
Bau diinfektan menyeruak kuat. Suasana yang dingin membuat salah satu Ruang Ekslusif di rumah sakit Sabar Menanti itu sedikit lebih menegangkan. Detak jam yang menunjukkan pukul 10, membuat suasana kian tak nyaman.
Ruangan itu penuh dengan barang-barang yang tergolong mewah, sebuah ranjang untuk pasien dan juga ranjang untuk penunggu, bahkan terdapat dapur, ruang makan dan juga ruang tamu untuk menyambut para pembesuk.
Namun semua itu kontras dengan raut wajah seorang pria yang duduk termenung di sisi ranjang pasien. Wajahnya menunjukkan guratan kesedihan yang mendalam. Matanya suram menatap ke arah tubuh yang hanya terbaring lemah dengan segala alat penunjang hidupnya.
Pria itu tersenyum pahit. Melihat wajah lucu wanita yang dicintainya. Tak ada lagi senyum ceria, tak ada lagi celoteh cerewetnya terdengar. Padahal itulah yang sudah mewarnai hidupnya selama ini.
Wanita itu sekarang terbaring tak berdaya.
"Lala sayang, bangulah! Bangunlah sayang, jangan hukum aku seperti ini." Johan memandang Lala dengan lirih. Dia mencoba untuk mengulas senyuman tegar tapi yang ada dia malah tak bisa menahan tangisnya. Tangis tertahan yang menyesakkan dada. Bahkan menelan napas pun terasa begitu susah.
Dia amati gadis yang sekarang wajahnya dibalut kain kasa setelah semalam menjalani operasi karena patah di tulang pipi dan dirahangnya.
"Bangunlah sayang, maafkan aku, aku berjanji tidak akan seperti itu lagi. its oke kalau kamu tidak menerima lamaranku, tapi tolong bangunlah dulu,” Bisik Johan.
Bulir air mata jatuh dari sudut matanya, Ia mengelus rambut gadis yang masih terpejam itu. Berharap ada pergerakan dari Lala.Johan gemetar memegang pipi Lala yang lebam biru karena pukulannya.
“Apa yang harus aku katakan pada Alen. Lala, kumohon bangunlah. Pasti Alen mencemaskanmu.”
“Aku mencintaimu La, bangun,bangun!”
"Aku memang pengecut, apa bedanya aku dengan mereka? aku justru menyakitimu, lagi-lagi. Maaf Lala ... maaf sayang! aku akan berjuang demi kamu percayalah kumohon ... apapun semua demi kamu! apa kamu tidak pernah melihat usahaku!?”
“Aku harus gimana?”
Johan menjatuhkan kepalanya di samping gadis itu. Dia gusar, masalah pil pencegah kehamilan belum selesai. Sekarang harus melihat gadis yang dicintainya terbaring karenanya. Johan menyembunyikan wajahnya rapat-rapat, mengapa semalam Ia tak bisa menahan kecemburuannya? bila di bisa sabar sedikit, semua ini tidak akan terjadi.
Mengapa pagi itu aku tidak bisa menahan hasrat sampai aku merusak kesucian mu, aku yakin pasti kamu membenciku dan tidak mau berbicara dengan ku lagi, bila kamu sampai tahu perbuatan bejatku, iya kan ?
Sedangkan pasca operasi, gigimu dikunci dua minggu sampai satu bulan kedepan.
Bagaimana caraku meminumkan pilnya dalam dua hari ini? ini sangat sulit.
Kepala Johan terasa sakit karena memikirkannya. Cepat atau lambat Lala akan tahu. Bagaimana bila gadis itu hamil? Baginya bukan masalah karena dia pasti bertanggung jawab.
Aku nggak bisa ngebayangin jika kamu marah, S*it!
Sesuatu menyentuh kepala Johan.
“Lala,” ucap Johan dengan sorot mata nanar.
Dipegangi tangan Lala. Gadis yang dicintai itu tampak lemah dan kesakitan.
“Jangan menangis,” Johan dengan suara lembut mencium tangan Lala, tangan kanan Johan menghapus air mata yang jatuh ke pelipis Lala. Johan menekan tombol panggilan ke perawat. Tidak lama setelah itu dokter datang dan memeriksa.
__ADS_1
.
.
Waktu berlalu matahari semakin meninggi, sorotan cahaya orange pagi yang menerobos jendela telah bergeser lalu berganti dengan cahaya putih terang benderang yang menyilaukan tatapan mata, udara mulai panas diluar, tapi didalam terasa dingin karena AC. Di saat itu Bella datang menegur Johan yang terlihat seperti patung.
“Kamu belum tidur, Pulang dulu sana! Aku yang menjaganya sekarang. Kamu jangan seperti itu, terus merasa bersalah dan membuat Lala tidak nyaman, yang sudah lewat ... ya sudah, kita buka lembaran baru." kesal Bella.
Lala tersenyum sedikit menganggukkan kepala, meyakinkan Johan, memberi isyarat dengan satu kedipan mata dan mempererat genggamannya pada tangan pria murung itu.
Mata Johan sudah tidak mau diajak kompromi, akhirnya Johan mau pulang setelah Bella terus memojokkannya.
Johan pulang, Bella mengajak ngobrol Lala dan banyak bercerita.Lala yang masih terkulai lemas itu menyimak cerita Bella tetapi karena Ia kembali mengantuk, kepalanya tak bisa untuk mencerna perkataan Bella, dan Ia tertidur lagi.
