
Di sebuah kafe lokal bergaya art deco,
"Mam ... mam ... " celotehan Vino di pangkuan Lala, tangannya mere...mas kue ...
Ketika Richie mengobrol dengan seorang manager umum bank terbesar di London yang berbicara dengan aksen Cockney.
Lala melahap kacang merah rebus yang disiram kuah tomat dengan daging panggang dan telur rebus. Sudah tiga hari dia menemani Richie menemui para rekan bisnisnya, walau Lala menolak ikut tapi Richie bersikukuh.
"Kamu bosan?" Richie bertanya ketika pertemuan dengan bankir pun usai.
"Hum." Lala berjalan lebih cepat masuk ke dalam kursi penumpang mobil Bentley Bacalar.
"Kamu, mau kita kemana?" Richie melembutkan suara, begitu mobil mulai melaju.
"Alun-alun, museum nasional." Lala melirik Richie yang fokus menatap jalan.
"Trafalgar square? kamu pernah ke sana dengan dia." Meremas setir sampai buku-buku jari memutih. "Apa kamu bermaksud bernostalgia?" Richie dengan penuh penekan dan kembali menatap jalan.
Lala yang memainkan mainan Vino, alisnya berkerut, maksud Richie mungkin saat dirinya dulu dengan Kevin. "Aku hanya ingin lihat merpati dan lukisan bunga matahari, bukan bernostalgia."
"Iya, tapi kan kamu pernah bermesraan di sana!?"
"Bermesra-" Lala, lalu mencoba mengingat, "aku lupa." Mengalihkan pandangan ke kanan jalan, ke luar jendela.
"Ya, kamu bermesraan di sana dan berfoto dengan memegang tangan patung Singa, dengan dia."
"Ahh itu, aku baru ingat." Lala memutar mata dan terdiam sejenak, tidak menyangka karena Richie bisa tahu dan ingat, bahkan itu sudah 21 tahun yang lalu ... dan dia tidak mengerti bila Richie mengawasinya saat itu.
"Jadi, kamu mau mengenang kisah mu." Richie dengan suara rendah dan tampak sedikit menggeram. "Kamu masih menginginkannya?"
Lala menelan benjolan rasa panas di tenggorokan karena keterkejutan. "Mas ... ngajak ribut lagi?" dadanya terasa ngilu. "Padahal kita baru baikan."
"Dari sekian tempat, kenapa harus itu!?"
"Ya, sudah ... nggak usah ke sana." Merendahkan suara mengalah. "Karena aku menyukai tempat itu, jadi aku ingin kita ke sana, mas." Lala menghela nafas panjang menurunkan rasa sesak. "Aku dari awal sudah bilang aku gak mau ikut ke kota ini. Kamu memaksa ku dan sekarang kamu sibuk menuduhku."
"Oh, kamu maunya di sana dari pada bersama ku. Di tempat tinggal Kevin? terus dia bisa mudah mengganggu mu."
Glek- "Mengapa kamu terus membahas Kevin?!" Lala mengelus paha Vino, ulu hatinya seperti disayat pisau setiap Richie berpikiran buruk tentangnya. "Aku sudah bilang kan ... aku mau hidup dengan mu, bukan dia. Jadi jangan membawa-bawa dia."
Pada akhirnya Richie tetap membawanya ke alun-alun kota Westminster di kota London. Lala mengikuti jalan Vino yang sering menghambur ke kaki Richie yang, terus memasang wajah masam semenjak dari mobil, membuat suasana hati Lala menjadi semakin buruk.
Di Air mancur Richie menggendong Vino, lalu mendekatkan tangan mungil itu untuk menyentuh air.
"Mas ... " Lala menaruh telapak tangan di punggung Richie, mengelus dan berkata dengan lembut, "kenapa kamu begitu khawatir, kita kan mau menikah." Memeluk pinggang hangat Richie.
"Kamu, bohong Lala." Richie menggoyangkan jemari Vino dalam air.
"Mas ... "
Richie duduk di pinggir kolam dan mendudukkan Vino melepas sepatu dan kaos kaki mungil. "Tatapanmu masih mengharapkan dia."
Lala menggelengkan kepala cepat.
__ADS_1
"Aku mau mengukir hari-hari ke depan denganmu, mas." Lala sangat menikmati suara air mancur disini dimana tempat orang berkumpul.
" ... yakin!!?" Richie dengan penuh penekanan di tengah gemericik air mancur.
"Kenapa, kamu terus ragu, kalau tidak yakin lalu buat apa aku membuat gaun pengantin? terlebih gaun itu di rancang langsung oleh Lydia ... "
"Tapi, kamu masih mengharapkan dia."
"Sudah berungkali ku katakan, tidak." Lala merasa lelah harus terus membantah kecurigaan sang kekasih. "Darimana bisa kamu begitu yakin aku berharap padanya? kamu menyebalkan mas, ku beritahu ... padahal Lydia sangat bersemangat dengan ini, dan dia menagih janjiku agar kamu nanti mengajarkan dia teknik tombak, lihat bukankah teknik itu berbahaya jika dia berlatih, teknik aneh ... "
"Itu bukan teknik aneh, dia bisa menjaga diri dengan teknik tombak." Richie menatap mata sang kekasih. "Lala aku melihat mu berciuman dengan Kevin di depan kamar Ivy setelah ulang tahun si kembar."
Mata Lala membesar, menggelengkan kepala dengan cepat."Tidak! itu - itu -"
"Ya, kamu masih mencintainya, aku tahu."
