Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 242 : SAINT-LALA


__ADS_3

"Ayah, aku mau lihat ayah," Lala bangkit dengan susah payah, badan lemah dan terjatuh lagi.


"Tenang, kita akan temui ayah mu," Ars menekan bahu Lala untuk tidak bangun, wanita itu tampak kebingungan. Ars memberi kode tanpa menoleh ke Nick.


"Sebentar, nona, kami akan membawakan kursi roda..."


Tidak perlu waktu lama, Lala sampai di depan pintu besi. Jantung berdebar saat Nick memutar kunci. Mata Lala terbelalak mendapati ayah dalam kondisi sangat buruk. Dia bangkit dan terjatuh dari kursi roda, merangkak mendekat.


"Ayah ... " Suara mengi, tidak peduli dengan lemas, semua perasaan bercampur aduk. Dia menatap ayah yang mendongak dengan tenaga terbatas, dia tidak pernah mendapati ayah seperti ini. Lelaki itu masih mencoba mengangkat dua sudut bibir untuk tersenyum saat mata itu tampak tak fokus seolah tidak jelas melihat ke arahnya.


Lala menyentuh dengan hati-hati lengan kanan ayah dengan dua telapak tangan Lala. Berbagai luka bekas sabetan, kulit tak beraturan timbul, membentuk pola darah yang telah mengering dan menghitam. Pergelangan bengkak.


"Tidak apa, Nak."


Dingin dari telapak tangan ayah mengusap belakang rambut Lala.


Celana ayah robek-robek. Cairan panas bening berjatuhan dari matanya ke lengan ayah, Lala menghambur pada leher Alen.


Lala melepas pelukan dari leher ayah, wajah ayah yang telah menghitam entah oleh coretan darah mengering atau apa.


Bau amis besi, bahkan busuk seperti bau koreng. Lala mengutuk dirinya sendiri yang; tidur; makan; dan berpakaian; dengan baik. Sedangkan ayahnya dalam kondisi tersiksa, bahkan jauh lebih buruk dari gelandangan, "Maafin Risaa, ayah," katanya dalam isak.


"Tidak ada hubungannya dengan kamu," kata ayah lemah, "maaf, membuatmu kesulitan."


"Mereka keterlaluan kepada ayah, ini tidak benar ... " Lala histeris, cairan bening berjatuhan ke tangan ayah yang sebagian mengoreng. Jemari Lala gemetar menyentuh bekas jeratan di leher ayah, tangan lain meremas kerah baju ayah. Bibir sang ayah itu memutih pecah-pecah, tubuh ayah sangat dingin.


Lala berbalik dengan tajam, memeluk sepatu. "Tol..ong... jangan sakiti ayah. Ampuni ayah," Lala histeris, kening menempel pada sepatu Ars, meremas pergelangan kaki Ars, menusuk dengan kuku karena kemarahan dan suara tangis yang di tahan.


Lala merangkak ke tulang kering Ars, meringis menatap Ars yang sedang menatap ayah dengan pandangan sulit ditebak.


Dua tangan Ars keluar dari saku celana kain sutra, dan mengusap pucuk kepala Lala dengan sedikit membungkuk.


"Berikan perawatan padanya, tolong tuan Ars ... " pinta Lala dengan memelas, setelah terus memohon secara harafiah lebih dari lima belas menit.


Dalam pikiran yang amburadul, tidak tahu lagi ... Bunyi suara terjatuh, Lala menoleh dengan tajam.


Kening berkerut dan bibir melengkung ke bawah, seketika Lala menghambur memeluk tubuh ayah.


Lala mengelus wajah ayah yang tidak sadarkan diri, menepuk pipi dan lengan ayah.


Dari arah belakang tangan Lala ditarik dengan kasar, sampai dia setengah berdiri , tapi tidak bertenaga dan lutut kembali membentur lantai.


Beberapa orang mengangkat Alen.


Mata Lala tidak pernah lepas dari tubuh ayah, Lala berlari sampai dia baru menyadari tangan Ars melingkar di perut, menghalanginya. Lala terus memangil Alen yang hilang di sudut ruang berdinding besi, dengan hati terpukul, Lala mendesis.


Ars menahan perut Lala, wanita itu terkulai ke depan, begitu juga tangan itu terkulai. Dia menarik dagu wanita itu, dan lagi, Lala tidak sadarkan diri.


Ars menopang tubuh wanita itu, membawa pergi ke atas.


