Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 238 : JEBAKAN


__ADS_3

Di kamarnya, Lala mere..mas kedua tangan sambil berjalan mondar-mandir di lantai bawah dekat pintu.


Setelah Richie mengembalikannya ke kamar atas, karena layar cctv yang menunjukan kakek Jin di tandu dengan buih di mulutnya yang membuat wajah Richie menjadi sangat khawatir, dan seperti terpukul.


Siapa kakek Jin, kenapa dia? Apa Ars melukainya? lalu bagaimana Kevin? mengapa ayah penuh luka?


Lala menggigit jari teringat kembali, tubuh ayah yang tertelungkup.


**


Ars dan Daniel keluar dari pemeriksaan, sementara di badannya aman tanpa ada racun, dan kakak-beradik membuang semua pakaian dan langsung mandi.


"Ada penyusup," Daniel menghela nafas kesal. Dia memutar bola mata, masih tidak percaya, betapa anak buahnya sering kecolongan. Daniel melangkah cepat menuju kamar Ars diikuti Ars dan Nico dibelakangnya.


"Anak-anak sedang di kerahkan untuk memeriksa seluruh kamar dan identitas para tamu," Nico menimpali.


"Ulah siapa? ini akan memancing kemarahan pengikut Jin." Ars bergegas melewati Daniel, "Bawa Lala ke ruangan ku, Nic." Ars menyibak rambutnya basahnya setelah keramas. "Awasi kamar perawatan Jin, dan mana helikopternya?! dia harus segera diterbangkan ke Jerman!"


"Sepuluh menit lagi," Nic melewati Daniel yang tampak melamun.


Memisahkan diri, Daniel ke kamar Bella, wanita itu baru saja mandi dan masih mengenakan handuk.


"Halo Daniel," Bella langsung mengunci kamar begitu Daniel masuk dan duduk di tempat tidur.


"Apa yang kamu lakukan?" Daniel bertanya dengan mata menatap lantai.


"Aku berendam, sampai ketiduran ya ampun, kau lihat, jariku mengeriput saking lamanya berendam, bahkan air hangat sampai menjadi dingin." Bella duduk di samping Daniel.


" Apa kamu," Bella mendorong jemarinya ke paha Daniel. "Mau menghangatkan tangan ku, kasian sekali lihat jariku mengeriput." Jemari mendekat makin ke atas.


Daniel menangkap tangan Bella, mengangkat dan membuangnya. Pikirannya melayang jauh dari informasi paman Jin. "Berpakaian, seluruh kamar akan diperiksa."


"Pemeriksaan?" tanya Bella pura-pura polos, "untuk?" berdiri menuju lemari di depan Daniel, Bella menjatuhkan handuknya menampakan tubuh polos di depan Daniel dan menekuk kaki kanan.


"Pemeriksaan rutin," Daniel membungkuk memijat kening, matanya terpejam, tangannya sedikit gemetar.


Papa, bukan aku pelakunya, aku dan Sergey tidak akan pernah melukai sahabat papa.(Daniel)


"Kamu akan menemui Kevin, besok." Daniel masih terpejam sampai tangan Bella menyentuh dan membelah rambut Daniel, dan Daniel mencekal tangan Bella tanpa membuka mata. "Kevin belum menandatangi nya berkasnya. Sebuah goresan di tanganmu tampaknya sangat apik untuknya?"


Daniel membuka mata saat yakin Bella telah berpakaian. Daniel meraih pisau dari dalam saku. "Perlu anti nyeri dulu?"


Bella menggelengkan kepala, "Di sini," menunjuk lengan kanan. "Satu ciuman?"


"Aku gay, kamu harus menjadi laki-laki dulu, kamu tahu itu," sebuah pisau lipat dibuka dengan sebuah tombol, ujung mengkilat terkena cahaya lampu.


"Dinner? sampanye? kau harus membayar itu, sialan!" Bella meringis, pegal, aroma besi menguar di ruangan itu. Menggigit keras giginya.


"Seperti yang kau mau, sebelum itu, P3k?" Daniel menjepitkan pisau diantara jari tengah dan telunjuk. Dari arah pangkal pisau di tarik ke depan ke ujung, hingga cairan kental merah tua berpindah di jemarinya.


Pisau tertutup kembali, tetesan merah kental menetes di lantai putih. Daniel mengoleskan noda merah itu di dagu pipi Bella yang masih lembab, "Ini akan cantik, dan cocok denganmu."


Bella mengelap darah dengan mencincing terusan putih berumba. Beberapa menit kemudian gedoran kasar pintu mengganggu pendengaran.


Daniel keluar memutar kunci.


"Pukul delapan, Daniel."


"Ya, tentu." Menarik pintu, mendapati anak buahnya yang langsung menunduk. "Obati dia," Daniel dengan dingin memerintah, dan sang anak buah akan mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


**


Makan Malam, Lala bersama Damir menyuapi anak itu. Selesai Damir makan, seorang pelayan membawa pergi Damir.


