Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 109 : BIRTHDAY RICHIE


__ADS_3

Buket bunga, sekotak kue dan satu paper bag hitam besar dijinjing Richie. Langkahnya terhenti melihat para penjaga yang berkumpul di luar dengan wajah pucat pasi.


Mereka membuka kamar, Richie mendapati ruangan itu penuh barang berserakan. Bantal, guling, selimut, dan pecahan kaca. Bunyi suara kaca terinjak sepatu Richie yang bergegas beringsut ke tubuh Lala yang miring tergeletak di atas karpet dan sebagian bajunya tersingkap selutut, menampkkan kaki putihnya yang mulus dan jenjang.


"Ada apa denganmu, hah. Richie menghela nafas, menjatuhkan barang bawaan. Richie berjongkok, membalikan tubuh Lala yang mulai berat, dilihat Lala tak berkedip.


Kata Siska, Lala terus mengamuk dan melempari semua orang yang memasuki kamar, setelah beberapa hari Kevin tidak pulang rumah.


"Sadarlah keong, kamu kacau sekali, hahhh!" menepuk pipi Lala, menggoyang-goyangkan tangan Lala yang terkulai. Richie, merasa begitu miris melihat Lala dengan yang tak punya semangat, rambut panjangnya berantakan, tercetak jelas kemarahan di wajah wanita yang cuma diam tengah menatapnya.


Disandarkan kepala Lala di dada bidangnya, "hirup ini ... hiruplah dalam-dalam bunga mawar ini, kamu bisa mencium aromannya?" tanya Richie sambil mendekatkan bunga  warna merah itu ke dekat hidung Lala dan memastikan wanita itu telah menghirupnya.


"Saya ingin tahu wanginya seperti apa," kata Richie sambil mendekatkan bunga itu ke hidungnya. " hemm wangi.


Richie menggenggam tangan kiri Lala agar Lala menggenggam bunga itu.


"Apa kamu mau melihat danau? aku beritahu kamu ... angin danau menyenangkan. Sesak di dadamu pasti hilang! Jika kau setuju,  jangan lepaskan bunga ini dari genggaman. Saya akan melepaskan tangan saya."


Terlihat Lala tetap menggenggam buket mawar.


"Baiklah lah artinya kamu setuju, mari bersenang-senang!" kata Richie langsung menggendongnya.


"Tapi, Tuan," protes Siska.


"Bantu saya bawa barang di nakas itu, ikuti saya Siska. Perintahkan mereka membawa makanan Lala," kata Richie dingin sambil menggendong Lala di depannya.


"Baik!"  Siska menuruti semua perintah Richie, berharap sang nyonya membaik.


Di danau di kompleks Istana, Siska menggelar alas yang luas dan cukup empuk di atas rumput terawat.


Lelaki itu mendudukkan Lala pada Bean bag agar Lala bisa duduk bersandar.


"Siska duduk disitu," menunjuk di dekat kaki Lala yang terselimuti, sedangkan Richie menyandarkan pantat di sebelah Lala, punggungnya bersandar pada bag bean yang diduduki Lala dengan posisi kepala bersandar pada lengan kanan Lala, karena tempat duduk Lala yang lebih tinggi.


"A-pa Tuan? ti-tidak saya berdiri saja."


"Cepat!"


Asisten Lala ketakutan, dia menurutinya. Lala sedikit berkedip ke arah Siska, hal itu di perhatikan Richie.


"Kamu bisa merajut?" tanya Richie pada Siska


"Bisa, tuan, kenapa?"


"Buka paper bag itu, dan rajutkan syal untuk nyonya."


Richie menoleh kiri sedikit mendongak menatap Lala, "Rasakan sepoi-sepoi angin ini Lala, bagaimana perasaanmu melihat danau hijau? melihat permukaan air biru itu begitu meneduhkan, ya?"


Lala melihat danau itu, dia terlihat murung, dan kembali melihat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Richie memijit dan memberi tekanan pada telapak tangan Lala yang terasa dingin, "Ratu keong, saya hari ini ulang tahun."


Lala melihat Richie yang sedang menusuk telapak tangannya dengan kelima ujung jemari Richie.


"Peredaran darahmu harus lancar." Richie mencakar telapak tangan Lala.


"Bertahun-tahun tidak ada satupun orang yang mau memberi saya ucapan selamat. Ya, pasti mereka takut kepadaku. Sebenarnya saya juga ingin ada yang memberikan ucapan selamat. Tidak enak ya... hidup sendirian, Lala?" "Hei, kamu tidak mau mengucapkan selamat padaku?"


Siska tergagap, dia langsung menaruh jarum dan benang rajutnya. Asisten Lala yang tadinya selonjor, lalu duduk bersimpuh dengan kedua tangan tangan di samping dan lebih menghadap  Richie. "Selamat ulang tahun, Tuan Richie. Saya berdoa untuk kebaikan dan kesehatan anda, Tuan," kata Siska sambil tersenyum tulus lalu sedikit membungkukkan kepala.


Richie tertawa.


"Apa saya salah, Tuan?" tanya Siska dengan wajah pucat.


