Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 146 : SETOR NYAWA


__ADS_3

Kevin baru tiba di rumah. Baru dia akan menekan tombol.


"Jangan masuk, Nak!" seru Alen.


"Kenapa Ayah?" tanya Kevin melihat Alen yang sudah berbalut perban dan di lengannya."Apa itu?"


"Cepat kita kembali ke Cambridge, ada penyerangan. Anak-anak sudah aman," kata Alen diikuti Kevin.


Mereka terbang dari London dengan jet ke Cambridge. Alen telah menceritakan penyerangan semenjak dini hari, mereka membawa zat-zat beracun menyebarnya ke rumah. Beruntung anak-anak tidak di rumah semalam.


Setiba di Istana Kevin meningkatkan keamanan, anak-anaknya diliburkan kuliah.


Kevin mengirim surel ke anak buahnya di beberapa titik terdekat dari markas James.


"Jadi, kau akan berangkat sekarang?" tanya Alen, dia tahu betul wilayah barat itu terlalu berbahaya.


Kevin beralih dari layar laptop ke Alen. "Iya, ini yang terakhir. Setelah aku membunuh James dan Viktor, keluarga kita aman,ayah," kata Kevin dengan nada dingin pada Alen, membuat sang mertua itu mengetahui ketidakberesan Kevin.


"Katakan, apa ada masalah denganmu?"


Kevin menutup Laptopnya, "dia meminta cerai ayah."


"Apa karena Bella?" tanya Alen.


"Ayah tahu ini? apa Lala cerita?"


"Dia sudah cerita sejak fase traumanya."


"Sejak itu? dan ayah tidak memberitahukan padaku? oh jadi benar dia meminta perceraian ini karena Bella. Astaga apa dia salah mengira aku memiliki perasaan pada Bella, ayah?"


"Ayah tidak tahu. Mungkin kamu perlu meminta maaf, kalian pikirkan dengan kepala dingin, cari jalan terbaik, kasian cucuku di perut putriku."


Kevin menghela nafas, "dia begitu ngotot meminta cerai ayah. Saya sudah tidak tahu lagi harus apa."


"Ngomong-ngomong dimana Parker, belum melapor." Kevin baru teringat.


"Dia sudah ke wilayah barat, tapi dia akan menyusup."


"Dia bergerak tanpa melapor..." ujar Kevin.


"Kau tahu kan Ini seperti perang," kata Alen serius. "Jadi kenapa kau tak membawa putriku pulang dari markas Richie?"


"Di sana tempat teraman," kata Kevin lalu tertawa. "Ayah, apa aku terlihat memiliki perasaan pada Bella?"


Kevin termenung, menatap lekat-lekat mata Alen yang terlihat berpikir dalam.

__ADS_1


Alen melipat kedua tangan."Ya... kau terlihat menyukainya, jadi karena ini putriku kesakitan." Alen menggelengkan kepala, sepertinya kehidupan rumah tangga putrinya tengah terancam.


"Apa ayah tidak marah? menantu mu seperti ini?"


"Tidak tahu lah, cinta sulit dijelaskan. Kita semua berusaha kan. Berjanjilah kembali hidup-hidup." Alen berkata dengan tegas, lebih seperti perintah. Alen yang selalu membaca gerak gerik lawan, menangkap menantunya seperti mau setor nyawa.


Alen tidak pernah menyangka, bola panas ini seperti tak pernah berujung.


'Aku membunuh musuh-musuh keluarga lewis yang hendak membunuh Lewis dan keluarganya.


'Sedangkan Keluarga semua musuh, balas dendam, dan tentu menyerangku dan putriku.


'Lalu menantuku membunuh semua orang yang akan membunuh aku dan putriku.


'Lalu mereka balas dendam lagi ke cucu-cucuku. Semua ini tak pernah selesai. Dan tidak bisa selesai.


'Nyawa sangat tidak ada harganya di dunia bawah. Kami seperti hewan saling menyerang. Pilihannya hanya aku atau kau dulu yang akan menjemput maut. Musuh bisa menjadi teman. Teman bisa menjadi musuh.


'Aku tahu kamu lelaki bertanggung jawab, Kevin. Sepertinya, putriku tidak tahu sebesar apa cinta menantuku. Rasa sakit putriku mungkin sudah terlalu besar, maafkan Ayah, putriku.


'Seandainya kamu tahu hal sebenarnya, putriku bahwa Kevin ke wilayah barat hanya untuk membunuh dua orang terkuat yang memburu kita. Suami mu berjuang untuk kita. Bahkan itu rencana panjang sebelum pernikahanmu. Tapi kami tak bisa menjelaskan padamu tentang dunia kotor ini.


