Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 6 : KAMAR HOTEL BESAR MARTINI


__ADS_3

Malam itu di rumah besar Kevin terjadi keributan.


"Dimana gadis itu!" teriak Kevin setelah melihat jam di tangan. Air muka yang merah padam membuat semua orang mendekat dan langsung ke posisi siap dan menunduk takut.


"Sudah selesai tuan. Lima menit lagi turun," jawab Billy gelisah.


"Lama! tarik dia!" Kevin menendang tulang kering Billy dengan sepatu. Sangat keras nyaris membuat asisten itu limbung.


"Ba-baik Tuan!" ringis Billy kesakita. Tuannya ini sedikit-sedikit kekerasan fisik. Billy berjalan terpincang.


"Apa kau mau kutendang lagi, Bill!? Berlarilah!" berang Kevin tidak sabar.


"Baik Tuan," Billy sudah mau berlari tapi diurungkan saat gadis itu mulai menuruni tangga.


Gadis berwajah oriental dengan gaun merah berlengan panjang sepergelangan kaki. Payet-payet kecil gemerlapan indah di bagian dada. Make up yang halus semakin menampakan keayuan. Rambut hitam disanggul modern dengan anting panjang yang semakin memperlihatkan kecantikan leher jenjang, semakin membuatnya terlihat manis. kaki yang cantik dengan high heels hitam bertali semakin menggoda setiap yang memandang.


Kevin menelan saliva. Ia tak berkedip walau hanya sedetik. Wajah itu memang muram, tapi tak menghilangkan keanggunan gerakan itu, sejak menuruni tangga sampai di depan Kevin, padahal Lala terus menunduk dengan tatapan kosong.


...Leher jenjang cantik. Batin Kevin....


"Ini apa! jelek sekali, kembalikan rambutnya seperti semula!" berang Kevin kesal kepada pelayan. Pelayan itu pun mencoba mengembalikan dengan tangan gemetar dan ketakutan.


"Coba saya periksa," ucap Kevin dingin seraya memegangi leher jenjang gadis itu yang terasa sangat hangat.


Pria tinggi dengan aura kejam itu memeriksa bekas ceki*kan di leher Lala. "Ingat untuk terus menggunakan apapun untuk menutupi bekas merahnya. Jangan mempermalukan saya atau-" ucapan kevin terpotong saat gadis itu melengos begitu saja.


Pakaian gadis itu membuat lekukan tubuh Lala semakin terlihat, membuat Kevin tidak nyaman. Bagaimana bila ada yang melihatnya.


Pria berjas abu-abu itu, melepas jasn sambil menyusul Lala. Menarik telapak tangan Lala sampai gadis itu hampir limbung. "Kau jelek dengan baju itu."


Kevin menutupi bahu Lala dengan jas lalu laki-laki itu berjalan cepat ke mobilnya.


Sepanjang perjalanan suasana hening di dalam mobil. Aura mengerikan Kevin menyelimuti udara di dalam mobil, terasa mencekam.


Lala, apalagi Billy, mereka membisu dengan ketakutan pikiran masing-masing.


Kevin melirik gadis disamping, gadis itu terus menatap keluar. Memang tidak ada suara, tapi gadis itu terus mengelap air mata yang terus terurai. Sekalipun gadis itu menahan isaknya, sesekali masih terdengar suara ingus, membuat Kevin sangat terganggu.


Dilemparkan tisu ke pangkuan gadis itu. "Kau menghancurkan segalanya! Menghilangkan uangku! Mau kau ju*l tubuhmu seumur hidup pun tak kan bisa untuk menutupi!" Kevin dengan sarkasme yang makin menyakiti hati Lala.


"Kau pernah melihat 15 triliun tidak? kau pernah melihat seberapa banyaknya? Membayangkannya saja bahkan mungkin kau tak mampu ya!" sambung Kevin terus merendahkan.

__ADS_1


"Malam ini la*ani dengan benar. was kalau sampai saya mendengar sedikit saja keluhan kau akan mendapatkan ganjaran!"


...**...


Mobil sedan hitam telah memasuki pelataran hotel Besar Martini, hotel besar milik Keluarga Kevin.


Lala turun mengikuti Kevin tanpa Billy.


Bruk!


Lala menabrak bahu Kevin yang tiba-tiba berhenti mendadak di depan Lift khusus.


"Kau tidak punya mata?" bisik pria kejam itu di telinga Lala lalu menarik kasar Lala ke dalam Lift.


Begitu Lift tertutup Kevin langsung memeluk Lala dari belakang.


"Kevin," isak Lala berusaha melepaskan tangan pria arogan itu.


