
-POV LALA-
“Ayo, Lala, bantu saya merawat luka Kevin, mamah tahu betul tabiatnya. Saat ini hanya suaramu yang di dengar. Bawa dia turun untuk sarapan, anak-anak menunggu dalam setengah jam. Jangan kecewakan putri-putrimu.”
Setiap kejengkelan Kevin itu masalahnya sendiri. Tidak, aku tidak harus bertanggung jawab, terlebih mamah membawa nama anak-anak.
Di lantai sepuluh menggaruk-garuk rambut, aku tidak siap menghadapi kemarahan Kevin. “Aku tidak bisa mah, ini sulit.”
“Luca siang akan sampai, semua orang akan menginap disini. Buatlah Raja pesta menjadi tampak seperti manusia. Kamu tega melihatnya begitu muram, Oh Tuhan saya tidak tahu harus apa lagi, Lala.” Sheril menggaruk-garuk kepalanya sendiri, langsung menjauhiku, telunjuknya mengarah ke bawa, ke Lantai.
“Lihat darah ini, ibu mana yang kuat melihat anaknya kesakitan? Cepat kamu plaster lukanya, Kevin juga tidak mau didekati mamah, dia bisa infeksi. Kamu! mengecewakan mamah, Lala.”
DEG- Mamah selalu pakai kata-kata andalan, 'mengecewakan'
Aku tidak mau mengecewakan mamah Sheril, tapi lebih tidak mau mengecewakan Eros. Mengapa ini tempat seperti neraka, dan bukan seperti rumah bagiku.
“Baik mah, baikkkkk,” suara ku bergetar. Batu besar seperti menimpa dada terasa sesak. Melangkah beberapa langkah tapi mundur lagi, bolak balik mungkin ini membentuk sebuah pola.
Sheril mendorong ku sampai batas pintu kamar.
Mataku melotot menatap lekat-lekat lantai tanpa berkedip. Bulu kuduk meremang. Seakan-akan di depan adalah lautan dalam dipenuhi ombak besar dan aku yang tidak bisa renang, tapi dipaksa terjun ke bawah.
Hari seakan kiamat, begitu masuk ke dalam ... aku tidak tahu apa yang akan menghantam ku, menjadi semakin buruk atau menenggelamkanku menjadi penyesalan disisa hidupku.
Aku mengangkat dagu dan mendapati wajah Kevin tertutupi bantal.
Bahuku di elus-elus oleh mama Sheril dan Aku melirik kiri menatap kepergian mama Kevin. Berharap mamah Sheril menarikku lalu membawa pergi dari sini, tapi sia-sia.
Bukannya aku tidak mau, tapi begitu aku memberi sedikit celah, Kevin akan menganggapnya 'lain'
Melangkah dengan berat seakan-akan ada lem diantara kaki dan lantai.
Menuju laci, meraih p3k, memeriksa tanggal expired ternyata kode produksinya masih baru, tidak ada yang berubah dalam tata letak rumah ini, dulu aku yang mengatur segala tata letak.
Hati menyusut karena sakit, jatuh ke bumi masuk ke bawah inti bumi menembus bagian bumi lain dan terlempar ke ruang angkasa lalu terhisap Black Hole, di sana aku tersesat dalam kegelapan, perasaanku.
Dulu aku sangat mencintai Kevin, dan tapi sekarang aku sangat takut.
Vino meraih kotak p3k hingga mainan dalam genggagam Vino terlepas. Jantung berdegub cepat, melirik Kevin yang seperti patung, lalu berjongkok dan meraih boneka Jerapah yang jatuh, suara ruangan dipenuhi oleh celotehan Vino.
Di depan tempat tidur, aku melirik dada Kevin yang terlihat turun dan naik dengan cepat. Membuat saya merasa ketar-ketir tanpa alasan.
Dada lebar itu dulu tempat untuk sandaran ternyaman, detak jantung kencang lagi panas. Aku menurunkan Vino di tengah di dekat Kevin, tidak mau terlalu dekat pria itu.
__ADS_1
Namun, karena ikatan di antara bapak-anak kuat, Vino langsung naik perut papanya seperti mencoba menghiburnya, tapi Kevin sepertinya hanya diam, tangan berotot itu tak bergerak.
Mulutku terkunci. Harus apa, sementara tidak berani menyentuh Kevin untuk mengobati. Aku melirik celana pendek Kevin yang tadi menjadi biang keladi. hoh sudah tidur.
Aku ingin lari jika tidak ada Vino bersamaku. Dan untuk apa aku di sini?
Gemetar, aku refleks berbalik. Ini tidak benar.
