
Menekankan dada pada kusen pintu-kayu Ek dengan jemari terhimpit, menyembunyikan setengah dirinya. Richie mencermati ke dalam kamar.
Mata Richie menjadi nyalang karena kesenangan, membayangkan pemandangan seperti ini akan dilalui. Lembaran demi lembaran hari ke depan mengukir di sepanjang hidupnya yang dulu suram menjadi sempurna.
Kehidupan normal berumah tangga, mengantar anak sekolah, bermain sepak bola, memancing, bermain di taman, mengobati luka dan masih banyak lagi, atau mengikat rambut bayi perempuan?
"Hai kamu yang ada disana, sebentar lagi aku akan memakai gaun indah putih sutera. Itu dibuat oleh putrimu sendiri!" Lala bersemangat dengan monolognya dan senyum-senyum sendiri menatap cermin. Bersyukur atas konstribusi putri-putrinya dalam membantu persiapan ini.
Entah mengapa Richie semakin berbunga-bunga. Semakin yakin dengan kejujuran Lala, bahwa cinta ini terbalaskan. Setelah dia pikir Lala akan memilih Johan saat wanita itu berpelukan begitu erat.
Dia tak bisa menyalahkan Lala atau Johan, sebab masa lalu itu, bagaimana pun dia mencoba sadar bahwa dua orang itu berusaha saling menguatkan.
Lelehan panas datang dari hati dan menyebar ke seluruh tubuh membawa bunga-bunga cinta yang kian berkobar. Tak sabar, gemas, Richie menggoyang pinggul melangkah dengan ga..irah. Ketika berdiri di belakang Lala, dengan cara sensual jari-jari menyusuri di sepanjang pinggang belakang dan berakhir di perut wanita yang kurang dari 24 jam akan menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anaknya.
Dengan kelembutan jari-jari menelusup di balik kaos Lala, membelai perut yang belum membuncit, menyapa sang calon buah hati sekaligus mengendus- mengecup di atas telinga Risa.
"Mas," Lala menganga dengan suka cita menerima pancaran kasih sayang dari tatapan mata Richie yang berseri-seri.
"Kamu belum tidur." Lala merasakan jari-jari Richie yang kini berpindah menggaruk rambutnya, hingga terkumpul menjadi ekor kuda.
"Ya lyublyu tebya vsey dushoy." Richie melembutkan suara ketika menjepit karet hitam diantara jempol dan telunjuk; dan meraih dari atas meja rias. Kemudian menjepit karet dengan bibirnya, kembali mengumpulkan beberapa helai rambut yang lolos di area tengkuk Lala dan menggenggamnya kuat-kuat sampai kepala mungil itu sedikit tertarik ke belakang.
"Apa artinya?" Mata Lala terpejam akan kenyamanan berharga ketika Richie memberikan perhatian pada rambutnya, karena telapak besar panas yang hampir menutupi semua area rambutnya.
"Aku mencintaimu dengan sepenuh jiwaku." Richie dengan serak sambil mengikat sekali lagi, dan mengusap tengkuk yang menggoda karena bulu halus, "sayang ... tetaplah di sampingku."
"Aku juga mencintaimu, mas." Lala merinding oleh embusan panas di tengkuknya. "Dan, tetap di sampingmu."
Kini mereka saling memandang di pantulan cermin dengan penuh kasih sayang penuh kedamaian. Lala menekan punggungnya ke dada Richie sekaligus mengusap lengan Eros.
"Selamanya?"
"Ya, selamanya."
Lala mengamati dan menebak apa yang sedang dipikirkan Richie malam ini, sebelum pernikahan. Apakah Richie merasakan debaran yang sama? Ketika Lala tidak bisa menahan degupan keras dan tidak sabar menunggu pagi. Bahkan Lala sudah berusaha keras untuk menjaga kesehatan dan pola makannya agar pada hari indah besok, bisa bahagia.
Ingin Lala menangis karena terharu. Namun, dia menahannya, tidak ingin bila besok matanya bengkak mengurangi keindahan pada bingkai kamera. Padahal dia ingin tampil baik didepan Richie.
