Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 46 : MUAL


__ADS_3

Hawa malam semakin terasa dingin. Dengan langkah gemetar Lala Kembali ke tempat dimana awal bertemu preman.


Di bawah lampu kuning di jalan yang lumayan sepi. Dia terus mencari mengira-ngira letak jatuhnya. Namun tasnya tidak ada disana.


Gadis itu menyadari akan jadi masalah besar bila tas itu hilang. Karena itu modal yang tersisa ... hp dan dompetnya.


"Kau mencari sesuatu?" tanya sang pahlawan. Lala tak menghiraukannya.


Ia sangat panik tak tahu harus apa, tanpa dompetnya dia tak bisa apa-apa.


Sorotan lampu dari kejauhan menyilaukan mata. Dua mobil memelankan lajunya dan berhenti tepat di depan Lala.


DEG. Dia melebarkan mata dan menelan salivanya. Lala berpikir, Siska pasti akan menangkapnya. Sia-sia usahanya untuk kabur.


Pintu mobil terbuka. Alangkah terkejut Lala, yang dilihat bukan siska melainkan pacar yang sudah ditunggu-tunggunya.


Berlinanglah air matanya saat Lala melihat Lelaki itu, Lelaki yang berlari kemudian mendekapnya dengan penuh kekhawatiran. Membuat Lala menenggelamkan wajahnya ke dalam kungkungan kokoh itu. Ia tak tahu mengapa ia tak dapat menahan tangisannya. Perasaan dan pikirannya sangat lelah seharian.


Tanpa sepengetahuan Lala, Kevin juga mengelap ujung matanya.


Sang penyelamat dan para pengawal terbawa suasana, mereka ikut haru. Bahkan pengawal berbadan besar itu sampai mengelap sudut matanya.


"Kamu tidak apa-apa kan? Maaf," ucap Lelaki itu masih khawatir memegangi wajah gadisnya. Ia mengelap pipi basah Lala, dirinya sendiri mencoba terlihat tegar.


Kevin memeriksa Lala sebentar memastikan tidak ada bagian yang terluka. Dia mencium kening Lala tiga kali. "Ayo, kita pulang."


"Kevin?" panggil sang penyelamat saat Kevin melepas jasnya.


"Guskov?" ucap Kevin melirik sebentar seraya melingkarkan jas pada pinggang Lala, menutupi dress robek tak beraturan yang menampilkan paha putihnya.


"Kalian saling kenal?"tanya sang penyelamat bernama Guskov.


"Aku akan menghubungimu." ucap Kevin pada sang penyelamat.


Kevin menggendong Lala seakan-akan pacarnya itu baru selamat dari medan perang.


Di perjalanan Kevin terus mendekap gadis di pangkuannya. Ia takut walau melepasnya sebentar. Namun pandangannya dingin ke depan berusaha terlihat tegar menyembunyikan luka di hatinya. Sedangkan gadis dalam dekapannya itu terlihat masih trauma.


Mereka saling merindukan. namun mereka sama-sama ingin diam.


Pikiran Kevin terus berperang dengan hatinya. Tidak mau berdamai dengan keadaan setelah kabar kehamilan Lala, keluar.


Diingatnya saat setelah pemeriksaan dokter di pesta Samantha, dia menggendong Lala ke kediamannya. Sejak itu Kevin merasa enggan menemui pacarnya.


Namun pacarnya itu justru kabur, dan membahayakan dirinya sendiri dan berakhir seperti ini.


*Kenapa kamu melarikan diri, sayang?


Aku tidak akan mengampuni preman sialan itu. Dan aku harus berterimakasih kepada Guskov.*


Batin Kevin menatap nanar wanitanya yang terpejam.


...**...


Di Kondotel Martini, di kamar mewah serba gold. Inilah pertama kali Kevin membawa pacarnya ke kamar utama. Dibaringkannya Lala di atas kasurnya.


Dilepaskannya jaket yang Ia yakini itu milik Guskov. Kevin geram setelah membuka resleting jaket, melihat baju Lala yang telah sobek menampakan perut dan pusar Lala, perut yang sekarang ada janin kecil dari mantan sahabatnya sendiri.


Apakah di dunia ini ada yang sama seperti ku? melihat perut pacar yang telah dicintai, hamil karena sahabat sendiri? Batin Kevin


Dirinya jadi teringat saran Billy agar mengugurkan janin yang masih sangat muda itu.


