
-POV LALA-
“Ya,” sebenarnya sangat perih, bahkan dalam mimpi aku harus berakting baik-baik saja, tubuhku mulai menjadi ringan, saat Richie mendorong lebih dalam sepertinya kepala pipa berhasil masuk, dan lingkaran saya merasa kembang kempis sepertinya akan sobek, tapi badanku terbakar, aku menggigit bibirku sampai rasa besi bercampur liurku. Richie meraup bibirku, kami beristirahat sejenak dan fokus pada perang antar liur lidah mengolak-alik.
"Sayang, anda yakin tentang ini? kita bisa membatalkannya" kata Richie tepat setelah melepas ciuman dan setelah itu langsung mengulas senyum, wajahnya sangat merah di bawah lampu kuning redup, “Sayang, sadarlah, ini bukan mimpi, saya nyata, dengarkan saya.”
“Ya...”
“Saya meletakan sebuah penyadap di belakang mangkuk westafel.”
Saya merasakan kepala pipa, di bawah, kembang kempis. Dipenuhi listrik memabukkan dan saya menggerakan pinggul perlahan.
“Lala Clarisaa, dengarkan dulu, atau saya akan pergi!?”
“Ya, eros," aku menghela nafas kasar, “apa kita akan main ala detektif conan? Mengapa kita tidak bikin film panas saja?”
“Risa!” Eros akan menarik pinggulnya. Dan aku menahannya, “Ya Capt!” (kapten)
“Ambil sesuatu seperti kancing hitam di belakang westaffel, letakan itu di tempat tersembunyi di ruang kerja Ars, dimana kantor itu terdapat sebuah lukisan besar Ular berwarna coklat dengan background hijau.”
“Anda gila, apa ular? mimpi ini menyebalkan, mengapa harus ular? Sudahlah, pergi mimpi buruk, Mimpi aneh!”
“Sayang, jika kamu mabuk lain kali aku akan menghukum mu!” geram Richie ditelinga ku, bersamaan tekanan akibat dorongan pinggulnya, keras membuat saya menjerit, ah robek!seperti melesat ke dalam tubuh saya.
“Sakit,” isak ku terus mengeleng, aku tidak mau lagi, ”lepas!” masih dan itu semakin masuk ke dalam diri saya, saya seperti ditampar di bagian dalam... perih, bagaimana lingkaran dalam diri saya sangat melebar, saya takut jebol sumpah demi apapun, bahkan saya selalu melahirkan cesar, dan apa ini mungkin perasaan melahirkan normal? “perih! hentikan! sakit!” aku histeris, mendorong-dorong bahu Richie. Siapapun bangunkan aku dari mimpi buruk! ini menyakitkan. Bangun! cepatlah bangun!
“Ah...!” Mataku melebar, betapa menyakitnya. Perutku penuh, ditambah tubuh Richie berat, tenaganya besar, aku tak siap.
“Terlambat sayang, aku... ” suara Richie serak, deru nafas kami bercampur, saya mencakar punggung pada kemeja yang telah basah itu. Jari-jari kaki saya mencengkram, saya merasa rudal besar. Bukan. Itu seperti roket lepas landas. Panas melesat menggempur ke dalam diriku, sampai aku tak siap menerimanya, saya begitu menahan nafas namun badanku menjadi sangat peka bereaksi setiap terhadap sekecil apapun pergerakan.Dan saya menusuk jari-jariku pada punggungnya.
Mencakar mencengkram. Di bawah sangat terbakar, ini mimpi buruk, atau saya hanya mabuk!l,
Tampak nya perih itu tak hilang dan semakin menjadi. Air dingin mengalir dari sudut mataku, aku menggigit bibir Richie kuat-kuat, rasa besi bercampur dalam liur kami.
Aku merintih, kesakitan ... Richie terus menarik dan mendorong dalam dorongan besar yang tak siap aku terima, dia menatapku sangat dalam setengah terpejam, cairan bening berjatuhan dari wajahnya seiring gerakannya.
__ADS_1
Dia terus menatapku saat tangan lain mencengkram dada kanan saya.
Namun perlahan perih itu berubah, perasaan aneh, euforia kebahagiaan membuncah memercik menyebar ke seluruh tubuh, saat sesuatu menggempur penuh di dalam perutku, begitu linu dan seakan-akan terus menyedot ke dalam diriku. Setiap dorongan seperti mimpi buruk namun ingin lagi ... oleh kebahagiaan, dan lengket ...
***
Saya membuka mata menatap langit-langit kamar, ketika saya masih di kamar ini, mimpi yang aneh, dua sudut bibirku terangkat, membayangkan wajah bulir-bulir keringat sebesar biji jagung di kening eros dan bagaimana kepala Richie jatuh tenggelam di bahu saya. ”Manisnya..."
Tiba-tiba otot-otot tubuhku menegang. Remuk, tubuhku remuk, menyelimuti ke seluruh tulang.
Menggeser bahu kiri, ke kanan dan kiri memindahkan punggung.