Dalam perjalanan Ars menajamkan pandangan. Matanya memicing saat berpapasan dengan Bella di lantai teratas. Ini Arena pribadi, mata wanita itu berkedut memandangi Lala.


"Nick usir dia," Ars dengan nada kesal. Dirinya bertanya-tanya siapa yang memberi akses wanita itu.


"Baik Tuan."

__ADS_1


Ars menajamkan pendengaran oleh cara wanita itu melawan Nick, mereka sedikit bergulat, dan Ars meyakini Nick masih hebat satu tingkat di atas keahlian wanita itu.


"Hai, Bang Ars, bisakah aku merawat Lala?"


Rahang Ars mengeras, giginya gemertak tidak berniat menjawab. Dari awal dirinya tidak pernah setuju dengan keberadaan Bella jika bukan karena adiknya.


"Bang Ars, Lala pasti akan senang oleh keberadaan saya," suara wanita itu sedikit mengencang. Keramahan itu terlalu dibuat-buat, Ars tidak ragu akan itu.


Setelah perdebatan panjang dengan adiknya. Alen dan Lala dirawat di arena perawatan keluarga, mereka satu ruangan.


**


Daniel mengikat pergelangan tangan Bella. Hatinya mendidih sampai tidak sadar mengikat Bella terlalu kencang sampai wanita itu meringis.


"Bukankah sudah ku peringatkan untuk tidak berpergian ke lantai atas!?" menjauh dari Bella.


"Daniel, aku mencari mu. Dan kenapa kakakmu mengurusi Lala!"


"Bukan urusan mu."


"Oh, jadi kamu menggagalkan semuanya!?"


"Diam! cepat jalan." Daniel membuka pintu, melirik Bella yang berpakaian bekas noda darah.


Ketika keluar dari lift, Daniel meraih kain hitam dari tangan anak buahnya.


"Daniel, Kau tidak boleh melukai Edrick."


"Ya," sahut Daniel membungkam mulut dan mata Bella. Daniel menyerahkan Bella pada anak buahnya.


"Kau lihat, Nick ... " Ars tertawa sambil menyibak rambut ke belakang.


Nick mengerutkan alis, "Menurut saya Bella tidak bisa membunuh Kevin, saya yakin."


"Kenapa?"


"Anda lihat tatapan mata Kevin, dia menyembunyikan sesuatu. Harusnya terkejut bukan tenang seperti itu, kemungkinan Kevin mengetahui sesuatu, atau, mengetahui rencana Bella," Nick menganalisa.


Ars mengelus dagu, membenarkan penuturan Nick. "Nyalakan proyektor," mengangkat tangan kiri, dan dua bawahannya bekerja pada tombol-tombol. "Sekarang, di Sahara jam berapa?"


"Jam dua siang, Tuan," kata Nick sesekali memeriksa cctv ruang perawatan, nona Lala tampak baru sadar dan langsung mendekat ke ayahnya. Nick pikir Ars tidak perlu diberitahu, lebih baik sang tuan membereskan urusan dengan Kevin.


"Bagus, sangat terik."


Suara seringai Ars mengembalikan pikiran Nick, dia menatap ke penjara lagi.


Sebuah berita dari earpiece memberitahu sampel DNA baru saja teridentifikasi. Nick berencana akan memberitahu Ars nanti.


Di ruang penjara: Kevin, Parker dan Pedro teralihkan oleh sebuah layar proyektor yang tiba-tiba menyala. Tangan Kevin mengepal saat itu menayangkan Edric di sebuah gubuk, dimana di luar matahari sangat terik.


Daniel memasuki penjara, duduk di kursi yang baru diletakan di depan Kevin. Dia melempar sebuah map coklat ke kaki Kevin yang duduk selonjor. "Cepat tanda tangani akta pemindahan hak," bibir Daniel berkedut, saat Kevin menatap dengan tajam.


"Ayo, Kevin, selamatkan putra kita," kata Bella mengelus punggung Kevin.


"Jika aku tidak mau? Artyom, kamu mengira para pemilik saham akan setuju padamu? Lihat, nama kamu bahkan tidak cocok di sini. Kamu tahu kenapa saya memberi nama SANLA, itu sebuah kependekan Saint- Lala. Jadi sangat tidak cocok untuk nama kamu, Artyom Vladimir. Ngomong-ngomong, sejak kapan anda tertarik dengan bisnis barat?" tanya Kevin datar, tapi rahangnya mengeras.

