Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 61 : SANLA CORP


__ADS_3

Dari sore Kevin tak keluar kamar membuat Lala jadi gelisah, tak biasa-biasanya pria itu seperti ini, sekalinya di rumah malah begitu. Apa dia marah? apa dia salah mengira.


Bolak-balik Lala hendak mengetuk pintu kamar Kevin, tapi dia selalu mengurungkan niatnya. Ditatapnya pintu kamar Kevin, "ketuk ega, ketuk ega."


Klek- pintu terbuka, sang pacar dengan kaus hijau dan celana selutut itu berdiri di depannya dengan bau alkohol yang kuat. "Kamu minum?" pertanyaan bodoh keluar dari mulutnya.


Lelaki itu melewatinya begitu saja.


DEG. Benarkan pacarnya marah. Lala terus mengikuti Kevin yang berjalan ke meja Lounge, lelaki itu mengambil dua botol minuman beralkohol.


"Sudah dong, maafin aku sayang, ada apa bilang? kamu belum makan malam jangan minum lagi," pinta Lala menghalangi Kevin, tangannya setengah memegangi perut hamilnya.


"Minggir," ucap Kevin dingin.


Setiap Kevin memilih jalan lain, Lala menghalanginya.


"Aku masakin ya? kamu harus makan."


"Enggak, minggir, aku mau sendiri," tatapnya sayu.


Diberikannya jalan untuk lelaki itu Lewat, gadis itu mengikutinya dari belakang sampai kamar sang empu. Laki itu menatapnya tajam seolah menyuruh Lala pergi dari kamarnya.


"Aku cuma punya kamu, jika kamu begini lalu bagaimana aku? aku akan tidur di kamarmu malam ini." Gadis itu masuk dan naik ke Kasur Kevin, kasur yang sejatinya belum pernah di tiduri Kevin sejak pindah ke sini.


Lelaki itu menatap Lala yang tengah merapikan bantal, Kevin kemudian menutup pintu kamar, menguncinya dan berjalan ke sofa yang tidak jauh dari kasurnya. Ia meneruskan acara minum penghilang penatnya, namun Kevin menyadari dia tidak boleh terlalu mabuk, Ia tak mau hilang kendali apalagi yang ia takutkan bila dia tak sadar melukai pacarnya.


Lelaki itu terus melirik Lala yang sibuk mengganti-ganti chanel tv, terlihat pacarnya itu tidak serius menonton tv. 'Apa sepesialnya Johan dari pada aku? Bukankah aku yang melindungimu? kamu juga tak mencintaiku sama seperti orang-orang, apa sesulit ini untuk mendapatkan cinta?' Kevin menyesap minumanya sampai habis satu botol lagi.


"Yank sini, udah dong, jam satu loh, tidur," panggil Lala yang sudah mengantuk.


"Sana tidur di kamarmu,ada setan di kamar ini," kilah Kevin yang baru mau ngomong, ia masih tak mau beranjak dari sofa. Dia tidak bisa tidur, mabuknya pun nanggung.


"Kemari peluk aku, sayang," manja Lala.


Ia memilih diam menyandarkan kepala di sofa tak menggubris ajakan Lala.


Kepala terasa pening, Kevin setengah sadar membuka matanya karena merasakan sesuatu. Terlihat Lala sudah tidur dalam keadaan duduk disampingnya. Jam menunjukan pukul tiga pagi.

__ADS_1


Poni Lala disibakan. Kevin beralih mengelus pipi Lala yang mulai cubby. Gadis itu terbangun karenanya.


"Kau sudah bangun, Kevin? ayo tidur..."


Lelaki itu menggendong Lala, bak menggendong bayi, meindahkan ke kasurnya, lalu menyelimutinya.


"Mau kemana? jangan pergi." Lala menarik tangan Kevin. "Please ..."


"Nggak, nggak boleh."


" Terserahlah," ucap Lala dengan suara pelan tapi terdengar kesal.


Kevin beranjak.


"Sayang!!! kemariiii!" geram Lala.


Pria itu berbalik "Apa?" Terlihat gadis itu cemberut dengan wajah ditekuk.


'Selalu pasti memasang wajah memelas itu' Batin Kevin kesal, membuatnya menghampiri Lala. Ia beranjak naik kasur itu, berbaring di sebelah Lala. "Sudah cepat tidur."


Bantal guling yang sudah Kevin tata diantara mereka, disingkirkan Lala.


"Nggak mau."


"Itu bahaya aisshh, jangan memancingku, berikan gulingnya, atau aku tidur diluar." titah Kevin.


