
...🇨🇱🇨🇱
...
Rumah dengan bentuk kubah ini terasa nyaman. Di kala yang lain asik dengan acara outdoor. Ivy sibuk di depan laptop ditemani secangkir coklat panas.
Dia mengirim email kepada kakeknya, Alen. Dia setidaknya masih tahu gerak-gerik Parker yang kesulitan masuk ke markas Richie.
Dengan meretas beberapa alat komunikasi anak buah Richie, Ivy jadi tahu papanya sedang disekap karena membuat Richie terluka.
Hanya pada kakek Alen Ivy bisa minta tolong. Ivy tidak berani meretas sistem keamanan Markas Richie, itu karena mereka menggunakan sistem keamanan tinggi. Salah-salah Ivy bisa ketahuan, dan semakin kesulitan menolong papanya.
"Kamu sedang apa dek?" tanya Amber. Dia yang baru masuk, menaikan satu alisnya, merasa heran melihat Ivy yang selalu tidak pernah lepas dari laptop.
Selepas mendaki pun, begitu sampai hotel langsung di depan laptop. Tidak beda jauh dengan Lydia yang tidak pernah lepas dari gadget.
"Ehm main game," kata Ivy. Dia menutup email.
"Papa belum ada kabar? tidak biasanya papa ingkar janji?" Amber bertanya soal Kevin.
"Mungkin papa sedang ada kerjaan."
Ivy beringsut melewati Amber. "Aku tidur sebentar. Masih capek kak, pijitin mau," kata Ivy dengan manja.
Mendengar keluhan Ivy, amber justru ingin menggoda sang adik. Dia mengikuti Ivy ke kamar, dan tidur satu kasur dengan Ivy.
"Kak, sempit, kamu tau kasurnya kecil. Jadi kakak tidur disebelah sono," kata Ivy. Dia yang tidur memunggungi Amber, kemudian mendorong Amber dengan pantatnya.
"Hih, gue jatuh dek! gue, gak bakal ajak elu ke Bali, baru tau rasa!" ancam Amber menahan tubuh di pinggiran, yang akan jatuh.
"Ampun! yaudah lah bodo amat sempit." Ivy berbalik menarik dan memeluk Amber. Dia meletakan kaki kanan ke lutut amber,"ikut ke Indo dong kak," bersembunyi di ketek Amber. Ivy sangat suka bau badan Amber.
"Ayo habis ini ke Indo, kakak masakin jengkol ya!?"
"No!!! bau!!"
Amber tertawa diikuti Ivy.
"Ka Amb, kembali ke London dong. Aku kangen tinggal sama kakak, di rumah sepi." Ivy merengek sambil mendoel-doel perut sang kakak.
"Lah kembaran mu?"
"Isla di asrama, Irish yang calon dokter itu jarang di rumah, mamah di toko dan papa pulang malam. Tiap nggak ada kelas, Ivy di rumah sendirian."
"Hmm kasian amat adek ku sayang, cu ... cu ... cu ...." Amber miring ke kanan. Menyingkirkan rambut hitam Ivy yang berantakan, ke belakang telinga Ivy. "Kamu belum punya pacar, dek?"
__ADS_1
"Nggak boleh papah, masa papah ngawasin kami pake bodyguard. Tahu nggak itu bodyguard ikutan kuliah, teman-temen Ivy gak tahu si. Tapi kan ngeselin!"
Amber tertawa."Itu artinya mereka kan sayang!"
"Kalo kakak?"
"Sudah dong, tapi jangan bilang mamah. Kamu tahu nggak? tepat sebelum ke Chile, kakak dapat ciuman pertama!"
"Oh, iya?! rasanya gimana kak!?" Ivy melebarkan mata, menyimak dengan antusias.
"Emmm, gimana ya, kakak nggak tahu, tapi dia tiba-tiba mendekat dan mengecup bibir kakak. ihhh!!! Tapi, bibir dia pecah-pecah dek! kering banged."
"Hu! Hu!Hu! kakak kasih dia lipbalm lah, kasian kan," kata Ivy sambil tertawa.
"Ah! nggak tahu lah. Dia cupu tau! Itu aja kakak yang nyatain perasaan duluan, ya ampun!!! padahal aslinya mah dia ganteng!" seru Amber dengan penuh gereget.
"Wah kakak hebat dong, berani menyatakan perasaan kaka hu!hu!hu! Jadi, apa ayah tau kakak pacaran?"
Amber terlentang menghadap cekungan kubah, "Ayah tahu, tapi Ayah selalu ngingetin ada hal- hal yang tidak boleh dilanggar," kata Amber dengan senyuman penuh. "Ayah tidak pernah banyak melarang, apalagi marah ... tidak pernah sama sekali."
"Begitu ya?" tanya Ivy lalu terdiam.
...🌃🇨🇱🇨🇱🌃...
Setelah tadi sore membuat adonan pizza bersama para turis dari negara lain, orang-orang berkumpul malam itu.
