Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 184 : SALSA TUAN JERAPAH


__ADS_3

-POV Lala-


Tuan jerapah menatap wajahku, itu membuat saya merasa tidak nyaman.


Di bawah cahaya lampu yang berubah remang merah.


Saat Sasha mendorong saya yang belum siap, dan sedikit terjerembab kehilangan keseimbangan, reflek tangan saya menyentuh perut pria yang sigap menangkap saya.


"Sasha..." pekik saya, wajah saya memanas karena merasakan perut hangat yang panas lagi keras dan berkotak. Tuan jerapah menahan tangan saya membantu saya. "Sasha, tapi-"


"Cepat kalian maju, beri saya hadiah spesial!" pinta Sasha kembali mendorong punggung saya dan tuan jerapah, Membuat kami bertemu pandang. "Aku tahu kalian bisa, cepat masa kalah sama yang lain. Huh,"keluh Sasha.


Tuan jerapah mengulurkan tangan kiri dengan telapak tangan menghadap atas di depan dada saya, dia mendekat "Mrs.Mawar, tidak baik menolak permintaan Tuan Rumah," bisik dia di belakang telinga saya. Mata saya membulat sempurna.


Dua kali saya akhirnya memerjap dengan pelan saat saya meremas gaun mengelap telapak tangan saya yang mengeluarkan keringat dingin. Isi perut saya seakan ingin keluar.


Menggerakkan kaki saya, mengatasi langkah demi langkah, dan saya tidak bisa mengalihkan pandangan dari tengkuk yang di pangkas dengan sembarangan, tapi sangat 'berbahaya'. Menyembunyikannnya seperti pencuri ketika Tuan jerapah melirik dari balik bahunya, menangkap ku sedang melihatnya!


Aku tersipu dari ujung rambut sampai ujung kaki, memutuskan untuk tidak menatapnya.


Tatapannya begitu berat, jujur saya ragu karena dia orang asing, baru ku temui.

__ADS_1


Melihat lantai dansa yang mulai berkumpul orang-orang dengan para pasangan. Saya menggigit bibir bawah, mencoba berpikir sejenak, Tuan jerapah yang berbicara dengan sangat percaya diri seolah saya tidak akan menolak.


Ada ketulusan dari kata-katanya yang mengisyaratkan sebatas hanya demi kebahagiaan Sasha. Ya, bukankah ini tarian berpasangan, dan lelaki ini juga terlihat penting bagi Sasha. Ini hanya sekadar dansa.


Belum saya menjawab setuju, saat Tuan Jerapah tiba-tiba sudah membawa saya menuju area diantara panggung dan meja tamu, jantung ini berdetak makin kuat dan keringat dingin membanjiri high heels, membuat pijakan saya licin.


Berulang kali mencoba mengatur nafas, menatap lengan berotot itu, baru kali ini, saya berdansa dengan pria asing, dan bibir lelaki itu melengkung membentuk senyuman menawan yang terasa familiar. Apa aku pernah bertemu dengannya?


Lantunan musik perkusi dengan ketukan cepat itu memancing pinggul dan kaki saya menginginkan bergerak cepat. Pria itu sungguh berani kepadaku tapi tetap sopan dan terlihat sangat penuh sesuatu.


Saya mulai mengetuk sepatu hak saya di samping tuan jerapah, menjauh merentangkan tangan tanpa melepas tangan hangat dia. Genggaman yang tampak tidak asing, saya terbang berpindah ke sisi kanan dia, jantung saya berdetak semakin cepat.


Mengangkat genggaman kami setinggi kepala saya membuat saya memutar badan dengan ringan, sekali lagi saya berputar dalam genggaman pria yang menjadi misterius. Baru memulai saja, dia bergerak dengan mantap, Ah dia ahli juga!


Gemaan ketukan musik makin membuat para tamu semakin memanas, seperti halnya kami terus bergerak seiring tempo dan nafas kami makin memuncak, mengeluarkan kepulan asap samar dan bibir dia terlihat menawan.


Aroma parfum kami bercampur dengan bau keringat yang berkumpul di udara. Hormon bahagia membuncah meningkat di sekitar kami, saat dia terus melukis senyum, topeng -hitam onyx- berbulu dia menutupi sebagian kening dan hidungnya. Ah! Kenapa dia tampan sekalipun di balik topeng -!


Menahan air liurku yang semakin berkumpul banyak, saat jemari saya mendarat di lengan kokoh, merasakan kehangatan walau badan kami tak menempel, aroma maskulin keringat dia menguar, membakar jiwa saya. Menggerakkan kaki ke kanan dan ke kiri dalam ketukan cepat membuat saya dan dia berkeringat panas.


Melangkahi lantai demi lantai berputar beriringan dengan dia, membakar api semangat makin berkobar, dan berputar-putar dengan ringan, merasakan putaran yang menakjubkan, rasanya ada perasaan bebas dan lepas.

__ADS_1


Tanpa melambat dia memutari tubuh saya membuat tangan saya ikut berputar ke belakang. Sekali lagi saya bergantian memutar di depannya dengan senyum puas, mendapatkan pasangan dansa yang saya rasa tepa. Dia berpindah di belakang saya saat tangan kiri saya di perut dan dia menutupi tangan kiri saya. Tangan kiri kami menumpuk di perut saya, kami mengayunkan pinggul bersama-sama dengan tetap menjaga jarak, mungkin sekepal dia di belakang saya, membuat saya gila!


Merentangkan semua tangan kami, saya merasakan nafas panas dia di tengkuk saya, dan genggaman telapak tangan dia di -punggung tangan saya-. Saya berdebar, tetapi saya merasa familiar denga kehangatn ini, lantas kami menekuk siku dan kembali merentangkan, hati saya semakin berdenyut tanpa tahu apa penyebabnya.


Dia memutar dengan kasar pada tangan saya hingga kami berhadapan. Nafas kami saling bertukar karena jarak dekat ini, kaki kanannya diantara paha saya, menekan gau sebetis saya, hawa dingin menyentuh belahan setengah paha saya yang terlihat.


Telapak tangan lebar dia memegang bahu saya, mengarahkan bahu ini dan mengayunkan bahu saya ke kiri- ke belakang ... dada saya condong padanya karena tarian ini - ke kanan- mendayu seperti ular! Tumit kanan saya terangkat memindah berat badan ke kaki kiri, mengayunkan pantat berlawanan dengan perut saya.


Keringat kami menguar menjadi satu di udara ! aku sekilas menangkap bulir keringat di dekat mulutnya, itu di pipi, keringat dia harum...


Saya masih mendongak lebih, menatap saat sorot mata dia yang meredup namun tetap tajam. Saya tidak tahu dia siapa, dia setinggi sama dengan Johan.


Namun mengapa mereka seperti memiliki kesamaan.


Saya menekuk ke belakang setinggi pinggang dia, saat telapak tangan dia menyangga punggung saya.


Pipi saya menghangat menatapnya dari sudut bawah, aura dia memancar seperti akan menenggelamkan saya. Satu tetes keringatnya jatuh tepat di hidung saya, dingin dan segar disaat saya sudah kegerahan.


Dia mendekat membuat jantung saya memompa lebih cepat.


Tubuh saya membeku, menelan saliva tidak mau mau bergerak - saat dia berhenti menari, tidak mengikuti tempo.

__ADS_1


Setetes bulir keringat dia kembali jatuh tepat di bibir bawah saya, terasa, jarak wajah kami hanya dua jengkal.


"berhenti," kataku tercekat.


__ADS_2