
"Sanla Corp? mengapa kesini, Johan?" tanya Lala saat mobil itu sedang parkir di kantor milik sang suami.
Mereka para security menyambut kedatangan Lala dan Johan, lalu memandu ke lantai tertinggi Sanla Corp.
'Dari mana mereka tahu? o Suamiku menyiapkan semuanya? Why? Dia tidak cemburu?' batin Lala.
Lala dan Johan memasuki ruang Kaca. Ruangan berbentuk bola kaca besar. Cahayanya berasal dari lampu redup di setiap sudut lantai. Mata Lala berseri-seri manakala mendongak, melihat kelap-kelip bintang dan langit malam, 'ini sangat indah'.
Dia berdecak kagum menikmati view lampu- lampu rumah yang terlihat kecil. Wanita itu mengalihkan pandangan ke sisi lain, disana gedung Sanla Corp yang lebih rendah dengan dua landasan helipad begitu besar.
Sudah dua kali dia kesini, matanya masih tak mempercayai jika perusahaan besar ini milik sang suami yang lebih banyak diam, ‘Apa dalam diam, terlalu banyak yang kamu pikirkan suamiku?’
Puas memanjakan matanya, Lala berbalik menapaki rumput buatan, sedang kedua matanya terpaku, "candle light dinner, mengapa?" gumam Lala.
Lala melihat Johan yang tersenyum lembut, Johan dengan postur gentle menarik kursi untuknya, membuat Lala tertawa kecil karena Johan terlihat manis.
Johan mengernyit, "Astaga Lala, dukung suasana ini agar lebih romantis, mengapa kamu tertawa? apa yang lucu?"
"Apa ini Johan?" senyum Lala menggoda.
"Ikuti saja, kemari," kata Johan menarik bahu Lala membuat wanita itu duduk sambil terus menahan tawa.
Lala terus tersenyum lebar, mengamati setiap apa yang dilakukan Johan. Mereka duduk berhadapan melakukan kontak mata lama dengan pupil membesar dan kedua sudut bibir tertarik ke atas.
Cahaya dari empat Lilin dan aroma wangi mawar segar memanjakan hidungnya di tengah meja. Iringan instrumental saxophone romantis semakin membuat suasana hangat dan nyaman untuk saling mengobrol.
"Aku teringat malam dimana kita menghabiskan candle light dinner pertama," kata Johan dengan senyum hangat, dia memotong steak menjadi tiga bagian. mengembalikannya ke depan Lala.
"Itu di taman outdoor. Kita belum sempat makan ... tiba-tiba hujan turun, pakaian kita basah. Malam minggu kita gagal. Tapi sekarang kita tidak akan kehujanan seperti saat itu," kata Lala.
"Yeah, paginya kita flu berat. Mama Tiara dan papa Hans mengoceh" kata Johan sambil tertawa di sambut senyuman Lala.
"Meski begitu menyenangkan, aku ingat betul susah payahnya aku mengenakan dress panjang dan kau sengaja menggunakan motormu. Aku kesulitan menyincing karena baju itu terlalu ketat. Aku nyaris terlempar kebelakang karena kamu tiba-tiba menarik gas kencang dan tidak memberi tahuku dulu!"
"Aku kan sudah mengingatkan supaya kamu mendekap ku, kamu itu yang bandel," sungut Johan.
"Itu sangat dingin, pulang malam kehujanan dan kita sempat berteduh," kata Lala tak meneruskan kalimatnya, pikiran Lala melayang ke saat Johan mendekap di tengah hujan yang begitu deras disertai guntur.
"Yeah, kita menunggu lama sampai menggigil..." kata Johan menatap Lala yang termenung, 'Bisakah aku memiliki kesempatan lebih lama untuk memandang senyumanmu?' batin Johan.
"Kumohon," kata Johan lalu mengulurkan tangan, sepotong steak dari Johan itu di lahap Lala dengan senyum manisnya, membuat jantung Johan berdebar.
"Ada apa?" tanya Johan saat tangan kiri Lala mengelus kandungan.
__ADS_1
"Mereka menendang keras."
"Mereka?"
"Yeah dua peri cantik," kata Lala terus mengelus perutnya.
"Perempuan?"tanya Johan tersenyum kecut, dadanya berdenyut.
"Yeah, apa kamu suka anak kecil, Jo?"
"S-su-ka," kata Johan tergagap, "apa aku boleh memegangnya?" tanya Johan, jantungnya berdebar.
"Apa!?" mata Lala membulat, tangannya gemetar, "untuk apa?"
"Aku ingin memegang keponakanku," kata Johan dengan perasaan tidak karuan.
DEG 'keponakan? ini putrimu Johan,' batin Lala berkaca-kaca.
Johan menunduk, "Aku urungkan."
"Kenapa? pegang saja."
Langkah demi langkah sepatu Johan terdengar nyata, jantung Lala semakin berdebar. Denyut nadinya seakan berhenti saat tangan putih itu akan memegang perutnya.
'Bayi-bayiku menendang semakin keras, apa kalian merasakan sentuhan ayah, nak? kalian senang, kan?,' mata Lala memanas, kabut tebal menyelimuti matanya saat tangan hangat Johan menggeser ke kiri dan kanan di perutnya.
