Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 33 : MENGGENGGAM TANGAN LALA


__ADS_3

Jum’at malam Johan menjaga Lala sedangkan Bella ijin pulang ke kost karena belum sempat istirahat.


Lelaki yang mengenakan kaos biru itu memberitahu Lala, kalau Ayah Alen baru sampai di kota ini sabtu pagi karena cuaca buruk melanda tidak memungkinkan untuk pesawat lepas landas dari bandara Kutawaru.


Kini Lala walau masih lemas, Ia sudah bisa duduk dan hanya saja dia masih sering mengantuk karena obat.


Untuk berkomunikasi Lala menggunakan kertas dan bolpoin, ya seperti saat ini, Lala menyampaikan pendapatnya lewat kertas sehingga Johan membacanya.


Johan kumohon berbaikan lah dengan Kevin, dia itu temanmu.


“Apa? Setelah apa yang dia lakukan terhadapmu, apa kau mau memaafkannya begitu saja?"


Memang berat, tapi ini tidak bisa terus berlarut-larut. Kevin sudah berusaha berubah, kita harus menghargai usahanya, itu pasti juga tidak mudah untuknya, Jo.


Johan menatap Lala, sulit sekali menerima apa pendapat Lala, ada kemarahan di hatinya yang sulit untuk terus ditahan. Namun dirinya juga tidak mau terlalu membuat Lala kepikiran.


Johan please, Kevin disini hanya beberapa hari dan akan pergi lagi. Kalian dulu bersahabat, aku tidak mau menjadi penyebab keretakan hubungan kalian, dan kalian bertengkar sejak ada aku kan? Kumohon berbaikan lah. Beri Kevin kesempatan, Jo.


Lelaki itu menghembuskan nafasnya sesak.


Jawab, Jo. Aku mau kamu menjawabnya.


Johan menatap dalam Lala, tanpa  sadar dia menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa menjawabnya. Terlalu besar kebenciannya kepada Kevin.


Johan berdiri.Terlalu sesak apa yang ada di dadanya.Johan hendak melangkah ...


Namun, tangannya ditahan Lala. 


Gadis itu menggelengkan kepala, dengan sorot mata memohon.


Lala tidak mau ditinggalkan sendiri.


Johan terdiam, pembicaraan ini tidak akan berujung, Lala terus memojokkannya. Sampai kapan pun dirinya tidak akan memaafkan Kevin.


Lala kembali menarik lembut tangan Johan untuk duduk disampingnya, di ranjang pasien. Infus Lala di sebelah kiri. Kasur pasien ini cukup lebar, Johan bisa dengan nyaman bila duduk disebelah Lala.


“Jangan membahas itu lagi! atau aku akan keluar dari kamar ini.” Tegas Johan tidak mau dibantah. Johan yang biasa bersikap lembut, sampai seperti itu penuh penekanan.


Lala mengangguk. Harapan dia untuk membuat Johan dan Kevin kembali memiliki hubungan yang baik, nampak semakin sulit.


Lelaki dengan sorot mata kecewa dengan penuh amarah itu duduk disebelah Lala dan memeluk tubuh gadis itu erat. “Beristirahatlah sayang ... energimu harus cepat pulih dan sekali lagi maafkan aku, Lala.” lirih Johan dingin di kepala Lala.


.


.


Johan sedikit menyentuh pipi Lala yang bengkak. “Ini pasti sangat sakit dan nyeri ya, aku pernah mengalaminya."


Gadis itu senyum malu-malu kenapa Johan sempat memanggil seperti itu, hatinya jadi berdesir karena malu. Namun Lala bersyukur karena laki-laki itu selalu mengkhawatirkannya dan dia merasa beruntung Johan selalu ada di setiap dia kesulitan. Gadis itu membaringkan tubuhnya dibantu Johan, Ia sangat senang karena Johan selalu memperlakukannya dengan lembut, dia bisa bermanja-manja ria kepada Johan tanpa perlu khawatir karena laki-laki itu tidak akan macam-macam dengannya.


