Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 39 : MISTERI


__ADS_3

Kevin duduk di kursi Tahtanya di sebuah markas yang tempatnya sangat rahasia dan sama sekali tidak diketahui Musuh. Walaupun usianya baru 18 menjelang 19 tahun, namun Kevin bukan orang biasa, pikirannya jauh lebih luas.


Tanpa sepengetahuan ayahnya Kevin sudah melalang buana memiliki anak buah yang tak terhitung.


"Billy..."


" Ya Tuan," Billy berdiri di depan Kevin di Markas Rahasia. Kini Billy baru menghadap Tuannya setelah, penjaga bayangan yang diutus Kevin menyelamatkannya.


Jangan di tanya penyiksaan apa yang telah dialami Billy di markas musuh, dari setruman listrik, di tenggelamkan kepalanya di air sampai kehabisan nafas dan lebih banyak yang lebih kejam yang tidak bisa di gambarkan disini.


"Kamu berjanji akan sehidup sematikan," tegas Kevin.


"Ya, Tuan, saya berjanji akan mengabdikan seluruh hidup saya untuk Anda. Saya telah bungkam dan tidak ada yang bocor, Tuan. Bahkan nyawa saya lebih baik lenyap dari pada saya berhianat."


Kevin memandang 'tangan kanan' itu. Wajah Billy penuh dengan bekas goresan benda tajam, Ia tampak mengerikan. Gigi seri Billy bagian bawah sudah tercabut dua semenjak pulang dari sandera... Jari telunjuk kanannya separuh telah dipotong, namun sudah mulai mengering.


"Buka setelan Luarmu."


Billy menuruti. Kemeja dan celana kainnya pun di lepas. Kevin melihat seluruh tubuh Billy penuh dengan bekas kekerasan yang baru beberapa minggu mengering bahkan ada yang baru mengering. Bahkan di punggungnya terlihat bekas cetakan besar lepuhan besi panas yang sudah mulai mengering.


"Cukup" ucap Kevin.


Billy mengenakan pakaiannya kembali.


" Team mu sudah menyerang? bagaimana hasilnya?" tanya Kevin dingin.


Kevin bukannya tidak berempati dengan seberapa besarnya kesakitan yang telah dilewati Billy. Tapi dia punya rencana tersendiri atas dedikasinya Billy. Dia tidak bisa lembek apapun situasinya agar Billy selalu siap menghadapi kerasnya terpaan dunia bawah yang aturannya cuma dihitung dengan nyawa.


"Mereka sudah menyerangnya di udara dan musuh jatuh, Tuan. Tapi mereka belum menemukan mayat Hamar dan Algio. Namun mereka masih terus mengejarnya kedua orang itu."


"Segera temukan. Singkirkan dengan bersih."


"Baik Tuan"


"Kau sudah menemukan siapa yang menyandramu?"


"Belum Tuan, mereka penuh misteri."


"Papa sudah menganggapmu hilang. Jangan pernah muncul di depannya atau siapapun. Ganti identitasmu, rubah wajahmu, awasi semua gerak-gerik musuh dan terus laporkan."


"Baik Tuan."


"Apa semua aman?"


"Masih aman Tuan, permintaan perburuan kian meningkat. Ada satu penghianat, tapi itu di tingkat Omicron dan sudah di pastikan dia tidak mengetahui anggota lain. Dia sudah dibereskan berikut keluarga, kecuali anak perempuannya berumur enam tahun, kami pastikan mengirim anak itu ke luar negri."


"Bagus. Apa ada yang mau kamu laporkan lagi?"


"Tuan, selama 6 bulan sebenarnya si Ten terus mengawasi ... kami benar-benar tidak saling menemui dan menghubungi satu sama lain. Tuan Besar selalu mengawasiku seperti dugaan Anda. Ada laporan-laporan yang harus Anda lihat sendiri soal Nona Lala." kata Billy.

__ADS_1


Kevin melihat laporan-laporan Billy. Semua terdiri dari tiga blangko foto . Seblangko foto Lala dengan Johan. Seblangko foto Lala bersama Luca. Seblangko foto Bella bersama musuh.


Foto Johan memeluk Lala di pantai, Foto Lala terjatuh dan Luca di atas Lala.


Billy memberikan lagi amplop khusus, Kevin membukanya: itu foto Johan di kos Lala, foto Johan membuang sesuatu di sampah. Bahkan orangnya bisa mencari ketempat sampah, barang apa yang di buang Johan. Tisu merah? foto tisu merah??


" Apa ini Bill !!"


"Itu tisu bekas yang dibuang Johan sudah kami periksa, terdapat sper*a dan sel telur pada tisu bernoda tersebut, Tuan. Johan juga memesan pil pencegah kehamilan.


"Apa !!"


"Nona dalam keadaan kondisi tidur, itu dapat diperiksa dari cctv ini Tuan" Billy menyalakan bukti rekaman cctv.


