
Kotak kecil branch itu berisi lengkap, tidak terlalu ringan ataupun tidak terlalu berat.
Ada biskuit, daging asap, macaron, pastry, cup cake, pudding, potongan keju lokal dan selai blueberry dalam botol kecil yang kira-kira berisi empat sendok makan.
Juga ada anggur hijau, anggur hitam, buah zaitun. Potongan buah plum, lemon, dan timun. Semua rasa ada pada kotak itu manis, asam, kecut, segar sangat lengkap.
Lala langsung menelan salivanya saat semua itu terhidang di meja perahu.
Luca menyodorkan macaron rasa strawberry ke mulut Lala.
Lala yang sedang mengupas kulit anggur, melahap apa yang di berikan Luca.
Lala memejamkan mata, texturenya lembut dan manis, ia sampai mau menangis karena nikmatnya.
"Enak?" tanya Luca yang tersenyum saat bisa melihat Lala yang tak terbebani karena keberadaanya.
"Enak," jawabnya, mata Lala bersinar. Luca menangkap keindahan mata itu lagi.
Mengapa takdir tak adil padanya? Bibir itu sangat sensual di tambah senyumannya. Luca kembali teringat saat pernikahan Lala, saat itu dia melihat Kevin dan Lala berciuman di atas panggung. Saat itu kakinya entah kenapa refleks akan maju ke panggung, namun Om Alen menahannya.
Dan saat itu om Alen berbisik, ‘Lepaskan dia, biarkan dia bahagia.’
Kalimat itu terus berputar dikepalanya. Namun sekuat apapun menahan, dirinya hanya manusia biasa. Hingga tadi pagi saat sarapan, tangannya sudah tak tahan dan memaksa genggaman pada tangan Lala.
Sampai Saat dirinya kembali dari dari kamar papa Anton, melihat Lala yang mengeluh dengan pijat Inem. Saat itu Lala semi tertidur, lalu menyuruh inem berlalu. Tadinya hanya ingin menjahili Lala, tapi wanita itu justru menyibakan rambutnya, membuat dia menelan salivanya. Tanpa sandar tangannya mulai memijit bahu Lala yang hangat. Matanya mengembun apalagi saat wanita itu tertidur sampai tertunduk. Apa tidak bisa walau hanya jadi tukang pijatnya setiap hari?
Luca tersadar dari lamunannya saat melihat Lala saat aroma wangi Lala tercium di hidungnya.
Luca mendorong buah zaitun ke mulut Lala, "Coba ini."
Fabio asik dengan Pizzanya, sesekali melihat dua orang itu, seperti ada yang janggal, pikirnya
"Lihat kita melewati Trinity College," kata mas Luca.
"Mas Luca dulu kuliah dimana? apa gedung itu?" tanya Lala menunjuk Trinity College.
"Tidak, aku kuliah di tempat yang sama dengan Kevin. Kau bisa mulai kursus bahasa dan ikuti pendidikan Level A selama dua tahun, setelah meraih syarat itu kamu bebas pilih kuliah dimana saja, saya tahu kamu memiliki kecerdasan dan keuletan, jadi jangan patah semangatmu, La. Apalagi kamu telah menjadi warga sini," kata Luca.
Lala yang mendengar itu mengembun, Ia mengelap matanya, apa mas Luca bisa membaca pikirannya?
"Bisa-bisa kita sejurusan kak," kata Fabio lalu tertawa ...
"Bisa jadi." Lala tersenyum, dia bagai memiliki keluarga baru, yang mempedulikannya.
"Kita sampai di jembatan Clare kak, jembatan tertua di sungai Cam, dan satu-satunya jembatan perang pra-sipil yang masih ada. Banyak jembatan lain di robohkan oleh pasukan Cromwell. Jembatan ini diperkuat kembali dengan batu, pada saat itu jembatan yang paling baru yang dibangun diatas sungai Cam."
"Kamu tau banyak, Fabio," kata Lala.
"Karena kakek tersayang selalu mengulang cerita yang sama."
Luca dan Fabio tertawa, dua orang itu bersulang bir. Lala menggelengkan kepala, apa Kevin juga bisa tertawa bersama mereka?
"fotoin aku, kak ipar," kata fabio sudah duduk di ujung perahu. Lala mulai memfoto Fabio dengan hpnya.
Lala memakan puding manis saat melewati Kapel kings college yang megah.
__ADS_1
"Ini jembatan ikonik, kings college bridge," kata Luca.
"Menakjubkan! aku suka Cambridge!" kata Lala.
"Kapel terkenal, menjadi simbol Cambridge. Lihat rumput luas itu terawat cantik, dari sini berlalu lalang perahu, siapa saja bisa mengaguminya sungai Cam dan perguruan tinggi," kata Luca.
"Jembatan indah yang menghubungkan ke taman-taman indah di belakang universitas Cambridge. Kita harus kuliah disini, kak Ipar!!"
Lala mengangguk tersenyum sambil mengelus kandungannya yang tengah menendang kuat, Lala berdoa dalam hati. Semoga Tuhan mendengarnya. 'Doakan mamah ya," batin Lala pada si kembar.
Tak lama mereka sampai di jembatan Matematika.
"Mas Luca, minta ke punternya untuk memotret kita. Aku mau background jembatan matematika."
Luca mengangguk.
Foto jepretan pertama, Luca meletakan tangan di pundak Lala. Jepretan ke dua Luca mencubit pipi Lala. Jepretan ke tiga Luca meletakan tangan di kepala Lala seperti sungu.