Dalam sepersekian Detik Lala memeluk Kevin dengan erat, gadis itu langsung memejam mata setelah memaksa tangan Kiri Kevin untuk jadi bantalnya.


Lelaki itu menghela nafasnya, hobi sekali pacarnya itu menyiksanya. "Jangan salahkan aku jika aku memaksamu,sayang." Kemarahan di hatinya yang dari kemarin tiba-tiba luntur saat kehangatan badan Lala mampu sedikit melipur kekecewaanya.


**


...Parker masih sibuk di depan Laptopnya, kerjaannya menumpuk, ini sudah jam tiga pagi, matanya sudah mulai berat, jantungnya sudah mulai berdebar minta jatah tidurnya....


Ting-


Tong-

__ADS_1


Dengan tubuh yang mulai terasa berat karena kantuk, dia berjalan keluar dari ruang kerja. Melewati ruang makan dan berakhir di ruang tamu, dibuka pintu. Tampak seorang wanita muda berjaket tebal dengan rambut terikat yang tertutup topi rajut dan mengenakan kaca mata serta menenteng tas kerjanya.


"Pagi, Tuan Parker" hormat wanita itu.


Hawa dingin dari luar yang bersuhu satu derajat celcius itu mengigit kulit Parker. "Cepat masuk."


Mereka masuk ke dalam, menyilakan Lyra duduk di depan meja panjang yang tidak jauh dari meja makan. "Teh atau Kopi?" tawar Parker pura-pura tidak tahu minuman kesukaan wanita itu.


"Kopi, jika boleh gulanya tiga sendok teh, dengan dua sendok teh creamer," jawab wanita itu.


Ya jelaslah Parker tahu kesukaan Lyra, dulu kerja bersama cukup lama saat dirinya masih berwajah Billy.


Kopi hangat pesanan spesial terhidangkan di depan wanita yang sudah melepas jaket, dan topinya, meninggalkan syal yang masih terlilit dilehernya.


"Anda tinggal sendiri, Tuan Parker?"


" Ya jelas tinggal sendiri, memang sama siapa lagi. Tak usah formal, panggil saja Jason."


"Parker Johnson, kenapa aku harus memangilnya Jason, itu kan jauuuuh?"


"Ya, mereka biasa memanggilku begitu." Parker menyesap kopinya. Penghangat ruangannya tidak maksimal. Ia lumayan kedinginan karena terkena udara luar barusan.


"Jadi apa yang mau kau sampaikan?" tanya Parker yang melihat Lyra sudah siap dengan laptopnya yang telah menyala. Wanita itu menunjukan layar laptopnya.


"Perusahaan Fintech dengan nilai 7,4 milyar poundsterling? SANLA Corp? What?? Apa kau bercanda Lyra? atas nama Tuan? di kota ini?" Parker tak mengira, Tuannya telah dua tahun lebih mendirikan perusahaan fintech di kota ini, itu artinya sejak saat Tuannya ambil pendidikan kesetaraan syarat untuk masuk kampus di Kota ini. Yang membuatnya terkejut dalam waktu sesingkat itu bosnya bisa meraup keuntungan sebesar itu? bosnya memang gila, umur boleh muda, otaknya memang jenius. Parker geleng-gelang kepala.


"Ya, apa ada yang aneh?"


"Mengapa Bos baru memberitahuku?"


"Emang kamu siapa? kamu baru masuk, apa yang spesial dari kamu, sampai Bos harus memberitahumu? kau gak ada apa-apanya di banding Billy," ujar Lyra datar.


"Ah iya ya, aku bukan orang penting." Parker menghela nafasnya. Bodoh sekali dirinya sampai kelupaan jika dia sekarang menjadi Parker di depan Lyra. Tapi mengapa sang Bos tidak pernah menceritakan punya perusahaan lain? berapa banyak rahasia yang disimpan sang bos? apa jangan-jangan Bos juga tahu soal Bella yang dibantu kabur olehnya? tidak, kalau bos tahu pasti bosnya telah menghabisi atau menghukumnya.


"Jason ... ini yang nanti akan diketahui oleh Tuan dan Nyonya Besar. Tapi, untuk detailnya nanti saya yang akan menjelaskan ke Tuan dan Nyonya Besar sih."


Parker mengangguk.

__ADS_1


"Ini semua laporannya ada di dalam flashdisk. Aku juga sudah mengatur urusan gedung, semua acara pernikahan, dan gaun Nona, dan Tuan minta kamu menemaniku memperketat penjagaan Nona saat fitting gaun," jelas Lyra.


Parker hanya mengangguk menyimak semua tutur Lyra. Wanita itu masih sama cerianya.


__ADS_2