Setelah menyelimuti Lala, pria itu ikut berbaring di sebelah Lala menatap langit-langit kamar rumah sakit.

__ADS_1


Satu lampu nyalanya redup, pria itu mulai menceritakan kecintaanya dengan olahraga renang dan basket, laki-laki itu seperti tidak pernah kehabisan bahan cerita.


Cukup lama Johan curhat sampai Ia baru menyadari gadis di sampingnya telah tidur.


Johan memandangi gadis yang telah terpejam, Ingin sekali jujur dengan Lala soal kesalahan terbesarnya tetapi setiap dia akan mengungkapkan kebenaran, entah mengapa keberaniannya hilang begitu saja.


Masih jelas diingatkannya 'pagi yang panas' itu, bagaimana Lala tampak sangat cantik nan seksi saat gadis itu seutuhnya menjadi miliknya walau hanya sebentar saja.


Kini laki-laki itu tak ingin bila Lala menemui laki-laki selainnya, tak peduli siapapun itu terutama Kevin.


Berkaca kepada hasratnya yang tak dapat dipendam saat itu sehingga


ingin rasanya Johan mengurung Lala dan Ia menjadi ketakutan bila lelaki lain sampai mendekati dan berbuat buruk terhadap Lala.


Namun dia juga bingung dengan situasinya. Itu semua seperti mimpi yang sulit diraihnya.


lelaki itu memejamkan matanya membayangkan bila suatu hari nanti semakin matang usianya. Bila Lala menjadi istrinya selalu menemani malamnya seperti saat ini, dibawah lampu yang redup bercinta sepanjang malam menghabiskan kegelapan. Menyiapkan sarapan untuknya, menemaninya setiap dia pergi, bercumbu mesra di dapur pasti sangat menyenangkan. Mungkin lebih seru lagi bila ada anak-anak yang banyak, itu akan semakin ramai.


Johan senyum-senyum sendiri membayangkannya, senyuman itu lalu pudar karena ada yang dilewatkannya ... dunia gelap yang selalu memburunya yang pasti akan melebar termasuk nyawa Lala akan terancam itu pasti.


Semua anak buah Kakek Lewis, termasuk dirinya sudah menyimpan rapat-rapat rahasia klan dan berikrar dengan janji sumpah mati tidak mengkhianati kelompoknya. Kami selalu memakai topeng, menutupi identitas kami, dan kami tidak langsung pulang ke markas untuk menghindari penguntit. Jadi ini tetap saja sulit bila identitas Johan  yang sebenarnya diketahui musuh lalu pasti mereka akan beralih menargetkan mamanya Tiara dan Lala.


Dia harus cepat-cepat menyelesaikan misinya untuk menyingkirkan mereka, sebelum mereka menghabisi keluarganya.


Johan meraih tangan Lala dan menggenggamnya lalu meletakkan di dadanya yang bidang. Inilah tangan gadis yang dicintainya yang selalu memberi kehangatan pada hari-harinya. Ada kedamaian dan ketenangan yang luar biasa akan didapatkannya bila Ia menggenggam tangan Lala.


Atau aku akan biarkan saja Lala tanpa pil pencegah kehamilan, bila memang  sampai terjadi kehamilan bukankah artinya aku akan memiliki anak dari rahim Lala dan itu artinya Lala tidak akan meninggalkanku dan justru meminta pertanggungjawabanku kan? Itu terlihat bagus daripada aku terus menunggu jawaban lamaranku. Lala tidak akan berkelit lagi karena menolak ku.


Apapun harus aku lakukan, asal Lala terus disampingku. Takdir tolong persatukan kami! buatlah Lala hamil agar aku bisa mengikatnya.


...**...


-Sabtu-


Hari masih gelap sepi dan dingin yang semakin menusuk-nusuk tulang. Johan bangun menatap gadis disampingnya yang masih terpejam. Johan ke kamar mandi, Ia ingin sekali buang air kecil.