'Karena itu Kevin membuatku melatih 5000 orang terlatih, yang akan menyusul kepergiannya untuk menggempur markas James.


'Ya sekarang tujuannya bertambah sekaligus membawa putranya Kevin, Edric.


Rasanya ini perpisahan dan perjuangan terakhir hanya demi mencapai sebuah ketenangan tanpa kejaran kematian.


Tanpa bersuara Alen dan Kevin saling tatap. Seolah berbicara dengan tatapan mereka.


"Ombak yang seharusnya dihadapi dalam sebuah hubungan menjadi wajar adanya, hingga solusi bisa membawa kita kesebuah tepian yang menanti penuh kedamaian dan kasih. Aku bangga pada mu, menantuku." Kata Alen tegas.


...🇨🇴🇨🇴...


James adalah gembong bandar narkoba dari geng kejahatan terbesar di negara itu. Dia bandar paling berbahaya di Dunia sekaligus paling dicari di Kolombia.


Dia memimpin kartel Klan Scorpion dan dicari di Amerika Serikat atas tuduhan perdagangan narkoba.


James juga membunuh para pemimpin masyarakat sipil, petugas polisi, dan anak-anak.


Menurut pihak berwenang Kolombia, Klan Scorpion telah memperdagangkan antara 180 dan 200 ton kokain per tahun.


Pihak keamanan setempat bahkan menghargai kepala James 15 milyar bagi siapa saja yang bisa membawanya. Namun, tentu saja kebanyakan mereka mati, bahkan sebum melihatnya.


Bahkan pihak keamanan setempat menggambarkannya sebagai kartel bersenjata sangat kejam.

__ADS_1


Geng yang beroperasi di banyak provinsi dan memiliki koneksi internasional yang luas itu terlibat dalam penyelundupan narkoba dan manusia, penambangan emas ilegal dan pemerasan. Kelompok itu Diyakini memiliki sekitar 18.000 anggota bersenjata yang sebagian besar direkrut dari kelompok paramiliter sayap kanan.


Dan sekarang Kevin telah mendarat di perbatasan terluar. Dia memberikan tanda pengenal khusus. Dan preman-preman berkalung senapan itu mengajak Kevin ke mobil menempuh tiga jam perjalanan darat. Kevin tahu, bila dirinya lancang terbang di dekat markas, pasti langsung ditembak jatuh.


Setelah melawati berlapis-lapis keamanan dan diperiksa ulang, tentu saja mereka selalu mengarahkan senjata terbaru dan canggih. Namun, Kevin tak gentar. Bahkan ia tak membawa ponsel atau apapun. Namanya menyetorkan nyawa. Bahkan dia sadar, belum tentu bisa keluar lagi dari markas ini. Dan mungkin begitu tiba, James bisa langsung menembak mati dirinya, itu kemungkinan terburuk.


...🇵🇱🇵🇱...


"Halo... siapa ini?" ~Johan


" Ini ayah." ~Alen


"Ayah bisa telepon aku? dimana Kevin?" ~Johan


"Sebentar, biar ayah berbicara terlebih dulu, ayah sudah tahu kamu membuat rencana bersama Richie untuk membantu Kevin ke wilayah barat kan?" ~Alen


"Bagaimana, ayah bisa tahu?" ~Johan


" Diam dulu, biar ayah jelaskan. Richie sedang sakit, jadi ayah akan menggantikan posisi Richie." ~Alen


"Richie sakit apa? kenapa dia tidak mengangkat telponku? apa aku perlu menemui Richie?" ~Johan


" Johan! dengar ayah dulu. Kevin sudah di markas James. kamu dengar!?" ~Alen


"Apa ... bagaimana bisa, ini belum waktunya." ~Johan


"Tempat kami di serang, jadi cepat kau kirim Amber dan Lydia ke markas Richie di sana ada Lala. Kau jangan kirim ke Istana Cambridge, mereka berkeliaran." ~Alen


"Baik ayah, jadi sudah berperang?" ~ tanya Johan


"Ya, ayah terbang sekarang. Kau jaga diri." ~Alen


"Ayah, ayah janji kali ini jangan terluka." ~Johan


"Apa kamu bercanda Johan? kita di medan perang, tidak ada yang tidak terluka."~Alen


"Hahaha... Ayah tahu maksud Jo, tetaplah hidup."~Johan


"Kau juga tetaplah hidup."~Alen


Tut. Johan mematikan telepon, dia menelan salivanya. Terus terang, Johan masih trauma disaat kehilangan Alen. Dia sangat khawatir bila itu terulang kembali. Mau tak mau dia harus menghadapi ini, semoga ini yang terakhir.


bersambung ...


...***...

__ADS_1


terimakasih kaka mampir ya Novel bagus ini, dijamin ceritanya keren..



__ADS_2