
Seperti biasa, pagi-pagi Richie sudah minta mendekap Vino yang masih tidur. Selesai Lala memasak sarapan bubur, terlihat lelaki itu sepertinya benar-benar tidur.
Kamu ya, mengapa tidur di kamarku? Sebenarnya, ini rumahku atau rumahmu? begitu enaknya mengganti ini itu!
Lala memeriksa alat baru penyeteril botol susu.
Segalanya menjadi praktis. Kamar menjadi tidak dingin karena mesin penghangat. Lantai tidak dingin. Mau mandi, air panas siap pakai tanpa takut menggigil.
Aku belum bilang terimakasih. Kamu telah melindungi kami dari dingin. Tapi, jangan terlalu baik pada kami, Richie. Jangan mempedulikan ku! Aku semakin takut tidak bisa membalas!
TOK!TOK!
Lala melangkah ke depan melihat jam sudah jam 7, digesernya kenop pintu. Mata Lala terbelalak mendapati ibu-ibu sudah membawa makanan pada baskom-baskom di tangan mereka.
"Selamat pagi ... Ibu-Ibu." Lala tersenyum manis, alisnya naik sebelah. "Mau ada acara apa?Perasaan, ulang tahun kota masih seminggu lagi." Lala menyilakan mereka masuk, dan bu RT bilang bila para warga membawa makanan dari rumah untuk sarapan bersama.
Mata Lala menatap kesibukan mereka tanpa berkedip, mereka sudah meletakan baskom makanan.
"Wah! lantainya cantik ... ini kayu asli. Para tenaga ahli begitu cekatan disaat memasangnya."
"Benar, mereka sangat terampil, memasang tiap kotak ini dalam hitungan menit."
Satu alis Lala makin terangkat, tidak memahami percakapan mereka manakala mereka mulai menata makanan di atas daun pisang yang digelar memanjang.
Lala masuk ke ruang tengah, dia berhenti untuk menguping percakapan mereka di balik pintu. Bahkan mereka tahu semua dan aku tidak tahu apa-apa!
Mata Lala teralihkan pada pintu kamar, terlihat Richie yang sudah bangun, baru saja duduk dan sedang menatapnya. Aku benar-benar ingin memukulmu, Richie!
Suara orang-orang di ruang tamu makin ramai. Lala melangkah ke kamar, menatap tajam Richie dan tangannya melipat, berdiri bersandar pada keranjang bayi.
"Apa Anda mengetahui alasan kenapa mereka bisa berkumpul di rumah saya?" tanya Lala dengan kesal.
"Mereka?"
"Lihatlah ke depan, coba kamu jelaskan sedikit saja agar aku tahu situasi apa yang tengah kuhadapi?"
__ADS_1
Tidak berselang lama, terdengar langkah kaki seseorang mendekat, membuat jantung Lala berdebar karena keberadaan Richie dikamarnya. Beruntung, itu hanya Ibu Dennis.
"Dik...Eh mas Richie sudah di sini. Mereka menunggu mas Richie dan dik Lala" Bu Dennis mendorong Richie yang baru berdiri untuk keluar.
Richie beringsut ke kamar mandi sebelum akhirnya menemui mereka, dengan sisi lain dirinya yang harus berakting lembut di depan orang-orang, sebenarnya itu sangat memuakkan baginya.
Bu Asih yang seperti tahu kebingungan Lala, menjelaskan pada wanita yang sudah dianggap seperti adiknya.
"Dik, mungkin kamu bingung ya. Kamu terlihat marah, tapi sebaiknya jangan marah pada mas Richie." Bu Asih mengelus pundak Lala, dia tahu betul saat wanita itu sedang merasa tidak nyaman.
"Kita harus bersyukur masih ada orang baik seperti beliau, yang peduli pada rakyat kurang mampu."
Lala menatap bu Asih,"Ibu kenapa kemarin tak mengabariku soal ini?"
"Mas Richie katanya ingin memberi kejutan, sepertinya beliau sudah memikirkan dari jauh-jauh hari karena persiapannya sangat matang."
"Persiapan?"
"Dia mengirim banyak orang lalu memasang Sollar Cell pada rumah kami. Dan semua tukang yang dikirim beliau menyelesaikan pekerjaannya sore sebelum dik Lala pulang. Ketika kami baru beristirahat di rumah, tiba-tiba kaget mendapati keributan dik Lala dengan tetangga baru."
"Semua warga RT O5 mendapat sumbangan sollar cell-"
"Semua? apa!?" Lala memegangi keranjang bayi dan pundak bu Asih, saking kagetnya, dia seperti akan jatuh.
