
"Ini mengenai pembuluh arteri, kau akan mati dalam 10 menit!" Urat-urat di kening Kevin menyembul dan semakin menggertakan gigi, dia menatap lekat-lekat mata Richie.
Gigi Richie meringis, tangan besar Richie sebisa mungkin menahan dorongan, tapi tubuhnya yang kaget justru semakin terdorong .
Kevin membuat lawannya itu tersungkur ke Lantai.
JLEB!
Kevin mencabut pisau dan darah mengalir lebih banyak. Kevin membersihkan darah di pisau itu dengan menyelipkann diantara jari telunjuk dan tengah, dan langsung mengembalikan ke dalam sepatunya.
'Hanya perlu empat menit hinggga kau kehilangan darah 50 persen, kau harus mati Richie,' batin Kevin saat melihat Richie yang wajahnya mulai pucat.
Richie menatap Kevin dengan sorot mata kecewa. Badannya menggigil, makin lemas dan terasa dingin di sekujur tubuhnya, tangannya berusaha menutup perut yang terasa makin banyak mengalir cairan kental.
Dia juga sempat melihat empat anak buah yang melumpuhkan Kevin dengan alat kejut listrik sampai lelaki itu tersungkur tak berdaya.
Sedangkan penglihatan Richie mulai kabur dalam keranjang dorong.
Sayup-sayup lampu meja operasi menyala. Richie tidak bisa mendengarkan suara di sekitar, dia mulai linglung. Richie melihat dokter berkomat-kamit seperti mengajak bicara dan seketika didepannya menjadi gelap.
...💤💭...
Richie merasa di tempat asing , tubuhnya kembali ke masa kecil. Terlihat di sana seorang gadis kecil membawa setangkai bunga putih, berpakaian serba putih menggerakkan tangan memanggil Richie dengan senyuman manis dan wajah sebagian tertutupi rambut yang melambai tersapu angin.
Richie mengejarnya, dan terus mengejarnya di sepanjang padang rumput yang hijau, tapi gadis itu tak pernah bisa diraih.
Sampai di pohon yang besar dengan daun keemasan, gadis itu terus memanggil.
Pohon itu terlihat makin dekat, di sana sesosok pria dan wanita sedang tersenyum. Richie tahu, mereka adalah orang tuanya, yang sudah meninggal. Tapi siapa gadis itu?
"Dad... Momm..." Richie semakin berlari kuat menghampiri mereka
...🍀🇨🇱🇨🇱🍀...
Pesawat mendarat di Punta Arenas - Chili, negara paling ujung selatan dekat dengan Antartica.
Lala dan putrinya telah disambut oleh tim yang telah siap. Lydia langsung menghambur ke dalam pelukan Lala, "Lydia merindukan ibu."
"Apalagi ibu, jauh merindukan kamu, sayang. Kamu sehat? kenapa kamu kurusan, apa ayahmu tak memberi mu makan?" tanya Lala melepas pelukan.
"Ibu aku harus diet," sahut Lydia, sembari menggandeng Lala, kemudian meninggalkan Ibu dengan Amber di kamar.
Di kamar yang terdapat empat kasur besar, Lala menghampiri Amber yang tengkurab dengan headphone di kepala.
Sang putri yang hanya memakai tanktop dan celana pendek disentuhnya.
'Dia tertidur?' Lala mematikan musik di hp Amber dan melepas headphonenya, lalu menaikan selimut sampai menutupi punggung mungil.
'Kamu makin mirip dengan Johan.'
__ADS_1
Lala mengelus -rambut semi coklat- nan halus dan mengecup pelan kepala dan pipi Amber, "kamu pakai shampo apa, wangi banget, ini bau mint ya?" gumam Lala, "wah mamah kangen amber, kenapa tidak mau tinggal dengan mamah? kamu betah sekali dengan Johan, ayahmu itu huh juga memaksa mama melepasmu," gumamnya lagi.
