
Terik matahari menyelimuti Kediaman keluarga Lewis. Didalam rumah, hati seorang ibu juga sama panasnya seperti udara yang ada di luar manakala putra kesayangannya itu menceritakan sesuatu yang membuatnya marah.
Tak diduga keributan di ruangan dengan konsep mewah dan megah bernuasa abu-abu dan sebuah meja makan panjang dengan banyak kursi.
Johan yang baru selesai makan lalu mengabarkan pada mamanya bila Lala sekarang masuk rumah sakit.
Bagai disambar petir, Tiara yang sudah sangat dekat dengan Lala menjadi benar-benar marah. Gara-gara putranya Lala masuk rumah sakit. Dia tidak habis pikir dengan putranya padahal Tiara sudah banyak mencurahkan perhatiannya, tetapi tetap saja anak itu terus-menerus membuat masalah. Apalagi sekarang, Lala yang jadi sasarannya.
"Ma, sakit! Sudah lepaskan, Johan gak sengaja Mah," kata Johan.
"Ada apa ribut-ribut?" tanya Hans.
"Tolongin Johan, Pah! telinga Johan bisa putus, Mah!"
Hans memeluk pinggang Tiara dari belakang, menyandarkan kepala di bahu Tiara seraya memandang wajah kesal istrinya yang terlihat semakin menggoda.
Pria paruh baya itu menyunggingkan senyum manisnya. Senyuman yang bisa membuat kaum hawa klepek-klepek tak berdaya. Tampan tidak membosankan, semakin dipandang semakin membuat ketagihan.
Kharisma dari ketampanan Hans dan Lewis menurun ke Johan sehingga tidak heran bila pemuda itu menjadi rebutan perempuan-perempuan cantik disekitarnya. Tidak hanya mereka, tante-tante dengan terang-terangan ikut menggodanya bahkan mereka terus berusaha menjebak Johan.
Jadi Johan sengaja memacari gadis-gadis untuk dijadikan perisainya, bukan lain demi melindungi dirinya dari gangguan para penggoda. Kemudian bila gadis yang di pacarinya semakin menuntut, Johan langsung mengakhiri dan meninggalkanya. Namun karma itu berbalik kepadanya, justru mantan-mantanya membalas perbuatanya dengan meyerang Lala.
"Kalau hanya dijewer tidak akan mempan, sayang. Suruhlah si Alen untuk menghukumnya," kata Hans.
"Papah! ih bukannya nolongin." jawab Johan.
"Anak kesayangamu ini nonjok perempuan dan itu Lala!" ucap Tiara.
Jeweran mamahnya semakin keras namun kemudian menyudahi jewerannya. Johan meringis, telinganya sangat panas dan Linu. Johan sering menghadapi petarung, tetapi mamahnya jauh lebih menyeramkan.
Hans mencium pipi kanan Tiara dengan lembut lalu melepaskan pelukannya dan berbalik menuju ruang kerjanya. "Johan, ikut papa."
Papanya yang tadi penuh cinta kini terlihat sedingin es.Johan menarik tangan Tiara, namun mamanya tidak bergeming. "Mama, ayo ikut, Johan kan bilang nggak sengaja memukul Lala,"
"Sudah cepat susul papamu, sebelum,"
"Johan Orion Abimanyu." titah Hans memotong omongan Tiara.
"Iya Papah,"
.
.
Satu jam setelah anak dan bapak mengobrol, Johan keluar dari ruangan dengan wajah yang kusut. Papanya itu bertubi-tubi menyemburnya. Sekalipun Johan menampiknya dengan seribu alasan, papa tetap mengomeli dengan buasnya.
...**...
__ADS_1
Sayup-sayup angin terhembus cukup kencang di sore hari, membelai sedan berwarna hitam yang baru saja berhenti di Lobi rumah sakit. Sosok wanita keluar dari mobil, dan mobil itu berlalu pergi. Dialah Tiara, orang yang memiliki kepekaan lebih terhadap hati seseorang.
Angin membelai rambut bergelombang Tiara yang tampak semakin indah dengan jepitan kecil di belakang rambutnya. Dengan memakai Blouse coklat yang terdapat pita di bagian dadanya dan rok selutut dilengkapi higheelsnya.
Ia terlihat lebih muda sepuluh tahun dari usianya, Tiara berjalan dengan anggun dan penuh wibawa. Banyak pasang mata kagum menatapnya, itu biasa di hadapinya termasuk perempuan yang menatapnya dengan perasaan iri dan dengki , terlebih mereka cemburu dengan kekencangan tubuhnya dan perutnya yang langsing, ya Tiara rajin berolahraga walaupun sudah kepala empat.
Baru empat bulan Lala ngekos, sekarang gadis itu terluka oleh *putraku sendiri*. Batin Tiara resah dan gelisah.
Wanita itu menghentikan langkahnya, Ia kaget melihat orang yang dikenalnya sedang tidur di ruang tunggu."Kevin??"
"Mama Tiara!" pekik Kevin terkejut mendengar suara yang dikenalnya. Ia berdiri menghampiri Tiara.
"Yaaah!" Tiara kegirangan meraih kepala Kevin dan memberantakkan rambut Kevin. Kevin yang sudah di dianggapnya seperti putranya sendiri, didekapnya kepala Kevin di bahu kanannya.
