
Di warung siomay dan batagor.
“Mas Luca doyan siomay juga?” tanya Lala heran.
“Ya, enak ternyata.” ucap Luca tersenyum.
“Ih ini kan punyaku!” protes Lala karena siomay di piringnya di lahap Luca, gadis itu langsung buru-buru menghabiskan miliknya, tangannya menghalangi Luca yang mau merebut makanannya.
Luca dibuat tertawa karena kelucuannya.
“Ayo La, kita ke kota budaya. Mereka sedang mengadakan festival pantai. Kamu bisa mengajak Bella,” tawar Luca.
“Bener juga idemu Mas Luca. Aku akan menanyakannya pada Bella semoga bisa, Tapi Mas Luca kan kerja !” ucap Lala kemudian menghabiskan suapan terakhirnya.
“Urusan kerja bisa aku handle dari sana. Kita pergi besok saja gimana? Berangkatnya nanti malam.”
“Aku harus tanya Bella dulu. Kalau dia mau, oke kita berangkat malam ini,” Lala sambil beranjak dari duduknya.
...**...
- Enam jam berlangsung di dapur bak film laga-
Biasanya gadis itu mendapatkan bayaran setelah pekerjaan selesai dengan sistem bayaran berdasarkan jam kerja. Selain menjadi waitress dia juga merangkap jabatan sebagai dishwasher atau tukang cuci piring. Lala juga kadang dimintai bantuan oleh Executive chef untuk memeriksa daftar bahan baku, tentu saja Lala sangat senang karena Ia akan mendapatkan uang tambahan.
“Ya ampun selesai sudah !” ucap Lala badannya sudah terasa remuk karena hari ini ramai pengunjung, otomatis tugasnya dobel.
“Sudah mau langsung pulang?” tanya Head Chef berusia 25 tahunan memberikan amplop coklat.
“Ya, Chef ! Saya mau langsung pulang, terimakasih.” senyum Lala.
“Kamu cuti 2 hari? Ini ada tambahan karena kamu membantu saya,” Chef memberi amplop lagi.
“Terimakasih banyak Chef ! Apa tidak terlalu banyak ini, Chef?” girang Lala setelah dengan terang-terangan merabah amplop kedua yang lebih tebal dari biasanya.
“Ya itu karena kerja keras kamu, hati-hati di jalan,” Head Chef menepuk-nepuk pundak Lala.
__ADS_1
“Baik Chef ! Chef juga hati-hati di jalan!” teriak Lala memandangi punggung kekar itu. Lala langsung membuka amplop menghitung jumlahnya. Dia terkejut jumlahnya dua kali lipat dari biasa yang dia terima. Gadis itu jingkrak-jingkrak kegirangan “Makasih Chef !!” Lala masih berteriak saking senangnya. Gadis itu tidak tahu jika dia diawasi dari cctv di ruangan lainnya.
Lala berjalan menuju pintu restoran dengan asyik menyedot lolipop rasa melon yang ada di mulutnya.
“Besok kamu tidak masuk, Lala? Kerjaanku jadi tambah banyak dong!?”keluh safitri.
“Iya, aku jarang ambil libur. Boleh, ya, sekali ini!” Ia menjewel-jewel Shafitri si gadis tomboy tapi cantik.
“Baiklah. Hem, itu ! babang ganteng datang,” ledek Shafitri melirik mobil yang baru datang. Ia langsung ke dapur tugasnya belum usai.
Lala yang mengenakan jaket beige dan celana jeans, melangkahkan kaki keluar. Dihirupnya udara senja di halaman resto, dalam-dalam, lumayan bisa menyegarkan otaknya. Ia baru saja menghadapi suasana penuh tekanan di dalam dapur yang panasnya bukan dari api kompor saja tapi dari tekanan dan teroran yang seketika mengejutkan jantungnya.
Semua bermula dari kesalahan Butcher memasak daging dengan hasil yang kurang matang, alhasil wajan besar melayang begitu saja langsung dari tangan Chef De Partie. Dan itu mendarat tepat di dekat Kaki Lala. Lala gemetar ketakutan. Semua orang di dapur jadi kena damprat termasuk Lala yang saat itu membersihkan peralatan masak. Lala masih saja bergidik ngeri menghadapi suasana dapur yang penuh dengan arogansi dan tekanan saat harus bergulat dengan waktu. Kakinya langsung loyo. hanya dengan mengingatnya saja.
Duck!
“Agh! Sorry,” Lala mengangkat kepalanya, Ia baru sadar menabrak Luca.