Kevin yang melihat Lala tergores kecil saja tak tega, bagaimana bisa si Billy tolol itu memberi saran gila. Dasar idiot.


"Sayang, bisa bangun sebentar?" ucap Kevin dari samping ranjang.


"Sayang ganti bajumu dulu. Bangun, ayo," Kevin menepuk-nepuk pelan pipi Lala.


"Kenapa kalau udah tidur kebo banged sih," Keluh Kevin, dia mengambil hp di nakasnya.


Beberapa menit kemudian datang Siska, assisten sekaligus pengawal baru untuk Lala yang sekaligus sudah melakukan kesalahan besar hari ini.


Dia akan memberikan hukuman yang setimpal untuk siska dan dua pengawalnya itu. Anak buahnya itu bodoh sampai kecolongan, membiarkan Lala terluka.

__ADS_1


Kevin keluar dari kamarnya, membiarkan Siska menggantikan baju Lala.


Setelah selesai, Siska keluar dari kamar memberikan hormat kepada Kevin lalu berlalu.


Tampak pemandangan cantik namun menyedihkan. Kevin menaiki kasur mengamati wajah Lala yang menggunakan baju tidur pink terbuat dari satin yang telah disiapkan beberapa hari lalu.


Dinaikannya selimut Lala sampai batas Leher, dia juga memberikan batasan guling antara dirinya dengan gadis yang dicintainya itu. Kevin tidur disamping Lala. Lelaki itu pun tertidur kelelahan setelah seharian di markas.


"Hnnnngghh!!! hngggh!!"


"Hei ... bangun yank," kata Kevin menarik tubuh Lala ke pelukannya.


Terlihat Lala begitu ketakutan dan kesakitan, ini pertama kali Kevin melihat Lala histeris dalam tidurnya.


Begitu bangun Lala shock berat, badannya gemetar hebat.


Hari masih jam tiga pagi, Lala kembali dalam tidurnya.


Kevin berjalan ke ruang kerjanya, menunggu laporan Billy.


Telepon tersambung dengan Billy ....


"Sudah kau temukan belum!"


"Ada yang membantu nona Bella kabur, Tuan," ucap Billy gemetaran.


"Aku tidak mau tahu kau harus menghabisinya sendiri dalam dua minggu ini!"


"Baik, Tuan."


Kevin mematikan teleponnya. Dia geram Bella kabur dari serangannya.


-Flashback On, POV Kevin Malam itu-


Bella adalah musuhku sejak lama, sebelum aku bertemu dengan Lala.


Kini kamu tak berdaya di depanku.


Aku akan menghabisimu, Bella Anastasya Kencana. Ini semua terjadi karenamu!


Itu ingatan terakhirku.


Saat aku membuka mata, aku di di kasur yang berantakan. Aku bangun dengan kepala sakit.


Saat aku bangun, Bella sudah tidak ada disana. Aku tak tahu apa aku sudah menembaknya belum.


Billy juga katanya tak melihat Bella saat assistenya itu tiba. Artinya musuhnya itu kabur. Saat itu pagi masih petang.


-Flashback OFF-


...***...


Pagi menunjukan pukul tujuh, terobosan cahaya putih menerangi ruangan besar nan mewah. Tirai pada jendela besar dan tinggi itu terlihat lux, Lala memandangi rumah-rumah yang tampak kecil di bawah sana.


Masih tak mempercayai dirinya berdiri di lantai paling tinggi Hotel Martini, hotel terbesar di kota ini.


Apa aku sedang bermimpi? mengapa mimpiku panjang sekali. Batin Lala.


Bulu kuduknya berdiri, terasa ngeri melihat ke bawah. Tempat ini begitu tinggi, namun Lala sangat kagum bisa melihat panorama pusat kota.


Dia menggeser tubuhnya, memandangi wajah tampan yang sedang tidur di sofa. Di tepuk-tepuknya pipi Kevin yang putih dan lembut.


"aaaaagggh!" keluh Kevin, sang wajah eropa tak mau di usik tidurnya. Lala tidak kehabisan cara, hidung mancung Kevin terus digelitiki.


