Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 11 : MALAM KELAM LALA


__ADS_3

PERINGATAN PEMICU !


Bab berikut berisi adegan-adegan yang mungkin menurut sebagian pembaca mengganggu dan tidak cocok untuk anak dibawah umur, termasuk adegan kekerasan. Mohon kebijaksanaan pembaca.


_____________________________________


Lala menghentikan langkahnya, tapi Kevin tetap menariknya.


"Kevin keranjang jualanku!" teriak Lala menengok ke belakang.


"Pengawal saja." Kevin terus menariknya.


Setelah lima jam cuma dua kata itu yang keluar dari mulutnya?


Kevin membuka pintu mobil mewah putihnya, sedikit mendorong Lala dan menutupnya. Lelaki itu lalu menjalankan mobilnya.


"Saya sudah bilang tadi pagi agar kau siapkan dirimu malam ini, kenapa setelah di rumah kau malah keluar lagi, langsung jualan!? CK!" decak Kevin menggelengkan kepala.


"Apa yang salah dengan dagang? aku bisa menabung. Kamu juga tahu, satu tahun ini aku jualan bahkan sebelum kita bertemu sebagai Vino dan Lisa, aku sudah jualan."


"Kenapa Vino selama tiga bulan tidak pernah datang lagi ke danau? setelah muncul malah jadi Kevin." Lala menghadapi kegundahannya setelah tahu Vino adalah orang yang kejam.


'Vino yang dulu selalu ramah hilang ditelan bumi. Bahkan tega menjual ku ke pasar lelang. Apakah diriku barang dan sebegitu rendahkah aku di matamu?


Sejak kapan kamu tahu aku adalah Lisa? di ruang meeting? di rumah? atau di sini? kau tetap akan menjerumuskan ku!? apa kamu manusia? bahkan hewan memiliki rasa kasihan!' Batin Lala bercampur aduk, sakit sebab orang yang kejam terhadapnya adalah Vino. Kecewa karena Vino tetap akan menjerumuskannya.


"Aku sungguh minta maaf padamu, aku salah ... aku sadar telah melakukan kesalahan besar di ruang rapat itu. Saat itu aku juga sangat marah, seorang caster memberitahu ku, kalau pemilik Agency XX di ruang rapat itu, dan kebetulan Kamu menggunakan warna pakaian yang sama. Aku memahami bila kamu sangat marah."


Dingin dan kelam tergurat jelas di wajah Kevin. Namun pria itu tak menjawab bahkan sama sekali tidak menghiraukan gadis yang larut dalam isaknya.


"Bila terjadi sesuatu denganku. Tolong jaga Ayahku. Setidaknya jangan melukai Ayahku. Aku minta tolong kepadamu Vino. Seperti kamu yang berharap pada teman kecilmu. Aku pun berharap pada Ayahku, berharap Ayahku terus hidup dengan aman."


Sepanjang perjalanan lelaki itu hanya diam memasang raut kelamnya. Jam enam sore mereka sampai di rumah besar Kevin.


"Persiapkan dia," titah Kevin dengan sorot mata kebencian ke pelayan. Lelaki kejam itu meninggalkan Lala begitu saja.


________Satu jam Kemudian______


TOK!


TOK!


Matanya yang sudah terasa berat itu menoleh ke arah pintu putih. "Masuk"


Pintu terbuka, pelayan mendorong kasar


Lala melewati pintu membuatnya nyaris jatuh. Satu kode tangan Kevin, membuat pelayan undur diri dan menutup pintu.


Berdiri dan beranjak dari sofa empuknya, dingin AC tidak mampu mendinginkan tubuhnya yang kepanasan.


Berjalan ke depan terasa ringan, bumi terlihat sedikit bergoyang, pandangan sedikit kabur.


'Kau, Lisa, berani membuat ulah. Padahal kau beberapa kali menemani hari-hari tergelap dalam hidup saya, kau hanya penjual air mineral di danau Permata.'


Tangan kanan bersandar ke tembok. Tangan kiri memegang pinggang Lala dan menggesernya ke kiri. Di putarnya kunci, membuat pintu kamar terkunci. Tangan kirinya kembali ke pinggang Lala.


Bahu Lala yang kini bersentuhan dengan tangan kanan Kevin. Dihimpitnya tubuh Lala ke tembok. Hingga seluruh badannya kini menempel pada tubuh Lala.


"Kamu mengharapkan Vino? saya memang Vino yang Lisa kenal, kenapa? kaget? tidak menyangka?" sinis Kevin menatap Lala yang menatapnya dengan kebencian.


