
Setelah perdebatan panjang dengan Kevin yang tidak mau mengalah ...
"Ya, di ruang keluarga." Lala menghela nafas panjang sambil melirik Vino yang masih terlelap diantara Lydia dan Amber.
Di sofa keluarga, Lala melirik kolam renang, matanya sangat berat, Lala menuangkan minyak esensial ke tangan, untung di dekat tivi ada, hingga dirinya tak perlu ke ruang spa.
Mengusap membulirkan pada leher Kevin, "apa kamu tidak mengantuk, Kevin, jangan lama-lama, mataku sudah nggak kuat," memijat leher ke atas dan ke bawah.
"Aku dua malam belum tidur, leherku-" Kevin terdiam oleh pijatan keras tangan Lala, lehernya terlalu kaku.
"Jika belum tidur, harusnya tidur, mungkin sakit leher mu akan sembuh." Lala merasakan kulit Kevin yang dingin, hampir seperti mayat, mengkhawatirkan saja.
Lala terkantuk-kantuk, menggelengkan kepala, seperti di atas awan rasa kantuknya sangat halus dan saat sadar memijat Kevin lagi.
"Kamu tidur, Kevin?" semakin memijat Kevin, tubuhnya menjadi sumuk.
"Tidak," Kevin merasakan pijatan Lala yang bergeser ke bahu. Tetap saja pijatan Lala tidak ada yang menyamai. Putrinya, atau bahkan ahli terapis profesional, Kevin tidak menemukan pijat pas dan intens seperti Lala.
Johan meremas giginya, mencari ke atas tidak ada siapa-siapa dan ke bawah menemukan Lala, apa wanita itu berbohong, atau tadi hanya pura-pura ke kamar Lydia. Atau Kevin memaksa. Yang terakhir pastinya paling tepat, jika mau berduaan pasti di kamar bukan disini. Johan berbalik, ke kamar, menghabiskan dua gelas susu, Sudahlah.
Tik Tik Tik waktu berlalu.
"Kevin jam empat, jam lima Vino akan bangun," keluh Lala, jari-jarinya sudah tak bertenaga.
"Hm, sebentar lagi."
**
Jam Lima, dengan loyo kakinya setengah terseret mencapai tempat tidur dan menghamburkan diri di sebelah Amber.
Sekejap mata terpejam, matanya terbuka dengan berat seperti lem sangat tebal tidak mengijinkan terbuka, badannya sangat leseh, lemas saat suara Vino dengan jelas di telinganya, seketika matanya mau berkompromi, melirik kanan dan di kanannya di sofa ada mamanya Kevin, "Mama Sheril?" Lala mengucek matanya.
__ADS_1
"Tidurlah, kamu masih ngantuk?" Mama Sheril memangku Vino. Lala miring ke kanan, mantan mertuanya sedikit kurusan, Lala tersenyum hatinya berbunga oleh senyuman Vino, pertama kali bertemu neneknya.
Mimpi melalang buana. Mata terkejap dan terbuka lagi, kamar terang. Kacau, aku ketiduran.
Melirik ke seluruh kamar, tidak ada orang baik Amber dan Lydia, dirinya bahkan belum memberi asi pagi, apa dirinya bermimpi tentang mama Sheril?
Memaksa berendam air hangat, menghilangkan letih, dan melangkah keluar kamar mandi dalam balutan jubah mandi, pintu berderit terbuka. Lala berbalik sambil melepas handuk di kepala, "Amber, ibu pinjam baju-" Bibir Lala melengkung ke bawah, kenapa harus selalu Kevin yang muncul si. "Apa? mau menyiksaku lagi?"
"Sensitif amat." Kevin dengan nada suara rendah, "saya akan mengambil hp mamah Sheril," Kevin melangkah melewati wanita yang beraroma sangat segar, manis vanila.
Sial, kenapa harus saat seperti ini. (Kevin)
Lala masih mematung, melirik Kevin mengambil ponsel hitam di sofa dengan tas Hermes orange , pasti milik mama Sheril.
Itu bukan mimpi, Mama Sheril datang.(Lala)
"Pergilah, sudahkan?" Lala menyipitkan mata saat Kevin berhenti di depannya.
