Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAb 115 : KAKAK


__ADS_3

Kevin mengelap peluh di alisnya, setelah memberi hormat pada pelatih kungfu terbaik.


Handuk diatas kursi mengusap semua keringat di wajah dan lehernya, handuk kecil itu kini telah basah keringat.


Guru kungfu yang dikenal berkat Richie keluar dari ruangan, Kevin melangkah keluar dari ruang itu,tidak lama lagi dirinya akan menguasai teknik tertinggi.


Kevin beberapa bulan berlatih keras demi persiapan menyerang Scorpion, Klan terkuat, di wilayah barat. Satu masalah Kevin -pacar Bella- termasuk anggota mereka.


Kevin tidak ingin, Sorcpion sampai mencuci otak anaknya, apalagi sampai dijadikan pion untuk menghancurkan Kevin.


Pintu otomatis terbuka, Kevin papapasan dengan Luca yang melangkah masuk.


Luca berdeham dan tersenyum, "Sepertinya kau harus melatihku bertarung," kata Luca berusaha mencairkan suasana, "aku melihatnya, i-itu keren," wajah Luca sedikit memerah.


Luca tidak pernah bertarung, dia sempat melihat Kevin yang berlatih dan terlihat kesulitan.


"Bukankah kamu sibuk di New York? saya memiliki seorang teman disana, nanti akan saya kirimkan nomornya. Dia sangat terlatih," kata Kevin berusaha tidak kaku, dia akan memberikan nomor anak buah dan sekaligus mematai-matai di tambah menjaga Luca.


"Ya boleh berikan nomernya, apa kau tak mau latihan lagi? tak enak workout sendirian," kata Luca sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gagal.


"Tidak, sebentar lagi istriku bangun," kata Kevin, lalu terdiam sebentar, dia ragu, sepertinya tidak perlu memeluk Luca, lalu dia melangkah keluar.


"Ah ya sudah." Mendengar itu, hati Luca berdenyut sakit. Luca berbalik, mengurungkan niat berolahraga, dia menyusul Kevin. "Apa kamu tidak kaget, ibu dari temanmu ternyata ibu Lala."


Kevin tidak nyaman, apalagi berkaitan dengan Lala. Langkahnya terhenti dan menatap Luca, "semua yang tidak terduga pasti membuat orang kaget, kan." Mengusap dada, "bisa tidak jangan ikut campur urusan istriku?"


DEG


"Aku hanya bertanya, siapa yang mencampuri, aku hanya tidak tega melihat dia tidak nyaman dengan keberadaan Rumi."

__ADS_1


"Itu urusan kami kan, bukan urusanmu, KAKAK," kata Kevin dengan penekanan, lalu menurunkan tangan dari dada Luca, dengan wajah tersenyum sinis, dia memperingatkan Luca agar sadar posisi.


"Kamu tahu kan, aku tidak akan pernah bisa menjauh dari Lala," kata Luca saat menatpa punggung Kevin.


Kevin menggelengkan kepala, dia tak mau menanggapi dan cepat berlalu. Sudah susah payah Kevin agar mau berdamai dengan Luca, 'selama kamu tak melewati batasanmu, Luca."


"saya percaya, kamu tak akan meninggalkan saya ,Babe," lirih Kevin mengingat setiap perkataan tulus Lala.


🍀🍀


Kevin telah memakai setelan jas rapih, dia duduk di samping Lala, dicubit dua kali pipi Lala, "Babe, jam 8 bangun."


Setelah cukup Lama Kevin membangunkan istri yang kalau tidur susah di bangunin, akhirnya Lala merajuk dan akan menarik tubuh Kevin agar ikut tidur.


"Saya harus ke kantor, Babe, ayo temani saya sarapan."


"Ahhhhhhhh."


Aku sudah bangun! sayang," katanya dengan nyengir kuda dan tangan sedikit menarik dasi Kevin,suaminya sudah rapih dan wangi.


"Cepat cuci muka, tidak perlu mandi, hari ini ada terapis akan memijatmu, jadi cepat," kata Kevin sambil menarik punggung Lala, lalu menggendong ke kamar mandi.


"Aku mau jalan sendiri, ah, turunin!" Gerutuan Lala tidak digubris Kevin.


Kevin menurunkan Lala di depan westafel, lalu mengambil -sikat gigi Lala- dan memberikan pasta diatasnya, Kevin memberikan setelah Lala cuci muka.


"Sayang, nanti jasmu basah, minggir aku mau pipis."


"Silahkan pipis, bukankah semuanya sudah saya susuri?"

__ADS_1


Lala meraih sikat gigi dari suaminya, terlihat di cermin Kevin menyeringai.


"hoooh' aku malu," gerutu Lala dengan gemas, lalu memalingkan wajah yamg memerah, tetap saja Suaminya bisa melihat dari cermin.


Kevin memeluk dari belakang, menyibak rambut Lala ke sisi kiri dan mulai mengecup tengkuk Lala. Tangan Kevin kemana-mana.


Lalacepat berkumur-kumur dan sedikit tersedak kumuran karena ulah Kevin yang membuat Lala menge rang.


Kevin tertawa, dia menepuk pelan pundak sang istri, lalu keluar meninggalkan Lala yang telah mengerucutkan bibir.


Kevin memeriksa jadwal di tablet, kaki kanan melipat bertumpu pada paha.


"Jam 9 meeting dengan perusahaan besar. Jam 12 dengan actor baru yang sedang naik daun."


Kevin lalu berpikir sebentar.


'Semakin banyak film diproduksi, makin banyak bukit dollar. Seharusnya mereka senang dengan popularitas.' batin Kevin yang teringat dengan BG, actor yang sudah terkenal tapi minta 'pensiun' karena issue pencucian uang dunia gelap yang sempat terangkat publik.


'Enak saja mau pergi, kau penghasil uangku! kau tidak bisa melarikan diri,' batin Kevin sambil melempar tablet ke sofa.


Diruang makan mereka sarapan tanpa Alen. Lala merasa bersalah dan bertekad akan segera meminta maaf.


Kevin mengelap kain putih ke mulut, pertanda selesai makan.


"Sayang, buru-buru?"


"Selesaikan makan, tidak perlu mengantar saya, istriku" kata Kevin lalu mengecup pipi kiri- kanan dan kening Lala.


Luca yang melihat itu menoleh ke kiri, tidak sanggup, matanya memanas dan mengembun, dia menunduk menyobek roti. Dia mengandaikan bila di posisi Kevin, tentu dirinya jadi pria paling bahagia di muka bumi.

__ADS_1


"Sayang hati-hati, cepat pulang, apa mau dibawakan makan siang?" tanya Lala lembut, wajahnya menghangat, dia tak berani mencium pipi suaminya padahal Kevin terlihat menginginkan kecupannya. Lala sungkan karena ada mama mertua, fabio dan terlebih Luca.


Merasa Lala tidak mau memberi kecupan, Kevin sempat melihat Luca yang terus menunduk, "Lain kali saja bawa bekalnya ya, ada talent yang harus saya temui, sampai jumpa nanti sore, istriku," katanya mengecup rambut Lala, lalu berpamitan pada mama Sheril. Kevin melangkah dengan cepat karena hampir terlambat, disusul parker.


__ADS_2