
...🇬🇧🇬🇧...
"Apa mami mu dirumah? Tanya Kevin begitu Edric membuka pintu.
"Um ada, Papi sendirian?" Edric melihat ke luar tidak ada yang turun dari mobil.
"Yah, adik- adikmu mana mau ikut." Kevin merangkul bahu Edric, berjalan bersama ke lantai dua.
Disana Bella yang sibuk dengan laptopnya, bangkit menyambut Kevin, cium pipi kanan kiri Kevin.
"Kamu mau makan? Biar kusiapkan."
"Tidak, hanya sebentar," Kata Kevin ketika Edric sudah pergi.
Bella berjalan ke meja kecil, membuat secangkir kopi dan membawanya ke depan Kevin.
"Apa ada perkembangan baik dari kantor?" tanya Kevin sebelum dia menyesap kopinya.
Bella kembali lagi membawa camilan meletakan ke meja bundar dan duduk berhadapan dengan Kevin, "pertumbuhan laba hanya 15 persen, sepertinya aku kesulitan menangani itu. Apa aku cari_"
"Tidak, itu sudah bagus, kamu harus tetap terjun langsung," kata Kevin memotong ucapan Bella yang terlihat tidak percaya diri dengan hasil kerjanya sendiri. "Bella, apa kau akan terus menyendiri?" Kevin mendorong kotak kecil yang sudah terbuka.
Bella menatap cincin berlian yang sangat cantik. Dia menggelengkan kepala dengan tegas, matanya kembali menelisik ke mata Kevin. "Sampai kapanpun aku takkan mau melakukan ini."
"Kita sama-sama sendiri, dan Edric akan bahagia karena melihat orang tuanya bersatu." Kevin mengambil cincin itu dan meraih tangan Bella yang terasa halus, dia langsung memasukan cincin ke jari manis Bella. "Lihatlah, begitu cocok di jarimu, ini cantik," kata Kevin Dia tersenyum dan merasa puas dengan pilihannya.
"Oh, kamu menjadikan Edric sebagai alasan untuk memuluskan ego mu? tidak ada yang kamu mau sampaikan lagi? Jadi pergilah, aku akan menemui teman kencan." Bella melepas cincin dan mengembalikan ke kotak.
"Bukankah wanita suka dengan pernikahan? Kita bisa menggelar pesta besar-besaran agar seluruh dunia tahu siapa istriku."
"Kevin, kamu pikir aku termakan bujuk rayu palsu mu? Siapa yang tidak tahu perjuanganmu melindungi Lala? Bahkan kau membunuh suamiku hanya karena Lala. Dan sekarang mau menikahi ku, kamu yakin?"
"Jangan membahas dia lagi."
"Kamu hanya ingin memanipulasi ku. 'Ingin seluruh dunia tahu aku adalah istrimu' agar pada akhirnya Lala melihat itu dan kau bisa tahu keberadaan dia, kan?" Bella menangkap bibir Kevin yang terlihat menahan kesal.
"Jangan bahas dia lagi."
__ADS_1
"Lalu apa? kau jadikan aku sebagai pelarian kah? CK! kamu bukan hanya akan menyakiti Lala lebih jauh, tapi ini akan menyakiti putri-putrimu! Hentikan sikap kekanak-kanakan mu, Kevin!"
"Saya melakukan banyak untuknya, dan balasan dia apa? PERGI. Hentikan menyebut dia."
"Jangan tanyakan apa yang Lala dapat lakukan untuk mu;Â tanyakan apa yang bisa kamu lakukan untuknya? Apa perjuangan kamu hanya segitu?"
"Dia tidak mencintai saya, lupakan Lala. Ayo kita ke pelaminan."
"Kamu tidak tahu seberapa lama dia tahu kau menyembunyikan aku? Kau tahu tidak perasaan wanita itu seperti apa? Bukankah dia sudah lama bersabar padamu? Apa kau tak sadar secinta apa dia kepadamu? Dan kau akan melakukan ini? Kau benar-benar manusia tak punya hati ya."
"Ayolah Bella, bantu saya mari ke pelaminan."
"Cih. Aku tidak mau, yang ada Lala makin membenciku."
"Tolong Bell, saya akan melakukan apapun asal saya bisa menemukan anak saya."
"Pergilah, aku muak dengan mu Kevin. Aku masih bersabar tidak membalas atas kematian suami tercinta ku . Hidupku hancur gara-gara kamu Sialan! Dasar lelaki tak punya hati! Kau mengambil James dariku, dan karena itu ... syukurin kamu kena karma! Kau tahu kan apa yang aku rasakan!" Bella menepuk-nepuk dadanya dengan bibir gemetar. Menyumpahi Kevin karena kematian James.
Ia lalu meninggalkan Kevin dengan terus memberondongi sumpah serapah.
Kevin melempar kuat-kuat kotak cincin itu sampai mengenai kaca. Dia menendang meja didepannya. "hah!"
...🇵🇱🇵🇱...