__ADS_1
Dan hari itu tiba, semua orang disibukkan dengan pagi yang seharusnya penuh suka cita.
Putri-putrinya mondar-mandir mengoceh dengan segala ketertarikan mereka bahkan berdebat karena masalah sepele tentang pernikahan ibunya. Ke lima putrinya, cerewet -mengingatkan, harus ini dan itu. Sedangkan, Nenek Rumi hanya tertawa karena ulah mereka.
Hai Richie yang ada disana, lihatlah aku. Disini aku sedang dipercantik oleh tangan dingin perias.
Bahkan ibuku ikut membantuku. Dan untuk kedua kalinya aku melihat gaun sutera putih yang indah. Entah mengapa rasanya, saat memakai ini untuk kedua kalinya sangatlah berbeda. Rambut hitam pendekku diubah menjadi braid cantik. Sangat cantik.
Duniaku seperti hanya fokus pada dirimu sayang, uh! tak sabar sampai ingin cepat memamerkannya, apa bagimu aku cantik? (Lala)
Waktunya tiba. Lala pun dibawa keluar untuk bersiap dan matanya melebar saat sebuah mobil Limosin putih yang dihiasi bunga pada bagian depan atas dan samping dengan bunga mawar merah dengan pengaturan yang tidak berlebihan tetapi sangat manis.
Melongo di halaman Mansion, Lala merasakan dingin merayapi kulitnya, saat Richie mengumbar senyum dan netra hitam berbinar.
Menelan benjolan kesenangan, Lala mengatur nafasnya yang seperti berhenti pada menit ini! dia meremas gaunnya menghilangkan keringat dingin.
"My Queen, Lapochka .... " Richie berlutut dengan satu kaki dan mengulurkan telapak tangan menghadap langit.
"Solnyshko!! Ty nuzhen mne." ( Matahari kecil!! Aku membutuhkanmu dalam hidupku) Lala menjawabnya, kemudian secara skeptis berpikir.
Richie tertawa, seharusnya dilafalkan : 'ya loo-bhloo tyeh-byah fsyehm syehrt-sehm.' Tampaknya, Lala benar-benar melupakan logat rusia! Oh ibumu!! Richie benar-benar gemas.
Minimal untuk panggilan sayang tidak boleh salah lafal, kan! (Richie)
"Risa, seharusnya kau melafalkan panggilan itu seperti ini 'sohl-nyee-shkah' ulangi! panggil aku ... cepat sayang."
"Oh GOD! Richie, are you sure!? mau membahas ini? dan kita sudah telat!" Lala beralasan, kesulitan dengan bahasa Rusia yang terlalu banyak 'penekanan'. Baginya, dari satu huruf dilafalkan dengan cara penekanan berbeda, lalu artinya bisa jauh, satu kata mungkin memiliki lebih dari 16 makna yang berbeda hanya karena 'penekanan'. Dan otaknya merasa sangat tidak mampu.
Richie mengerucutkan bibir. "Ayolah, 'kah-tyoh-nahk' " (Ayolah, Anak kucing)
" 'koh-tiik' ayo 'koh-tiik' benar kan?" (Kucing kecil) Lala melirik anak-anaknya yang terus memandang ke arah sini. Sementara semua orang sudah di atas kapal sungai Seine.
Richie tersenyum penuh dengan alis terangkat. "Kamu hebat sayang! kita harus kembali ke Moskwa, oh 'Ibumu'! " Richie menggoyangkan telapak tangannya yang sudah pegal.
Lala menaruh telapak tangannya. "Aku cinta tanah airku, lebih baik kamu belajar bahasa jawa!" Lala merasakan si netra hitam menelungkupkan dengan tangan lain, mengelus dan mengecup punggung tangan Lala sampai suara kecupan terdengar. "Cupp Cupp Cupp"
Richie melirik ke atas dengan berbinar, netra hitamnya semakin mengkilat. "Demi kamu, Lapochka."
__ADS_1
Merasa De Javu dengan kecupan di ujung jemari. Kemudian Lala menggantung jemarinya di lengan Richie, bersamaan team yang mengangkat gaun di bagian bawah Lala agar tidak kesrimpet.