"Mas Luca, serius dong!" bentak Lala.
"Kak Luc kurang kerjaan," sungut Fabio.
"Baiklah, kali ini serius."
"Three, two, one."
Ceklek!
Cup! Luca mencium pipi Lala.
"Maaf, jangan marah dong," Luca membujuk Lala berkali-kali.
"Please," Luca meminta pada punter agar memotretnya sekali lagi.
"Saya benaran Lala, lihatlah dia menunggu kita."
Lala menoleh ke arah punter, Lala berusaha tersenyum tulus di tengah kedongkolannya. Dan Fabio yang di belakang, mendekat memeluk Luca dan Lala. Dan merekapun foto bersama.
Luca meraih hp Lala itu dan masih semi berdiri mengirimkan foto pada hpnya.
Lala melihat ke arah Luca, dia tahu apa yang dilakukan Luca, mau melarangnya namun ... tak enak hati.
Sesaat Lala termenung memandangi cincinnya. Beberapa hari sebelum pernikahan entah untuk yang ke berapa kalinya Kevin melamar lagi, saat itu di atas perahu di sungai Cam ini, sangat romantis. Bibir Lala tersenyum lebar.
"Cantik," kata Luca saat melihat rambut hitam Lala tersibak angin dan semakin berkilau karena pantulan matahari. Dari sisi kanan daya tariknya semakin memukau, bibir Lala begitu tersungging manis. Luca tak bisa mengontrol detak jantung dan nafasnya sedikit memburu.
"Apanya yang cantik?" tanya fabio yang mendengarkan celetukan sang kakak. Fabio yang menghadap ke depan, jadi menoleh ke belakang.
"Bangunan kuno itu dan angsa-angsanya , cantik kan?!" jawab Luca, matanya melebar menunjuk bangunan-bangunan tua di sekitarnya.
"Oh Aku kira ka Luca memuji kak Ipar. Ingat kak Luc, Kevin bisa menghajarmu jika kau seperti itu..."
"kau serius berbicara seperti itu pada kakakmu ini?"
Fabio tertawa.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda, kenapa marah?"
"Sudah-sudah, bertengkar kok dijadiin hobi,” ucap Lala saat mengambil croissant aple dan membelahnya jadi dua lalu memberikan ke Luca, Lala tersenyum pada Luca.
Jantung Luca berdebar-debar dia menerima sobekan croissant itu, Lala masih mengingat kesukaanya.
Luca mengalihkan pandangannya ke dataran hijau di sebelah kirinya dan tersenyum penuh arti. Fabio melihat sikap kakaknya itu, dia mulai menarik kesimpulan sendiri.
Fabio jadi teringat dulu Papa dan Luca sering menyebut nama Lala, apa itu cinta segitiga? Pikirnya. Fabio menggelengkan kepala dan mengusir pikiran buruk.
"Bagaimana pendapat kak ipar tentang kota ini?" tanya fabio pada Lala sambil menuangkan bir di gelasnya, bila dilihat-lihat kakak iparnya memang cantik. Apalagi mata biru langit itu, bisa menghipnotis siapapun yang melihatnya. Apa mereka dulu merebutkan Kak ipar karena pesona ini?
"Senang, banyak bangunan kuno, kotanya hijau sejauh mata memandang. Menurutku ini kota terbaik ..." jawab Lala sambil tersenyum.
"Kaka sering jalan-jalan?" Fabio mencomot buah zaitun di dekat jari Lala.
"Hanya hari libur, Kevin selalu membawaku ke tempat yang berbeda. Walau jadi terbatas karena tak lepas dari para pengawal," sahut Lala, sesekali melihat para pengawal yang berada di perahu terpisah.
Fabio mencodongkan badan ke meja, memelankan suaranya, "Kakak terganggu dengan mereka? apa mau, aku mengusirnya? aku juga punya trik jitu untuk kabur dari mereka."
Lala membulatkan mata pada fabio yang perhatian pada keluhannya.
"Buang pikiran nakalmu, Fabio. Kamu bisa membahayakan keselamatan kakak iparmu," sahut Luca dengan nada naik satu oktaf.
"Kenapa? apa penjahat menguntit kak Lala?" Fabio menatap Luca.
Lala tertawa kecil.
"Tidak," kata Lala. "Iya," kata Luca.
Mereka menjawab bersamaan.
"Hmmm?" Fabio menatap dua orang di depannya. "Oh Ada ya," sahut fabio menarik kesimpulan.
Di tepi sungai Kevin keluar dari mobil hitam itu, langkahnya terhenti saat melihat Luca sedang mengangkat Lala dari perahu.
“Sayang,” Lala sedikit berlari menghampiri Kevin, “Sudah lama disini?”
Lelaki itu terdiam memegang wajah sang istri dengan hati bergemuruh, memeriksanya dengan teliti, seperti menjaga barang antik yang langka.
Pengantin baru itu saling pandang. Kevin mencium kening Lala dua kali, lalu mendekapnya dengan mata terpejam. “Saya baru sampai, apa kamu senang dengan puntingnya?!”
“Ya, senang, lain kali kita harus punting lagi suamiku,” ucap Lala penuh semangat, tangannya mengusap punggung Kevin.
Fabio melirik Luca, hanya ingin memastikan. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, kenapa Kak Luca cemburu?
Fabio menarik tangan Luca ke mobil, tak mau bila dua kakaknya itu saling pandang menghunus.
Bersambung ...
_______________________________
Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍
__ADS_1