Johan meneruskan usaha papanya, karena itu dia meninjau lahan yang akan dijadikan mall sekaligus wahana permainan di tepi pantai.
Johan bersama dua putrinya tiba di bandara kecil dan langsung menuju ke hotel yang telah disediakan kliennya.
Kota kecil ini begitu sempurna dimata Johan. Pegunungan di sisi timur yang masih masyarakatnya masih menjujung budaya. Dan ada pantai berpasir putih di sisi barat dengan peradaban yang lebih maju dan terbuka mengikuti perkembangan jaman.
"Ayah, kita ke kampung berseri yuk! disana banyak kuliner eropa yang lagi hits," kata Amber pada Johan yang sibuk mencorat-coret sekumpul dokumen di atas meja hotel.
"Sana pergilah, ayah banyak pekerjaan dan harus bertemu bupati sebentar lagi," kata Johan menengok ke Amber yang sibuk menatap pantai dari balik jendela.
"Ayah mah kerja terus, katanya mau berlibur dua hari?" tanya Lydia sambil merancang desain busana pada tabletnya.
"Untuk sekarang belum bisa. Kamu lihat ayah harus menyelesaikan ini. Dan jadwalnya juga maju, ayah tak bisa kemana-mana. " Johan mengambil berkas lain, lalu menandatangi. "Mendingan kalian kerja di tempat papah, dan kau Amber terutama, kau arsitek harus membantu ayah, berikan desain terbaikmu pada proyek ini."
__ADS_1
"Kenapa jadi aku? nggak! Amber kan sudah bilang mau mandiri. Nggak seru di perusahaan ayah. Apa nanti kata teman-teman Amber? aku mau berhasil karena usahaku sendiri, nggak ada embel-embel Grandpa Hans, apalagi nama ayah!"
"Lihat cara bicaramu, wah membuat ayah jadi tak semangat saja." Johan menghampiri Amber, mengikuti arah mata Amber.
Di depan mata, ombak menggulung dengan pantulan warna orange kemerahan dari cahaya matahari yang terbenam sebagian.
'Dimana kau Lala? sudah meminta ku untuk membuatmu jatuh cinta. Tapi kau menghilang begitu saja dan tak memberi aku kesempatan. Apa ciuman terbaik mu itu adalah ungkapan perpisahan? shah!'
'Pantai selalu membuatku teringat padamu, beri aku petunjuk Lala. Apakah di kehidupan selanjutnya aku bisa bersatu denganmu?'
Amber memeluk perut Johan, meletakan kepala di dada Johan, memecahkan lamunan Johan.
"Ayah, amber kangen Ibu... apa Ibu tidak sayang Amber lagi? kenapa Ibu tak kunjung mengabari Amber?"
"Loh, jelas Ibu begitu menyayangimu, itu tidak perlu diragukan, Nak. Ibu hanya perlu waktu sesaat untuk mengobati hatinya. Kita doakan semohmga Ibu selalu bahagia dimana pun berada, ya," kata Johan dengan mantap, tak mau anaknya berpikir macam-macam.
"Ayah__"
"Hm?"
"Apa ayah bisa bersatu dengan ibu lagi?" Amber mendongak menatap Johan yang terus memandang pantai dengan tatapan semakin dalam karena pertanyaan Amber.
"Sebentar, ayah mau mandi dulu." Johan menepuk-nepuk punggung Amber dan langsung ke kamar mandi dengan langkah tegas dan dingin.
"Hei, kamu membuat ayah sedih saja!" gumam Lydia pada Amber setelah Johan menutup kamar mandi, dia sempat menangkap guratan suram di wajah ayah.
"Apa kamu tak kangen ibu?" Amber kembali bertanya dan duduk disebelah Lydia.
"Kangen, aku sedang merancang gaun indah yang terinspirasi dari ibu, ini untuk bulan depan Pekan Mode yang di London. Semoga desainku menang! Aku pamerkan ini agar dimanapun ibu bisa tahu jika kita sangat merindukannya," kata Lydia dengan sungguh-sungguh menunjukan desainnya pada Amber.
"Sangat Elegan! tapi ayo kita bermain ombak, foto aku dengan sunset!" Pinta Amber menarik tangan Lydia.
Mau tak mau Lydia mengikuti Amber keluar dari pintu yang langsung terhubung dengan pantai.
Mendengar anak-anaknya keluar, Johan mengendap-ngedap keluar, takut anaknya balik ke kamar dan bertanya macam-macam. Dia yang pura-pura mandi, nyatanya malas mandi.
Terlihat tablet Lydia yang belum tertutup, Johan mengamati baik-baik. Rancangan gaun panjang dengan potongan cantik tak beraturan di bagian kaki, berwarna merah dan terbuka di bagian dada.
__ADS_1
"Ini sangat indah, terlebih bila yang mengenakan Lala. Anak pintar," gumam Johan mengelus layar tablet, setelah mengingat semua percakapan putri-putrinya saat di kamar mandi.
"Ayah jadi ingin melihat ibumu memakai ini, pasti dia seribu kali lebih cantik daripada bidadari yang turun dari langit."