Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 216 : KANCING PENYADAP


__ADS_3

-POV Lala-


Richie mengecup kedua kelopak mataku … Aku menyentuh rahangnya yang keras dengan dua ujung tanganku, jari-jariku menggelitiknya, ada perasaan sedih yang tidak jelas dari dalam, ini sangat menyiksa, bahkan untuk mimpi ini terlalu indah.


“Saya datang, jangan pernah menyentuh alkohol lagi, itu tidak sesuai denganmu, sayang.” Richie berkata dengan penuh kelembutan, sementara saya dapat merasakan sesuatu di bawah sana mengeras kembali menekan di antara paha, wajah saya menghangat, oh mimpi sedetail itu, pipa panas itu berkedut menyentuh paha polosku menjadi ngilu menyengat, percikan kesenangan melipur menutup kerinduan di hati saya.    


“Aku takkan menyentuhnya anggur lagi, namun jika alkohol mampu membuat mimpiku menjadi indah seperti ini,” aku mengulurkan tangan ke  bawah pinggulnya,dan menerobos meraih dengan jari-jariku yang gemetar pada pipa kenyal, kulitnya sangat halus seperti beludur dan lama-lama dagingnya membesar, “maka, aku rela meminumnya asal aku bisa melihat wajahmu, Richie.”


Netra Richie sangat lembut, dia mengecup sekali bibirku, mengulas senyum menatapku setajam pecahan botol, dan kembali tatapan meredup, ujung lidah pinknya menjilat ke seluruh permukaan bibir saya.


Panasnya membangkitkan apa yang sudah lama tenggelam dalam jiwa saya.


“Saya sudah bilang, ini bukan mimpi, sayang. Lihat dirimu sangat mabuk, apa kau juga tidak bisa membedakan ini,” tegasnya sambil menekan pipa panas hingga tenggelam dalam cengkraman jemariku.


Panasnya jari-jari panjang Richie bergerilya ke pinggang dan punggung belakangku, sangat menggelitik … saya membusungkan dada menjadi demam, pita tak terlihat membuat simpul aneh menjadi pusaran gelombang aneh dibagian perut bawah saya, nafasnya saya terengah-engah seperti habis mendaki seribu anak tangga.


“Kau tak mungkin di kamar ini, kamu bayangan semu yang menari-nari indah menjadi fantasi mimpiku.” Nafas saya tercekat saat Richie menyelinap masuk ke dada kanan saya. Menggelitik, arus listrik menusuk tulang punggung saya, merinding, menyebar ke tengkuk, telinga dan menjalar ke wajahku semakin memanas. Tampaknya bulatan itu menjadi keras, saat ujung jari telunjuk dan jari manis Richie menyentuh dan menjepit perlahan.

__ADS_1


“Lihat wajahmu terbakar sayang, sudahi ini, atau saya- emmm!” Richie menahan melenguh saat saya menekan pinggul dan mengarahkan milik Richi, bahkan ujung jemariku sepertinya tidak saling menyentuh saat jari-jari saya melingkari diameter ujungnya,  oh itu tidak akan masuk ke dalamku.


“Hentikan, sayang, kau akan menyesal.”


“Richie, meski kau hanya bayangan, seharusnya kau tutup mulutmu! Ikuti aku! Aku yang mengendalikan mimpi!!” aku menekan kuat ujungnya dan justru membesar. Aku menelan benjolan takjub sekaligus ngeri. "Sebesar ini. Oh! tidak apa, bahkan tidak akan menyakitkan jika ini mimpi!”


“Kau terlalu mabuk! Aku bukan pecundang yang meniduri wanita tanpa ijinnya, sekalipun kau memintanya dalam mabuk! hentikan Emh!” Richie menarik tangan dari dada saya dan pinggulnya menjauh, dan tentu saja saya mengait kedua tangan saya pada pangkal pahanya, tak mengijinkan dia kabur, atau hari sudah pagi dan mimpi akan segera berakhir. Tidak akan ku ijinkan! aku harus membebaskan panasku!


