
Rumah besar dengan halaman luas, preman-preman bertubuh besar dengan senapan di tangannya berjajar dimana-mana. Bukan senapan biasa ditangan mereka, sekali tembak saja, membuat orang langsung mati.
Di pintu Kevin disambut lelaki berjanggut panjang dan kemeja gombrang dengan celana putih selutut.
"Viktor..." kata Kevin bergetar.
"Sudah lama tidak bertemu, ya Bos..."
'Ck, dasar penghianat," batin Kevin, matanya tertuju pada pemuda seusia Amber, 'mengapa dia seperti orang asia? kenapa mirip Bella?'
Viktor merangkul Kevin berjalan melewati lorong di pinggir kolam renang yang di batasi kaca sepanjang jalan.
"Kau mau langsung menemui, Tuanku?" tanya Viktor. Sementara mata Kevin sering melirik ke kanan, heran melihat pemuda itu ikut berjalan beriringan dengannya. Pemuda berwajah pucat.
"Saya mau melihat Edric," kata Kevin sambil menatap Viktor. Dengan berani mantan anak buahnya merangkul bahu. Padahal Kevin paling benci diperlakukan seperti itu, sepertinya Viktor sengaja memancing emosi.
Memasuki ruangan dengan dinding wellpaper -merah hati- dan lilin menyala di atas nakas. Kevin melirik foto-foto yang dilewati.'Apa itu Bella? dan James? mengapa terlihat seperti foto keluarga? siapa tiga pemuda itu? satunya berwajah asia kenapa fotonya seperti pemuda tadi? apa benar itu anak Bella?'
"Jadi dimana Edric?" tanya Kevin saat Viktor menyilakan duduk.
"Santai dong mantan Bos, ha...ha..ha."
Kevin menggepalkan tangan, ingin rasanya menendang mati mantan anak buahnya. Tak lama pelayan menyajikan beberapa roti dan minuman, dan Kevin memandanginya. Haus karena tiga jam belum minum.
"Itu aman, tidak ada racun, tenang saja, mantan Bos." Viktor berlalu meninggalkan Kevin dengan pemuda yang sibuk mengotak-ngatik hapenya.
"Siapa nama mu?"
Pemuda itu menatap Kevin sebentar, tidak mau menjawab pertanyaan Kevin dan kembali pada ponsel.
TAK!TAK!TAK!
Seorang pria bertubuh lebih besar dari Kevin, berambut gondrong pirang, dengan tubuh penuh tato hanya memakai kaos putih tanpa lengan, berkalung rantai dan celana jeans longgar. Kevin yakin itu James dilihat dari Tatto di lengannya.
Kevin berdiri melihat tatapan tajam itu. Tatapan iblis, di balik senyum dengan aura psikopatnya begitu kentara.
Tidak jauh darinya, seorang wanita berjalan di belakangnya, tatapannya begitu Kevin Kenal.
DEG.
'Bella?' Kevin ternganga, saat wanita itu mencoba tersenyum hangat sesaat tapi langsung duduk di pangkuan James yang baru berdeham.
__ADS_1
"Apa ada yang mau kamu katakan?" tanya James tanpa basa-basi.
"Dimana Edric?" tanya Kevin, saat Bella terus menatapnya tanpa bisa di tebak.
'Bella begitu banyak berubah, dia tidak lagi tomboy, dan lebih merawat diri.' GYUTT.
"Apa yang kau lihat? menjijikan, apa kau mau mencicipi api panas pada dua bola matamu," tegas James yang tidak suka dengan tatapan Kevin pada istrinya.
"Edric," ucap James.
"Iya papah."
Kevin menoleh kiri, matanya tersentak melihat pemuda tadi. Kevin mencoba mencerna dsn mengamati pemuda berwajah pucat itu baik-baik.
"Kamu tidak mengenali anak mu?" tanya James pada Kevin, membuat jantung Kevin semakin berdetak, terlebih pemuda itu menatap Kevin dengan tatapan jengah.