"Tidak ada yang salah, terimakasih..."

__ADS_1


Siska terkejut mendengar ucapan terimakasih dari teman bosnya, wanita itu kembali duduk dan meneruskan rajutannya.


"Wah kamu tega sekali, Lala, di hari ulangtahunku."


"Se-lamat."


Richie dan Siska terlonjak, mereka langsung melihat ke arah Lala, tidak mempercayai indra pendengarannya.


"Apa aku salah mendengar?" tanya Richie pada Siska.


"Anda tidak salah mendengar, saya juga mendengarnya," kata Siska semakin pelan, lalu berubah memekik baru menyadari perubahan majikannya, "Nyonya!" Mata Siska berkaca-kaca.


"Selamat ulang tahun..." kata Lala pelan pada Richie.


Suara kecil itu terdengar luar biasa di telinga Richie, dia kegirangan meraih tangan kanan Lala dan mengecupnya dengan penuh arti. "Wah saya ulang tahun! ini baru namanya ulang tahun!"


"Nyonya apa mau makan sekarang?" tanya Siska sumringah mendengar suara Lala, setelah terus membisu selama tiga bulan lebih.


Lala menggeleng, membuat Siska semakin mendelik karena Lala mau meresponnya. Siska mengaktifkan kamera tersembunyi di bajunya, sepertinya sang Tuan akan senang melihat ini.


"Kamu tak mau makan? wah sayang kan, padahal saya kelelahan membuat kue ini. Jadi, saya  membawa kemari dengan penuh harapan jika kau mau menemaniku makan."


Richie meraih kotak lalu membuka penutup kue, "Lihat Lala ini terlihat sangat enak kan? saya membuat selama tiga jam, ternyata ini tidak ada yang spesial."


Lala memandangi kue bulat, melihat telunjuk Richie yang mencolek krim mentega dan memperlihatkan tingkat keempukan kue dan kelembutan krimnya. Lala menelan liurnya yang telah berkumpul di mulut, bagaimanapun kue putih dengan dekorasi taburan sprinkle putih itu menggoda lidah dan pikirannya.


"Lebih baik ikan-ikan danau yang memakannya," kata Richie langsung kehilangan semangat. Dia mengeluarkan dan memegang alas kue, bersiap melempar, "Ikan-ikan ucapkan selamat kepadaku ya!"


Lala mengecap mulutnya, habis harapan untuk bisa mencicipi kue itu.


Siska menyingkir memberikan Richie jalan.


"Jangan!"


Richie reflek menangkap kembali kue yang akan terlepas itu. Richie jatuh terduduk dengan kue hancur tak beraturan menempel di atas dadanya.


Suara tawa kecil mengalihkan perhatian Richie dan Siska. Terlihat Lala sedang tersenyum dan masih tertawa kecil memandangi Richie. Lala menutup mulutnya, tak percaya.


"Lala itu kamu?" Richie yang masih merasakan panas di pantatnya berusaha duduk, beruntung dia jatuh di rumput.


Richie mematung melihat Lala yang akan bangkit dengan lemas dan dibantu Siska yang sigap. Lala kesulitan berjalan di tengah perut besarnya. Wanita hamil dengan sweeter kuning lemon itu duduk di samping Richie di bantu Siska.


Lelaki itu terus terpaku, sampai tidak menyadari bila tangan kurus Lala menangkup kue yang menempel di dada bidang yang tercetak jelas perut sixpacknya.


"Itu kotor," kata Richie, alisnya terangkat sebelah, memandangi Lala yang sedang makan dengan mulut belepotan


Lala mengunyah pelan, spon vanila yang lembut bercampur krim mentega yang bertabur sirup segar, potongan-potongan halus bertekstur kering menjadi satu dengan kue yang di dalamnya terdapat isian.


"Ini menyegarkan, tidak eneg, moodku jadi lumayan membaik. Hmmmm apa ini? rasanya tidak asing ," Kata Lala, aroma wangi kue itu semakin menari-nari di kepalanya.


"Itu puding ala hawai namanya Haupa, terbuat dari kelapa muda segar, saya sengaja mengisi kue dengan puding kelapa itu."


Tak lama Lala menyodorkan sisa gigitan bongkahan kue di tangan Lala ke mulut Richie. Lelaki itu terhipnotis dan refleks membuka mulut, lalu mengunyah dengan pelan.


"hmm ternyata masih enak," kata Richie tidak pernah melepaskan pandangan dari -netra biru langit- yang sedang tersenyum.


dag di dug


Jantung Richie berdesir dan matanya tidak berkedip, melihat tatapan lembut Lala yang kini beralih melihat danau.


Richie menoleh ke tempat Siska, dia berdecak, bila tidak ada Siska pasti dirinya sudah langsung mencium Lala.


Dari kejauhan Siska bisa merasakan kekesalan Tuan Richie. Dia mengalihkan pandangan ke anak buahnya, meminta mereka untuk menyiapkan pakaian ganti laki-laki.


Tidak lupa, Siska langsung mengabarkan perkembangan terbaru pada sang tuan, sementara matanya terus mengawasi.