"Kamu salah, salah sangka, bukan, aku tidak melakukan itu-"
Richie menjauh dari air mancur, tangan kiri menggendong Vino dan tangan lainya menggenggam tangan Lala setelah sang kekasih mengambil sepatu Vino.
"Eros dengerin dulu!"
"Apa yang di dengar, kamu menciumnya. Aku tidak salah lihat."
"Bukan, aku sama sekali-"
"Jangan, bahas itu lagi, aku sakit, sayang."
Lala melihat sekitar saat orang memandangi ke arah sini, "mas, plis dengerin aku. Kamu salah paham." Lala melirik Richie yang wajah merah padam. "Pokoknya tidak ada yang seperti itu! kami tidak bersentuhan!"
Richie berhenti dan melirik dan akhirnya mata Lala dalam-dalam.
"Ya, benar. Jadi setelah ini kamu tidak perlu ke rumah itu lagi, tidak boleh. Kau akan jadi istri ku, pulang lah ke tempatku sayang, di sana banyak kamar ... bahkan, aku tak pernah menyentuh mu kan, apa kamu terlalu takut aku sentuh?" Richie mendapati wajah Lala yang memerah.
"Ini tempat umum, kamu terlalu mas," bisik Lala menempel ke punggung Vino dalam gendongan Richie.
"Mereka juga tidak akan mengerti bahasa kita, jadi ayo, kita pulang ke tempatku sayang, ayo ... bujuk Amber."
"Apa kamu mau memperlihatkan para bawahan mu? kamu tahu ... Amber akan semakin menjauhkan ku dari mu ... Lebih baik kita ke Java Island setelah menjenguk Bella. Dan, dengarkan aku mas." Lala berbisik, "aku tidak takut kau sentuh."
Richie, mendapati wajah Lala yang makin memerah. "Lala, aku ingin mengigit mu," katanya dengan nada rendah, serak dan tersirat akan keputus asaan.
"Humm??" Mengelus perlahan lengan Richie, "saya juga Eros. Kita akan melewati ini, ya." Lala meyakinkan Richie yang sudah tampak menyerah dengan ulah Amber. Dia tidak bisa menyalahkan Amber, putrinya itu mungkin bermaksud melindungi, hanya saja terkadang terlalu berlebihan.
"Sayang, lihat, taman ini dibangun untuk mengenang kemenangan pasukan laut inggris dalam pertempuran Trafalgar." Richie lalu menatap serius pada tugu "Kau lihat ini di kapal, angkatan laut inggris memenangkan pertemuan Napoleon dengan Perancis dan Spanyol."
"Ini sangat indah, mas. Jadi, karena itu, ini dinamakan Trafalgar square?"
Richie mengangguk lalu menghadap Lala, "Kita harus bikin tugu, di rumah."
Lala tertawa dengan riang, "ide bagus, jadi kamu mau membuat relief?"
Richie meraih pinggang Lala, hingga perut wanita itu menempel padanya, "Bagaimana jika itu tentang kamu dan setangkai mawar?" seutas senyuman terukir dari bibir lelaki itu.
Mata Lala melebar. "Aku malu! enggak!"
__ADS_1
Wajah Richie mendekat hingga jarak itu sisa sejengkal. "Aku akan membuatnya." Mata kian beradu satu sama lain, "itu harus di kelilingi kebun mawar."
"Kalau kamu memaksa, aku akan membuat juga! relief Eros kecil, lengkap dengan kacamata!" bibirnya menggantung membentuk senyuman saat membayangkan wajah Eros kecil.
Lala melihat monumen yang mengesankan. Matanya setika meredup begitu melihat patung di sebelahnya, dia yang pernah memegang -tangan patung singa- yang sangat besar dengan Kevin. Orang bilang terdapat Mitos yang katanya siapa yang menyentuh akan kembali lagi. Memang, benar, dirinya kembali tapi sendiri.
'Patung singa memiliki kaki belakang anjing, bukan kucing, karena seniman membuat bagian pertama sketsa pada singa dan yang kedua pada labradornya' itu kata Kevin, Lala menjadi teringat ...
"Dahulu, wilayah ini bernama Charing Cross, sayang." Richie bercerita dan memeluk punggung sang kekasih yang tampak melamun.
Melangkah perlahan, Lala menatap ke seluruh bagian depan Galeri Nasional, dengan gemetar karena rasa senang. Landmark bersejarah ikonik, membuat dirinya mengingat saat dulu sering menghabiskan waktu sampai sore setelah dari toko bunga.
Menikmati pemandangan anak muda yang bermain musik dengan biola, clarinet, maupun solo dan orang-orang sangat menikmati outdoor. Dan di sini ada kantor polisi terkecil di dunia. Luar biasa dan sungguh menyenangkan, hatinya mulai menghangat, ini satu-satu tempat yang paling mengena di hati di kota London, bahkan sejak awal menginjakkan kaki di Trafalgar Square.
Richie mengulas senyum saat memperhatikan Lala yang tenggelam dalam dunianya melihat setiap karya seni di dalam Museum Nasional.
Leonardo's Virgin of the Rocks.
Bunga matahari - Picasso Van Gogh.
"Richie ... " ujar Lala begitu menatap lukisan bayi ... itu terlukis dengan luar biasa dalam benak Lala.
"Hm?"
"Mas, sepertinya ... " kata-kata Lala tercekat.
__ADS_1
"Apa?" Kening Richie berkerut saat Lala menekan bahu agar dirinya, mensejajarkan dengan tinggi Lala.
Lala berbisik di telinga Richie, mata Richie langsung membesar dan mulut Richie ternganga ...