"Maksudnya?"tanya Kevin masih tidak paham dan terus menatap pemuda itu yang kini duduk di sebelah kiri James.
"Honey!"sentak James pada Bella, membuat Bella mengelus pundak James, dan bertatapan dengan James sejenak.
"Kevin, dia Edric," kata Bella menatap Kevin lalu melirik ke Edric yang menatap mommy dengan santai.
"Edric dia ... ayah biologismu."
Kevin menelan liurnya berkali-kali.
"Ayahku suda mati." Edric menatap malas ke arah Kevin, menganggap orang yang menyia-nyiakannya itu telah mati.
James tersenyum puas, dengan tatapan seolah mengejek Kevin.
"Edric, ini papah, sayang," kata Kevin dengan tenggorokan tercekat dan tatapan begitu dalam, lalu berdiri.
"Diam di tempatmu, atau saya akan pergi..." geram Edric yang tahu akan didekati.
"Baik, saya akan duduk." Kevin menuruti Edric yang terlalu bersikap dingin, seperti raja yang susah dikendalikan.
"Ikut saya," perintah James, setelah memindahkan tubuh istrinya untuk duduk ke sofa, lalu memasuki ruangan disebelahnya.
Langsung Kevin mengikutinya, setelah menatap Bella dan Edric sebentar.
Di ruangan yang banyak senjata lengkap itu James sudah duduk memegang senapan paling mematikan dengan dua kakinya sudah diatas meja.
__ADS_1
Tanpa takut Kevin memasuki, melewati dua puluh penjaga berjaga didalamnya tanpa terlepas dari senapan.
James menyalakan cerutu, melemparkan sebuah cerutu lain ke depan Kevin yang baru duduk.
"Apa kamu akan membawa Edric? sayangnya istriku menolaknya itu?" kata James tegas saat Kevin mulai menyalakan cerutu.
"Tapi dia putraku, saya memiliki hak membawanya."
"Putramu ck!" James bertumpu pada meja, menyondongkan badan menyembul asap cerutu ke wajah Kevin. Tangan kanannya sudah mengarahkan senapan ke dahi Kevin.
James memiringkan kepala, "Ini wajah mesum yang telah menodai pacarku, ya? Ah MENJIJIKAN." James lebih menekan ujung senapan ke dahi Kevin, sampai meninggalkan bekas lingkaran karena Kevin tetap duduk tegak tak memundurkan kepalanya.
"Kau diam saja ha?"
DOR DOR DOR DOR
James menembak kearah bawah. Meja itu telah berlubang, dan percikan kayu mengenai James dan Kevin.
"BOMnya!" perintah James langsung merebut cerutu dari tangan Kevin dan mengisapnya dengan duduk di atas meja sementara kaki bertumpu di kursi.
Melihat beberapa anak buahnya, sedang memasangkan bom di tubuh Kevin sampai benar-benar terikat rakitan bom.
"Apa kau mau membuat kita semua mati?" tanya Kevin masih tenang.
"Kenapa tidak, mati sama-sama."
"Jika mau mati bersama jauhkan Edric dan Bella dari tempat ini."
"Wooooowwww... lihat cara bicaramu, kau mengajariku? hey Bella itu istriku CK! dia mau ikut mati denganku itu urusanku."
"Mereka tidak ada hubungannya dengan kita. Selesaikan saja diantara kita."
"Kau kira, kau Raja? kau sudah menggempur markas ku habis saat dua puluh tahun lalu. Wah, apa kau mau berikan anak buahmu dan membuatnya mengirim barang ke belahan bumi lain? bagaimana jika kamu jadi pembantuku?"
"Jangan harap!"
"Sombong. Padahal bila kau mau mengirim kokain itu aku akan membebaskanmu."
bersambung ...
...***...
__ADS_1
Terimakasi para pembaca setia๐๐
Kenalin Novel othor... ini lah si Tuan Mason dan Nona Elle โบ ceritanya gak sekejam Mafia ๐