"Tuan Ars? Anda ..." Lala meremas tangannya. "Anda bilang tidak akan melukai-" Lala melebarkan mata hampir keceplosan, Ars bisa curigai jika dia tahu ayah terluka.


"Selesai makan mu dan besok, kau bertemu ayahmu," Ars berkata sangat dingin dengan mata terus tertuju pada potongan Tenderloin yang tengahnya masih pink, harusnya sangat enak.


Pikirannya kalut, rencananya akan kacau, dan menjadi dilema. Sementara dia tidak memiliki waktu untuk berpikir, siapa dalang dibalik ini semua. Tidak ada penyusup terdeteksi. Seorang pembuat teh di cctv bekerja seperti biasa, dan pelayan itu tengah di selidiki.


"Hei, kau kenal kakaknya Bella?" tanya Ars datar melirik Lala.


"Kenapa? jika aku tahu apa anda mau membebaskan ayah dan Kevin."


"Ck!" Ars berdecak, keberanian wanita itu makin meningkat, berani-beraninya membuat penawaran. "Kamu tidak ingat posisi mu. Jangan kau kira aku akan membiarkanmu hidup-hidup," kesal Ars, lalu mengelap mulutnya dengan serbet putih.


"Saya sudah lelah dengan ancaman, Tuan Ars."


Mengerutkan alis, Ars bertanya-tanya dengan dirinya ada apa gerangan dengan suara lesu itu, tidak cocok untuknya.


"Abang Bella, dia pernah datang ke kos dan bercerita banyak," Lala datar mencoba mengingat, ini membingungkan bagi Lala. Seandainya Ars bekerjasama dengan Bella, untuk apa lelaki itu menanyakan Bella.


Menggoyangkan pinggul, Ars mengangkat pantat meninggalkan restoran, tentu saja Lala mengekor, itu yang membuat dia sedikit melunak karena wanita ini penurut, tanpa perlu perintah dua kali.


Sebuah teater didepannya sedang dimainkan, Ars benar-benar buntu pikirannya.


Lala duduk di sebelah Ars selisih satu bangku, dia mematung pikirannya melayang jauh. Mengingat semua pertemuan dengan Bella, soal bunga, soal cerita ibu Bella, dan sedikit igauan tidur Bella. Cerita abang Bella entah itu benar atau tidak, bila diingat dulu si abang menyebut sebuah tempat saat dirinya membutuhkan bantuan pada abang, bahkan dirinya lupa dengan nama abang Bela. Bagus atau Agus.


Namun yang Lala ingat, si abang bilang, api abadi di jawa timur, dia tidak terlalu ingat lokasi wisata. Atau itu kawah ijen?


Dan mengapa si abang itu menyebut kakaknya Johan. Dan lalu mana yang harus di ceritakan pada Ars.


"Tuan Ars, bolehkah saya bertemu ayah sekarang? saya sangat mencemaskan nya. Ayah memiliki sakit jantung, saya yakin Anda tidak sekejam itu," lirih Lala di belakang Ars.


"Tidurlah." Ars dingin tanpa menoleh melewati kamar Lala. Saat Ars memasuki kamar, Lala masih mengekor di belakangnya.


"Kau tersesat, kau mau ku goreng?" Ars berjalan ke kamar mandi dan keluar menggunakan jubah tanpa tali.


"Budeg?" Ars tanpa menoleh pada Lala yang duduk di sofa. Wanita itu terus diam di sana, beraninya tidak menjawab.


Ars mematikan semua lampu dan sangat gelap, kini mengacuhkan semua pertanyaan Lala. Wanita itu seperti burung yang sedang berkicau dalam kegelapan.


Ars menjatuhkan diri ke kasur menutupi dirinya rapat dengan selimut.


Badan Ars gemetar hebat, mengingat saat Paman Jin yang jatuh tersungkur seketika, setelah minum teh. Paman itu seperti mencekik memegang leher, pupil mengecil, dan muntah kejang-kejang.


Saat itu dirinya menyadari betul ada yang salah, dan Daniel memanggil medis. Walau di sini menyediakan penangkal atroponin dan athene, tapi tetap paman Jin harus segera dilarikan ke Jerman, kritis, sangat kecil kemungkinan untuk selamat. Jika luar biasa terselamatkan kemungkinan kecil untuk pulih. Dan semua anak klan di bawah naungan Paman Jin telah menyiapkan diri, mereka seperti menabuh genderang perang. Mereka akan mengira Veeper bertanggung jawab akan kejadian ini.


Sialan, Ini jebakan.


"Tuan Ars! sadarlah!!!"