Dia jadi teringat ultimatum Johan, jika Lala ingin hidup dengan Amber dan Lydia, maka harus menikah dengan Johan. Johan kekeh tak mau jauh dari dua anaknya. Terlebih dua putrinya itu juga memilih hidup dengan ayahnya.
Tak berselang lama tanpa kehadiran Amber yang sedang tidur, mereka asik berkumpul di meja makan. Mencoba melepas kerinduan dengan Lydia.
Mereka duduk mengelilingi meja bundar dan di jaga dua pelayan.
Lala melihat mereka yang melebih-lebihkan idola masing-masing tanpa mau mengalah.
'Tidak di negara kepulauan, atau london, bahkan disini pun mereka tak pernah lepas dari obrolan soal -boy band- yang sedang naik daun. Sampai cintanya dengan itu ... bahkan di kamar Irish,penuh dengan poster -para lelaki korea- Huh, anak muda jaman sekarang,' batin Lala sambil meminum jus jeruk.
"Ibu, telpon papa dong, sudah berangkat belum? Lydia mau hiking bareng papa," kata Lydia yang menanyakan Kevin. Dia menunduk, mengaduk sup seafood. Dan kembali menyeruput kuahnya
"Ya nanti ibu telpon papa, apa supnya enak?" tanya Lala berjalan ke samping Lydia dan langsung mengambil alih sendok. Dibelah fillet ikan itu, menyeruputnya dan mengunyah dengan pelan "hemm... kuah ini segar sekali."
"Udah dong, jangan dihabisin ibu," kata Lydia merebut supnya yang kini tinggal setengah.
"Mamah nggak mual apa bau ikan?" tanya Irish heran.
"Memang kenapa? Ibu kan suka ikan?" tanya Lydia.
"Mama hamil kak, kita punya adik," kata Ivy datar.
"What?? apa perhatian ibu akan semakin berkurang nantinya?" tanya Lydia.
"Tidak lah ... ibu terus perhatian sama kalian, kan tiap hari ditelpon, apa itu bukan perhatian? kamu tidak suka punya adik?" tanya Lala dengan sedikit cemberut.
Lala mencaplok daging putih dengan bagian capit kepiting yang telah lepas dari cangkang.
"Hemm enak masih juicy. Wah ini mah, ayah mu paling suka, " kata Lala, yang jadi teringat disaat Johan begitu rakus terhadap seafood. Lala menyendokan potongan selada air yang yang berada di bawah daging kepiting.
"Ibu dapat salam dari ayah, katanya kangen, huhuhu," kata Lydia sambil menggoda mamanya.
"Oh iya? kamu harus mencarikan pacar untuk ayahmu,"kata Lala pada Lydia.
Ivy menatap tidak suka pada Lala bila ada yang membahas Johan dekat dengan sang mama.
Lydia tertawa, "katanya ayah selalu menunggu ibu, terserahlah, ayah susah."
Ivy kembali menunduk, Ivy yang terlalu menyayangi Kevin, tak mau ada yang merusak kebahagiaan papa.
"Sudah makan dulu," kata Lala pada Lydia, disaat melihat kesedihan di wajah Ivy, Lala tak tega melihat wajah murung Ivy.
'Gadis pendiam itu tidak pandai menyembunyikan perasaan,' batin Lala.
Lala masih heran kenapa Ivy selalu menjadi perhatian utama Kevin.'Apa ada yang Ivy dan Kevin sembuyikan dari aku?'
Isla mencicipi makanan di dekatnya, "Mih ... kerang permesan ... enak juga," kata Isla.
__ADS_1
Isla mendorong piring berisi kerang yang di taburi lelehan keju permesan, membuat Lala duduk di sebelah Isla.
Wanita berusia 40 tahun itu mengambil satu cangkang dan mengambil daging kerang dengan garpu dan langsung menyantap,"Guriihhh."
Irish menyendok makanan yang seperti puding dalam mangkuk tanah liat, dia memandangi pelayan hendak bertanya.
