
Sudah setengah jam, sejak Lala bangun ketika Richie belum mau melepas tangan dari pinggangnya. Menatap Vino yang mulai bangun, Lala menumpuk tangannya di atas tangan Richie yang di perutnya.
Semuanya terasa seperti mimpi bagi Lala, sauvenir pernikahan telah beres, dan gaun pengantin telah enam puluh persen hampir rampung. Hari berganti hari semakin membuat hatinya ketar-ketir, berharap akan berjalan lancar dan Richie juga intens memeriksa kesehatan tiap minggu untuk seluruh anggota, memastikan semua kondisi anggota keluarga tetap fit sampai hari H.
Dalam perasaan nyaman, Richie mengeratkan tangannya dan menarik pinggang Lala untuk makin menempel ke -besi panas yang sudah pada kekuatan maksimal-
Tanpa mau bersuara Richie terus menghirup wangi shampo rambut Lala. Matanya melirik saat Vino duduk dan mulai menghambur ke wajah Lala dan mengecupnya.
Aku ingin seperti ini memelukmu, selamanya, Lala. (Richie)
"Sayang, saya harus kembali ke Moskow setelah mengunjungi Bella."
"Haruskah aku ikut?" Lala merasakan perasaan demam di perut bawah, suatu keinginan pada dirinya, karena ulah sang kekasihnya yang menggodanya dengan besi panas, sungguh ini sangat menyiksanya.
"Bila, kamu tidak keberatan ikutlah, dan aku akan mengajak Alen selama beberapa hari, untuk mengunjungi pusaran Daddy dan Mommy, dan setelahnya aku harus melakukan obrolan panjang dengan Paman Jin. Banyak sekali yang harus ku lakukan sebelum pernikahan." Richie menelusup diantara jubah tidur Lala, dan mengelus kulit perut merasakan kehangatan dan kelembutan kulit beludru.
"Ingin membantu mu, Eros." Lala menggelitiki telapak kaki Vino yang sempat ditekuk karena kegelian tapi anak itu menyodorkan kakinya lagi untuk seperti merasakan kembali sensasi aneh yang Vino rasakan dengan tawa mungilnya.
"Sayang, kamu tidak boleh kelelahan. Dan, Ars juga mau bertemu denganmu."
"Aku akan menjaga diri, Eros. Ngomong-ngomong Ars, apa sudah kembali bisa jalan?" Lala menahan nafasnya saat tangan Richie mulai naik ke atas di balik jubahnya dan nafas lelaki itu yang mulai meningkat.
"Hum, sepertinya. Hari ini keluar dari rumah sakit dan sepertinya kita akan bertemu di Moskow dengannya, saat bertemu paman Jin." Richie merasakan dada sang kekasih mengeras di antar telunjuk dan jari tengahnya, dia yakin sang pujaan hati juga menginginkannya.
Dokter menyebalkan, kenapa melarang kami (Richie)
"Paman Jin apa dia yang selalu dulu bersama mu, Eros?" Lala menarik tangan Richie, kemudian duduk menatap kelopak mata Richie yang masih terpejam, pipi itu sangat merah.
"Kamu baru menyadarinya? Ya, dia bahkan menggendong mu, tapi mungkin ingatanmu saat kecil sangat terbatas." Richie langsung duduk, menatap Lala sejenak dengan mengamati setiap fitur wajahnya yang mengingatkan saat Lala masih kecil membuat hatinya menghangat.
__ADS_1
"Pantas, dari cara dia memandangku seperti mengenalku."
"Kau wanita tercantik, sayang." Richie mendekat dan mengecup bibir Lala.
"Kamu pria tertampan, Eros, dan aku tidak sabar menggigit mu."
Richie tertawa sebelum pada akhir mengecup bibir itu dalam-dalam dengan gemas sampai Lala jatuh terlentang di kasur, sampai leher dan telinga itu tak luput dan Vino tampaknya ikut menimbrung dengan pipi sang mamah.
"Los ... los," celoteh Vino membuat Lala tertegun dan langsung menahan mulut Richie dengan tangannya.
"Vino memanggilmu, mas." Lala tertawa kecil dan membawa Vino ke dadanya. "Elos ... Ha..ha.. ha..."
"Bagus, jadi dia seperti mamahnya. Pagi, ini Vino akan mandi bersama ku!"