Ada perasaan rindu di hati Tiara dan Kevin, mereka saling melepas rindu. Ada perasaan yang tidak bisa mereka jelaskan, entah itu perasaan haru atau apalah ... yang pasti mereka sangat bahagia bertemu walau tanpa sengaja.
"Bagaimana kabarmu, sayang? Kenapa kamu semakin kusut saja?!"
Kevin tidak menjawab, Ia memilih membenamkan wajah di bahu wanita ramah itu.
Tiara memberikan semangat kepada Kevin, Ia mengelus lengan Kevin. "Ayo masuk! mama, mau tengok Lala."
Kevin mengikuti Tiara ...
...***...
Walau belum lama mengenal Lala, Tiara punya ikatan batin dengan gadis itu. Mungkin karena Dia ikut membantu saat dulu Lala mengalami depresi.
Gadis itu menengok kearahnya, matanya terlihat berkaca-kaca.
Lala ingin mengadukan rasa sakit di mulut dan wajahnya itu, kepada sosok seorang wanita, yang sudah dianggapnya sebagai Ibunya sendiri.
Ia butuh pelukan. Ia butuh kasih sayang.Terutama sebuah perhatian. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki Ibu. Dan dia mendapatkan pelukan itu dari Tiara, membuat air mata di sudut pelupuknya lolos begitu saja.
pelukan ini terasa hangat dan nyaman.
Kevin yang biasa menghadapi kesepian, melihat Lala, hatinya jadi ikut teriris. Apakah Lala sama sepertinya, sama-sama memiliki hati yang terasa kosong karena butuh cinta dan kasih sayang dari sosok ibu.
Tiara banyak bercerita untuk menghibur Lala.Gigi Lala masih terkunci, Ia tidak bisa bersuara. Gadis yang setengah terbaring itu amat antusias dengan cerita Tiara.
Kevin mengamati mereka, sampai gadis itu tertidur karena pengaruh obat.
...****...
"Kenapa tidak pernah main ke rumah, nak?" tanya Tiara.
"Kevin ingin kesana, tapi selalu gagal karena pekerjaan."
__ADS_1
Tiara terdiam, Ia tahu anak ini sedang berbohong.Anak ini mengalami luka batin dari kecil karena orang tuanya mengabaikannya, terutama Ibunya. Kevin tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya dan tidak ada yang mendukungnya.
...****...
-Kilas balik Tiara saat Kevin kecil-
Setiap hari Tiara selalu mengantar dan menjemput putranya-Johan ke sekolah. Ia tidak mengijinkan pelayan menggantikan perannya sebagai seorang ibu. Jadi ibu mana yang tidak mencintai putranya? Begitulah Tiara tidak hanya materi, tetapi juga kasih sayang dan dukung mental untuk modal Johan saat dewasa nanti.
Tiara sudah berusaha memberikan segala yang terbaik untuk putra yang dicintainya.
Suatu hari, dilihatnya Johan kecil nan lucu buru-buru turun dari mobil dengan penuh semangatnya sampai kemudian tak sengaja menabrak Kevin.
Anak kecil itu berdarah tetapi di wajahnya sama sekali tak menampakan ekspresi kesakitan. Tiara yang melihatnya langsung membawa Kevin dan mengobati lukanya.
.
.
Setiap hari tidak hanya perkembangan Johan yang diperhatikannya di TK karena Tiara mulai memperhatikan anak kecil yang kelihatannya selalu murung. Wajahnya kelam dan selalu diam tidak mau bersuara. Teman-temanya tertawa, kecuali anak itu terlihat sangat sedih. Dialah Kevin, anak kecil yang membuat naluri keibuan Tiara terpanggil.
Setiap hari Tiara mulai menyempatkan diri untuk menyapa dan menghibur Kevin, Tiara juga memberikan makanan kesukaan anak-anak kecil. Namun Kevin menolak anak itu langsung mendorong makanan-makanan itu dan membuat makanannya terbuang.
Selama tiga bulanan Kevin selalu menolak apapun yang diberikannya entah itu permen, coklat, dll.
Suatu hari Kevin terlihat lebih kesal karena Tiara terus mendatanginya. Tiara yang belum memberikan 3 buah permen ditangannya, sontak terkejut karena anak itu merebut permen dari genggaman Tiara lalu Anak itu pergi begitu saja. Wanita pecinta sosial itu bagai memiliki harapan baru yang mulai tumbuh di hatinya.
Dihari berikutnya Kevin kembali diam membuat Tiara gemas sekali ingin memeluknya. Kevin kembali tidak mau menerima pemberianya tetapi Tiara tidak menyerah. Keesokannya anak itu mau menerima lagi. Kevin kadang menerima tetapi kadang menolak pemberiannya. Semua tergantung suasana hatinya.
Sudah berlangsung dua bulan tidak ada perkembangan, Kevin tetap tidak mau bersuara apalagi memandang wajah Tiara.
Kemudian Tiara menghubungi seorang teman yang merupakan dokter ahli psikologi anak. Bahkan Tiara sampai memasukan temannya untuk menjadi guru di TK tersebut. Tiara dengan temannya berusaha mengembalikan keceriaan Kevin kecil ...
-Kilas balik selesai-
bersambung ...
________________________________________
Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini.
Yuk Simak di BAB selanjutnya🔍
Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘
Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.
Sekali lagi terimakasih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.
__ADS_1