Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 160 : MELACAK TELEPON


__ADS_3

Lala menoleh ke kanan dengan sedikit ragu menyentuhnya. "Tuan Richie, seperti apa katamu. Mari berpacaran." Melihat lelaki itu mengemudi di latar perbukitan begitu sangat mengesankan.


Mendengar itu Richie sontak melihat wanita itu dan beralih pada spion tengah. Dia langsung menepikan kendaraan.


"Kenapa berhenti." Lala melongok spion kiri, mencari tahu.


"Bisa kau ulangi lagi apa yang kau katakan tadi?" Richie menarik jari-jari mungil itu dan menggenggamnya sambil mengelus dengan penuh kasih sayang.


"Mm." Wanita itu menatap tangannya yang bertautan dan


melepas satu tangan dari genggaman hangat itu. Dia menggaruk kepala yang tidak gatal dan mendongak, "apa boleh kita berpacaran?"


Nafas lelaki itu semakin jelas turun naik saat bibirnya terbuka menampakan gigi putih rapih. Ujung simpul terangkat dan bibir tebal itu semakin menawan.


Tidak tahan karena tatapan tajamnya Lala membuang muka


"Ah, lupakan saja,- aku ngomong ap--" kalimat Lala terpotong begitu tangan besar itu berpindah dan mendarat di lehernya. Jempol keras itu makin menekan pada pipi halusnya, dan menghadapkan kembali "Lihatlah kesini, lihat lawanmu saat berbicara, Clarissa,"perintahnya dipatuhi Lala yang hanya menatap leher Richie. "Tatap mata saya."


Pipi wanita itu memerah saat bertemu pandang dan jantung Richie seperti gendang yang ditabuh.


"Saya ingin mendengar dengan jelas, katakan lagi." Richie sengaja melembutkan suaranya dengan tatapan meredup.


"Tadi kan sudah." Lala dengan suara pelan, menangkap tatapan Richie yang menerobos masuk ke dalam lubuk hati terdalam, "mari kita pacaran."


Tidak ada salahnya, Lala mencoba memberi kesempatan pada Richie, bila itu berhasil bukankah itu bagus baginya.


Richie mengelus jemari wanita yang memerjap mata dengan pelan.


Bola energi dalam diri Richie seperti meledak .Padahal perutnya merasa tidak nyaman, sepertinya hanya dirinya sendiri yang merasa grogi. Tetapi wanita itu terlihat tenang.


"Saya tidak mau." Riche berkata dengan dingin disaat mulutnya berusaha menahan senyum.


"Apa? bukan kah kamu yang ngotot kemarin."


"Saya Harus yang menyatakan lebih dulu. Jadi, kamu tunggu ya."


Bagaimanapun dia laki-laki yang harus gentle menyatakan perasaan dengan benar. Dia harus memikirkan matang-matang.


Setidaknya Richie merasa sedikit lebih tenang karena dirinya memiliki harapan setelah bertahun-tahun menunggu.


Sepanjang perjalanan hanya hening diantara mereka. Dan Wanita itu selalu menghadap kiri, sedang hatinya terus menjerit, memikirkan kebodohannya, walau dirinya paham Richie selalu mendekatinya sejak lama, tetap saja situasi ini seperti menenggelamkan dia ke jurang.


Richie, Kamu memintaku agar menunggu kamu menyatakan perasaan terlebih dulu? bukankah sama saja intinya pacaran.


Memalukan, mau ditaruh dimana wajahku, seperti ditolak saja. Ingin sekali aku bersembunyi di lubang cacing.


Malu!


...***...


Air sedikit berwarna hijau bening, begitu hangat melemaskan ketegangan-ketegangan di kaki Amber dan Lydia.


Sementara di depannya dan di sampingnya orang-orang berendam air panas. Uap sedikit mengepul diatas air di sela udara yang lumayan dingin. Itu komposisi yang sangat menyenangkan, untuk liburan.