...**...
Sayup-sayup angin membelai wajah tampan pemuda yang tampak merah padam dengan sorot mata membunuhnya. Area tempat parkiran itu begitu luas tapi tidak dengah hati Johan yang merasa terlalu sesak terhimpit.
Suasana sepi dan tenang di parkiran rumah sakit itu tidak seperti hatinya yang bergemuruh. Bagai angin topan hatinya itu siap mengobrak-ngabrik semua yang ada di sekelilingnya.
Langit biru cerah diselimuti cahaya kuning menyilaukan, seakan cahaya itu menyorot kepada tempat Johan berdiri. Pohon besar memayungi Johan yang menatap tajam Kevin yang sedang duduk di kursi taman. Johan sangat jengah saat Kevin mengajaknya berdamai.
"Untuk apa kamu masih menemuinya, Vin!! Bagusnya kau di luar negeri nggak usah balik!! Setelah apa yang kau lakukan 6 bulan lalu terhadap Lala? kamu itu bukan manusia!!
"Aku tahu, aku menyesalinya," jawab Kevin.
"Kamu nggak waras! Gila! Bangs*t! Kau tidak melihat langsung bagaimana sayatan penuh darah di tubuhnya! Kau tak melihat bagaimana luka-luka terbuka di kulitnya! seluruh tubuhnya bercampur darah dan wine! Kau tak mendengar teriakan histeris dia kesakitan! bajunya penuh dengan darah!!! Kau tak tahu berapa ampul darah yang dia habiskan!? Kau tak melihat bagaimana tidurnya, dia histeris setiap malam ketakutan merintih kesakitan !!!! Kamu psik*pat sinting breng*sk!!! Menjauhlah darinya atau aku sendiri yang membunuhmu sial*n!!! Kau pikir aku main-main?! aku bisa saja dengan mudahnya menghab*si seluruh keluargamu brengs*k!"
Johan menendang kursi yang diduduki Kevin dengan keras sampai kursi itu nyaris terjerembab kebelakang bila Kevin tak menahannya. Johan pergi dengan penuh dendam dan kebencian yang menggunung di hatinya. Tidak disangka Kevin yang dulu menjadi orang paling dibelanya, kini begitu terlalu menjijikan dimatanya.
...***...
Sepeninggalan Johan, Kevin masih di halaman parkir, Ia masih duduk di kursi yang ditendang Johan.
Sama dengan Johan, Ia juga merutuki dirinya, sekejam itu dirinya kepada Lala, gadis itu yang bahkan tidak tahu apa-apa.
Tapi kenapa Johan bisa semarah itu? ada apa dengannya? apa Ia juga menaruh perasaan pada Lala? Sial!!
Gara-gara papanya, Billy disandera. Kevin sama sekali tidak bisa mengawasi Lala selama enam bulan ini, Ia bahkan tidak tahu sejauh apa kedekatan Johan dan Luca dengan Lala, mengapa semua jadi berantakan!!!
Dan satu lagi kenapa Bella Anastasya Kencana sekarang malah satu kosan dengan Lala, apa rencana pembunuh bayaran licik itu, sialan!
Mengapa semua berputar di sekitar Lala, kenapa papanya itu jadi terobsesi dengan Lala. Dan kenapa harus menjodohkan Luca dengan Lala. Apa ini karma untuknya? Ia bahkan tak percaya apa itu karma. Ini gak bisa dibiarin.
"Aku harus menurunkan mereka."
__ADS_1
Mereka orang-orang terlatih yang selama ini disembunyikan Kevin.
"Bila ini harus dilakukan, akan aku lakukan, apapun demi tujuannku," seringai Kevin kembali dengan aura mematikannya.
...****...
Dikediaman Bianca Saputra, dikamarnya.
Bianca membuka surel berisi laporan yang dikirim mata-matanya, laporan itu berisi foto-foto Lala dan bukti-bukti yang dimintanya.
"Apa ini??? Sialan !!!!!! gadis Ja*aaaaaaaaang!" teriak Bianca di kamar besarnya.
Bianca tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Ia masih menatap rekaman cctv kosan Lala yang viewnya diambil dari cctv rumah di sekitar kos gadis itu.
Terlihat Johan mendatangi Lala 3 hari lalu pagi-pagi, itu artinya tepat setelah Johan kabur dari jebakannya. Bahkan Johan masuk kamar dan terlihat menutup pintu satu jam.
Menurut laporan mata-matanya, Lala bangun setelah satu jam Johan membuka pintu kos.
Aku yang susah-susah memberi Johan obat perangsang!!!
Kenapa Si Miskin itu yang menikmatinya!
Apa Johan melampiaskannya pada gadis itu, sialn ! jadi yang menelpon Budi soal pil pencegah kehamilan itu, Johan??!*
Dasar gadis mu*ahan!! kenapa gak ma*i-m*ti !!
" Breng*ek!" teriak Bianca hatinya bagai mau meledak. Bianca ingin sekali membu*uh gadis itu. Dilemparkannya semua yang diatas meja ke Lantai, sampai laptop dan bingkai-bingkai foto-Bianca terbanting, pecah di lantai dan berantakan.
"Aku akan membuat perhitungan, Cupu!!!"
bersambung ...
____________________________________
Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini.
Masih seru !!! penasaran !!!
Yuk Simak di BAB selanjutnya🔍
Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘
Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.
Sekali lagi terimaksih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.
__ADS_1