
...🇲🇨🇲🇨...
Baru-baru ini Lala, membuat rencana untuk bersama Bella, dan baginya tampak tidak ada yang dapat menghentikannya dan tidak ada yang dapat memisahkannya ... tetapi pikirannya salah.
Peti mati itu tertahan dan hati-hati diturunkan ke dalam lubang dingin yang sepi. Kesepian ... Lala ingin tahu apakah Bella mungkin tidak kesepian sama sekali? Pikiran konyol.
Ibu Sarah, Mas Aris, Edrick, Johan, Luca berdiri di dekatnya, dimana Lala hampir tidak bisa menahan air matanya dan berdiri di atas kakinya, terisak dan, dengan bantuan Richie, mendekati lubang yang dalam, tetapi pada saat yang sama tidak.
Membungkuk, Lala mengambil segenggam tanah dan menarik nafas gemetar.
"Beristirahatlah dengan tenang, sahabatku," bisik Lala, dan melemparkan tanah ke peti mati.
Tetap saja, tidak dapat menahan emosinya, Lala berbalik dan membenamkan dirinya di dada calon suaminya, dan pria itu tersenyum hangat tapi sedih padanya.
Lala tidak bisa mengambil langkah. Lala tidak merasa ingin bernafas lagi. Dia tidak bisa lagi hidup bahkan eksis sebagai benda mati. Lala merasa seperti dia mati di dalam.
"Ayo, sayang, pergi."
Suara Richie terdengar tepat di atas telinga, lalu Richie membantunya melangkah.
Langkah lain dan dia hampir jatuh di lubang itu sendiri. Sambil memegang tangan Richie untuk menopang, Lala berjongkok dan mengambil tanah yang dingin. Kering dan hitam, seperti hatinya.
Dia mengulurkan tangannya dan membuka jari-jarinya sehingga tanah jatuh di tutup peti mati yang berwarna merah anggur. Lala perlu mengatakan sesuatu, tetapi dia tidak bisa.
Lala masih tidak percaya, bahwa, Bella tidak ada lagi.
Sepertinya, ini semacam mimpi buruk dan Lala akan bangun ... atau dia harus bangun, karena merindukan tangan Bella yang selalu memeluk dan menghangatkannya.
Suara Bella yang menceritakan kisah yang berbeda dan semacam omong kosong.
Lala ingin bangun dan lari dari tempat yang berbau kematian dan kesakitan ini, tapi Lala tidak bisa ... Wanita itu tidak punya kekuatan untuk bangun. Ingin menangis atau berkelahi dengan histeris, tetapi tidak berhasil, karena dia meninggalkan semua air mata di mana Bella berhenti bernafas.
Wanit hamil itu merasa seperti Boneka. Rusak dan dibuang ke tempat sampah. Sepertinya, dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk hidup.
"Sayang, jangan duduk di tanah, kau tidak bisa," kata Richie membantu Lala berdiri.
__ADS_1
Namun, sepertinya tubuh Lala menentangnya, kepalanya berenang dengan tajam, dan mata Lala menjadi gelap. Tanah kokoh yang tersisa dari bawah kaki dan kenyataan hilang dalam keheningan. Tetapi sebelum dia benar-benar terjun ke dalam kegelapan, Lala bersumpah, bahwa dia mendengar suara kekasihnya.
"Bangkit Lala, Bella pasti tidak mau melihatmu seperti ini."
...🇲🇨🇲🇨...
"Sayang, sudah satu minggu dan Bella sudah tenang di sana. Apa kamu tidak melihat aku di sini? jangan terus tenggelam sayang." Richie menyingkirkan rambut Lala ke belakang telinga. Tetapi wanita itu terus termenung, di depan -tv menyala- bersandar pada dinding kamar tidur, seolah tidak memiliki tulang penyangga dan tampak loyo.
"Bahkan kamu tak mau ke rumahku, rumah kita, sekadar untuk melihatnya, sampai kapan kamu akan mengurung diri di rumah kecil ini? para tetangga datang, kamu tidak menjawab pertanyaan mereka, apa perlu aku membawa mu ke Cambridge?"
Lala menggelengkan kepala dengan enggan, gelengan yang nyaris tidak dapat ditangkap Richie. Dia menatap Vino yang bermain di lantai yang dialasi karpet gabus. Untuk hanya berkunjung di kantor waterboom yang sangat dekat lokasinya, Lala merasa tidak mampu karena seolah dia sedang terjebak dalam ruang gelap hampa udara.
Padahal sebelum kematian Bella, dirinya sangat bersemangat ingin mengetahui perkembangan usahanya. Namun, kini, dengan duduk di ruang tamu, menatap mondar-mandir rombongan bus yang pasti menuju waterboom sudah mewakili keingintahuannya.
Tampaknya, Kevin juga tidak berniat mengunjungi makam Bella, padahal mantan suaminya yang menembak bahu Bella. Dia diberitahu Ivy lewat video call bahwa papahnya terus mengurung diri di kamar, di Cambridge dengan sesekali Dokter datang berkunjung.
Dan selama itu pula, Kevin yang biasanya semangat untuk melakukan panggilan video dengan Vino sampai detik ini belum menghubungi.