Ya, di kampung berseri, tempat yang mendadak hits. Bukan saja karena aneka kuliner eropanya yang banyak dimodifikasi di sepanjang Kafe di tepi jalan menuju kolam renang yang baru buka.


Tapi yang menjadi tujuan utama karena sang pemilik kolam renang yang terkenal kecantikan dan awet mudanya. Mereka bilang sanjungan itu itu bukan omong kosong atau sanjungan belaka. Bahkan saat melihatnya langsung kata-kata cantik itu sendiri tak bisa menggambarkannya, karena kecantikannya jauh lebih dari itu.

__ADS_1


Ini alasan orang-orang datang ke kampung itu penasaran, mereka berbondong-bondong walau tidak berenang demi bertemu langsung dengan wanita yang menjadi buah bibir warga kota. Terlebih minggu ini, tiketnya masih digratiskan.


Tidak ketinggalan Amber dan Lydia, setelah mencicipi paparon dan makanan eropa lain langsung ke kolam renang itu, disana juga terdapat beberapa spot foto. Bahkan saat malam, spot foto itu makin cantik dengan lampu-lampu warna-warni.


Sangat komplit, pengelola tempat itu benar-benar serius dan tidak main-main, begitu memaksimalkan potensi tersembunyi yang bisa digalih dan menjadikannya cuan.


"Dimana ibu itu, saya mau lihat?"


"Katanya sedang tidak ada ditempat."


"Yah, sayang padahal aku mau minta tanda tangannya."


"Eh tanda tangannya unik tahu, ada sedikit gambar wajahnya."


"Oh iya? bila tanda tangan banyak pasti capek."


"Eh orang-orang bilang, juga ada bule dekat-dekat ibu itu?"


"Aku juga dengar, yak maklum orang cantik mah bebas mau deket siapa aja."


"Kita diam-diam ambil saja fotonya, pasti viral."


"Tidak kamu bisa disidang warga sini, jangan coba-coba."


Rumpian para pengunjung itu terdengar di telinga Amber dan Lydia yang sedang duduk di pinggir kolam.


"Wah, kamu mendengarnya kan. sepertinya kamu tidak bisa ketemu orang itu, Amber." Lydia turun ke kolam dan meneggelamkan kepala sesaat.


"Ah ya sudah, besok kesini lagi saja, saya penasaran sekali dengan wajahnya seperti apa."


"Itu saja di dekat puncak, katanya disitu selain murah juga khas pedesaan."


"Boleh-boleh. Amber mulai menyelam di ikuti Lydia.


...***...


Di rumah Lala, Guskov, sedang menonton tv dikejutkan oleh dering panggilan video dari Kevin.


Dia tidak mau mengangkat, tetapi pasti lelaki itu justru tambah marah-marah.


Mumpung di rumah tidak ada siapa-siapa, Guskov memutuskan lebih baik menjawabnya.


Kevin sedang di kantor dengan wajah kusut."Dimana kamu? sombong."


"Aku di Bali." Guskov berbohong.


"Bali? mana pantainya, kau di rumah siapa? itu bukan hotel." Kevin mengangkat satu alis, mengamati background Guskov, itu tembok warna kuning dengan cat tua.


Guskov menelan saliva, tenggorokannya tercekat dan berusaha menjaga ekspresi. "Di rumah temanku, tapi dia sedang beli es, maklumlah panas di sini."


"Oh, jadi kamu belum menemukan Lala?" tanya Kevin datar.


"Ini masih mencarinya, tapi susah seperti mencari jarum ditumpukan jerami."


Mereka terdiam sesaat dan saling memandang.


"Saya kangen dengan dia, Guskov..." Kevin bersandar pada kursi kerja. "Saya kangen dia dan anak ku. Apa kita merilis fotonya ke publik? dan memberi imbalan besar pada mereka yang berhasil menemukannya?" Kevin menghela nafas kasar.

__ADS_1


"Jangan!"