Johan tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan mulut ternganga seolah meminta penjelasan.
Mereka berpandangan cukup lama, jantung mereka berdetak dan mereka meneteskan air mata bersamaan.
"Kevin sangat beruntung, dia akan menjadi ayah, pasti dia akan jadi ayah yang baik untuk putranya," kata Johan dengan hati dan bibir gemetar membuat Lala menelan salivanya.
Lala teringat pesan ayah Alen, namun dirinya tidak memiliki kekuatan untuk berterus terang pada Johan.
Bersimpuh di lantai, kepala Johan menunduk dengan kening bertumpu pada paha Lala.
Tangan Lala mengepal,"Johan, mereka akan salah paham."
"Hanya kita disni. Lala, kau pergi begitu saja ke negara ini tanpa menjelaskan apapun padaku. Kau tak memberikan aku satu kesempatan untuk lebih dekat denganmu dan tiba-tiba menikah dengannya?" tangan kiri Johan memegang pergelangan kaki wanita didepannya, "hati ini sangat sakit Lala..."
Jantung Lala berdenyut, "menyebalkan, mengapa begini? Aku sudah menghubungi kamu, berminggu-minggu kamu tidak ada kabar," kata Lala sedikit terisak, "Aku khawatir bila sesuatu buruk menimpamu."
Johan tak bersuara, menatap kosong pada lantai, bibirnya keluh dan hatinya berdenyut.
__ADS_1
"Kau bahkan tak tahu bagaimana aku kebingungan saat kau, Bella dan ayah menghilang bersamaan. Hanya kalian yang aku miliki, itu bulan terberat, sangat berat, aku kira hidupku telah berakhir."
Lutut Lala lemas, "Mengapa kau tega," tangan kirinya memegang rambut Johan, "bilang menyayangiku, itu hanya dimulut mu. Kau memperkosaku! jawab aku, jangan cuma diam, cepat jawab," geram Lala meremas jemarinya. "Ini terakhir kali aku meminta penjelasan, kamu pengecut! apa kata-kataku ini terlalu kasar? jadi jawablah atau aku tidak akan menemui mu lagi," tangis Lala.
Johan mendongak, pipinya basah dengan mata menghunus tajam, "Bagaimana jika aku melakukannya karena aku terlalu menyayangimu?"
Lala mendelik, "Aku yang gila ya? Jo! kau memperkosaku! mana ada seperti itu, disebut sayang!!"
Jantung Lala pada kecepatan maksimal, hatinya mendidih, bom pada dirinya siap meledak, dia tak terima dengan jawaban Johan.
"Dulu aku mengagumi mu, di tengah jalan kamu menghancurkan harapanku! Aku terus menahan kemarahan di dalam dada, itu tak pernah bisa hilang Jo. Belah! dadaku, lihat sebesar apa aku membencimu!"
Tangan kanan Johan mengepal, giginya gemertak " hhiiih! Kamu pernah membenci Kevin, lalu memaafkan ... bahkan menikah dengan dia. Kenapa kau tak seperti itu juga padaku?! Bagaimana bisa aku menolong hatiku, setelah kau mengukirnya begitu dalam," memukul dadanya, "di sini. Kau tak adil Lala."
Tatapan kecewa dari mata Lala membuat Johan tak karuan, terutama saat wanita itu beranjak meninggalkannya.
"Perbincangan kita belum selesai!" bentak Johan.
“Seribu kalimat keluar dari mulutmu takkan merubah apapun! Lebih baik ini terakhir aku melihatmu."
Johan tertunduk, hancur sudah semuanya.
"Saat awal bertemu, kau memintaku menolongmu!"
Pintu kaca terbuka otomatis karena sensor, Lala membalikan badan menatap Johan yang terlihat terpukul.
"Sangat cantik, aku terpesona! hingga kini aku tak bisa melupakanmu. Itu mengesalkan. Bahkan sampai pagi itu Kau semakin cantik tanpa sehelai benang..."
"Beraninya kamu Jo!"
Tangan Lala mengepal, hatinya berdenyut dan hidungnya berkerut menghunus mata Johan saat laki-laki itu menatapnya kosong.
BAK!
Tubuh lelaki itu jatuh terkulai di Lantai, Lala menjerit matanya terbelalak.
"Johan, jangan bercanda," kata Lala dengan suara naik satu oktaf. Dia menepuk pelan pipi Johan dengan mata berkaca-kaca.
Badan Johan demam tinggi saat Lala memegang kening Johan. Lala kembali ke arah pintu dan menekan tombol panggilan ke dinding, "Cepat kemari!"
"Segera, Nyonya."
Lala berbalik ke Johan, susah payah dia bersimpuh karena kandungannya. Dia memeriksa nafas Johan, jantung Lala berdetak kencang menatap nanar wajah pucat Johan.
__ADS_1
Lala menoleh ke arah pintu menunggu mereka datang, pandangan berbalik lagi menatap tubuh Johan, tangannya mengulur menarik kaos Johan ke atas, "Kenapa?" gumam Lala dengan bibir gemetar menyentuh perban di perut Johan.
Tak lama dua penjaga datang tergopoh-gopoh membopong Johan, membawanya ke rumah sakit terdekat..