"Mereka sudah memakaikan padamu?"Tangan kirinya beralih dari pinggang ke tengah dada Lala. Ia menarik kasar resleting gaun, terlihat belahan besar dada yang menyembul tersembunyi di bawah linggeri merah.


"Kamu masih pe*awan? mengapa kau tak menggoda Johan? kau berharap -saya Kevin- yang kasar atau saya-Vino yang bermain lembut untuk mengambil kepe*awanan mu?"


"JANGAN MIMPI !" Kevin dengan sorot mata membunuh, mencekik leher gadis itu membuat gadis itu semakin lemas, baru Kevin melepasnya.


"Hah!" Lala terengah-engah mengambil nafas dalam, Ia terbatuk wajahnya terasa kaku, lehernya kembali terasa saki.

__ADS_1


Kevin berjalan ke sofa. Di sana terlihat Kevin sudah menghabiskan dua botol minumannya dan satu botol lagi tinggal setengahnya, Ia terlihat sangat mabuk."Kemari!"


"Malam ini, terakhir kita bertemu?" sindir Kevin lalu tertawa. Lelaki itu memegang mulut Lala akan menuangkan wine langsung dari botolnya, namun di tepis gadis itu dengan rontaanya.


"Ayolah Lisa, Lala, kau tak mau membuat kenangan terakhir mu?'' Dibanting gadis itu ke pojok sofa, membuat Lala meringis karena kepalanya terbentur kayu sofa. Kevin mengunci tubuh Lala dengan setengah duduk di atas pahanya.


"Harus saya pakai cara ini?" ditenggaknya sisa wine, dipegangi mulut gadis itu dengan keras lalu Ia mendorong wine di mulutnya ke mulut Lala, tak mengijinkan gadis itu bernafas hingga wine itu tertelan Lala. Ia menatap gadis yang menangis itu, gadis yang tak berani menolak karena ayahnya ada dalam genggaman. Ia tak beranjak dari bibir itu, Ia terus memainkan bibir manis itu.


'Ciuman pertama saya!


diberikan ke gadis sialan ini! kamu pasti akan mati oleh penjahat Se*s kan?


kamu sadar nyawamu akan berakhir malam ini! kalo tau mau mati untuk apa masih jual gorengan? idiot!' rutuk Kevin dalam geloranya.


Kedua tangannya memegangi kepala gadis itu, diciuminya bibir itu dengan penuh hasrat. Ciuman yang tidak ada balasan dari sang gadis, Kevin mengelus leher jenjang Lala yang selalu menarik perhatiannya.


Rasa panas mulai menggelora, kevin mulai kehilangan pikirannya. Ia turun menciumi leher yang di kaguminya, mencoba menghisap danmemberi tanda pada leher putih nan mulus.


TOK!


TOK!


"Tuan mereka sudah datang." Terdengar panggilan dari luar.


Kevin menghentikan aktifitasnya.


"Apa kau tak memberiku salam perpisahan?" Kevin mengusap pipi basah Lala, mengelap ujung mata nya yang terus mengeluarkan tangisannya.


"Jadi anak baik ya, saya akan menjaga Ayahmu, Vino ini yang akan menjaganya," bisik Kevin menatap Lala dengan senyum kemenangan.


"Pergilah! Penjahat Se*s menunggu mu!" Kevin beralih dari atas Lala dengan isyarat tangan mengusir Lala.


Lelaki itu duduk menyandarkan kepalanya yang sudah pening ke sofa, menatap ke atas langit kamar, "Samantha..."


Lala berjalan gemetar ketakutan menutupi resleting dadanya, menuju pintu.


Biadap Kevin !


Di pintu empat orang berbadan besar berkemeja hitam berdiri di sana, mereka memberikan Lala jalan.


______x______X______x_____


"Mereka membawanya ke Markas distrik B Tuan," tukas ahli pelacak yang sibuk di depan laptop.


"Turunkan semua anggota mu Twenty! aku sudah membayar mahal kalau tidak ku tuntut bosmu," tegas Johan


"Siap, Tuan Hamar," jawab Twenty, si ketua team memberikan baju anti peluru kepada pelanggannya.


Johan dan team menaiki helikopter menuju distrik B. Lima belas menit kemudian mendarat. Lalu pindah ke mobil menyusuri pinggiran hutan dengan jurang di kanan-kirinya.


Markas ini luas, di kelilingi oleh hutan belantara. Beberapa bekas tentara bayaran yang biasa beroperasi di Negara konflik juga diterjunkan Hamar. Diantaranya ada Petro, orang kepercayaan Algio.