Kevin menahan kemarahannya di depan Billy.


...**...


"Hamar, bertahanlah!" teriak Algio.


Algio mencari tempat paling tinggi, Ia mencari titik untuk mengirim sinyal titik keberadaan mereka ke Markas. Alat canggih pengirim sinyal terbaru justru rusak, Algio harus memainkan otak untuk mengaturnya, namun Ia harus ke daerah tinggi.


Pesawat mereka di tembak jatuh, beruntung Hamar, Algio dan beberapa anak buahnya selamat. Namun beberapa anggota lain masih dalam kejaran musuh karena untuk mengalihkan perhatian mereka agar Hamar dan Algio lebih save.


Kini mereka di Hutan Belantara, titik terjauh dari kediaman penduduk. Sudah seminggu mereka lari dari kejaran musuh dan bersembunyi. Namun Hamar kondisinya semakin memburuk. Dia sudah mengobati dengan tanaman obat untuk sementara, tapi Luka Hamar cukup parah.


"Ayah... boleh aku menikahi putrimu? aku mencintainya dengan tulus huk! huk! huk!"


"Jika kau bisa bertahan, permohonanmu terkabul! Berjanji bertahanlah!!!" Algio memandang Hamar yang matanya terlihat mulai tak sadar.


"Sebesar apapun kesalahannya, apa ayah akan berjanji tetap memaafkan dan menerimaku?"


" Apapun! asal kau juga berjanji ... bertahanlah! Aku pasti memegang janjiku! "ucap Algio.


" Hamar!!!!!" Algio menggendong Hamar menyusuri hutan.


...***...


"Bagaimana kerjaan kalian! mengurus ini saja tak becus!" geram Lewis pada anak buahnya.


"Team Bee masih menyelusuri hutan luas itu, Tuan. Mereka belum menemukan tanda-tanda keberadaan Tuan Algio dan Tuan Hamar. Kami mendapati banyak musuh, tentu kami habisi semua musuh yang kami temui. Namun kami belum menemukan salah satu anggota Bee. Pesawatpun kosong, tidak ada satu mayatpun disana Tuan. Kemungkinan anggota Bee selamat. termasuk Tuan Hamar, pasti Tuan Algio menjaganya."


...****...


"Hei, Bocah apa ada perkembangan?" tanya Anton di meja makan setelah anak dan bapak selesai makan siang di sebuah restoran ternama.


"Sulit, papah"


"Kamu bodoh sekali sih, apa susahnya si? apa perlu Papa yang akan melamarkan untukmu ?Ayo"

__ADS_1


" Tunggu, papah. Sabar, iya. Luca akan segera melamarnya. Kasih waktu lagi."


" Waktu! waktu! ini hampir 6 bulan Luca! jika sampai bulan depan kamu masih belum ada hasilnya. Papah sendiri yang akan melamarkannya untukmu !" geram Anton menghembuskan nafasnya menahan jantungnya tetap terkontrol.


" Iya papah, Ah lihat kan, jangan marah-marah..." ucap Luca seraya menghampiri papahnya dan mengelus-ngelus punggung papahnya.


...*****...


Tiara bolak- balik, hatinya gelisah. Ia selalu kepikiran dengan Johan.


" Mah ... duduklah, aku pusing melihatmu mondar-mandir ratusan kali, apa mamah nggak capek? Papa yang melihatnya saja capek." ucap Hans


" Papah gimana sih ! anakmu belum ada kabar! kenapa teleponya tidak aktif! Kenapa Alen juga nggak aktif ! Ayo susul ke pulau mana sih ! begitu saja papah sembunyiin! Aku ini ibunya pah! insting ibu gak pernah salah !!" bentak Tiara, orang yang sejatinya lembut sampai marah-marah.


Hans memegangi kepalanya, sebisanya Ia menyembunyikan apa yang Ia bisa. Mana mertuanya juga tidak pulang ke rumah. Ia harus menghadapi bertubi-tubi pertanyaan istrinya.


Ya, Tuhan ... dimana putraku. Selamatkan dia. Tukarlah dengan nyawaku bila itu bisa menyamatkan nyawanya. Batin Hans.


...******...


"Kapan kamu mau menjalankan misimu Daniel?"


"Secepatnya, ini baru awal," jawab Daniel


"Jangan terlalu lama, kau harus segera mendapatkan gadis itu." ucap pria membuka koper berisi pecahan 1000 dollar us.


"Beres hanya menghitung minggu," seringai Daniel.


Ini jauh lebih menarik dari dugaanku.Bathin Daniel


bersambung ...


____________________________________


Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini.


HAYO KOMENTARNYA🥲


Authornya bingung ada yang baca cerita sampai bab ini apa enggak ...🤭


🎞 Mau kemana kita? 📽


Simak di BAB selanjutnya🔍


Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘


Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.


Sekali lagi terimakasih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2