Richie, Eros, maaf ... aku merasa bersalah pada Eros.
“Pha pha mammm mha mah.” Suara Vino menjadi begitu menusuk di bawah tulang rusuk, terasa nyeri.
Sebuah tangan besar mencengkram pergelangan tanganku, tangan itu! tidak sampai di situ, tapi tangan panas itu menarik ku.
P3k terlepas dari tangan dan jatuh membuat suara kegaduhan saat aku berdiri tak seimbang.
Membuat tubuhku dengan -jubah mandi sedikit basah- itu jatuh ke perut keras panas dalam gerakan cepat.
Kepala Kevin memaku di punggung dan tengkukku ... aku bergidik.
Aku harus pergi.
Mataku terbuka menatap langit kamar, siluet tubuh Kevin di bawah itu langsung kukenal ini walau dua tahun telah berlalu.
Sekarang aku menghadap tembok dengan Kevin mengungkung, memeluk ku dari belakang.
Panas. Panas tubuhnya. Pelukan penuh kasih sayang seolah lelaki itu menyerah padaku. Pelukan yang tidak boleh ada lagi. Pelukan yang terlambat ... seharusnya dulu seperti ini.
Sekarang? Tidak boleh.
"Jangan lakukan ini," Kata-kata ini sama sekali tidak terealisasikan dan menjadi buih, suaraku terkunci ditenggorakkan. Pelukan tubuh panas Kevin, dua tangan panas berada di perutku, dan kami tidur miring. Otak ini gila.
Ini namanya selingkuh.
Aku mati. Aku mati. Entah otaku yang mati atau hatiku yang mati. Atau suaraku yang mati.
Aku tidak tahu apa yang ku inginkan.
Aku tersesat.
Kasih sayang seperti ini jujur aku sangat menginginkan.
Namun, saat mengingat sakit ini, semuanya menjadi luntur.
__ADS_1
Aku tidak bisa, tapi mengapa tubuhku mati, mengapa menginginkan ini.
“Diam,” suara penuh IRONI bergetar dalam rintihan, sebuah bisikan sangat serak dan pelan, yang mampu merudal hatiku terdalam, yang sangat lemah. Bahkan siapapun tak baik-baik saja mendengar suara Kevin yang tersirat akan luka.
Atau diriku yang terlalu dimabuk cinta.
Jiwaku bergetar karena suara dari palung terdalam jiwa Kevin, aku meyakini, terdengar sangat tulus langsung dari hatinya yang lembut. Siapapun akan meleleh dengan cintanya.
Tapi pria ini seperti tidak bisa berhenti mengagumi Bella dan luka hatiku akan berdeklarasi. CUKUP!
Hatiku telah hancur bernanah, hingga suara itu justru semakin mengiritasiku, mengirigasi dengan besi karat semakin panas dan perih, di dalam.
Sebuah tangan mungil baby Vin meraih pipiku dari belakang, dan satu tangan mungil lainnya mencoba menjambak rambutku dari belakang.
Vino di dekat kepala, anak kecil itu menghambur di kepala kami.
Bayang-bayang Richie berputar di kepala, senyum dan tawa, Kekasihku yang selalu ada.
Ini tidak Boleh.
Aku mencengkram dua tangan Kevin. Mencongkelnya dengan jari-jariku, mencoba menceraikan kedua tangan Kevin untuk terlepas dari perut saya. Meski dua tanganku dalam kunkungan Kevin.
Kuku-kuku ku menusuk tangan pria itu, mencabut tangan yang sangat kencang memeluk saya.
Hatiku menjadi sakit merasa bersalah pada Richie.
"Jangan, Lala," suara Kevin sangat serak pelan, "tetap denganku."
Tiba-tiba tangan Kevin mengendur,
Aku melompat melempar tangannya dan berhasil melepaskan diri.
Menjauh, tapi tangan kiri Kevin terkulai tergantung di pinggir tempat tidur.
"Kevin," perasaan saya menjadi tidak enak karena ada yang janggal. Menggoyang-goyangkan tangan Kevin yang tidak bereaksi, mengapa panas.
Saya menyentuh kening Kevin sangat panas, menepuk-nepuk tubuh Kevin tidak merespon.
Saya terdiam mengedip perlahan, membeku melirik kaki Kevin, seharusnya darah terhenti.
Menggendong Vino, mataku memanas, pergi menekan interkom. Nomor pelayan, entah itu sama atau sudah berganti.
Ada apa dengan Kevin?
__ADS_1
Dan kami serumah menjadi panik melarikan Kevin ke rumah sakit.