"Kenapa?" Kevin bertanya dengan tidak semangat dengan sorot mata dingin.


"Dia bisa menjadi sasaran orang jahat. Orang-orang itu akan menyandra Lala untuk memeras mu.


"Ah, bukan itu, tapi yang lebih menyeramkan Lala semakin bersembunyi dan kabur lebih jauh, apa kamu mau seperti itu?" Guskov menjawab setelah mencari alasan yang terdengar masuk akal. Tapi dia membenarkan ucapan sendiri, kemungkinan kakaknya itu kabur ke tempat yang lebih jauh juga tidak salah.


"Lalu sampai kapan? anak-anak sudah ribut, mereka jadi tidak mau berbicara pada saya, Guskov, bantu saya!"


"Kamu bikin Film saja yang bisa menceritakan kisah mu dengan dia. Buat itu seperti tujuanmu, siapa tahu dia berubah pikiran dan pulang..."


"Betul, pintar juga idemu.


" Hek!Hek!Hek!!!" Suara Vino menangis.


"Apa itu?" Kevin memutar bola mata ke -kanan atas- mencoba mendengar lebih jelas, "suara bayi!?"


"Itu tivi, sebentar ya aku kebelet. Nanti aku telpon lagi, dahh."


TUT!


"Hahh... " Guskov menghela nafas berharap Kevin tidak berpikir macam-macam.


Dia berjalan ke kamar, melihat Vino yang baru bangun.


Digendongnya Vino dan dibawa ke dapur menghangatkan susu ASI yang baru keluar dari kulkas.


...🇬🇧🇬🇧...


Di wilayah Cambridge, cuaca lebih dingin. Kevin membuang secangkir kopi yang masih mengepul dari depannya.


PRANG! gelas itu pecah tercercer, seketika bau kopi menyeruak ke dalam ruangan. Kaki Parker merasakan panas air itu dan hantam itu cukup menyakitkan. Namun Parker tak berani bergeser, bisa-bisa tuannya itu marahnya kian menjadi.


Sang Asisten menyadari kekesalan Tuannya itu. Walau Kevin tidak pernah menembaknya tapi sang bos tak tersentuh itu bisa dengan mudah membanting apa saja ke kakinya, tak peduli itu laptop kursi atau apapun.


Beberapa orang yang sudah duduk di hadapan Kevin, lengkap dengan alat-alatnya, ikut tersentak.


Lelaki yang Superior dengan aura kejam dan dingin itu langsung menurunkan kaki dari atas meja. "Sudah dapat?"


"Guskov tidak berada di Bali melainkan di pegunungan di kota kecil bos." Seorang berpakaian hitam menggeser laptop dan menghadapkan ke pria yang aura ingin membunuh. Ya, mereka sedang melacak keberadaan adik tiri Lala.


"Kenapa Guskov jadi berbohong." Kevin berkata dengan nada tertahan dan matanya menyala mulai menatap Parker.


"Berbohong karena ada yang dia sembunyikan. Terlebih ada suara bayi, apa itu jangan-jangan-"


Parker dengan keringat dingin di kening terpotong kalimatnya.


Jalan pikiran sang asisten dan lelaki yang telah terbakar kemarahan itu sama. Dia meninju telapak tangan lain dengan kuat.


Dia merasa dikhianati mantan adik ipar yang dia kira sebelumnya akan berpihak padanya. Jika betul wanita itu bersamanya, dia benar-benar harus memberi pelajaran karena telah menyembunyikan orang yang selama ini dicarinya.


"-kemungkinan kali ini dia bersama Nyonya, Tuan. "


"Saya berharap begitu, karena bila tidak, kalian mati." Kevin bangkit sambil menunjuk tiga ahli IT nya.


Mereka gemetar karena sudah beberapa bulan tempramen sang bos sangat buruk. Dia menembak siapa saja yang menurutnya tidak becus dalam bekerja.

__ADS_1


__ADS_2