
“Cium saya nyonya Saint,” tatap Richie dalam dengan nafasnya sedikit memburu.
Lala menggelengkan kepala, “Tidak.”
“Anda tahu? rata-rata manusia memiliki enam liter darah. Kau lihat dia sudah pucat itu tandanya dua liter telah keluar dari tubuhnya."
Richie tertawa.
"Tolong dia!"
"Karena anda menolak saya, anda harus mencium bibir saya, Nyonya Saint."
"Anda sungguh keterlaluan!"
"Jika dia mati artinya kau yang membunuhnya kan Nyonya Saint? Satu liter lagi saja, dia mengalami syok. kau mau melihat dia kehabisan darah? Bukankah saya sudah menolong anda agar dia tak membunuh wanita itu? Anda bilang mau melakukan apa saja, apa anda mencoba menarik kata-kata Anda nyonya Saint.”
Kabut tebal di mata Lala, jatuh.
Hati Richie berdenyut, seiring tetesan air mata Lala.
“Sssah!” kesal Richie, ibu jarinya mengelap pipi Lala “Mengapa kau jual mahal sekali nyonya Saint! kau masih tidak sadar, jika dia shock artinya dia tidak akan bertahan nyonya Saint.”
Richie tertawa.
DEG
'Jo kau harus tetap hidup!' batin Lala, satu kristal airmata meluncur ke pipinya.
Lala melirik Johan, jantung Lala berdebar dengan lutut gemetar, sedikit saja lebih lama ... Johan bisa kehabisan darah. Bagaimana nasib anak-anaknya nanti. Lala meremas kedua tangannya yang masih terikat.
Lala menoleh ke kanan menatap mata hitam Richie, nafas Richie yang panas terasa lebih dekat.
Di bawah lampu kuning dengan semua dinding berwarna hitam, Lala memejamkan mata pelan mengecup pipi kiri Richie.
Richie melihat keindahan di depannya saat melihat Lala mulai terpejam.
Mata Lala terbuka saat bibirnya menempel pada pipi Richie, mata Lelaki itu terbelalak.
Richie merasakan kehangatan bibir lembut Lala di pipinya, Ia melebarkan mata saat jantungnya memompa lebih cepat tak terkendali, menatap masa kosong Lala saat dia membuka mata.
"Saya kan bilang bibir saya, nyonya Saint. Cepatlah! anda menguji kesabaranku!"
Kristal air mata jatuh di pipi Lala, dengan mata nanar menatap mata Richie yang terlihat terbawa nafsu, Lala meletakan bibirnya di bibir hangat Richie yang tebal dengan air mata terus berlinang.
Richie merasakan badannya mulai panas, melihat sosok wanita di depannya. Sulit sekali membuat wanita di depannya menurut. Dia menyapu pelan bibir Lala dan bermain dengan Lidah Lala. Jantung Richie berdebar, desiran darahnya bagai mendidih.
Lala memejamkan mata tanpa membalas ciuman Richie, hatinya sakit di perlakukan begini. Sesuatu yang dudukinya mengeras membuat ciuman Richie berhenti.
Lelaki itu menggaruk-garuk kepalanya, “Cukup,” Richie sedikit mendorong tubuh Lala untuk berdiri, menjauh dari pangkuannya, lalu tangan Richie memijat keningnya.
Johan mengembun menyadari perlakuan Richie pada Lala, dia merasa sangat gagal.
“Cepat lepaskan ikatan saya!” kata Lala mengulurkan tangan pada Richie yang tertunduk.
Richie melepaskan ikatan kain pada tangan Lala, Lala sempat melihat tonjolan keras di celana Richie, ‘mesum!’
“Dimana kunci rantainya, ayo kita tolong Johan!” seru Lala pada Richie.
“Maaf nyonya saint, dia harus mati.”
Goaaarrrrr!
Kalimat Richie dan raungan itu membuat Lala geram dan sangat marah.