“Melamunkan apa sampai loyo begitu?” tanya Luca membukakan pintu mobil.
“Hah, biasalah dapur seperti neraka,” jawabnya menjatuhkan dirinya di jok mobil, badannya sakit semua dan pikiran capek. Gadis itu ingin mengecek hp tapi badannya sudah terlalu letih karena suasana kerja hari ini penuh dengan tekanan. Dirinya menjadi semakin kehabisan tenaga setelah 6 jam berdiri mondar-mandir kesana-kemari melayani tamu, mencuci banyak perkakas dapur, dan ikutan kena damprat Chef Station. kini akhirnya Lala bisa duduk menyandarkan bokong dan punggungnya. Ia berasa mau pingsan.
Lala membuka mata, Ia nyaris tertidur. Gadis itu meminum susu pisang dingin secepat kilat tanpa merebut botolnya dari tangan Luca. Ia hanya menyedot tidak ada semenit lalu bersandar lagi.
Pria itu memandangi gadis yang terlihat begitu kelelahan, kemudian menjalankan mobilnya tanpa membuka suara. Benar saja, tidak memakan waktu lama ... Lala sudah terpejam begitu saja. Luca tersenyum melanjutkan perjalanannya.
...***...
Pantai Kota Budaya.
Digendongnya tubuh Lala yang ringan, memasuki villa milik ayah Anton. Bella sudah masuk ke dalam karena tak tahan ingin ke kamar mandi.
Luca memandangi Lala yang terlihat cantik dalam tidurnya. Ia tak pernah melepaskan pandangannya sepanjang memindahkan Lala dari mobil ke kamar. Ia tersenyum, mengapa baru tahu Lala secantik ini, ada desiran aneh dalam dirinya, tapi Ia tak tahu apa itu.
Dibaringkan Lala di kamar tamu. Sulit sekali rasanya untuk dia beranjak dari kamar. Ia lelaki normal, bolehkah mencium Lala? Luca duduk di pinggir kasur,mengamati Lala, ‘Si gadis lolipop’.
__ADS_1
Apakah aku bisa memperistrinya? Ah apa sih yang dipikirkanku. Ada apa dengan aku yang selama ini tak pernah mengenal perempuan mengapa harus memikirkan itu. Ini pasti karena Papa yang terus memojokkannya, yang selalu mengatur pertemuanku dengan Lala. Aku hanya menjalankan Scribd. Sulit sekali menolak permintaan Papa, aku masih belum bisa melawan, bahkan tidak bisa. Aku terlalu mencintai Papa, tidak ada yang memperhatikan Papa, Papa berjuang sendiri.
Lamunan Luca terbuyar saat tangannya ditarik Lala.
“Jangan pergi,” Lala mengigau.
Luca berkerut dalam. Ini pertama kali Lala memegang tangannya. Wajah Luca memerah. Ia melepaskan tangan Lala, tapi pegangannya begitu kuat. Apa nanti yang dikatakan Bella? kalo Bella melihat ini.
“Bang Luca, aku sudah selesai,” Bella memasuki kamar.
“Ah-iya,” Luca menghempaskan tangan Lala, tapi Lala memeluknya.
“Ya ampun anak ini kebiasaanya kambuh!” Bella mendatangi Lala yang tengah menahan badan Luca.
“Mah, jangan tinggalin Lala,” igauan Lala.
Luca terperanjat.
“Sini bang aku bantuin” ucap Bella sambil meraih tangan Lala, kini pelukan Lala malah beralih ke Bella. Lala menangis dalam tidurnya, memanggil-manggil Ibunya. Dan itu disaksikan Luca sampai akhirnya gadis itu kembali terlelap dalam tidurnya.
“Bang Luca masih disitu?” Bella baru sadar Luca masih berdiri di sudut pintu.
“Ayo kita makan malam dulu, Lala gak mungkin bangun sepertinya” saran Luca.
“Ya sebentar, lima menit lagi aku menyusul,” ucap Bella pada Luca sambil merapikan rambut Lala yang menutupi wajah kelam itu. Selalu saja ada saat-saat Lala mengalami seperti ini. Sebenarnya tidak jauh beda dengan Lala, Bella pun sama jauhnya dengan ibunya.
bersambung ...
____________________________________
...Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini....
Wah apa yang akan terjadi dengan Bella dan Luca ? Yuk Simak di Bab selanjutnya🔍
Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘
__ADS_1
Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.
Sekali lagi terimaksih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.