__ADS_1


Lala memandangi permukaan danau, suara kecipak-cipuk ikan-ikan berebut potongan kue.


"Nyonya Saint, aku mau mendengarnya lagi."


"Selamat ulang tahun, Richie. Semoga umur kamu panjang dan selalu bahagia."


Mendengar itu, wajah Richie menghangat, dirinya menepuk pipi dua kali, ‘saya tidak mimpi kan? Lala memanggil namaku?,’ batin Richie dengan mata berseri-seri, dia sekuat mungkin menyembunyikan senyum yang tak tertahankan. Richie memegangi dada, dia merasa jantungnya berdetak cepat dan semakin tidak beraturan.


Richie bergeser duduk ke sisi Lala dan menghadap ke danau, dia tidak mempedulikan kue yang jatuh ke atas paha, dia duduk berselonjor sesekali menengok kiri melihat Lala yang termenung memandangi danau.


"Saya merasakan kesulitan mu, Nyonya Saint. Saya pernah berada di posisimu. Sedari kecil, saya hidup sebatang kara. Merindukan Daddy dan Mommy, tapi saya tidak pernah melihat wajah mereka, saya hanya mendengar cerita dari orang-orang," kata Richie, kembali teringat masa-masa gelap dalam hidupnya.


Pikiran Lala melayang, tidak menyangka bila Richie juga mengalami hal seberat itu."Pasti itu sangat berat, maafkan saya."


"Maaf untuk apa? kamu lucu. Aku bisa mendengarkan masalahmu, jika kamu mau bercerita. Apa itu tentang wanita itu?"


"Aku berusaha menerima kenyataan itu, ternyata saya tidak sekuat itu. Mengapa ini terjadi pada hidup saya?” timpal Lala datar.


"Mood saya berubah dengan cepat tanpa saya tahu penyebabnya. Selalu saja ada hal yang membuat mood saya hancur seketika. Apa saya salah jika saya hanya mengingat kepedihan saat melihat Kevin.


"Saya berfikir dengan saya pergi dari dunia ini, ayah dan Kevin akan lebih mudah dalam menjalani hidup, lalu  Kevin dan Bella bisa bahagia tanpa terganggu aku."


"Ini akan sedikit manis," kata Richie mengalihkan perhatian Lala yang begitu hanyut dalam kesedihan, sambil meraup roti dari paha, dan mengelap ke muka Lala.


Terlihat wanita itu ternganga karena kesulitan bernafas.


"Apa terasa lengket? coba rasakan lemak mentega ini, uh lembut dan lengket bukan?" tanya Richie sambil mengelap kembali -hidung dan mata Lala- dengan lengan kemejanya, agar Lala bisa bernafas. Lengan kemeja Richie menjadi kotor penuh oleh cream roti.


Lelaki itu tertawa melihat wajah Lala yang terkotori, terutama alis Lala dan rambut hitamnya yang tertutup cream putih.


Suara tawa Richie, mengambil perhatian Lala. Dia jadi ingin membalas saat melihat lelaki itu terbahak-bahak sambil memegangi perut, Lala bisa mencium wangi kelapa dari kue yang memempel di hidungnyan


Karena tidak terima, Lala meraih papan roti di paha Richie, dengan dorongan keras membenamkan ke wajah Richie.


Tangan Richie menyingkirkan papan itu dari wajahnya. Terlihat mulut Richie tersumpal oleh bongkahan roti besar.


Lelaki itu dengan kesal membuang alas roti itu ke sembarang arah, dan mengelap wajah dengan kemeja birunya.


Begitu sedikit bersih, Lala mengusap kue yang masih tersisa di tangan dan mengolesnya ke seluruh wajah, telinga hingga rambut Richie.


"Lalahpp," geram Richie lagi-lagi disumpal roti. Lelaki itu menahan kedua tangan Lala. Dia mendelik ke Lala dan mengunyah bongkahan kue itu sambil menelannya kasar.


Lala tertawa lepas di tengah muka comengnya.


"Apa kamu senang mengerjaiku, nyonya Saint?"


"Anda harus banyak makan kue di hari ulang tahun, kan? Semakin banyak semakin panjang umur!"


"Oh ya? jadi, apa kamu punya hadiah untuk saya, nyonya Saint?" tanya Riche penuh penekanan dan masih menahan kedua tangan Lala.


"Hadiah? bagaimana saya menyiapkan hadiah, saya saja baru tahu."


'Bisakah hadiahnya itu?' batin Richie ingin sekali merasakan bibir Lala yang penuh cream itu. Namun, ia teringat ucapan Kevin atas trauma Lala. Richie menggelengkan kepala, dia menyentil kening Lala dengan keras, membuat Lala meringis memegangi keningnya.


"Ahh gila sakit!"


Richie kembali tertawa.


bersambung ...


...-🍀🍀🍀-...


*Salam bahagia untuk para pembaca yang masih setia sampai episode fase Trauma Lala.


Semoga Tuhan selalu memberikan kita berkah yang banyak ya. Aamiin

__ADS_1


Author sebenarnya ingin istirahat dulu beberapa hari, tapi gak tega 😩🥺


Semangat buat kalian😘*


__ADS_2