Lelaki itu mengerjapkan mata terganggu, mau marah tapi sedetik kemudian bibirnya malah tersungging melihat tulisan besar : SELAMAT PAGI, SAYANG 😄


"Pagi juga, cinta!!" ucap Kevin dengan lembut lalu bangkit duduk meregangkan tubuhnya, Ia menarik pinggang mungil mendaratkan tubuh Lala di pangkuannya.


"Kau sudah bangun ... apa kau sudah mandi? mengapa cantikmu makin nambah ya?," goda Kevin seraya menjewer hidung Lala. Kemudian dia melihat langit ruangan, "Wahai para bidadari jangan iri ya! pacarku ini sangat mempesona, dan sayangnya menyaingi kalian!!."


Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat sang gadis yang di sanjung tak bisa menyembunyikan malu, senyum, dan tawanya.


Mereka berpelukan, pelukan pagi memang terasa sangat menyenangkan! ada kedamaian di sana.

__ADS_1


Terlebih ada aroma Vanila di leher Lala, membuat mood Kevin semakin naik.


Mata Lala teralihkan dengan perban di kepala Kevin. Ia baru menyadarinya jika kepala Kevin terluka. Di raba perban itu mencoba mencari tahu.


"Terkena tembok, sudah mau sembuh. Jangan khawatir," Kevin berusaha menutupi kenyataan saat menyadari Lala mulai menatapnya dengan penuh curiga.


Kevin menggendong Lala lalu melangkah. "Ayo sarapan. Sayang belajar makan bubur ya! Kamu juga harus belajar mulai membuka rahang ..."


Lala mengangguk, menautkan tangannya pada Leher sang pacar. Dia beruntung karena Kevin peduli dan perhatian. Tentu saja dia sangat suka digendong Kevin, gadis mana yang tidak suka jika diperlakukan begini.


Lala tengah berdiri membuat Kopi, sementara Kevin menekan tombol di meja makan untuk memanggil pelayan.


Wajah Kevin merona, Matanya menangkap keindahan, setiap tangan lincah gadis itu mengerjakan kegiatan rumah tangga.


Racikan kopi yang dibuat tangan Lala, kuat aroma dan rasanya. Kopi panas ini sungguh sangat menenangkan pikirannya. Tangan kirinya sesekali mere mas tangan Lala.


Pelayan pun datang membawa makanan.


Lala mencium sesuatu yang membuat hidungnya tak nyaman.Dia merasa mual. Semakin di tahan semakin mual.


"Kamu baik-baik saja?" ucap Kevin sambil makan, mencemaskan ekspresi muka Lala yang aneh dan terus menahan mulutnya.


Gadis itu berdiri dan berjalan cepat lalu lari sambil tangan kirinya memegangi perutnya, tangan kanan memegangi mulutnya


"Sayang!" pekik Kevin


"Huuk! huuuk!! huuuegggggg!" Lala berlari ke kamar mandi.


Kevin yang sedang makan, menjatuhkan sendok di tangannya.


Di dorong dengan Kasar kursi yang didudukinya, menyusul Lala.


"huuuk!! huuuegggggg,"


Berkali-kali gadis yang sedang jongkok, muntah ke closed. Gadis itu terlihat kesulitan membuka rahangnya karena masih kaku.


"Huekkkkgh."


Kevin memegangi rambut panjang Lala kebelakang agar tidak terkena muntahan.


Tangan kanan Kevin memijit leher dan punggung Lala bergantian. Kevin merasa ngilu melihat Lala kelabakan dengan mualnya.


Lala berpindah ke westafel membasuh wajahnya, memegangi keningnya, merasa tak beres dengan tubuhnya.


"Sayang," Kevin cemas melihat Lala setiap mau keluar kamar mandi ... gadis itu kembali mual.


Kevin beranjak dari kamar mandi meninggalkan Lala, untuk menghubungi dokter dan Billy.


Gedebuk!


suara keras dari tempat Lala.


"Lala!"


Hp di tangan Kevin terlepas jatuh, matanya melebar mendengar kegaduhan itu.


Kevin berbalik sangat khawatir..


!!


Kevin telah sampai di pintu kamar mandi alangkah terkejutnya dengan apa yang dia lihat.


Terlihat Lala sudah tak sadarkan diri di Lantai basah kamar mandi.


bersambung . . .


____________________________________


Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini.


Simak BAB selanjutnya🔍


Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘

__ADS_1


Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.


Sekali lagi terimakasih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.


__ADS_2