Lala menepuk-nepuk Ars yang terus berteriak 'api-api, panas-panas'


Tadi, Lala menunggu lama dalam gelapnya kamar dan saat baru keluar dadi kamar Ars mendengar teriakan Ars. Lala kembali memasuki kamar dan menyalakan lampu.


Ada yang tidak beres dengan Ars, Lala mengambil gelas


Curr...

__ADS_1


menuangkan air dari botol.


Saat Lala memberikan gelas berisi air bening, Ars membanting tangan Lala sampai gelas terbanting ke karpet dan gelas bergulung sampai menabrak dinding.


"Kamu mau meracuniku?"


Lala mengerutkan kening begitu dalam, Ars terlihat dalam kebingungan, "Tuan Ars apa anda masih tidur?"


"Keluar!"


Lala menangkap Ars dengan wajah seperti ketakutan, mungkin benar lelaki itu masih tidur.


"Sadarlah, Tuan Ars. Apa terjadi sesuatu pada Anda?" Lala baru menyadari Ars tidak mengigau, lelaki itu menggaruk-garuk kepalanya dan menjambak.


"Jangan seperti ini dong, tidak boleh melukai diri," Lala ke tepi kiri tempat tidur, melepas jari-jari Ars dari cengkraman yang menarik rambut gondrong, "Ini bisa rontok." Lala menahan tangan Ars, tak berhasil.


"Aku panggilkan Tyoma ya!? tapi aku tidak tahu kamarnya si. Katakan dimana saya bisa menemukan asisten anda atau pelayan?!" Lala melompat ke atas tempat tidur, Ars memukul-mukul kepala seperti orang gila. Lala menahan tangan Ars matanya memutari ruangan, "Mana interkom, harus telepon siapa!"


"Aku akan panggil bantuan di luar!" teriak Lala saat Ars memukuli leher.


"Ars!" pekik Lala saat Ars memeluknya, air mata Ars jatuh membasahi gaunnya bahkan rambut Ars mungkin basah.


"Tyoma..." rintih Ars menggigil.


Lala tertegun, awalnya dia akan melepas bahu berat Ars, akhirnya dia membiarkan Ars. Lelaki itu merintih, Lala teringat saat hari itu, ketika dirinya di usir Daniel karena serangan panik Ars kambuh.


Pria ini selalu mengira Daniel meninggalkannya dalam artian 'mati'. Begitu dalam mungkin trauma yang dialami Ars saat masa kecilnya, dan dia tidak tahu obat mana yang saat itu diberikan Daniel.


"Biar ku padamkan Lampunya, anda boleh memeluk saya lagi." Lala teringat saat itu Nic mematikan semua lampu. Kata Nic, lampu terang sangat menyiksa Ars karena memicu kobaran Api dalam ingatan Ars.


Namun, Ars tak bergeming.


"Hei Tuan, aku panggilkan Tuan Tyoma, ya?"


Lala mengusap bahu kanan Ars. Lelaki itu terus merintih.


Pintu berderit, "Ars," Daniel langsung berlari menekan tombol di sudut membuat Lala baru tahu ada tombol di sana.


Lelaki itu meraih laci di bawah lukisan menuangkan beberapa tablet. Membawa botol minuman yang tadi dibuka Lala dan Daniel menyisakan satu lampu nyala kuning redup.


Duduk di tepian. "Ars, kemari," Daniel kembali sedikit berdiri di samping Ars menarik kepala Ars ke belakang, memisahkan dari kepala Lala, Ars terlalu kencang memeluk bahu Lala sampai Daniel kesulitan.


"Come on, Ars, jangan seperti ini." Dengan paksa Daniel meraih kepala Ars. "Minum," Daniel memaksa memasukan obat ke mulut Ars, tapi Ars meludah.


"Mau meracuni?" Ars menggeram membuat Lala bergidik ngeri karena Ars menusuk punggungnya dengan kuku.


"Tuan Ars, kami di sini, tidak ada yang menyakiti mu, tanganmu menyakitiku," ringis Lala.


Suara gaduh orang berlarian baru masuk. Sangat disayangkan Lala, Dokter itu, Daniel dan Nic sampai menjagal Ars untuk sebuah suntikan, meskipun pada akhirnya dirinya selamat, kini Ars tertidur.


Tanpa berkata apa-apa, Lala keluar dari kamar Ars melewati ruang keluarga.


"Hei, kau tidur di kamar itu, jangan keluar dari sini." Daniel dengan suara dingin menunjuk sebuah kamar di sebelah kamar Ars. Mungkin ruangan ini terdapat lebih dari lima kamar.


Lala berbalik, "saya akan kembali ke kamar ku."


"Jika kau kembali ke kamar, aku bersumpah akan menelanjangi mu," kesal Daniel lalu meninggalkan Lala.


Menatap kepergian Daniel, bagi Lala hari ini semua orang sedang gila.

__ADS_1


__ADS_2