Lala berlari duduk di lantai susah payah, membuat badan Johan terlentang, dan membuat lutut Johan menekuk keatas. Namun karena Johan sudah lemas, kakinya selalu jatuh lagi, "Jo! ini harus lebih tinggi dari jantungmu," tangis Lala sambil menyandarkan kaki kiri Johan pada kursi, cukup berhasil membuat area luka lebih tinggi dari jantung.
"Kevin tolong aku," rintih Lala saat tangannya menyobek dress panjang-di dalam mantel-sampe setinggi lutut dengan pisaunya. Dia terus menangis sambil meletakan lipatan kain, "Tarik nafasmu, Jo."
Shet!
__ADS_1
Lala melilitnya sekencang mungkin. Johan menatap Lala kosong.
Goarrr
Macan itu terus meraung dan semakin dekat suaranya.
Lala mendelik, melihat kanan ke asal suara, “Tetaplah sadar, Jo..”
Lala berbalik dan berdiri kesulitan karena kehamilannya, dia berjalan ke arah Richie, Lala menengok kiri.
Wanita itu sudah tak ada ditempatnya, kapan mereka memindahkannya sampai Lala tak sadar.
Lala mencengkram jas Richie, dengan tangan masih penuh darah dan sedikit memukul dada Richie.
“Dimana kuncinya!berikan!” Lala kelimpungan melihat arah suara meraung, Kaki Lala menendang Richie. “Anda mau membunuhnya!!” teriak Lala dengan air mata berderai.
Gooarrrrrhh!
Suara meraung itu membuat bulu kuduk Lala berdiri. Namun, dia lebih tak mau kehilangan Johan.
“Sialan anda Tuan Richie!”
Richie mencengkram rahang Lala keras, “apa kau bilang! Kau berani merutuk!” tatap tajam Richie pada Lala.
“shh Hanya pembohong yang terlalu mudah untuk mengucapkan Janji!” kata Lala dengan kesakitan. Richie hanya membohonginya, dengan itak mesumnya mengambil kesempatan,'iblis!'
Richie mendorong keras kepala Lala.
Goarrrr!
Macan itu mengendap, Lala sudah tahu selincah apa macan itu, loncatannya bisa dalam hitungan detik. Lala menggeser tubuhnya pelan-pelan kearah Johan.
Kenapa macan itu selalu menatap begitu setiap melihatnya. Lutut Lala gemetar. Dia berdiri menutupi Johan saat macan itu terus meraung matanya sesekali mengincar Johan.
GOOOARR!
Macan itu terus meringis, menutup lalu membuka lebar mulutnya melihatkan gigi tarinya.
Macan itu sudah berdiri di depan Lala membuat lutut Lala bergetar hebat.
Lala terus menatap macan itu yang mendongak ke arahnya.
“Teddy Saint,” kata Lala sedikit nyaring, macan itu justru semakin agresif.
GRRR!
GRRR!
Gooarrrr!
Nafas macan itu terasa di kulit kakinya, mantel coklat, selop dan kaki Lala penuh dengan darah Johan, Macan itu mengendus, semakin mengerang, selop putih pemberian Richie hampir tertutup warna darah Johan.
Nafas macan itu semakin mulai tak terkendali.
Richie masih mencari tahu apa yang akan terjadi di depannya, mengapa macan itu tak kunjung menyerang lelaki itu, Macan itu hanya memandangi Johan dengan suara akan menerkam. seharusnya bila ada darah, macan itu harusnya langsung menyantapnya walau tanpa menunggu aba-aba karena ada daging segar di depannya.
“Bite him!” kata Riche. (gigit dia!)
“ Teddy!” teriak Lala.
Macan itu melihat ke mata Richi yang kepalanya mengangguk, lalu melihat Lala yang menggeleng kepala.
Richi mendatanginya, dia mendelik dan menendang keras kepala macan itu, sampai macan itu terdorong ke kaki Lala sampai Lala terhuyung jatuh menjatuhi Johan.
