Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 55 : KEPENCET


__ADS_3

Disisi lain negara Kepulauan.


Johan menginap dalam satu kamar yang sama dengan Budi. Dua lelaki yang paling dikagumi seantero kampus Melalang Buana itu terpilih untuk mewakili kampusnya.


Dua hari mereka di hotel bersama dua belas pemain basket terpilih dari kampus lain untuk mengikuti pemusatan pelatihan (Training Camp). Mereka sedang sibuk uji coba persiapan, sebelum kompetisi basket antar negara yang akan di selenggarakan di kota Cambridge.


Johan yang terus mencoba telpon Lala, namun nomer gadis itu tidak pernah aktif. Sebenarnya dimana keberadaan Lala kini. Kakek Lewis sudah mengutus anak buahnya, namun Lala belum ditemukan.


"Sedang telepon siapa si? telepon Lala lagi? Ayolah bro, lupakan Lala ... masih banyak gadis-gadis di sekitarmu yang lebih menggoda," ucap Budi yang sedang berbaring di bed satunya.


Johan melirik Budi sebentar lalu kembali ke hpnya. "Dia tidak mungkin menghilang begitu saja, aku tidak tahu dimana dia sekarang? dia tidak mungkin menghilang, dia tak akan pergi jauh-jauh karena Lala sangat menyayangi ayahnya. Rasanya tidak mungkin dia menjauh dari ayahnya yang berkerja di tempat Grandpa."


Budi beranjak dari tidur dan duduk di pinggiran, bed. "Kamu tidak boleh seperti ini, Johan. Tiga bulan lagi Laga sudah dimulai. Sebagai perwakilan kampus ... kita tidak boleh mengecewakan mereka."


"Apa kau meremehkan kemampuanku dalam bermain basket,Bud?"


"Tidak sih, hanya saja aku tidak mau kejadian setengah tahun lalu terulang lagi, aku hanya mengingatkan tanggung jawab mu. Aku tidak mau performa mu menurun apalagi hanya karena gadis miskin itu."


"Bud, kau jangan ngomong gitu dong. Sebagai sahabat seharusnya kau selalu mendukung ku ... termasuk dalam soal asmara ku. Dan dia bukan gadis miskin, Kau tidak tahu saja penghasilan ayah Lala, gajinya tidak sedikit, mereka hanya coba hidup sederhana."


"Apa bedanya miskin dan sederhana, sama saja. Lala hanya mendekatimu karena uangmu kan ... kau saja yang tidak sadar."


"Apa kamu menilai semua orang hanya dengan uang, Bud? atau jangan-jangan kau sendiri mau dekat denganku hanya karena uang? lalu jika aku tak kaya, kau tak mau berteman denganku, gitu?"


"Apa sih kamu, Jo? mengapa kita jadi berdebat gara-gara Lala lagi! Siapa tau Lala yang terus kamu bela malah sedang enak-enakan dengan pria lain kan? Buktinya dia tidak pernah menghubungimu lagi?"


"Bagaimana bisa, kau berpikir kotor tentang Lala? kau saja tak pernah mau berteman dengannya, kau tak tahu apa-apa soal Lala!"


"Ya, jelaslah, untuk apa berteman dengan dia, Level dia jauh dibawah kita, syukurlah Lala tau diri dan menghilang dari kampus, bila perlu hilang saja selamanya," kesal Budi.


"Brengsek kamu Bud, sudah berapa kali ku bilang? Aku tidak akan pernah mengalihkan perasaanku dari Lala, jadi jaga ucapan mu!" Johan dengan dongkol meninggalkan Budi, dia beranjak meninggalkan kamar lalu turun ke Lounge di hotel besar itu.

__ADS_1


**


Jam 12 malam waktu Cambridge, Luca sudah tiba di rumah. Ia di jemput sopir, sang sopir dari kediaman rumah Ayah Anton di Clarckson Road.


Hawa dingin malam itu langsung menguar masuk mobil, saat sopir membukakan pintu. Udara malam ini sekitar dua derajat celcius. Begitu Luca turun, hawa dingin menerjang dan mulai menusuk tulangnya. Dia dalam kondisi tidak fit dan terlalu lelah, jadi udara dingin ini semakin membuatnya menggigil.


Beberapa pelayan sudah berdiri di pintu, dan kepala pelayan juga menyambut kedatangaan Tuan muda pertama dari keluarga Anton.


"Dimana dia?" tanya Luca tanpa basa-basi.


Sang kepala pelayan membantu Luca untuk melepas jaket tebal dan sarung tangannya. "Tuan Kevin masih sibuk dengan tugas kuliahnya di ruang baca, Tuan."


Luca lalu berjalan menaiki tangga di sisi kiri, Ia menghampiri ruang baca, terlihat dari jauh ... ruangan itu lampunya menyala, pertanda ada penghuni di dalamnya.


