Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 177 : NYARIS


__ADS_3

...🇲🇨🇲🇨🇲🇨...


Di lantai dua, di rumah bernuansa serba kayu di tempat Shasa. Hari itu mulai terik, tapi di dalam ruangan menjadi tempat nyaman dengan nyala AC yang sejuk.


"Kamu sudah selesai?" tanya Shasa melongok ke kamar, terlihat Lala masih menyusui Vino sambil dengan lembut menepuk pantat Vino.


"Sebentar." Lala menatap Vino yang telah terpejam. Dia mengusap mulut dan mengelapi pipi yang basah oleh ASI dan menyelimuti dengan kain tipis di ruangan ber AC.


Lala berjinjit keluar dari keranjang bayi. Shasa memiliki keranjang bayi yang besar, sampai Lala bisa ikut masuk tidur di dalamnya.


Dia melangkah keluar beriringan dengan Shasa. "Kamu sedang bikin apa?"


"Cobain deh, enak nggak?" Shasha memotong kue berwarna kuning di atas karpet hijau, begitu dipotong ada cairan meleleh berwarna bening semu putih.


Terdengar langkah kaki dari tangga, terlihat Ella baru naik.


"Ell telat amat?" tanya Lala melihat Ella membawa beberapa kantong besar.


"Iya, aku harus breefing karyawan dulu."


Lala meraih kue ke dalam nampan kecil, "apa ini namanya?"


"Cake Lava the Coconut." Shasa berdiri membantu Ella membawa barang-barang.


"Kamu mau mengundang berapa orang?" tanya Ella meletakan kantong besar pesenan Shasa di karpet.


"200 orang saja, kamu makan dulu Ell." Shasa membongkar aneka balon dan beberapa topeng yang telah disiapkan untuk tamu.


"Wah kita nggak bisa liat wajah-wajah cakep dong, payah Shasa." Ella tertawa sambil meraih satu topeng dan memasangnya.


"Bagus, Ell, orang tidak akan menegnali itu kamu," ucap Shasa saat melihat Ella wajahnya telah setengah tertutupi, yang melihatkan mata dan bibirnya saja.


Lala memilih topeng berbulu merah, "cat women, seru nih. Aku mau simpan ini saja."


"Kenapa kau tak memilih warna hitam saja? itu lebih keren," timpal Shasa mengeluarkan semua topeng dari kantong.


"Emang kamu mau cari jodoh kalau mereka nggak memakai topeng?" tanya Shasa pada Ella yang sudah memakai topeng hitam dengan aksen bulu hijau.


"Ya, siapa tahu tampan dan cocok, bolehlah, ciaoooow" gumam Ella sambil berakting dengan gaya kucing mencakar merangkak ke arah Lala."Aaaaoooww."

__ADS_1


"Ih ngapain kamu, ngeri taug." Lala bergidik sambil mendorong wajah Ella. Membuat Ella dan Shasa tertawa.


"Apa ada teman kuliah kita?" tanya Ella sambil membantu menata topeng-topeng di sebuah kotak putih.


"Ya, ada spesial." Shasha menatap cukup lama satu topeng yang cukup terlihat gentle, yang akan disimpan satu untuk Johan, dia sedikit tersenyum membuat Lala dan Ella saling berpandangan dan saling bertanya.


"Aku juga akan melarang tamu menggunakan nama asli. Mereka hanya boleh menggunakan nama bunga dan hewan yang akan kita siapkan di botol kaca bulat, lalu mereka mengambil satu nama di pintu masuk.


"Terdengar keren tuh,"gumam Ella semakin bersemangat, "wah, karena tak terlihat aku bisa sedikit agresif dong."


Shasa tertawa, "tenang saja tamu undangan prianya cakep-cakep kok, paling beberapa perutnya buncit." Shasa tertawa lagi.


"Noooo!!" Ella teriak, "kalau begitu aku cari yang ramping."


"Apa aku boleh memilih nama bunganya sendiri, Sha?" tanya Lala


"Emang kamu mau nama apa? tentu boleh dong."


"Tentu saja, mawar!"


Shasa, Ella dan Lala tertawa.


"Aku bisa! tapi," kata-kata Lala terpotong. "Tapi aku tidak mau menari dengan pria yang tidak ku kenal, sayangnya Richie belum datang. Bila iya, aku pasti akan mengajaknya."


Shasa melihat Lala yang wajahnya ditekuk dan dua sudut bibir melengkung ke bawah, "ayolah ini hanya bersenang-senang, kau bisa lain kali dengan Richie. Sekarang hargai acara ulang tahunku dong."


"Hey benar, nggak usah bucin deh Elu," kata Ella pada Lala sambil menggeser kotak putih yang telah penuh topeng.


Terdengar langkah kaki di tangga. Shasha berjalan mendekati tangga, "Ada apa Mbak Rini?"


"Ada pak Johan."


Shasa membulatkan mata, menoleh ke arah Lala dan Shasa, untung mereka masih asik sendiri, sepertinya tidak dengar.


Melangkah dengan terburu-buru, Shasha merangkul karywannya


"Lain kali kalau bapak itu datang saat aku ada temen-wanitaku bilang saja aku nggak di rumah, ya!?"


"Baik bu, maafkan saya."

__ADS_1


Mereka menuruni tangga berputar, dan Johan sudah mau naik ke atas.


"Hey, kau mau apa?" Shasa berdebar-debar menarik tangan Johan ke depan ke toko kuenya.


"Apa sih, disini ramai. Kamu masak apa?" tanya Johan duduk dengan malas di kursi depan, terlebih beberapa pembeli melihat ke arahnya dengan senyum centil.


"Tidak ada makanan untukmu hari ini, pulang saja sana."


"Wah tega sekali kamu, Sha. Aku lapar." Satu tangan Johan memegangi perutnya yang terus bunyi.


"Aduh, kamu cepatlah pulang dulu."


"Kamu napa sih? jangan-jangan ngumpetin berondong ya?! Aku mau lihat berondong mana yang berani-"


"Hey, enak saja. Mulutmu itu ya, hih serius menyebalkan. Cepat." Shasa melotot dan garis bibir yang lurus semakin cemberut. Bisa gagal rencananya bila Lala dan Johan bertemu lebih awal.


"Bukannya kamu yang bilang, hari ini bisa menemani ku, Sha!?"


"Ah rencananya berubah. Aku mau nyiapin pestaku."


"Biar ku bantu."


"Tidak ada pria disini, di atas cewek semua."


"Bukankah keberadaan ku jadi sangat membantu, kau perlu memasang hiasan di tempat tinggi kan-"


"Mereka akan canggung bila ada kamu. Sudahlah sana pergi, bawa saja kue yang kamu mau untuk Lydia. Aku sedang sibuk.


Dua sudut bibir Johan tertarik ke bawah, dia melangkah dengan gontai.


"Sorry, Jo. Nanti malam deh, aku temani makan malam."


"Bener loh ya? yaudah... jam 7 tepat, kau ke hotel, aku malas keluar!" Johan menatap Shasa sebentar dan keluar dari tokoh.


"Fyuuuuhhhh. Susah juga ya." Shasa menghela nafas panjang lagi, beruntung Johan belum sempat naik ke atas.


Shasa melangkah ke dalam, melewati rak-rak roti, kasir, dan melangkah ke tangga dengan hati masih berdebar seperti maling yang dikejar polisi.


Tertawa dalam hati dan geleng-geleng kepala. Ini Lucu, manis ...apa aku perlu menceritakan ini ke Ella, siapa tahu dia akan membantu ku?

__ADS_1


__ADS_2