Beberapa titik sudah dilumpuhkan dengan gas Klorin tapi gedung markas ini sangat luas dan banyak ruangan, beberapa anggota Hamar juga sudah terlibat perkelahian. Johan mulai menyusup bersama Petro.


Pasukan yang di kirim Lewis dibagi ke dalam Lima regu :


-A(pengalihan)


-B(penyerangan)


-C(pencarian)


-D(eksekusi)


-E(penyelamatan)


Masing-masing regu terdapat 20 anggota utama, mereka sangat terlatih dengan jam terbang yang sudah tinggi, sangat jarang ada yang berhasil melawan pasukan Lewis yang telah lama malang melintang di dunia gelap.

__ADS_1


Mereka berpencar, menyusup, menyerang diam-diam di setiap sisi gedung, mencari tumpukan jarum di lumbung jerami, ada ribuan kamar di gedung itu dan semua dijaga oleh penjaga terlatih si Maniak s*x.


____


Seseorang berbadan tinggi bertato di leher, memasuki kamar, menutup dan mengunci pintunya.


Menatap tajam Lala yang sesenggukan gemetaran.


Setiap Langkah laki-laki itu semakin menyiratkan kebengisannya, berjalan membawa ca*buk emas dengan kaki kanan yang terseret.


Ca*buk itu terlihat bergerigi kecil tajam-tajam di seluruh anak cambuknya, hanya pegangannya saja yang tanpa duri.


Lala semakin gemetar melihat Ca*buk berdiameter enam cm yang di letakan di sebelahnya.


"Mari kita bermain," ucap garang pria itu, Ia mengambil borgol emas dari sakunya, memborgol kedua tangan lala ke belakang.


"Ruang ini kedap suara, kita habiskan sampai pagi, kau bisa berteriak gadis manis," pria berkemeja itu berjalan sambil menggulung lengannya memperlihatkan tato tengkorak ular dengan beberapa bekas luka.


Sesampainya di meja, pria itu mengambil wi*e meminumnya langsung seraya menatap Lala dengan tak sabar.


Menghampiri Lala, mengguyurkan wi*e ke kepala Lala membasahi sebagian tubuh, baju dan pinggiran kasur yang di dudukinya, tangan dengan bekas luka di tangan itu menjagal mulut Lala memaksa Lala meminumnya sampai sepertiga botol, dan mengguyurkan sisanya di Leher baju Lala.


Sampai orang itu mendapati sesuatu di leher Lala yang memancing kemarahannya.


Prang!


Di banting botol tebal itu sampai hancur.


"Apa ini? kau sedang bermain-main denganku?"Jempol penjahat itu menggesek-gesek leher Lala, tak suka.


Diambilnya pecahan botol yang paling runcing, di hadapkan di wajah Lala, Lala semakin gemetar, beberapa rambut Lala di potong tak beraturan dengan potongan botol itu di depan mata Lala.


Lima menit kemudian ...


"Sakii iii iitt ! hik hik ..." raung Lala.


"Aku suka bau dar*h" murka penjahat dengan tawa yang menggema.


Berkali-kali cam*ukan mengenai tangan, punggung, dan kaki nya, sampai Ia terhuyung jatuh ke kasur.


Penjahat tinggi besar itu mulai melepas kancing kemeja memperlihat badannya yang penuh dengan tato mengerikan, penjahat berambut ikal keriting itu berbaring di sisi Lala dengan jarak setengah meter, matanya yang besar menatap gadis itu dari samping.


"Kita belum mulai, jangan menangis, menangislah saat k*imaksnya." lontar pria berkulit gelap itu sambil tertawa keras.


Pria dengan tatapan bengis itu menautkan kedua jarinya, ada dar*h Lala di sana. Lelaki gila itu menghirup lama sampai matanya sempat terpejam menikmati sensasi dar*h di jemarinya.


bersambung ...


___________________________________


Hai Pembaca yang Budiman terimakasih sudah membacanya.


Semoga kalian selalu dalam keadaan sehat dan bahagia.


Kira-kira apa yang akan terjadi pada Lala?


Berhasilkah Johan menemukan Lala?


Dimana Kevin sekarang?


Baca kelanjutan ceritanya ya! akan semakin seru menemani waktu mu.


Sampai jumpa di Bab berikutnya.


Jangan lupa tinggalin jejak ya!


Like, comment, kritik dan saran.

__ADS_1


Bahkan Author suka dimarahin, jadi semakin semangat😘


Caiao...


__ADS_2