Tulang-tulangku sakit. Menoleh ke kanan tidak ada siapa-siapa, tempat tidur rapih. Saya harap dugaanku salah.
Saya menaikan selimut dengan kedua tangan, mengintip ke bawah huh saya menghembuskan nafas lega sambil menjatuhkan selimut. ”Masih utuh,” tapi mengapa aku merasa gundah, mengapa tulangku sakit?
Saya duduk menyingkirkan selimut ke samping, saya meraba dengan kedua telapak tangan ke belakang dan menemukan b.r.a masih terkait, “Huft” saya menunduk, sepertinya aku terlalu berpikiran buruk.
Tangan meraba ke bawah dan terasa kosong, saya merabai di sekitar ikat pinggang dan langsung menarik gaunku. Dimana cela..na intiku! tidak ada.
Ketika saya bangkit dan semi berlutut, saya menyentuh dan mencoleknya, jari telunjuk ku kering. Namun, mengapa perih, saya mengendus dan mataku melebar seketika tubuhku lemas. Tidak mungkin.
Suara derap langkah kaki seseorang menaiki tangga dan semakin dekat.
Saya mengintip ke lantai samping siapa tahu celanaku jatuh atau di bawah bantal, dimana celana ku! Bahkan aku masih memakai gaun! jadi dimana ...
“Selamat pagi nona.”
Saya tersentak dan langsung duduk menyelimuti diri sampai bagian dada. ”Pagi,” saya memperhatikan pelayan perempuan itu sudah di depan saya meletakan minuman mengepul di cangkir. “Maaf, Dimana Tuan Ars?”
“Nona, silahkan, minuman ini akan menghilangkan pusing anda. Kepala pelayan ... bilang, semalam Anda sangat mabuk,” dia mengulas senyum ramah.
Saya mengangguk, "Terimakasih."
"Nona, saya menyampaikan pesan Sekertaris Nick, anda harus segera ke ruangan Tuan muda Damir. Anda tidak boleh mencuci muka, mari ikuti saya.”
__ADS_1
“Tapi setidaknya saya akan gosok gigi, saya dulu...” Saya bertanya-tanya saat pelayan itu mengangguk, apakah dia akan menunggu ku di kamar, “bisakah anda keluar dulu? saya akan berganti baju.”
“Nona, hari ini pakaian ganti di siapkan di ruangan Tuan muda, silahkan anda ke kamar mandi tapi tidak boleh mencuci muka ataupun mandi.”
Saya menggaruk-garuk kepala saya, “bagaimana jika saya ingin buang air besar? Boleh kan!?” dan pelayan itu mengangguk, ada-ada saja kemauan apa itu. Orang aneh. “Bolehkah saya tahu, Tuan Ars semalam tidur dimana?”
“Maaf nona, bukan arena saya untuk menjawab di luar tugas saya. Saya akan menunggu di sini. Lebih cepat anda ke ruangan Tuan Muda lebih baik, sebelum Tuan Ars datang sendiri lalu menghukum anda,” wanita itu mengangguk dan mundur berdiri di ujung pagar. Saya ingin menghajar Ars, apakah dia melakukannya padaku!
“Baik,” jawabku sambil melangkah dengan loyo, menatap lekat lantai marmer, mengapa ... Ini mengerikan, apakah seseorang memperkosaku.
Saya buang air kecil. Saat membilasnya, milik saya terasa perih.
Bulir-bulir air mata jatuh di pipi, tubuh merinding.
Telunjuk kiriku ku ulurkan dan menusuk ke bagian dalam kewanitaan, saya mencolek sesuatu kental. Menarik tangan, memperhatikan telunjuk basah cairan kental putih ke abu-abuan dan kepala saya lebih ke depan, lebih mendekat ke telunjuk yang gemetar, hidung saya mengendus.
Aku menelan benjolan kengerian di tenggorkanku, laringku diperas oleh panas dan begitu kering sampai leherku seperti dicekik.
“Nona, anda baik-baik saja? bisa lebih cepat? Sekertaris Nick sudah menunggu.”
Saya membeku, loyo, membungkuk sampai kening saya jatuh di lutut, dan tangan mencengkram pergelangan kaki atau tulang kering, berusaha menguatkan diri dari apa yang tidak aku ingat semalam. Mabuk? mimpi? nyata? atau siapa?
“Nona?”
“YA, SAYA akan keluar,” aku dengan serak, siapa yang melakukannya.
Seseorang telah masuk ke dalam kamarku. Hanya Ars yang bisa. Dadaku terguncang dalam rintihan. Oh apa yang terjadi ….ku kira aku cuma mimpi, oh oh oh oh Tidak! Jangan! Kumohon. Oh tidak!!
“Nona, anda baik-baik saja?” tepukan punggung menyadarkan ku.
Aku mendongak, tanpa sadar di depanku ada pelayan yang begitu khawatir, “oh, maaf, maaf-maaf.”
“Nona, tidak apa, saya akan membantunya, mengapa anda menangis?”
“Tidak, berikan saya dua menit dan saya akan keluar, tolong.”
__ADS_1