Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAHAGIA


__ADS_3

Ketika membawa kotak cincin kembali, Kevin mengangguk dengan mata sayu menghadap undangan, menyaksikan Lala dan Richie bertukar cincin dalam kepahitan.


Tak bisa berkata apa-apa, Kevin memeluk Richie dan Lala, lalu meminta fotografer mengambil gambar dengan Kevin ditengah menggaet bahu Richie dan Lala, hingga kepala saling bersentuhan, tampaknya tukang rias bingung, karena pipi sepasang pengantin basah tapi Richie tidak mau mereka mengganggu, dan jepretan berhasil diambil dalam latar menara Eiffel.


Ketika tidak lama setelah itu suara kegaduhan muncul. Johan jatuh dari duduknya. Pekikan orang-orang, mengerubuti Johan, tidak terkecuali Lala dan Richie.


"Ayah belum sempat sarapan tadi," kata Amber yang berusaha menjawab kepanikan orang-orang. Sejam kemudian Johan sadar dalam kebingungan saat Lala, Richie, dan Kevin mengitarinya.


"Nah, kamu membuat kami menunggu, Johan." Kevin mengacak rambut si jangkung yang berusaha duduk.


"Si*l, kamu bilang tak akan datang." Johan meninju ke kiri pada bahu Kevin sampai bahu itu tergoyang.


"Ya, Richie terus merengek." Kevin melempar padangan ke Lala. "Kau tahu, La, dia akan memb*nuhku bila aku tidak datang." Kevin dengan penekanan.


"Kapan aku bilang begitu, Vin?" Richie mengingat sepertinya tidak mengancam, dan Kevin mengangkat bahu.


"Sudahlah. Ayo, Jo, apa aku harus menggendong mu?" Richie menepuk bahu Johan.


"Kamu mau ikut melepas balon, kan Jo?" Lala dengan ragu-ragu, tangannya terus melingkar di tangan Richie.


Johan mengangguk dengan tatapan sayu. "Jika kalian melakukannya tanpa aku, sumpah demi apa, aku akan mengganggu kalian 'seumur hidup'."


"Nah, ancaman ini tampak bukan main-main?" Richie mengelus bahu Lala dan bangkit, menarik Lala bangun, Richie memegangi gaun bawah Lala dan naik ke lantai atas pada orang-orang yang menunggu, karena ulah Johan.


Di lantai atas kapal, semua orang telah memegang satu balon. Kecuali Richie dan Lala yang memegang balon merah dan putih dalam satu genggaman.


"Sayang, apa kamu tahu kenapa aku memilih warna balon merah dan putih?" tanya Richie yang memeluk pinggang Lala."


"Tidak tahu, memangnya apa, suamiku?"


"Merah adalah darah, dan putih adalah tulang, kuharap kita seperti itu, saling melengkapi." Richie menunduk mendekat ke bibir Lala. "3 ... 2 ... 1"


Lala dan Richie melepas genggaman dan balon-balon terlepas.


Begitu pula Kevin dan Johan, memilih melepas balon di tangan masing-masing dan menatap kepergiannya daripada memandangi wanita yang mereka cintai berciuman dengan orang lain.


"Tampaknya cinta kita terlepas seperti balon itu," kata Johan memandang balon-balon milik orang yang juga dilepaskan.


"Nah, mungkin," balas Kevin ketika riuh dan sorak orang menggema.

__ADS_1


Dua orang kakek tua duduk di masing-masing kursi roda di ujung kapal.


"Alen, Nah, mereka sudah bersatu," kata Jin.


"Ya, akhirnya mereka bersatu, semoga setelah ini mereka bahagia," balas Alen yang memangku Vino.


"Apa, Tuan Dmitry akan merestui mereka?" gumam Alen.


"Apa yang membahagiakan Eros, pasti Dmitry setuju." Jin tertawa, "Len, apa kau sudah mendengarnya? aku memiliki cucu."


"Maksudmu , Bang?" Alen berkerut, "oh cucu Anda bertambah lagi?"


"Ya. Eros. Dia memberiku ... cucu.. Keturunan Dmitry Estarchus - Sang Pewaris, penerus satu-satunya keluarga Estarchus, syukurlah ini tidak akan putus." Jin terkekeh terlebih saat mata Alen berkedut.


"Apa putriku hamil lagi? kok tidak ada yang memberitahuku?!" Alen menatap putrinya yang tertawa bersama cucu-cucunya, dan melirik ke perut yang masih rata.


**


Enam tahun kemudian ...


"Kami tidak pernah menghargai apa yang kami miliki, tetapi ketika kehilangan kami menangis." Richie tidak ingat siapa yang mengatakannya, tapi akhirnya mengerti dari kata-kata ini.