"DIAM, jangan sampai tangan kotormu itu menyentuh tubuh suci saya!" cela Kevin mengeratkan pelukan, merasakan kehangatan gadis itu.


Bulir air mata mulai keluar dari pelupuk mata gadis itu, meratapi nasib yang akan berakhir buruk.


Kevin menaruh dagu di kepala Lala. Lelaki dingin itu terus diam memeluk sampai ke lantai 50.


Begitu lift terbuka Lala langsung melepaskan diri, lututnya gemetar melangkahkan kaki ke Lantai yang terlihat empat pintu kamar dihadapannya. Dia menahan genangan air mata.


Akankah berakhir seperti ini? kesucian yang seharusnya aku jaga selama ini untuk suamiku? akankah berakhir begitu saja? Ayah maafkan Lala. Ibu maafkan Lala.


Lelaki itu membukakan pintu kamar dan langsung menarik tangan Lala, lalu menutupnya.


Jegleg-


Klik-


Pria itu menempelkan kartu dan listrik kamar menyala. Semarak lampu kamar menyambutnya.


Tak seperti lampu itu yang penuh dengan semarak cahaya, hidup Lala justru sebaliknya.


Aku di bibir jurang kegelapan. (Lala)


Kevin memegang kedua tangan Lala dan membanting ke tembok, sampai punggung wanita itu merasa kesakitan. Terlihat tatapan kosong keputus-asaan pada mata gadis itu.

__ADS_1


"Bukannya kau harusnya pergi." Kesal Lala teredam, melihat ke samping. Ia sama sekali tak sudi melihat Kevin. Lelaki itu mendekatkan wajah ke Lala, menempelkan jidatnya ke jidat Lala, menghirup aroma yang menggoda di tubuh Lala yang menenangkan kepala.


"Jadi, kau sudah tidak sabar menghabiskan malam pertamamu? Sayangnya kau harus menghabiskan malam pertamamu dengan membayar hutang, ya? Eh bukan cuma malam ini tentunya malam-malam berikutnya dengan para hidung be*ang. Ya? Apa kau senang?" Kevin mengejek sambil tertawa.


"Kau sudah berjanji tidak akan mengatakan ini pada Ayahku, pegang janjimu," titah Lala makin meredam kemarahan.


"Oh tentu saja asalkan uang saya balik!" jawab Kevin seraya tersenyum penuh kemenangan.


"Lepaskan aku, nafasku sesak!" pekik Lala dengan tangan dan kaki gemetaran. Emosinya bercampur aduk, takut, marah, benci, jijik jadi satu.


"Kau susah bernafas? mau saya memberikannya?" goda Kevin sambil menggesekkan jempol ke bibir Lala.


"Siapa yang bilang begitu! Minggir," tuntut Lala, tubuhnya terus memberontak.


Kevin semakin menahan tubuh Lala, lelaki itu tampak semakin kesal.


Air mata Lala lolos begitu saja jatuh tanpa bisa dibendung.


Kevin malah semakin memandangi tangis gadis yang masih terus melihat ke arah kiri itu.


Lala terus memberontak dengan kekesalan di wajah hingga tak sengaja, bibir Lala menyenggol bibir Kevin.


Kevin terlonjak "Kau!" tangan kanan kevin langsung mengelap bibir. Ia tak sudi bibirnya bersentuhan dengan gadis sialan.


"Lepaskan aku Kevin! bukankah kau mau menj*alku!! Jadi pergi sana aku capek!" teriak Lala. Kesabaran sudah tak terbendung lagi.


"Jadi kamu lelah? Baiklah saya akan pergi," ucap Kevin sambil tertawa lepas. Ia melepas tangan kiri Lala, merasa sangat puas dan meninggalkan Lala begitu saja.


...**...


"Das*r lelaki biad*p! Aghh... !" tangisnya dengan penuh kebencian.


Lala frustasi, kecewa, tak berdaya, jengkel .... Lututnya gemetar karena ketakutan, kakinya lemas.


a terjatuh tidak jauh dari pintu, Lala histeris menangis meraung-raung dipukulnya karpet di hadapan.


"Kenapa hidupku berubah dalam sekejap, kenapa aku harus menuruti lelaki biad*p itu. Apa salahku begitu besar! Kenapa harus seperti ini!"


"Mamah kenapa meninggalkanku dari bayi? Lala kan ingin melihat mama. Lala bingung, Lala takut, Lala ceroboh. Salah Lala sudah mengusik orang yang tidak seharusnya Lala usik."


Lala terus merintih dalam putus asa. Tidak tahu harus apa. Boleh ia memilih memb*nuh di*ri sekarang!

__ADS_1


__ADS_2