"Namanya Itu Pastel de Choclo, Nona Irish. Ini hidangan paling ikonik di kota Chile. Dibuat dari pure jagung yang dicampur dengan daging giling, kemangi dan ketumbar, sepotong ayam, bawang bombay, telur rebus yang dipotong jadi empat bagian, serta zaitun hitam, dan dimasak di dalam oven," kata pelayan, membuat Irish manggut-manggut.
Sedangkan Ivy, menaburi makanan dengan perasan jeruk nipis. "Ini potongan ikan mentah, tapi tidak bau amis."
Ivy kembali menusuk potongan dadu ikan mentah yang dicampur potongan cabai dan bumbu, dia mencaplok ikan mentah itu. Jantung Ivy deg-degan dan terasa sakit dan dadanya makin terasa sesak memikirkan Kevin. ' Papa kemana? kok belum telepon Ivy?'
...🇨🇱🇨🇱...
Chili, negara paling selatan di benua Amerika. Memiliki waktu siang yang lebih panjang, hingga 17 jam.
Mereka tengah di breefing, seorang pemandu perjalanan yang memegang Stik bambu panjang dan mengetuk ke sebuah dinding. Dinding yang telah terlukis sebuah peta besar area wisata di tempat tersebut. Lala dan Ivy duduk paling belakang, disana mereka bercampur dengan turis negara lain.
"Ada apa? kenapa gelisah, sayang?" bisik Lala di telinga Ivy.
"Ivy kehilangan kontak dengan papa. Sebelumnya ... papa bilang ke tempat Om Richie, tapi sudah sehari masih belum ada kabar. Ivy menelpon Om Richie tapi tidak diangkat, Mah," kata Ivy seraya membetulkan letak kaca mata.
Tampak jelas raut kebingungan di wajah Ivy.
Ivy begitu kesal tidak bisa memantau pergerakan papa, karena -hape papanya- mati, membuat Ivy tak bisa mengintai sang papa lagi.
"Nanti mamah tanya Tuan Parker, ya. Semoga mereka baik-baik saja ya," kata Lala seraya mengelus punggung Ivy.
Ponsel di tangannya itu terus dilihat Lala. Memang benar, Kevin belum mengabari sama sekali.
'Pasti Kevin marah sampai tidak mau mengabari ku, tapi masa iya ke Ivy anak kesayangannya juga tak kunjung mengabari. Apalagi Ivy selalu peka dan kuat instingnya, semoga kamu baik-baik saja, tapi dimana si kamu, Kevin! Mengapa belum menyusul?'
Malam itu disaat semua orang tidur. Lala semakin cemas karena masih belum juga mendapat kabar dari Parker. Padahal lelaki itu, katanya akan segera mengabari keberadaan Kevin
Lala juga masih bingung, tidak tahu bagaimana dirinya bisa pindah ke pesawat ... terakhir yang dia ingat adalah saat Richie merobek gaunnya. 'Ah menjijikan kau Richie!'
'Apa Kevin yang membawa ku pergi dari hotel itu? apa Kevin bertemu dengan Richie? atau Richie yang membawaku? sepertinya kemarin tidak ada tanda-tanda aku berhubungan badan kan? ah tak tahu lah!!' batin Lala yang masih merasa jijik pada tubuhnya. Lala mengira Kevin juga jijik padanya.
Wanita itu memegangi kepala, dia begitu pusing bukan main. Lala kembali berjalan mondar-mandir melihat ponsel. Parker juga belum mengangkat telepon darinya.
Sebenarnya dia ingin bertanya pada Parker soal kemarin, tapi itu terlalu memalukan.Padahal lelaki itu pasti tahu segalanya.
"Apa aku minta bantuan Johan? apa dia tahu dimana Kevin?"
bersambung ....
... ***...
Selamat pagi, Othor ada pengumunan novel bagus ini, jangan lupa mampir ya...
__ADS_1