__ADS_1


"Ars, kau lihat? beri dia!" pinta Daniel pada, Ars yang mendengar dari ruang kontrol. Dia mengetuk-ngetuk ujung sepatu pada lantai besi, sangat tidak tahan berlama-lama berbicara dengan Kevin.


"Ya, sedikit penyiksaan, boleh kan," sahut Ars di earpiece yang hanya didengar Daniel.


"Apa yang kau perbuat pada putraku!!?" geram Bella, wajah menegang saat Edrick dibawa ke latar rumah, yang masih beratap. Putranya itu diikat pada kursi, dan orang-orang itu mengangkat Edrick sekaligus dengan kursinya.


"Cepat, cacat!" geram Daniel meringis pada Kevin, menarik senapan dari tangan anak buahnya.


"Ayo Kevin, cepat!" Bella mencengkram lengan Kevin. Namun, Kevin melirik Parker.


"Jangan coba-coba kau membuat masalah, Kevin," kata Daniel.


"Kamu terlalu percaya diri, Daniel. Dimana kakek Jin? Tunjukan kakek Jin 'aman'. Baru ku tanda tangani ini, gimana?" tanya Kevin dengan santai.


"Sialan, kau terlalu banyak omong."


"Kau menyembunyikan sesuatu? Dimana kakek Jin!? ku peringatkan, sedikit saja kau melukai paman Jin, dan Lihat kapal mu akan menjadi abu!" Kevin mencium ada yang tidak beres di sini, seharusnya Kakek Jin akan bertemu pagi tadi, tapi bahkan lelaki tua itu belum muncul.


"Cepat, Kevin!" Daniel berdiri dan menendang kaki Kevin.


"Begitu sulit menunjukan di mana kakek Jin, ya? sementara dengan mudah kau menampilkan video dari gurun?" Kevin dapat mendengar gemertak gigi Daniel.


"Kevin, pentingkan putramu dulu, orang tua itu gampang nanti," kata Bella.


"Bagaimana bisa kau kehilangan dia, Bell?" tanya Kevin dengan satu alis terangkat, matanya menatap tajam pada Bella dengan bibir berkedut .


"Edrick sedang main ke rumah teman," kata Bella.


"Sialan, apa kalian mau ribut itu, di sini!? Cepat Ars!" Daniel berteriak. Dan seseorang di tempat lain mengangkat Edrick ke bawah matahari.


"Bedebah kau, angkat dia!" Bella bangkit memukul perut Daniel tapi di tangkap anak buah Daniel, dan Bella di dorong terjerambab membentur dinding "Kevin cepat! ah sialan kau mau membunuh putramu!"


Kevin mengumpat dengan darah mendidih, langsung meraih map, menekan ujung pena, "cepat masukan dia! oke aku tanda tangan!" Kevin menatap layar proyektor saat Edrick dibawa ke dalam rumah lagi.


Sebuah Akta pengalihan saham ditandatanganinya. Kemudian Kevin melempar dengan kasar pada Daniel yang baru duduk dan menyeringai menang.


Kevin melirik Parker yang mengedipkan mata, dan Kevin melirik tampilan proyektor, beberapa orang berjalan ke gubuk dan menyerang anak buah Ars, dan Kevin tahu itu anak buahnya. Sedikit menahan senyum, saat Daniel tercengang dan mengumpat padanya.


"Serahkan kode akses black Lion dan macan putih, cepat," Daniel jongkok di depan Kevin dengan wajah merah padam. Tangan kiri menyerahkan map pada anak buahnya yang langsung keluar dari ruangan.


"Oh hoh Daniel, kau tidak memiliki sandra lagi, kau tahu," kata Kevin dengan tenang.


"Lalu apa? tidak masalah, saya tetap akan bisa menghabisi mu, dan dia," senapan mengarah pada kening Bella yang duduk di lantai, di sebelah Kevin. "Saya bisa memecahkan teka-teki dari dua klan milik mu. Aku bahkan bisa memaksa dengan bantuan putrimu, 'si Ivy' " geram Daniel lalu diikuti tawa licik.


Daniel tertawa ....


Dentuman besar memggema diikuti getaran kuat di dinding kapal.


TET ... TET ... TET ...


Alarm kebakaran berbunyi.


"Kapal diserang!"


Bibir Daniel berkedut mendengar nada panik Ars.

__ADS_1


__ADS_2