Sial hanya karena aroma ini. Bahkan 'sang Tuan' mengenali tempatnya hanya dari aroma tubuh manis Lala, menjengkelkan. (Kevin)
Perlahan Kevin menelan ludahnya saat matanya mencuri melirik garis tengah di antara dua melon. Kevin mengedipkan mata perlahan, menyembunyikan hastratnya. Matanya memutar, kata-kata hilang seketika dari mulutnya.
"Kevin, keluar," Lala menyadari tatapan lapar Kevin.
"Hei pakaianmu di kamarmu," suara Kevin serak.
"Kamarku? aku sudah tidak memiliki kamar."
"Kamarmu juga kamarku, kamarku juga kamarmu, kamar kita ... kamar kamu dan aku, kamar aku dan kamu, selamanya." Kevin tegas, tidak ingin Lala membantahnya. "Pakai pakaianmu sendiri di kamarmu, bukan pakaian putrimu. Menurutlah."
"Aku bukan yang dulu yang bisa kamu atur-atur, Kevin, kamu bukan siapa-siapa." Lala dengan suara tegas, menunduk, dan matanya melebar karena tonjolan di celana pendek Kevin, jantungnya seperti mau loncat. "Kevin! pergi!"
__ADS_1
Kevin menunduk, dan langsung menutupi pahanya dengan tas mamah Sheril.
Sialan, memalukan! (Kevin)
Kevin menggertakan gigi melirik Lala yang meninggalkannya ke kamar mandi dan membanting pintu.
"He ku akan pergi!" Kevin berteriak ke pintu kamar mandi. "Yang membangunkan juga kamu, kenapa kamu berteriak padaku, Lala!"
Kevin melangkah keluar dengan darah mendidih tapi apa yang di dalam celana, bahkan tidak mau tidur. Di depan pintu kamar, Kevin berbalik lagi melangkah dengan perasaan tidak terima, harga dirinya merasa di injak-injak mantan istrinya.
"Aku juga lelaki normal Lala, dua tahun kau meninggalkanku! dan aku saat aku ereksi karena kekasih tercintanya pulang itu wajar! aku menahannya dua tahun! dan aku positif thinking kamu akan kembali! aku tidak pernah meniduri perempuan lain! dan Bella kau tahu itu juga di kosmu itu aku mabuk, apa aku bilang ini? Hanya kau satu-satunya wanita yang aku cintai. Kau tahu saat aku meniduri Bella yang ku lihat itu kamu! mengapa kau menyiksaku begini! seakan-akan semua cuma salahku!! aku bisa menerima putrimu! mengapa kau tidak bisa menerima Edric, sedangkan cintaku hanya untuk kamu!"
BUG! pyar!
"Hei ini ereksi cuma karena kamu! aku tidak bisa bangun jika bukan karena kamu! jika bukan membayangkan kamu! Sepertinya kamu hidup dengan senang banyak yang menginginkanmu! lalu aku bagaimana? pernahkah kamu sedikit berfikir soal aku yang tidak bisa mencintai perempuan lain! Jika kamu dari awal akan begini seharusnya jangan pernah muncul di hadapanku! dan biarkan aku tenggelam dengan masalaluku dengan samantha!"
"Pah..." Isak seseorang.
Kevin menoleh kanan ada Ivy di pintu beruraian air mata, gigi geraham Kevin mengeras dan menendang pintu kamar mandi sangat keras.
Blak- pintu terbanting terbuka dan Lala tengah duduk memeluk lutut di lantai kamar mandi yang basah dengan pipi berurai air mata.
Bibir Kevin bergetar.
Blak! Memukul kusen.
"Mengapa perlu menangis! jika hatimu kosong tidak ada aku! kau lihat ini! ini ulah mu!" Teriak Kevin lepas kontrol, "Hah!" Kevin berjalan tertatih melewati Ivy.
"Pah," Isak Ivy di pintu menggandeng tangan papahnya, ceceran darah membekas di sepanjang langkah yang dilewati sang papah.
"Pergi Ivy!" Kevin mengibas lengan.
__ADS_1