
"Selamat pagi Nona, perkenalkan saya Siska, pengawal baru yang akan senantiasa menemani nona."
Seorang perempuan cantik dengan rambut diikat, berdiri tegap mengenakan pakaian formal itu berbicara dengan sopan dan ramah.
"Mari saya bantu bersiap-siap. Hari ini ada jadwal pelepasan kunci gigi."
Lala menyerahkan tulisannya dengan perasaan gelisah yang tidak bisa disembunyikannya.
Dimana Kevin? sudah beberapa hari ini dia tak menemuiku dan menjawab telepon. Tolong ijinkan saya pulang saja.
"Nona, Tuan Kevin masih di luar kota, dan selama kami belum mendapat perintah, anda belum boleh pulang. Nona mohon segera ganti pakaian, kita akan ke dokter sepuluh menit lagi.
Dirinya selesai bersiap-siap, Lala tidak bisa menghilangkan perasaan bingung, gundah, gelisahnya.
Situasi beberapa hari terakhir tampak aneh. Yang Ia tahu ... terakhir Kevin mengucapkan selamat pada Samantha di Pesta.
Setelah dirinya terbangun sudah rumah Ini.
Apa Kevin bersama Samantha? Nggak mungkin kan ada suaminya. Apa Kevin terpukul lalu menyendiri?
Pertarungan alot dalam dirinya berakhir, Ia memutuskan untuk kabur.
...**...
Dokter melepaskan kunci fiksasi gigi, kini tinggalah kawatnya.
Kegiatan dengan dokter selesai. Lala mencari toilet. Siska terus mengikutinya dengan dua pengawal pria.
Di dalam toilet Lala berpikir, akhirnya ide baju basah terlintas di pikirannya.
Lala mengetikan sesuatu lalu mengirimnya ke Sisca.
"Baik nona, tunggu sebentar pengawal sedang membawakan kemari" ucap Siska dari balik pintu.
Kenapa gak Siska saja si yang ambil?.Batin Lala tebakannya meleset.
Lala berpikir lagi terus berpikir waktunya semakin mepet.
Tuk-
Tuk-
Suara sepatu Siska menjauh, Lala menguntit dari belakang.
Satu pengawal pria di tempat yang agak jauh membalikan badannya ke arah Siska.
Ah! nyaris saja. Lala langsung masuk ke toilet cowok yang ada disebelahnya, beruntung toilet sepi.
Sekarang cara kabur dari sini gimana. Sial!
Dia bersembunyi di bilik cowok, mendengarkan beberapa cowok yang sedang buang air kecil dan berbicara jorok.
Sampai suasana sepi dan terlihat dari bawah pintu seseorang sedang mengepel.
Lala mengetikan sesuatu, membuka pintunya membuat orang itu kaget. Cleaning servis itu membaca hp Lala lalu dia menyanggupi, Lala pun memberi uang pada lelaki itu, ya hanya dua puluh ribu.
Diintip nya cleaning servis itu mengepel di sekitar tiga pengawal itu, membuat pengawal itu menyingkir.
__ADS_1
Gadis itu pun kabur dengan arah yang berlawanan.
Lala sudah mematikan kartu simnya, dia tidak mau di Lacak mereka.
"Neng sudah sampai,"
Lala turun dari angkot.
Alangkah terkejutnya saat dia membalikan badan, Kos yang dia tempati sudah jadi gundukan puing-puing bangunan.
Bella! jeritan hatinya.
Lala menghampiri tetangga yang kebetulan disitu, namun mereka langsung menghindarinya dan masuk ke dalam rumah masing-masing.
Dia menatap sepuluh kamar kos di depannya yang telah hancur. Bukan karena gempa bumi, karena rumah tetangganya utuh.
Lala jatuh terduduk di halaman kosnya penuh tanda tanya. Tidak mengerti apa yang telah terjadi, mengapa tetangga kosnya yang dulu ramah seperti ketakutan terhadapnya.
Gadis yang terlihat tak bertenaga itu bangkit dengan langkah yang berat.
Dia mengitari bekas kamar kosnya yang rata, genteng pun hancur. Lala mencoba mencari sesuatu di gundukan puing itu, mencari tahu apa masih ada barang-barangnya.
Semua data dan ijasahnya di kos itu, apa barang-barangnya tertimbun. Namun Lala sadar dia tak bisa lebih lama lagi, dia cepat berlari ke jalan, menghentikan angkot dengan paksa.
Ia menyebrang nyaris di serempet motor.
Gadis itu naik ke angkot cepat-cepat menepuk punggung sopir. Angkot pun jalan lumayan jauh.
Di tatapnya kebelakang masih terengah-engah nafasnya. Dari kejauhan benar saja dia melihat mobil hitam pengawal yang biasa di tumpanginya berbelok ke kosnya.