Ketika Lala menuju mobil Limosin yang pintunya terbuka ke atas, Vino mulai menangis histeris meminta ikut mamanya, dan Lala menatap sedih pada Richie. Beberapa saat kemudian Pria itu langsung turun, dan tahu apa?
Kelima putrinya dibawa masuk juga dalam satu mobil! Lala tak dapat menahan senyum di sepanjang perjalanan karena ini.
Kini Vino dalam pangkuan sang mama, sering melongo tampak tertegun mungkin karena Veil di kepala Lala. Sedangkan tangan Lala meremas Richie, menatap ke depan pada Irish dan Ivy yang tampaknya memasang wajah tegang, entahlah.
Richie menahan diri dengan mengambil oksigen. Paru-paru tampaknya tidak bekerja dengan beres hari ini, berungkali dia harus memajukan mulut untuk membuang seluruh udara dari paru-paru. Tetap saja, ini masih sesak, karena jantungnya yang terlalu berdebar, hampir-hampir dia pingsan.
Terlepas dari sikap mentalnya untuk menjaga diri sesantai dan sealami mungkin, Richie merasa setiap bergesernya menit dia makin gelisah.
Dan matanya tidak bisa untuk tidak menatap tubuh dan wajah Lala. Istrinya yang sangat cantik. Ah calon. Ya, sama saja, hanya kurang dari satu jam, bahkan mungkin tak sampai selama itu hingga dirinya melepas status melajang, dan wanita itu menjadi istrinya? Ya Istri!
Sabar-sabar, Eros, sabar, sebentar lagi. Okey, sekarang atur nafasmu dulu dan pikirkan cara agar leher tidak seperti tercekik. Mengapa perutku menjadi melilit. Ku harap bukan karena ingin ke kamar mandi, ya? yang benar saja! apa rasanya segila ini !? (Richie)
Jemari kiri tak bisa diam, dan meraba kulit punggung Lala, tangan lain juga meremas tangan Lala di pangkuannya dan mengelus punggung tangannya.
Mengapa Lala tampak tenang? hah, apa karena dia sudah pernah. Tampaknya aku di sini yang gila sendirian. (Eros)
Richie menoleh ke samping, tidak mempercayai dengan siapa yang duduk menempel pada dirinya. Wanita bergaun pengantin dengan garis leher halter dan illusion renda yang menonjolkan indah payu..daranya, dengan punggung terbuka berbalut lempengan tali segitiga, menampakkan lengkungan garis punggung yang juga indah. Bibir itu tersenyum sangat manis, hampir-hampir Richie mencomot meraup bibir Lala ke bibirnya bila tidak ingat ada putri-putri Lala.
**
Johan mendengar lonceng berbunyi menandakan bahwa pengantin wanita masuk. Pintu kapal pun dibuka. Dan, betapa pedihnya hati Johan, menatap tiap langkah wanita itu yang bahagia di depan sana bersama pria yang menggunakan jas hitam. Richie dengan sering menatap Lala dengan tersenyum.
Johan menekuk bibirnya. Ya, senyuman Lala itulah yang ditunggunya.
Saat Johan tahu Lala tidak bisa menahannya, Johan pun ikut tersenyum haru menatap mata Lala yang sempat melempar pandangan pada Johan.
Langkah demi langkah Lala berjalan sambil diiringi lagu indah pernikahan. Melewati undangan yang tak lebih dari seratus orang, hanya orang terdekat, karena ini sangat penting bagi Richie dan Lala ingin fokus pada keluarga mereka, terutama di bagian teratas kapal ini, di sungai Siene dengan latar menakjubkan.
Hai Eros, yang ada di hadapanku. Kita saling berhadapan sambil terus tersenyum dan mulai mengucapkan janji pernikahan. Kamu mengulangi ucapan janji pernikahan dan begitupun aku dan, kamu mencium dahiku. Sangat lama. Namun indah. (Lala)
Kecupan indah pengantin pria itu menandakan bahwa mereka telah berjanji pada Tuhan akan saling mencintai sampai helaian nafas itu berhenti. (Johan)
.
__ADS_1