"Irish, sempat ambil foto Puma di Patagonia?" tanya Lydia.
"Sempat kak, bentar." Irish membuka ponsel, jemarinya dalam mode aktif. "ini ya kak?"
"Ah! keren sudut pengambilan fotomu, tepat! kirim ke aku dong dek." Lydia yang sempat mengembalikan hp, ditarik lagi. Di gesernya ke gambar yang sempat dilihat. "Hewan apa ini?"
Isla melihat foto di hp Irish, "Itu Armadillo, kak, lucu ya," sahut Isla sambil memberikan hapenya, "aku juga punya, nih , he..he..he."
"Ini pas elangnya habis makan bangkai guanaco, ya?" Lydia membulir lagi, "ini burung pelatuk bukan sih? aku juga sempat liat ini, tepat pas langsung terbang."
Lalu Irish dan Isla menarik hpnya, segera mengirimkan semua gambar yang diminta Lydia.
"Ibu mana kok tidak makan?" tanya Lydia, pada Isla dan Irish.
__ADS_1
"Sedang di depan sedang tidak mau di ganggu, sepertinya Uncle mencoba menghibur mama," jawab Irish.
"Emang Ibu kenapa?" tanya Lydia bertanya lagi.
Isla mengambil potongan pizza di meja, "sepertinya mama sedih karena papa yang belum menyusul. Aku juga nggak habis pikir dengan papa, nggak biasa-biasanya nggak ada kabar."
Ivy yang mendengar percakapan saudaranya hanya diam, diamengigit pizzanya dan berpandangan dengan Amber yang sibuk dengan ponsel. Ivy ingin menyusul kakek ke markas Richie, Ivy ingin menyusul papa tapi gimana caranya?
Ivy mengunyah dengan pelan, matanya ke kanan dan ke kiri dengan tatapan dalam. Membuat Amber bisa menangkap kegelisahan sang adik, "kenapa?". Pertanyaan itu dibalas gelengan kepala Ivy.
Pletak-pletak suara kayu terbakar menemani keheningan di antara mereka. Suara burung malam, menyemarakan malam dingin itu. Di tambah pemandangan indah inti bima sakti menghiasi langit malam.
Seharusnya jadi suasana yang menyenangkan, tapi Johan dan Lala yang duduk bersebelahan, justru tenggelam dalam keheningan di depan api unggun.
"Ayo masuk, kamu bisa sakit," ajak Johan pada Lala yang terus melamun.
"Aku nggak mau ikut ke Antartica, aku pulang saja, Johan."
"Ya sudah, aku antar kamu ya?"
"Jangan, kamu temani mereka saja. Kasian anak-anak ingin pendampingan."
Lelaki yang sudah memakai jaket tebal itu menurunkan resleting jaket, kemudian merengkuh Lala kedalam dekapan eratnya.
Tahu Lala yang tak menolak, Lelaki itu semakin mengeratkan lagi, berusaha melindungi Lala yang sudah menggigil.
Dagu Johan bertumpu di kepala Lala. "Sudah, jangan terus berlarut-larut, anak-anak mengkhawatirkan mu. Coba katakan apa yang harus aku lakukan untuk membuat mu tidak seperti ini."
"Kiss me."
"Apa?" tanya Johan merasakan tubuh Lala yang gemetar, "kamu butuh pelarian? lakukanlah semau mu. Tapi tidak untuk ciuman."
"Oh, aku memang tidak menarik, sampai kau saja menolaknya."
"Mencium kamu, satu hal favorit saya. Pasti Itu hanya mimpi."
"Jadi, mengapa kau tidak mencium sekarang." Lala melingkarkan kedua tangan ke dalam jaket Johan dan memeluk perut Johan erat. Dia memejamkan mata merasakan kehangatan yang nyaman itu, detak jantung Johan yang begitu keras terdengar di telinga Lala.
"Aku tidak mau aku yang lemah ini justru akan berbuat lebih jauh dan tidak terkendali. Begitu aku menyentuh bibir strawberry mu, aku pastikan pasti aku melakukan kesalahan lagi. Aku tidak mau menyakitimu lagi. Cinta ku akan selalu menunggu mu, berharap sebentar saja aku bisa memiliki mu seutuhnya. Dan itu hanya akan jadi mimpiku, meski aku sudah menunggu dalam seumur hidupku kan..."
"Seandainya ada tombol di hatiku, aku akan menekan tombolnya dan mencintaimu Jo."
"Tidak apa, tidak perlu buru-buru. Aku akan menunggu, Lala."
Amber membuka gorden, tangan yang lain telah memutar kenop, tapi melihat orang tuanya tengah berpelukan membuat dia mengurungkan niat. Amber tersenyum sembari memegangi dadanya yang menjadi dag-dig-dug senang bukan main.
Tuhan persatukan ayah dan ibu, Amber mohon...Batin Amber.
__ADS_1