Richie mengidolakan dan memujanya setiap hari, yang dihabiskan bersamanya cerah dan cerah. Dan dia sempat kehilangan gadis itu, dan lalu mencarinya. Dengan segala cara berusaha melindunginya- merelakannya menikahi lelaki lain dan wanita itu lalu terluka.


Dan kemudian dia mulai menyusup, mendekatinya, di sini Tuhan turut andil, dia melamar dan wanita itu menerimanya.


Dan dia mulai membuktikan bahwa dia layak untuk Lala dan putrinya. Dia memberi hadiah, merawat, dan memberi seluruh dirinya hanya untuk Lala dan putrinya. Dia bahkan berjanji tidak akan memb*nuh lagi, demi wanita ini yang menjadi segalanya di dunianya, memberikan seorang putri yang luar biasa.


"Nana, baiklah, Nana," putrinya yang berusia lima tahun memanggilnya. Menarik tangan Richie. "Akankah mama menyukai bunga yang aku pilihkan untuknya?"


Richie berjongkok dan tersenyum menatap mata biru Lena.


Mengambil ponsel dari saku jas untuk memeriksa waktu, seperti biasa. Richie berlama-lama di foto dia dan Lala diambil pada ulangtahun Lala yang ke enam, ketika Richie tidak tahu bahwa Lala memakai keajaiban kecil di bawah hatinya.


Dari foto itu, mata biru langit Lala yang tersayang dan tersayang menatapnya. Gadis itu berdiri menatap kamera, dam dia memeluknya dari belakang, meletakan tangannya di perut Lala saat dia berlutut.


"Suka?" tanya Richie dengan tenang, menepuk rambut merah Lena. Rambut merah yang seperti foto Daddy Dmitry.


Richie membuktikan kepada Lala bahwa dia layak. Dan jika seseorang tidak setuju, itu urusannya. Richie membuktikan bahwa Richie hanya akan mencintai Lala, dan Richie setia ... dan setia pada istrinya.

__ADS_1


"Nana, ayo, Nana," putrinya menarik tangannya lagi, dan menunjuk ke suatu tempat. "Lihat! betapa bagus perahu itu! bisakah kita menaiki dan membelinya?"


"Tidak, Lena, itu bukan milik kita." Richie berdiri dan mengambil buket itu dari tangan Lena. "Tapi kamu bisa bermain sebentar."


Lena Piratova Estarchus mengangguk dan berlari ke mainan itu. Richie duduk di rerumputan taman, mulai memperhatikan anak perempuannya dengan senyum bahagia.


Tiba-tiba Richie merasakan seseorang berhenti di belakangnya, dan saat berikutnya, tangan kecil yang hangat menutupi matanya.


"Tebak?" tanya suara darimana tubuh Richie adalah gelombang kegembiraan ringan. Dan jantung Richie berdebar kuat.


"Putraku!" Richie berkata, menutupi tangan kecil itu, dan menoleh ke pemiliknya, dan segera bertabrakan dengan pasang mata. "Kamu lebih awal hari ini!"


"Ya, guru-gurunya meeting, jadi aku membawanya pulang." Lala menjawab dann memyusul Vino. Vino yang kini berusia tujuh tahun.


Lala memeluk leher Richie dan mencium pipinya. Kemudian Lala berbalik untuk memanggil putrinya, "Lena?"


Lena berbalik dan berlari. "Ma, Mama." Gadis itu meminta lengan Lala dan kemudian meraih buket yang di pegang Richie. "Mama, selamat ulang tahun!"


Lala mengambil karangan bunga dan meninggalkan ciuman di pipi putrinya. "Ini sangat cantik, terimakasih sayang!"


Richie tersenyum pada keluarganya.


"Selamat ulang tahun Lala." Richie mencium istri, sahabat, juga ibu dari anaknya. "Aku mencintaimu!"


"Dan aku mencintaimu, Eros!" Lala menanggapi dengan bisikkan dan senyum bahagia dan sinar di matanya.


"Ma, bagaimana denganku?" tanya Vino dengan bibir mengerucut.


"Kamu adalah matahari," Lala menempelkan dahi bada Vino, " dan ksatriaku!"


Sekarang, Richie tahu apa yang dirasakan orang yang bahagia dan Richie sangat bersyukur atas kesempatan untuk mencintai dan dicintai ini. Sekarang dalam hidupnya ada semua yang dia impikan; tetapi yang terpenting adalah keluarganya: dia, putrinya yang berusia lima tahun, Lala, dan Vino. Bukankah ini kebahagiaan?


...🍄🍄...


Di sinilah novel berakhir. Saya berharap Anda bersama saya. Di suatu tempat bersukacita dan tertawa, di suatu tempat sedih dan menangis, dan di suatu tempat hanya tersenyum.


Terimakasih kepada semua orang yang membaca novel saya!


Pendapat dan dukungan Anda sangat penting bagi saya. Salam cinta dari saya💥

__ADS_1


__ADS_2