
Sepulang dari pemeriksaan dokter, Lala dalam gendongan Kevin memasuki ruang tamu, dia sudah mulai terbiasa, karena Kevin tak mengijinkannya berjalan. Awal-awal dia sungguh sangat malu pada pelayan dan orang-orang, tapi Kevin, entahlah dia sulit ditebak, siapa yang berani melawannya?
"Mau kemana?" tanya Lala heran, karena tak langsung menaiki Lift.
"Kejutan."
Kevin membawa Lala menuju ruang keluarga, dan Lala menoleh dari wajah Kevin saat langkah suaminya terhenti.
Lala mengedipkan mata dua kali, dia membulatkan mata bagai melihat hantu, "Johan?" memajukan kepala tak percaya.
Jantung Lala berdebar kencang, dunia seakan berenti. Kakinya menjadi dingin. Johan dan Lala saling bertatapan. Kevin menurunkan gendongan Lala.
Gelas dalam genggaman Johan sedikit bergetar, tangan kiri Johan menggaruk-garuk Kepala yang tak gatal, lelaki itu tersenyum garing, lalu tertawa kecil, "Hai, La."
"Apa ini kejutannya, sayang?" tanya Lala pada Kevin, dan sang suami tersenyum sangat manis.
"Lihat dia kesulitan, jadi saya membawanya kemari," bisik Kevin di telinga Lala dengan gerakan sangat mesra membuat Johan semakin tersenyum garing, namun jantung Johan detaknya semakin meningkat mendengar bisikan Kevin di telinga Lala.
Lala menunjuk keningnya sendiri, "kenapa kening mu? kemarin tak ada kan?"
Kevin menelan salivanya, giginya menggertak.
Johan tertawa garing, ia berbalik dari Lala berjalan ke sofa keluarga, "hanya menabrak tembok, tak masalah."
Lala beralih memandang Kevin, "sayang, kamu marah?"
"Marah? Tidak," kata Kevin dengan suara tertekan dan senyum tipis, membuat Lala menghela nafas.
"Temui dia. Saya akan mandi," kata Kevin, mencium kening Lala dua kali lalu merambat ke pipinya. Sedikit membelah bibir sang istri dengan ciuman yang sangat pelan, matanya menelisik mata sang istri. Nafas mereka sedikit memburu dan terasa hangat, jantung Lala dan Kevin semakin berdebar, Kevin melepaskan ciumannya dan berlalu pergi.
Johan yang menangkap situasi itu ... tak mau melihatnya. Tangannya mencengkram remote kuat, ia lupa akan memindahkan Chanel tv, pikirannya entah dimana. Lampu kuning terang di ruangan ini terasa gelap baginya, hatinya bagai mendidih di suhu 200 derajat celcius.
Namun apa yang dikatakan Kevin ada benarnya, karena dirinya tak tahu cara melindungi Lala, apalagi dari musuh Lala, apa yang dimaksud Kevin ada yang mengincar Lala?? menyebalkan saat mengetahui ini, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Johan, kamu melamun?"
Johan menengok ke kanan. Setelah melihat jelas di tempat terang, wajah Lala terlihat bersinar. Sulit menggambarkan pancaran pesona dari dalam diri Lala, yang jelas Lala terlihat bahagia.
__ADS_1
"Jo!!!"
Johan menarik sudut bibirnya ke atas penuh, melihat cara Lala cemberut itu seperti hiburan tersendiri. "Apa? apa kau tak berniat bercerita indahnya malam pertama?" DEG. Johan melebarkan mata, merutukki mulutnya yang tak bisa terkontrol.
BAG!
Bantal sofa mendarat keras di wajah Johan. Lelaki itu menangkap bantal itu dan tak melepaskannya. Ia malu.
"Jo.." Lala duduk di belah kanan Johan dengan jarak satu meter, "Apa kau tak berniat mengucapkan selamat untuk pernikahanku?"
Ruangan hening, Johan masih menutupi wajah dengan bantal.
Sudah sepuluh menit Lala melihat jam, Johan masih seperti patung, Lala melihat punggung Johan yang naik turun. Tangan kiri Lala menggaruk kepalanya. Apa sudah benar cara dirinya bersikap? benarkan sudah menjaga jarak. Mengapa Johan terus menutupi wajahnya.
"Bukankah saat itu kau ingin menemui ku, apa kau akan diam terus? kemarilah, aku berbicara denganmu," Lala menarik bantal itu dengan susah payah.
Bantal itu jatuh ke lantai, mata Lala terpaku. Jantungnya seakan berhenti.
