"Kenapa jadi mas Luca." Lala mencari keberadaan maidnya, “Inem??”


"Saya menyuruh dia pergi," sahut Luca.


Lala menggelengkan kepala dengan mata melebar, "mengapa?"


"Kamu terlihat tidak puas dengan pijatan Inem. Saya-mencoba membantu dan kamu bilang enak."


Mata lala melebar,"Bukan masalah enak atau tidak enak, tapi-" ucapan Lala terpotong.


"Kak Hp ku dimana?" tanya Fabio yang sudah di depan Luca.


Luca beralih memandang Fabio. "Itu," menunjuk ke meja sudut.


"Kak sudah kau daftarkan akunku?" tanya fabio sambil  duduk di sebelah Luca.


"Sudah. Bisakah kau menyingkir dulu dari ruangan ini?" Luca menyingkirkan kepala fabio yang bersandar pada bahu.


"Apa sih, kenapa aku diusir. Enakan juga rame-rame. Benar kan kaka  Ipar?" tanya Fabio pada Lala yang terlihat sedang memperhatikan perbincangan mereka.

__ADS_1


"Ah, iya. Fabio, kamu tidak berniat jalan-jalan mumpung disini? banyak tempat menarik loh," ucap Lala.


"Jalan-jalan? boleh juga, tapi kemana?"


"Jembatan Matematika," kata Lala mengingat beberapa hari lalu Kevin melamar dirinya disana.


"Ide yang bagus, kak ipar. Ayo kita bertiga pergi bersama," ajak Fabio dengan mata berseri-seri.


fabio beralih ke Luca, "Ya, kak? kita jarang ada waktu bersama."


Luca terdiam sesaat, dia menengok kiri, Lala terlihat menangguk. 'Saya pikir dia akan menolak,' batin Luca.


"Boleh, mumpung musim panas, mari kita punting. Cepat kalian siap-siap." Luca melihat fabio yang sudah menghilang. Dia meraih tangan Lala saat gadis itu akan beranjak.


"Apa?"


"Tidak," sahut Luca, mengurungkan niat. Luca menatap gelang kuda bertanduk di tangannya saat Lala sudah pergi.


Mereka tiba di tempat penyewaan perahu di titik keberangkatan Quayside, di seberang  Magdalene College.


Luca memilih perahu yang paling ekslusif, dengan perahu yang lebar, terdapat busa empuk dan meja di tengahnya, sehingga Lala diharapkan duduk dengan nyaman.


Setelah fabio naik perahu, Luca memegangi tangan Lala. Wanita yang menggunakan mantel warna gading dan sepatu putih itu bertumpu dengan bantuan Luca.


Luca membantunya naik atas perahu dengan hati-hati, perahu itu sedikit bergoyang.


*Punt adalah perahu beralas datar dengan busur berpotongan persegi. Dirancang untuk digunakan di sungai kecil atau perairan dangkal.


Punting adalah kegiatan berperahu dalam punt. Pendayung, biasanya mendorong punt, dengan cara mendorong ke dasar sungai, dengan sebuah tiang yang normalnya memiliki panjang lima meter dengan berat sekitar lima kg.*


Fabio dan Lala duduk terpisah oleh meja, dan Luca memilih duduk di sebelah Lala.


Sementara dua perahu lain berisi  para pengawal mengikuti di depan dan belakang, termasuk Siska yang paling bertanggung jawab dengan keselamatan Lala.


Mereka mulai menyusuri sungai datar menggunakan perahu.


“Kita akan melewati jantung Cambridge dan banyak gedung perguruan tinggi tua yang menarik,” Kata Fabio.


“Kau masih mengingat saat Mama membawa kita kemari, Fabio?”tanya Luca.


“Iya kak, aku ingat saat itu keluarga kita utuh, bersama kakek dan nenek. Itu hari luar biasa, kenangan paling indah bersama mereka.”