"Dik Lala, tidak suka ya? bila mas Richie berbuat baik seperti itu pada kami?"
"Bu-bukan begitu. Saking senangnya saya sampai kaget ibu," kata Lala sambil tertawa, dia menutupi kecemasaannya, mengingat uang itu hasil perjudian seperti apa yang dilihat disaat -pernikahan Lala- dulu. Bagaimana bila mereka tahu identitas Richie? padahal Lala sudah berniat menetap selamanya di kota ini.
"Bu, itu sudah mau mulai..." pangil Bu RT dan Lala menggendong Vino yang baru bangun, ke ruang tamu. Sungguh, sulit dipercaya, mereka warga RT 5 sudah berkumpul semua di rumahku, hingga ada yang menggelar tikar di pelataran.
Lala tersenyum ramah mengucap salam. Kemudian, RT selaku perwakilan, menyampaikan maksud dari kedatangannya bersama warga, itu sebagai bentuk ungkapan terimakasih mereka.
Richie duduk memangku Vino, di sebelah ketua RT. Lelaki itu peka mendeteksi kedongkolan Lala di balik senyuman dan kadang pandangan mereka bertemu.
Jadilah acara syukuran dadakan. Melihat kebahagiaan warga dan senyum yang merekah itu, Lala menjadi tidak kuasa. Hatinya kembali menghangat. Kenapa Richie nampak seperti malaikat? bukankah dia aslinya iblis?
__ADS_1
Setelah melewati serangkaian prosesi sakral setempat, mereka makan pagi bersama.
Lala mendengar cerita mereka yang antusias sudah memasak makanan semenjak hari masih gelap, bahkan salah satu dari mereka membuat kue tradisional dari dini hari.
Lala dan Richie mengucapkan terimakasih, karena mereka sudah menerima kedatangan -Lala dan Richie- dengan sangat baik. Khususnya Richie, dia menyampaikan terimakasih karena para tetangga telah menjaga Lala selama ini.
Bapak-bapak menyelipkan candaan agar Lala dan Richie segera menikah, mereka siap mendukungnya.
Ucapan mereka sungguh membuat pipi Lala dan Richie memerah, para warga pun beranggapan dua orang itu memiliki perasaan yang sama.
Namun, mereka memahami jika dua orang itu masih malu-malu dan belum mau mengakui.
Acara itu selesai, rumah kembali sepi. Lala memandangi Richie yang baru selesai memandikan Vino.
"Mengapa kamu melakukan ini, mas?"
"Saya melakukan itu bukan karena kamu.Saya juga ingin berbagi. Memang cuma kamu yang boleh berbagi dengan mereka? Hukum mana yang bisa melarang orang untuk berbagi?"
"Dari mana kamu tahu aku berbagi, ah bukan itu. Tapi bagaimana jika mereka bertanya pekerjaanmu dan-" Lala menutup mulut dengan tangan, sepertinya dia terlalu kelepasan dalam berbicara. Dia merasa sudah menyinggung Richie terlalu pribadi.
"Oh jadi kamu ... kan...." Richie berpikir sejenak, dia memasukan tangan Vino ke lubang pakaian mungil. "Saya, pemegang saham dimana-mana."
Lala jadi loyo merasa bersalah manakala lelaki itu sudah terlanjur terpancing dan terlihat tidak suka.
Richie menautkan kedua alis, "apa perlu harus menunjukan perusahaan properti saya di kota New york ? dan semua bisnis saya di seluruh daratan Eropa? Atau membawa warga kota ini untuk tour eropa hanya untuk memperlihatkan kantor saya, Rissa?"
"Bu-bukan! bukan begitu-"
"Apa saya terlihat begitu buruk dimata mu? apa saya terlihat seperti hanya penjahat dimata mu? perlu sampai saya membawa profile company lengkap dan menunjukan pada warga 'BAHWA' saya adalah orang baik-baik?!!" Alis Richie semakin terangkat tinggi, mulutnya mengatub.
" Tidak-tidak! ya sudah. Bahkan aku tidak mengatakan Anda orang jahat, mengapa Anda bisa berpikir seperti itu." Lala gelagapan, matanya memerjap berungkali. "Kalau Anda bilang begitu, kan aku jadi terlihat lebih jahat," lirihnya tidak terima.
Terlihat senyuman di wajah tampan itu kian melebar, bagi Lala bibir Richie sangat mempesona terutama bila lelaki itu tersenyum.
"Tuan Richie, kenapa anda tersenyum!? anda mengejek saya, ya!?"
__ADS_1