Dua kristal air mata meluncur di pipi Johan yang matanya terbelalak karena bantal persembunyiannya lepas.
Johan menoleh ke kiri.
Lala tak kuat lagi dan langsung berdiri. Tangan panas Johan menahannya. Lala membuka mulutnya lebar, Ia sulit bernafas.
Lala mengibaskan tangan kiri Johan dengan kuat tapi gagal, ingusnya di sedot pelan menyembunyikan dari Johan,
Genangan air matanya jatuh, membuat pipinya gatal, Lala mengelap pipi dan hidungnya dengan punggung tangan kanan.
Namun sesenggukan Lala justru semakin menjadi-jadi.
Dari kejauhan Luca yang tak sadar menghentikan langkahnya menyaksikan dua orang itu. Hatinya berdenyut, melihat hubungan tak biasa diantara mereka, itu Johan kan? Hati Luca bagai disayat, kenapa air mata Lala jatuh? apa yang spesial dari pemain basket yang keluarganya suka bermain kotor itu?
Sementara Kevin di kamar mandi, duduk di bathub masih berpakaian lengkap, Ia terpejam dengan air hangat yang terus mengucur ke wajahnya hingga kristal air bening dari matanya menyatu bersama tetesan shower. Tubuhnya mematung, tangannya mengepal, seluruh bajunya telah basah. Batu besar seakan menghantam kepalanya, 'Mengapa perasaan saya, Johan dan Luca harus pada orang yang sama!'
Kepala Kevin terus berdenyut, 'Saya hanya ingin melindunginya! apa saya justru memenjarakan perasaan Lala!'
Hawa dingin terasa di ruang keluarga itu, Bagai ada bongkahan es besar yang menghalangi Lala dan Johan. Tak ada yang bisa berkata-kata, apa segala sesuatunya harus dikatakan? Johan yang ingin mendekap Lala, namun dia berusaha menghormati Lala. Lala yang sulit terbuka karena trauma di hatinya begitu besar, satu kata KECEWA.
__ADS_1
"Menyebalkan, apa kita sedang bermain drama," ucap Lala sambil tertawa dalam isakan. "Bicaralah atau lepaskan!" tangis Lala, dadanya sudah naik turun.
Johan berdiri menghadap sisi kiri Lala, "kau menyembunyikan sesuatu, kan?!"
"Menyembunyikan apa? tidak ada!" Lala gemetar, dia menunduk. Ketakutannya semakin nyata, tak mau bila Johan mengetahui dirinya mengandung anak Johan.
Johan geram, "Kita memang harus menyelesaikan ini!" Johan menarik tangan Lala keluar dari ruang keluarga.
Luca menyelinap menyembunyikan tubuhnya di sela tirai.
"Kau mau membawaku kemana Jo! hentikan!" bentak Lala dengan muka merah padam saat Johan akan menariknya keluar.
Lelaki itu terlihat sedingin es kutub, Johan membuka mobil yang sudah terparkir di lobi.
"Apa kalian diam saja, hentikan dia!" teriak Lala pada pengawal yang seperti patung. Biasanya mereka menghalangi, ada apa mereka?
Johan menggeser kaki Lala agar masuk mobil, Johan menutupnya dengan keras, ada apa dengan Johan!
"Jawab aku kita mau kemana Jo!" kata Lala saat Johan masuk mobil dan menguncinya.
Lala melihat seluruh pengawal yang dilewatinya, diujung gerbang justru mereka membiarkan mobil ini pergi. Ada apa mereka, para pengawal mereka diam saja, apa mereka gila.
Lala meraih hp Johan di mobil, Ia menghubungi nomer Kevin. Namun sang suami tak mengangkatnya.
"Apa kamu gila Jo, atau aku yang gila, bicaralah!" bentak Lala sambil mengirimkan pesan ke hp Kevin.
*Sayang, tolong angkat telponku. jemput aku sekarang! -Lala*
"Johan," lirih Lala sambil mengelus perutnya, mengapa si kembar terus menendang keras, 'apa kamu takut peri-peri kecil?'
Johan melirik apa yang dilakukan Lala, mata Johan kembali mengembun. Johan bingung dengan apa yang dilakukannya. Kevin telah memberikan kesempatan dan meminjamkan mobilnya. 'Aku tak tahu apa yang harus aku katakan!!' Johan menghela nafas.
'Tidak, seorang lelaki harus tahu apa yang dilakukannya' batin Johan setelah peperangan dengan dirinya.
Bersambung ...
_______________________________
__ADS_1
Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