Lala dan Richie tertawa saat Vino terus memanggil "Elos"
**
"Anak mamah masih marah ya." Lala menyodorkan jus Alpukat yang baru dibuatnya ke samping, dan mengelus pinggang Amber.
"Ibu .... mengapa ibu tidak pernah membuka hati untuk ayah, apakah cinta ayah tidak cukup untuk ibu." Amber dengan suara rendah.
"Amber, ibu mencintai ayah Jo. Hanya saja, Ayah Jo adalah sahabat ibu. Sudah, ibu sudah mencoba untuk membuka hati ibu untuknya tapi, itu tidak berhasil. Jika ibu memaksa hidup dengan ayah Jo, bukankah ibu akan menyakitinya karena kebohongan. Ayah Jo sahabat terbaik ibu dari dulu dan selamanya. Kamu bisa mengerti ini, kan?"
Amber mengangguk perlahan, "Apa ibu akan bahagia dengan paman Richie?"
"Untuk setidaknya saat ini, ibu sangat berharap begitu sayang, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan. Ibu bahagia dengan sepenuhnya dengan Richie saat kamu juga merelakan ibu bersamanya, karena kamu sama pentingnya bagi ibu ... " Lala membawa kepala Amber ke bahunya dan memeluk Amber sambil mengelus rambut dan punggungnya.
"Amber minta maaf, ibu .... Amber juga mau ibu bahagia." Tangannya menahan punggung ibu. "Amber menyetujui pernikahan ibu. Amber sayang ibu."
__ADS_1
Sesuatu meledak di dalam hati Lala oleh kebahagiaan. Mata Lala berbinar. "Benarkah itu? oh putri ibu! terimakasih Amber, ibu sangat menyayangi Amber, terimakasih, Nak. Ibu tahu pasti Amber akan berbesar hati menerima ini." Embun bening lolos dari mata Lala saat mencium kening Amber, sorot mata Amber yang sekarang tampak legowo, meski Lala merasakan dan tahu ada sedikit kesedihan dalam hati Amber.
...**...
Tiga hari kemudian, Lala dan Richie tiba di rumah sakit Charité, Berlin. Saat kepulangan Lala dua minggu lalu, dokter belum mengijinkan untuk menjenguk Bella karena kondisinya yang kritis.
Lala berada di ruang ICU bersama Edric, ini terhitung enam minggu Bella belum juga siuman. Bahu Edric terguncang saat kepalanya memeluk tangan kanan sang ibu, dan Lala sedikit menekan jari-jarinya ke bahu kanan Edric untuk memberi kekuatan, sementara pipinya sendiri basah oleh air mata dari rasa pilu yang menyelimuti hatinya.
"Mami, dengar, Edric ada di sini .... Mami bangun, Edric kangen Mami, bangun dong, sudah tidak sayang Edric lagi kah?"
TES
TES
TES
Air mata Lala terus jatuh. Ketika beberapa sesaat kemudian, Sarah-Ibu Bella masuk ke ruangan, dan tampak bahu itu bergetar dan langsung menghambur ke bahu Bella dan tampak tangisan itu pecah walau ibu itu berusaha menahannya dan Edric dalam kebingungan, sepertinya Edric belum pernah melihat neneknya.
Setelah minta bantuan Richie seminggu lalu, akhirnya Richie berhasil membawa ibu Sarah kemari, walau sebelumnya ibu itu selalu menolak.
Tidak tahan lagi, dengan gejolak rasa pilu yang menikam relung hatinya, Lala melangkah keluar ... dan bertabrakan dengan sorang pria.
Lelaki itu mendorong bahu wanita yang menabraknya."Lala?"
"Siapa?" Lala mengelap pipinya yang basah, dan melirik empat penjaga berbadan besar yang menjaga pintu ICU untuk melindungi Bella, karena kata Richie, Kevin bisa melukai Bella sewaktu-waktu.
"Aris Bagus Kencana, kakaknya Bella."
Lala mengerutkan dahi, menarik handle dan menutup pintu ICU. "Oh mas Aris, sudah lama ya, ah Anda mau langsung masuk?" suara Lala masih terisak, dan mengamati orang itu setelah terakhir kali bertemu saat di kos jaman kuliah saat masih ngekos bersama Bella.
__ADS_1
"Biar, ibu saja dulu, mungkin beliau butuh waktu dengan adikku. Bisakah kita mengobrol?"