Padahal Vino terus memanggil papahnya, tampaknya putranya itu merindukan sang papah. Panggilan dan pesan Lala pun tidak direspon, padahal ponsel Kevin aktif, termasuk Parker dan kepala pelayan ikut tak merespon. Dia tidak tahu apa yang dialami Kevin kenapa sering berurusan dengan Dokter.
Lala merasakan suara ragu-ragu Richie. "Aku tidak sendirian, Amber dan Lydia selalu datang tiap malam.
"Mas, jangan khawatir, ya? ada Sasha, Ella, Johan dan mas Luca. Aku akan tetap di sini menunggu Edric, aku sudah berjanji padanya akan mengunjungi beberapa tempat dengan Edric, setelah dia dari tempat neneknya."
"Sayang, jika mau, ikutlah beberapa hari bersamaku, atau setidaknya tinggal di rumah besar di sebelah rumah sakit, di sana lebih aman. Atau biar Jefri yang akan mengirim Edric kembali ke Cambridge."
"Mas, ini rumahku, aku nyaman di sini untuk saat ini." Lala melempar kepalanya ke bahu Richie. "Aku ingin mengembalikan kekuatanku , jadi satu bulan lagi sudah bisa fokus di hari pernikahan kita."
"Apa perlu, aku mengatur jadwal healing mu agar dilakukan di rumah saja?" Walaupun sudah mengupayakan trauma healing untuk sang kekasih, tetapi Richie masih merasa was-was. Apalagi Lala terus menyalahkan diri sendiri atas kematian sahabatnya.
Pria itu tidak mau bila nantinya akan jadi trauma berkepanjangan yang menyiksa psikis calon istrinya. Terlebih Lala tidak mau terbuka dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan.
"Aku akan sesi konsul di rumah sakit saja, mas." Merasa nyaman dengan pelukan dari tangan kiri Riche yang melingkari dadanya
"Ingat bayi kita, Risaa. Tolong jangan siksa dirimu hanya karena semua hal di sekitar. Kita harus tetap melangkah ke depan dan lebih fokus pada kehidupan rumah tangga kita. Boleh aku bermimpi memiliki keluarga yang bahagia?" Richie mengelus lengan dan mencium rambut Lala. "Dan aku mencintaimu."
__ADS_1
"Kita sedang membangunnya." Lala menoleh menghadap Richie, dengan tangan mengusap pipi calon pengantin. "Aku juga mencintaimu, mas." Membalas senyum hangat lelaki itu dengan dua kecupan lembut di dagu Richie.
Hati Lala mulai menghangat dan tampak lebih baik setelah menyambut ci..uman ringan sang kekasih bahkan itu menjadi ciu..man terlama secara harafiah sepuluh menit, dan hanya ciu..man dan pelukan kasih sayang yang dirasa Lala menguatkan hatinya dan mengembalikan kesadarannya yang dari kemarin tampak kabur.
...🇲🇨🇲🇨...
Hari-hari di jalani setelah ditinggalkan Richie ke Moskow. Lala dengan emosi yang berubah-rubah tangis, tertawa getir, marah saat sendirian, tak menyingkirkan fakta bahwa jiwanya benar-benar terguncang.
Sebuah panggilan datang dari Kevin saat ponsel itu bergetar di atas meja taman. Kini Lala begitu takut untuk terhubung, sehingga dia hanya menatap kosong, sesekali dengan getir membaca chat dari Kevin yang tiba-tiba datang memberondongi dan Lala tidak berniat untuk mau menjawabnya.
"Lala!!!!"
"Johan?" Lala mengerutkan kening, menatap seseorang jangkung yang muncul dari pintu rumah. Rumah baru, dua lantai milik Johan, dari semalam dia menginap di sini sekamar dengan Lydia dan Amber.
"Kau membawa apa?" Lala tidak dapat menahan senyum dan tiba-tiba senyumnya pudar saat baru sadar Johan menjinjing keranjang kucing. "Eh punya siapa itu?"
"Lydia memutuskan membeli ini, kita liat apa putrimu bisa merawat ini." Johan meletakan keranjang itu di atas meja taman dan dia duduk membungkuk mengamati kucing abu-abu yang tampak gemuk.
"Lihat," menarik keranjang kucing dan mengintip, "ya, Tuhan imut sekali, gemoy. dan dimana Lydia?"
Lala menatap sahabat pria yang sedang memandangi dengan intens. "Johan?"
"Lydia sedang mengambil paket di agen pengiriman. Dia mengambil untukmu, La."
"Mengambil apa?"
"Putrimu itu mendesain gaun koktail merah, dan itu menjadi debutnya di ajang London fashion Week, saat kamu di culik Ars."
"Ya, dia cerita." Lala membuka pintu box putih, saat pria itu mengangkat alisnya dan tersenyum manis.
"Temani aku menghadiri undangan pesta pernikahan, ya? dan kenakan gaun itu."
"Kapan?" Lala membawa kucing ke pangkuannya. "Yaa, si empus manja banged." Mendapati leher kucing itu bertopang di sikutnya seperti bayi.
Johan mencondongkan tubuh untuk mengelus bulu lembut kucing hingga tanpa sengaja menyentuh tangan Lala dan membuat jantungnya berdebar, makin tersenyum, "nanti malam."
__ADS_1