”You stupid boy!”kata Richie dengan aura yang sama mengerikan dengan sang macan.
Johan menggigil menatap nanar wanitanya, “Lala.”
“Jaga kesadaran mu Jo,” kata Lala sambil meringis kesakitan karena tekanan keras pada kandungannya saat jatuh, beruntung jatuh di perut Johan.
__ADS_1
“I said you should bite the boy! Fu*ck you boy!" teriak Richie pada macan itu.(Aku bilang kamu harus menggigitnya! Persetan!)
Lala cepat bangkit tak mempedulikan kesakitannya, dan menghalangi tendangan Richie pada perut macan itu.
Tendangan keras mengenai kepala Lala.
”Aghh!” "Krak!
Lala terhuyung ke tubuh macan. Macan itu meraung menunjukan taringnya menatap Richie.
“Ssshh! bodoh nyonya Saint!” kata Richie terbelalak, bergegas bersimpuh dan membantu Lala bangun.
“Go away ! BOY” (pergilah!) Teriak Richi menggelegar dan matanya mendelik.
Macan itu meraung tak mau menurut pada Richie.
Grrrrrrr macan itu mengerang mendekat ke wajah Lala yang tengah di periksa Richie.
“Nyonya Saint, Anda bilang akan melakukan apapun yang saya minta,” kata Richie sambil memeriksa darah pada kening kiri Lala.
“Jika anda memegang janji anda, tolong,” Lala menyingkirkan tangan Richie dari kepalanya.
Saat Lala duduk tegak, macan itu menjilat muka Lala yang mengalir sedikit darah di kening Lala. “Teddy,” Lala pelan-pelan menyentuh bulu halus di mulut macan, sampai dia tak sadar menyentuh taring macan itu, dengan tangan gemetar dan mendorong kepala macan itu.
‘Tuhan tolong Johan.’
“Go away!!” Richie membidik pistol pada kepala macan itu.
GRRRRRRRR...
Goaarrr
Macan itu pun pergi ke arah pintu dimana dia masuk.
Richie menekan tombol dua tombol.
Lala menangis, memeriksa badan Johan yang dingin. Dia memeriksa hidung Johan, nafasnya tiada. Bahkan Lala baru menyadarinya.
"Jo, bangunlah!!!!” Lala menepuk-nepuk dada dan bahu Johan.
" Cepat Rick! sialan!" Lala mendelik pada Richie yang terdiam.
Lala kembali memeriksa denyut nadi Johan, tidak ada.
“Apa yang akan ku katakan pada mereka, Jo!"
Lala memberikan kompresi dada Johan, " 1, 2, 3 ....30,"
Lala dengan hati-hati mendongakkan dagu Johan, dia mencubit hidung Johan. Dia mengambil nafas dalam dan meletakan ke mulut Johan.
Lala mendekatkan telinga ke mulut dan hidung Johan, menunggu nafas Johan dan memperhatikan dada Johan, 'Ini tidak lucu Jo,' batin Lala.
Dada Johan tak naik.
Air mata Lala jatuh ke pipi Johan saat dia memberikan nafas buatan ke dua, dilihat lagi dada Johan ..." Bangunlah!!!"
Namun, tubuh Johan tidak menunjukan gejala kehidupan.
Lala memberikan resustasi jantung lagi “huh! ,2, 3, . .30,"
Keringat dan darah bercampur jadi satu di pipi Lala, dia mulai kelelahan.
“bangun jo!” seru Lala jongkok ke mulut Johan.
Waktu seperti melambat, dia memberi nafas buatan ke satu, mendekatkan telinga ke hidung Johan.
"Tuhan jangan bawa dia!” serak suara Lala memperhatikan dada Johan saat-saat harapan terakhir, berharap nafas dan jantung Johan kembali.
“Aku menyayangimu Jo bangun...” lirih Lala saat menunggu pergerakan dada Johan.
__ADS_1
Lala menggeramm...Hatinya menjerit ...