Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 233 : MENGAPA TIDAK AKU


__ADS_3

-POV KEVIN-


Kami dulu selalu harmonis, saya merasa kami tidak pernah ada keributan, lalu salahnya dimana? Sedangkan dia selalu tersenyum di depan saya.


"Make wish, Kevin." Dia sekali lagi sangat cantik, suaranya mengembalikan pikiranku yang kosong. Apakah dia satu-satunya wanita paling cantik di mataku? Untuk semua fitur wajahnya, tubuhnya dan semua tentangnya. Aku jawab ya 100 persen. Tidak ada yang tidak. Semuanya tentu aku cintai. Jika tidak, aku tidak akan memenjarakannya. Cinta membuatku takut bila seseorang datang mengganggunya.


Aku menjaganya, dan tetap saja ... dia pergi.


"Lala, make wish bersama saya, seperti sebelumnya," saya meminta dia, kami punya kebiasaan selalu make wish bersama ketika salah satu diantara kami ulang tahun, karena merasa jiwa kami adalah satu, ya untuk saat itu. Saya harap sekarang sama. Jika tidak, tolong semoga setidaknya untuk menit ini.


"3..2..1" katanya, kode kami memejamkan mata, tapi kali ini saya tetap menatapnya, saya kira inilah terakhir kita membuat harapan bersama, dan aku menatap untuk terakhir kalinya, miris, wanita ku akan pergi meninggalkanku untuk hidup bersama teman yang dianggap seperti saudaraku.


Apakah dia benar tidak berpikir itu sangat mengiritasi ku, dia sungguh kejam. Mereka diam-diam menusuk ku dari belakang bukan? tolong katakan benar!


Mereka sangat kejam.


Orang bilang yang akan sangat menyakiti bukan orang luar, tapi justru orang terdekat, tampaknya itu sangat benar.


Saya kecewa mengapa semua orang di sekitar saya! Johan teman saya, dan Richie teman saya!


Bibirku berkedut, terlintas kadang di pikiran saya, apa Lala hanya mempermainkan saya? Untuk membalaskan dendam karena aku pernah menjualnya.


Mengapa aku dulu begitu bodoh dan keji padanya?  Tapi siapa mengira aku akan sampai jatuh cinta padanya.


Ya aku mencintainya. aku marah tetap saja mencintainya! menyakitkan.


Di ulang tahun ke 43, selalu masih sama dengan sebelumnya,  saya ingin kamu bahagia. Semoga kesalahan saya di masa lalu termaafkan. Dan jangan tinggalkan saya sendirian di hari tua, Lala.

__ADS_1


Dan dia mengintip sebelum waktunya kami membuka mata, kemudian dia terbelalak, apakah dulu dia juga seperti itu mencuri-curi mengintip untuk menatapku?


"Kevin kamu curang! Tidak merem oh, Seharusnya-"


"Ini itu tidak boleh, yang boleh jadi apa, Babe-- Ah maksudku Lala,” menggenggam tangannya yang menjadi panas.


Menggerakkan leherku memutar, nyeri sialan, seharusnya aku beristirahat tiga hari total untuk menyiapkan tenaga menemui Ars, sepertinya itu tidak mungkin sekarang. Lala ingin segera menemui ayahnya, aku tidak mau jika Lala kabur lagi.


Memiliki terapis khusus yang memijatku setiap hari, bila tidak nyerinya akan sangat menyakitkan dan atau saya akan berbaring seharian karena lelah menahan nyeri.


Dan tadi pagi aku memaksanya memijat leherku. Dan saat semua orang berkumpul di ruang keluarga dengan camilan kecil dan morning teh, hanya tidak ada Lala di sana padahal saya sangat ingin melihatnya saat pagi, itu akan membuat jauh lebih semangat. Jadi saya berpikiran dia terlalu letih setelah memijat leher saya sampai jam 5 pagi.


Karena itu saya menjadi kasihan, dan menawarkan diri mengambil tas mamah saat mamah menyuruh Ivy, sekadar saya ingin memijat setidaknya untuk bahunya, tidak lebih.