“Kau saat itu cengeng, hanya mau diam karena gendongan Kakek, kita harus kunjungi makam mereka mumpung disini,” sahut Luca.


“Apa mereka asli sini, mas Luca?”


Luca tertawa kecil.


“Iya papa kami lahir disini. Kebetulan kakek membangun hotel di Bali. Mama Sheril ketemu papa saat mama  study tour di Bali.” 

__ADS_1


“Katanya, mama terpisah dari rombongan dan mama menangis lalu papa menolongnya di antar kembali ke hotel, ternyata itu hotel milik Kakek,” timpal fabio.


“Papa minta nomor telepon rumah mama, karena saat itu ponsel masih jarang, lalu papa ke tempat mama di jawa. Disana papa jadi bulan-bulanan orang tua mama, mereka sangat ketat pada putrinya dan papa pulang dengan kecewa karena tak boleh menemui mama,” timpal Luca.


“Papa pantang menyerah. Dia merengek minta kuliah di tempat yang sama dengan mama Sheril. Padahal papa dimarahin kakek, karena yang diinginkan kakek, papa kuliah disini. Akhirnya S1 papa di indo. Lulus kuliah mereka menikah dan pindah kesini memboyong mama,” timpal fabio sambil tersenyum.


“Lalu saat saya usia 6 tahun, dan Kevin saat itu baru berusia satu tahun, kami kembali ke Indo,” sahut Luca.


Luca dan Fabio berpandangan, mereka tertawa kecil, dan  Lala ikut tersenyum.


Mereka terdiam cukup lama, fabio duduk di depan, Luca dan Lala di tengah. Sementara pendorong perahu di deck belakang melakukan tugasnya.


Tanpa sengaja Lala menyentuh tangan Luca, dan Luca menahan telapak tangan Lala.


Luca sedikit canggung, namun tangannya menahan kuat tangan Lala, “Sebentar saja,” lirih Luca.


Lala melihat ke kiri, dia tak tahu apa yang harus di lakukannya, Lala tahu Siska adalah mata setia Kevin yang siap melaporkan apa saja tentangnya.


“Kamu tahu Winnie the Pooh karya A.A Milne?” tangan Luca semakin menggenggam erat, matanya mulai memgembun, Luca mengangkat dagu ke atas menegapkan duduk.


“Kartun kan? Saat kecil ayah sering menyetel untukku.”


“Yah benar, dan salinan aslinya ada di perpustakaan yang sekarang kamu lihat, disitu juga ada harta benda Newton, tongkat jalan, bahkan seikat rambutnya.”


“Benarkah,  apa nama perpustakaan ini mas?”


“The Wren Library. Terdapat manuskrip berharga yang hanya boleh dibaca di tempat. Hp harus dimatikan, dilarang mengambil foto.  Disana juga terdapat artefak langka juga sains, satra orang terkenal lainnya. Apa Kevin belum membawamu kesitu?”


Lala menggelengkan kepala, kenapa mas Luca terlalu dekat dengannya, sampai nafas mas Luca terasa hangat di kepalanya.


“Perpustakaan Wren, pepustakaan Trinity College, dirancang Christoper Wren di tahun 1676 dan selesai 1695,” Luca tertawa kecil, “itu jauh sebelum negara kita merdeka.”


"Mereka sudah maju lebih dulu," timpal Lala.


“Ini perpustakaan pertama yang di bangun dengan jendela besar untuk memberikan tingkat cahaya yang nyaman untuk membantu pembaca. Jadi kau wajib kesitu lain kali,” kata Luca lalu melepas genggaman dan  mengacak-ngacak rambut Lala.


“Mas Luca!”


Luca tertawa lepas seraya membuka jus soda menuangkannya di gelas Lala, dia membuka kotak piza dan kotak branch.


“Fabio kemari, ini kesukaanmu,” panggil Luca, fabiopun berbalik pindakh duduk berhadapan dengan Lala.


Bersambung ...


_______________________________


Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍


__ADS_1


__ADS_2