Sesampainya di pintu, Luca menghentikan langkahnya, dia melihat punggung Kevin. Luca melihat adiknya yang sibuk membolak-balik buku dan mencatatnya, buku-buku bertebaran di atas meja panjang itu, sepertinya adiknya itu sedang banyak tugas.


Luca memasuki ruang baca, dan duduk di sofa, di samping meja panjang itu.


"Bagaimana kabarmu? mengapa tidak pernah menelpon?," kata Luca sambil memandangi adiknya yang tetap menggemaskan walau bersikap dingin terhadap Luca.


"Mau sampai kapan kau seperti ini, Kevin? Sekarang kau sudah besar, akhiri sikap dingin mu itu. Apa yang membuatmu marah dari kecil, ha?" tanya Luca meskipun tak di gubris.


"Kita keluarga, ayo bangun layaknya sebuah keluarga. Apa kau tak merindukan kebersamaan kita? waktu kau berumur 15 bulan, kau tau? kau selalu menangis dan hanya mau diam, setelah aku yang menggendong mu.


Namun mengapa sejak mulai masuk TK kau berubah? Apa ini soal Mamah? Kau masih punya aku, abang mu ini selalu mendukung mu. Mama-kita, memang tidak perhatian seperti orang tua pada umumnya. Rasa sakit mu karena tidak diperhatikan, itu juga sama aku rasakan. kamu tidak sendirian ..."


Luca merebahkan kepalanya ke sofa. Dia memejamkan mata, omongannya tidak di respon Kevin. "Kau tidak ingat pesan kakek? kita memiliki PR untuk mengembalikan keakraban keluarga. Tugas kita yang harus menyatukan mama dan papa dari perang dingin berkepanjangan ini. Kau tidak mau kan sampai mati ... terus seperti ini. Kau juga jangan lupa, fabio adik kita, tak boleh kita mengacuhkannya, Kevin."


Dalam mata terpejam, Luca mendengar gerakan Kevin, Luca membuka mata dan terlihat Kevin telah berdiri dan hendak meninggalkanya.


"Lala menghilang," celetuk Luca lalu berdiri, menghampiri adiknya yang menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Aku mencarinya, mengapa dia bagai hilang di telan bumi? apa kamu tidak mau tahu soal Lala? dia cuti akademik sampai dua semester," tutur Luca mencari tahu respon Kevin.


"Untuk apa aku tau soal Lala?" ucap Kevin dengan dinginnya.


"Bukannya dulu kamu yang paling menantang papa soal perjodohan Lala dengan ku? mengapa kau sekarang tak peduli? Bagaimana bila terjadi sesuatu dengan Lala?" tutur Luca.


"Aku tak peduli," ucap Kevin dingin meninggalkan Luca di ruang baca.


Luca masih berdiri di ruang baca itu sendirian. "Apa dia sudah tidak mau tahu soal Lala lagi? wah bagus dong! aku bisa bebas mendekatinya kalau begitu."


**


"Nona, minum jahenya dulu ..." ucap Inem sambil meletakan segelas jahe.


"Makasih Inem." Lala meminum jahe itu sampai habis. "Mengapa Kevin belum kembali? ini sudah tengah malam loh, teleponku tidak diangkat Kevin, Inem."


"Mungkin tugas kuliah Tuan masih banyak. Kata Tuan, nona tidak perlu menunggu. Sudah waktunya Anda harus tidur, kasian bayi-bayi anda."


Setelah menunggu beberapa lama, Lala memutuskan ke kamarnya. Lala khawatir karena Ini pertamakalinya Kevin meninggalkannya sampai larut malam. Lala gelisah, semoga tidak ada apa-apa dengan Kevin.


Di kamarnya yang redup Lala memegang ponselnya, dia coba melakukan panggilan ke nomer Ayahnya. Masih sama, nomer Ayah tidak aktif. Lala menggulir buku kontak, disitu terdapat nama Johan. Kevin telah menambahkan nomor Johan di hp.


Dari siang, Lala masih belum siap menghubungi Johan, Ia bingung mau bilang apa. Bila Johan di depannya mungkin dia bisa mengeluarkan semua maksud hati Lala. Tanpa sadar, Lala telah menekan panggilan video dengan Johan.


"Halo? siapa ini?" tanya Johan dari layar hp.


Lala yang otaknya masih ngebug, menatap layar hp karena suara itu.


"Lala????ini beneran kamu?" Shock Johan yang terlihat berkaos putih dan duduk di kamar dengan latar jendela kaca yang terbuka kordennya, terlihat di tempat Johan sudah pagi dengan langit yang sudah cerah.


DEG.

__ADS_1


Lala baru sadar jika dia tanpa sadar melakukan panggilan video dengan Johan.


Dengan masih shock, Lala mematikan hpnya dengan tangan gemetar. Jantungnya mulai berdebar cepat setelah sempat melihat wajah Johan yang menyapanya, kringet dinginnya tiba-tiba keluar dari sekujur tubuhnya.


__ADS_2