Namun, dia sudah bangun dalam keadaan sangat cantik seperti bunga baru mekar di pagi hari penuh embun di keningnya. Tapi dia membanting pintu, saya merasa harga diriku diinjak-injak, tidak ada yang  seberani itu pada saya.


Itulah kenapa saat dulu Richie dan Hosan ditemani perempuan aku tidak pernah menyentuh perempuan yang ditawarkan Richie. Oh, bagaimana jika saya melaporkan kelakuan Richie yang suka memanggil perempuan, ya walaupun dia tidak meniduri atau menciumnya, tapi itu kan perempuan.


Tapi apa Lala percaya? Atau dia mengira aku mengarang-ngarang dan dia semakin membenci saya. Gimana jika aku menceritakan saat Richie juga memanggil wanita saat Lala menyelamatkan Johan pasti Lala akan jijik dan meninggalkan Richie kan. Atau aku menyuruh Julia untuk menggoda Richie lalu menidurinya.


"Vin, lilinnya akan habis! tangan ku pegal, tiup," dia menatap dalam.


"Tolong tiup bersama, Lala," kataku dan dia mengangguk memajukan lilin ke dekat saya yang tidak bisa jauh-jauh dadi sandaran.


"WUUUUUSHH."


Dini hari, tenagaku sedikit berisi, makan jelly buatannya itu sedikit kemanisan.

__ADS_1


Dan tentu saja saya menuntut hadiah.


Mungkin hadiah terakhir, aku memintanya, aku memeluknya, memeluk perutnya, menenggelamkan wajahku di punggungnya dan dia membeku, aku tahu dia mencoba menjaga dirinya.


"Setidaknya, biarkan malam ini aku memeluk mu..." serakku tenggelam dalam aroma vanila di tubuhnya.


Kami satu selimut, ini sangat indah, aku merindukannya seperti ini, seperti dulu, tentu aku tidak akan menempelkan milik saya yang ere..ksi pada bokong montoknya, aku menjauhkannya. Dan mengapa kepala saya tidak singkron, tubuh saya sakit, dan milik saya sangat bugar, menjengkelkan.


Terserahlah. Saya tidak ingin terpejam, meskipun nyeri parah menyiksaku, dan kantuk obat justru menyerangku, aku hanya ingin memeluknya... saya harap aku tidak tertidur...


Mengeratkan pelukannya dan aku tak tahan untuk menempel dan dia telonjak merasakan bagian tubuh saya yang mengeras.


Saya tidak tahu lagi bagaimana ini harus berakhir.


"Apa kamu benar-benar mencintainya, Lala? dan mengapa tidak untuk saya?" serakku dan mataku memanas menyembunyikan aliran basah di pipi saya pada punggungnya.


"Apa saya tidak sekaya Richie hingga itu tak mampu membuatmu kembali?" saya terisak, sialan.


"Jika itu alasanmu, aku akan mencarinya jauh lebih banyak dari Richie, katakanlah kenapa!" gigiku gemertak, gaun di bahunya menjadi basah oleh liur saya, dan beberapa jatuh ke lehernya, dia menjadi basah oleh air mata saya, memalukan.


Nafasnya mulai pendek putus-putus, dia merintih tertahan, mengapa dia mencoba menyembunyikan dariku!


"Ya dia jauh lebih kaya, dia memiliki jauh lebih banyak, dan kamu tidak akn pernah melampuinya, jadi percuma menyerahlah aku tak kan pernah kembali, Kevin," dia berkata dengan menahan nafas, aku tahu dadanya merintih.


Omong kosong apa! dia berbohong! dulu aku memberinya black card, dia tidak pernah menggunakannya!


oh- sekarang dia berakting ala matrealistis. Saya menggigit bibir getir, hidung menempel ke lehernya mengendus sangat dalam dan dia makin merintih menyembunyikan isaknya, bahkan aroma manis leher ini akan selamanya hilang dari hidup saya!

__ADS_1


__ADS_2