“Ku mohon, bahkan jika itu nyata kau harus memberikannya,” rengek ku dalam isak, bahkan mimpi juga tak mau kompromi denganku. “Aku benci, aku kehilangan kendali atas hal-hal yang terjadi dalam hidupku. Bahkan sebuah mimpi masih saja tak mau menurut untuk setidaknya menghiburku,” saya histeris sambil telapak tangan menampari dada panas di atas saya, saya merasa di ruang oven, badanku sangat terbakar, “dan aku ingin membebaskannya!!”


Tangan kanan saya menelusup ke bawah mengoles ujung pipa panas yang telah basah pada paha saya. “Bahkan kau menginginkannya, mimpiku...” serak ku dan lelaki itu itu hanya memandangiku, aku benci tatapan kasihan itu, aku benci di kasihani! menjengkelkan.


Oh bahkan raja mimpi sangat lembut, saya meraih leher Richie menarik dan saya mengangkat kepala, “aku tak kan pernah marah bahkan jika itu mimpi apalagi bila ini nyata, dan aku sangat menginginkanmu, Richie Estarchus,” saya memperhatikan bagaimana matanya melebar tiba-tiba ...


“Sayang, kau mengingatnya? Kau ingat aku?!!” bulir air mata Richie jatuh membasahi wajah saya yang terbakar, menjadi semakin lembab, “siapa kau, memanggilku ... dengan apa?” Dia terus memelototiku tanpa berkedip, matanya berbinar-binar, seakan aku adalah berlian langka yang bisa hilang dalam sekejap mata bila dia berkedip.


Saya mengecup bibir mint panas itu, aku suka liurnya, dan menggigitnya lidahnya dengan keras, tidak mempedulikan bahkan jika mimpi mempermasalahkan bagaiman cara aku memanggilnya.

__ADS_1


Richie menjauhkan wajahku, nafas kami sangat panas dan aku terengah-engah, saya maju ke bibirnya, dia sebaliknya, justru menjauhkan. “sayang, panggil aku,” suaranya serak saat pinggulku terus memeluntir ke pipanya.


“Eros... eros, moy paren,” suaraku serak nyaris tak keluar dipenuhi nafas memburu, saya mengulas senyum, mencaplok bibir bawah eros dengan bibirku yang bergetar menahan , merintih, mimpi sangat menyiksaku!


Seketika eros menjulurkan lidah memasukiku  ke dalam bersatu dalam kompor, semakin panas, kami menggorengnya, aroma keringat kami bercampur … dingin oleh basahnya, menggelitik oleh aroma, semakin membuat saya ketagihan, mana tetes air matanya, mana keringatnya yang jatuh dari wajah eros bahkan aku tak bisa membedakannya.  


“Berikan eros, aku tak peduli kau nyata atau bayangan semu, atau mimpi. Aku menunggumu, aku mencintaimu, selama ini ... membuatku gila,” isakku dengan manja, seperti tikus yang sedang mencicit.


“Tapi, saya menginginkanmu saat kau diliputi kesadaran, Rissa.”


“Berikan mas,” suaraku tercekik, tenggorokan ku panas mencengkram laringku, aku sangat haus, haus akan kasih sayangmu Richie! Walau setidaknya ini dalam mimpi. Dia mengecup keningku perlahan dan seluruh wajahku, aku menjambak rambutnya, “berikan!!!”


Dia menghela nafas dalam dan tatapannya sangat buas, tapi aku suka! “Seperti yang anda mau, nyonya Richie,” Richie mengangkat pinggul menjauh melirik ke bawah, “bantu aku sayang, ini pertama kalinya bagi saya … ini saya-” Richie tampak sangat tampan .... oh bintang hollywood kalah! karismatik membuatku jatuh cinta.


Saya menunduk mengulas senyum harus merelakan mata teralihkan dari bahu lebarnya, saya memperhatikan bawah ... pemandangan indah.


Saya menuntun tangan richie, pipa itu sangat panas, badanku terbakar oleh panas tubuh richie yang basah oleh keringat. Saya menelan air liurku yang sangat mengental, tiba-tiba mimpi ini sangat mengerikan.

__ADS_1


Ujung itu menyentuh, saya tersedot ke dalamnya, tapi ini susah, sekalipun  saya telah basah. Richie melepas tangannya ia merintih, tampaknya bukan aku saja yang meringis dan perih.


“Kau baik-baik saja?” Richie mendongak sesaat saat aku mencengkram kepalanya.


__ADS_2