Kehangatan menyelimuti wajah yang sempat kedinginan, berkali-kali Johan membasuhnya dengan air hangat terasa darahnya mulai mengalir dan sangat nyaman. Suara kucuran air kran dibiarkannya, Ia terpanah menatap dirinya sendiri di pantulan cermin. Dua sudut bibir seksinya terangkat, Johan membanggakan diri.


*Wajah tampan! sangat tampan! seharusnya ... kamu bersyukur memiliki aku?!


kenapa tidak kunjung menerima ku Lala*?


Lelaki itu mengelap wajahnya dengan handuk dan keluar dari kamar mandi.


Ia berpikir harus menemukan sesuatu yang mendukung agar Lala bisa hamil dengan kejadian kemarin. Apa Ia perlu beli vitamin atau ... ?


“Johan kau sudah bangun.”


Johan terkejut bukan main. Bukankah baru sebentar dia ke kamar mandi?


“Ayah Alen! Sudah sampai? Bukankah hari masih gelap?" celetuk Johan dengan bodohnya.

__ADS_1


"Apa masalah bila aku datang terlalu pagi?"


"Ah, bukan! Maksud Johan untung Ayah cepat sampai! Jadi, Lala pasti akan senang! begitu dia bangun, eh melihat Ayah Alen, yang sudah ditunggunya dari kemarin!"


Johan jadi gugup, untung dirinya ingin buang air kecil. Kalau tidak ... Alen pasti marah melihat dia tidur di samping putri kesayangannya.


“Jadi, Ayah baru sampai?” tanya Johan memastikan .


“Iya, baru sampai. Johan, ceritakan kejadiannya ...lebih detail ke Ayah!”


Alen bersikap dingin.


Pemuda itu mulai bercerita, cerita lengkap mengapa salah memukul Lala, di ruang tunggu yang terpisah oleh sekat kaca. Alen terlihat menyembunyikan sesuatu tapi Johan tidak bisa menebak.


Alen itu pembunuh berdarah dingin yang tidak basa-basi bila ada yang mengganggunya, dia cukup langsung menghabisinya.


Emosi selalu disembunyikan, wajahnya selalu datar. Tidak pernah tersenyum ataupun emosi lainnya, tidak pernah Johan melihatnya, kecuali saat Alen di depan Lala, Alen terlihat bisa berakting sangat lembut.


Sungguh malang nasibmu Lala, kamu dikelilingi orang-orang gila.


“PULANGLAH.” Ucap Alen dengan penuh penekanan.


Johan tidak pikir lama, Ia menurut.Alen terlalu mengerikan baginya. Dari kecil Ia di didik Alen untuk bertarung. Alen yang paling mengerikan yang pernah Ia temui, auranya terlalu kuat.


Ini alasan kenapa aku memenangkan Lelang dan tidak meniduri Lala. Ya karena Ayah Lala ... mengerikan!


Namun ada yang aneh pada Pagi Yang Panas itu. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol birahiku.


Bayangan wajah menakutkan Alen sirna begitu saja, hilang dari kepalaku. Aku seperti mabuk sedangkan aku tak minum. Sekalipun minum, aku tidak menyentuh gadis sampai sejauh itu.


“EHEM.” Alen berdeham.


Johan tersadar dari lamunan dan bulu kuduknya berdiri hanya karena mendengar deheman Alen. ”Baik Ayah! sampai jumpa.”


Johan berlalu tanpa sempat melihat Lala yang masih tidur. Diluar pintu Johan bisa bernafas lega. Alen biasanya tidak semenakutkan itu.


Kenapa aku baru sadar, ya? Bagaimana kalau Alen sampai tahu jika aku menodai anak gadisnya!?Ah aku bodoh! Pasti Alen akan langsung menghabisiku? Sial-sial.


bersambung ...


________________________________________


Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini.


Yuk Simak di BAB selanjutnya🔍


Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘


Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.


Sekali lagi terimakasih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2