
Cukup Lama, derap langkah kaki itu, mendekat dan menjauh. Tidak tahu itu Ars atau bukan. Lama sekali saya menunggu. Saya sudah tidak bisa menahan, pinggul saya terasa sangat penuh, saya takut akan mengompol.
Derap langkah menjauh. Saya mengintip. Hanya punggung pria yang terlihat, saat dia menekan dinding di sisi kiri lalu maju melangkah ada empat langkah, ke tempat dimana dia datang.
Besi muncul dari bawah dan menutup ke atas sepenuhnya, lalu terangkat, itu seperti lift.
Begitu besi menghilang ke atas. Saya setengah berlari. Di sekotak persegi itu, saya mundur empat langkah, saya tidak melihat tombol, hanya sebuah gambar angka di dinding, dan itu cukup banyak, saya meraba. Dan seketika suara gemuruh dari kotak persegi, saya langsung loncat ke sana saat kaca mulai naik dan duduk di lantai kayu.
Kaca tebal itu mulai tertutup ke atas, tingginya kira-kira dua meter.
Mengapa kaca? dan di dalam akuarium ini sekarang tidak ada cahaya sama sekali, beda dengan yang tadi ada lampu dari bawah.
Lift kaca ...
Mata saya terbelalak saya melewati banyak ruangan kaca, lift ini berjalan ke samping melewati banyak ruangan kosong.
Sampai ketika lift makin memperlambat tapi tidak berhenti saat saya melihat nyala lampu di ruangan depan saya, banyak wanita muda, di sana, mereka duduk berkumpul, saling mengobrol, ada yang makan.
"Apakah mereka bisa melihat ke arah saya?" sepertinya tidak, jika mereka melihat kesini pasti ada yang menatap saya.
Saya tidak mengerti sudah berapa ruangan yang berisi wanita-wanita muda. Apa mereka di sekap dan di culik? Merinding menjalar ke tulang belakang.
"Apakah tadi saya lewat sini? kemana akuarium kaca ini akan membawa saya," gumam saya sangat takut sehingga nafas saya menjadi sesak.
Lift berjalan lebih cepat dan sekarang sepertinya naik ke atas, saya tidak yakin.
Dan kini lift berjalan ke samping lagi melewati ruangan dengan banyak orang berpenutup kepala dan baju mereka seragam, sepertinya di sebuah pabrik.
Saya sungguh tidak mengerti, beberapa orang berlarian mendorong meja aluminium.
Dan beberapa tertutup -bilik biru laut- seperti di ruang operasi.
Saya mulai mabuk karena menahan pinggul yang terasa penuh, dan lift tidak sampai-sampai.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian lift memperlambat. Beberapa orang berkumpul mengitari sesuatu, di ruangan dengan cahaya redup biru. Dimana satu lampu menyorot pada tengah lingkaran itu.
Posisi saya lebih tinggi, dari ruangan mereka, sehingga saya dapat melihat, aku tak yakin, mereka seperti melingkari kulit. Dengan dua selang kecil seperti besi tertanam ke lubang kulit itu.
Kepala petugas tertutup kain biru, begitu juga seragam mereka sama-sama biru. Mereka menggunakan kaca mata bening, masker hidung, diantara mereka ada yang menggunakan senter di dahinya.
Ah jarum-jarum, pisau, gunting di dekat mereka. Apa itu dokter-dokter? apa mereka melakukan semacam operasi. lift telah melewati ruangan lain.
Saya tak yakin dengan apa yang saya lihat sekarang. Namun, sesuatu berwarna merah hati menarik perhatian saya. Tangan mereka yang bersarung latek warna biru memasukan -benda merah hati- dalam plastik, beberapa petugas lain memasukan -warna merah- itu seperti daging dalam butiran putih. Dan kembali memasukan pada butiran putih entah itu garam atau apa. Di sisi ruangan lain : -butiran putih menguap- apa itu es?
Mereka memasukan plastik berisi daging yang telah terlapisi butiran-butiran ke dalam -plastik yang berisi butiran mengepul - saya yakin itu es.
"Oh itu apa!" Sebenarnya, tempat apa ini, gila. Sepertinya, aku hanya bermimpi, pasti ini mimpi.
Pikiran saya terus membayang, daging merah keunguan. Bentuknya sepertinya kacang merah besar. Pandangan saya berkunag, bahu saya sangat loyo. Saya baru sadar saya menduduki sesuatu lembab, saya semakin menunduk dan saya tahu : tanpa sadar saya telah mengompol.
Kekacauan apa yang saya perbuat. Pantat saya telah basah, aroma amonia menganggu reseptor. Betapa buruk itu. Lift sialan.
Saya terus terisak sampai kepala saya ditepuk, bahkan saya baru sadar lift ini telah terhenti dan terbuka.
Orang berseragam biru, itu membelalakan mata. Dia langsung berlari, sampai menabrak orang lain.
Orang yang di tabrak itu menggunakan seragam operasi. Dengan sarung tangan putih dipenuhi cairan berwarna merah darah dan pisaunya juga penuh darah.
Habislah saya.
Ini bukanlah mimpi, ini tampak sangat nyata. Sangat buruk.
Orang yang di tabrak itu seperti melotot ke arah saya, dan langsung menghampiri saya sambil mengarahkan gunting itu ke arah saya. Tubuhku semakin dingin.
"Lala?"
Mataku melebar, otak saya mati, lelaki itu melepas sarung tangan dan jongkok di depan saya, meletakan sarung tangan dan gunting di lantai alumunium
__ADS_1
"Hei, Kenapa bisa di sini?" Dia membuka masker, saya tidak bisa mencerna pertanyaannya.
Saya mulai mengenali wajah dia, ketika dia melepas penutup rambut.
"Da-da-niel," saya sesenggukan tak berdaya.
Dia merengkuh tubuhku yang terasa tidak bertulang, ke dalam kungkungan besar.
"Saya, ada denganmu," Daniel mengelus punggung saya yang gemetar.
"Kamu bisa berdiri? kamu tidak boleh disini," katanya dengan lembut, dan saya menggeleng lemah.
"Ayo pergi, atau Ars akan tahu ini dan menghukum mu." Dia melepas tangan ku yang masih memeras baju seragamnya. Tanganku sedingin es dan gemetar.
Daniel meyakinkan ku, tangan panasnya menggenggam jemari ku. Ruangan ini sedingin es, aku semakin membeku karena dingin dan takut.
Aku masih mencengkram baju seragam di perut Daniel, saat lelaki itu memakaikan kan penutup rambut pada kepala ku.
Dia juga memakaikan kaca mata dan masker. Wajahku telah tertutupi.
"Pakailah ini," Daniel melepas seragamnya dan memasukan dalam kepala saya.
"Ayo cepat." Daniel dengan tegas sambil mencengkram ke dua ketiak ku memaksaku berdiri. Ah aku tak peduli mungkin dia menyentuh celanaku yang basah oleh ompol saat menurunkan seragam biru itu sampai sebatas paha saya.
Percayalah ... saya tidak bisa berdiri sama sekali dan Daniel menahan pinggangku untuk menempel di tubuhnya.
Kini Besi menutupi kami dan lift mulai jalan. Lift sialan.
Pipi saya tenggelam dalam dada Daniel, tubuh saya seperti melayang oleh lemas tak tertahankan.
Lift satu meter kali satu meter, sangat sempit untuk saya dan Daniel.
Kepala saya terkulai ke belakang, sehingga Daniel terus menahan leher saya dan pinggang saya.
__ADS_1
"Kumohon, bawa saya pulang," lirihku tak berdaya