Dia harus pergi kemana? ke kampungnya, dia sudah diusir.
Mengapa Bella beberapa hari ini hpnya mati. Kemana semua orang??!
**Kenapa warga kampung itu menyebut aku anak har*am, anak ja*ang. Bahkan mereka tak mengenal siapa ibuku.
Mamah Lala sendirian lagi. Ayah belum kasih kabar, Lala takut kejadian dulu terulang lagi, setelah ayah nggak mengabari Lala lama, tiba-tiba saat itu ayah pulang bersimbah darah. Lala takut, aku sekarang sendirian.
Ya Tuhan apa harus seberat ini? Seandainya, Johan disini Ia pasti menghiburku. Aku malu sekali bila harus ke rumah Johan lagi, pasti mama Tiara khawatir, aku terlalu merepotkan mereka.
Apa aku ke restoran dan mulai kerja? bagaimana kuliahku aku butuh saran, tapi harus kemana aku? mas Luca tidak mungkin, pasti Kevin mengawasi.**
...**...
Lala akhirnya tiba di perpustakaan yang belum pernah ia kunjungi. Dia membawa tumpukan buku, namun pikirannya tidak tahu kemana.
Dia sempat mampir membeli kartu sim baru dan terus menghubungi ayah, Johan, Bella, bahkan ibu kos, namun sampai sore hp mereka masih tidak aktif.
Malam hari, dia belum tahu mau kemana, dia tak punya tempat tinggal. Apa akan jadi gelandangan?
Terdengar siulan beberapa tiga preman, dan empat pemuda. Mereka melingkar mengelilinginya, membuat Lala ketakutan.
"Hai manis sendirian aja nih."
"Ikut abang yuk,"
"Ayo kita akan memuaskanmu,sayang"
__ADS_1
"Jangan sok jual mahal" ledek salah satu orang sambil tertawa disambut yang lain.
Lala menjejak saat mereka mendekat,
"Hngggh!!!!"
Mereka meraih kedua tangan Lala menariknya ke daerah yang semakin gelap. Lala menangis meronta-ronta tanpa bisa berteriak karena mulutnya belum bisa berbicara. Mereka tanpa babibu membawa Lala yang terus menggelengkan kepalanya ke sudut. Gaun panjang nya sudah di sobek sepaha. Lala kembali teringat pada trauma malam kelamnya. Mereka mulai menarik lengan panjang Lala sampai sobek. Dua orang lainya memegang kepala Lala. Dua orang lainnya sudah melepas sepatu Lala dan menjilati telapak kakinya, orang yang lain menjilati betisnya. Kiamat yang mengerikan bagai menimpanya.
Seorang yang paling tinggi besar menarik dress bagian atas Lala, meninggalkan kaos tingtop Lala yang sudah robek.
Perut dan pusar Lala terlihat ... membuat mereka semakin beringas.
Bukk!
Bukk!
Tendangan mengenai kepala dua preman, membuat mereka terjerembab.
Ke empat preman melepaskan tangannya dari tubuh Lala. Preman menyerang bersamaan dan murka karena kesenangan mereka di ganggu.
Sang penyelamat berhasil melumpuhkan mereka. dia melepas jaketnya, dan menutupi gadis yang ketakutan itu.
"Kamu tidak apa-apa? aku tak bermaksud jahat."
Lala mengangguk, dengan masih ketakutan dia menjauhkan tangan orang itu dari badannya.
"Maaf-maaf aku tidak akan menyentuh kamu. Apa kamu bisa jalan? Rumahku deket dan ada mamah ku, mau mampir? Aku tidak berniat jahat."
Lala menggelengkan kepala. Pemuda itu tidak tahu kalau Lala tidak bisa berbicara.
"Kamu gak bisa jalan tapi gak mau di sentuh ataupun di gendong?" Pemuda itu terdiam. Dia ikut duduk di sebelah gadis malang itu.
Setelah lima belas menitan Lala sudah tidak menangis, dia mengambil sepatu semi haknya dengan tangan gemetar.
"Pakai jaket itu yang benar. Bajumu nampak tidak baik-baik."
Lala memakai jaket sang penyelamat, jaketnya kebesaran sampai menutupi pahanya.
Gadis berwajah murung itu berdiri semampunya, pemuda itu mau membantunya namun tak diijinkan.
"Kamu mau kemana? apa mau pulang? Aku antarkan ayo, atau kamu mau telpon keluargamu?"
Lala menghentikan langkahnya, namun berjalan lagi, pemuda itu terus mengikutinya dari belakang.
bersambung . . .
____________________________________
Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini.
Simak BAB selanjutnya🔍
Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘
Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.
Sekali lagi terimakasih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.
__ADS_1