
Di negara bagian lain, Lala pagi-pagi sudah di rumah Ella. Dia tengah berbaring di karpet -merah darah- bermain dengan Vino.
Saat Ella duduk di bawah, bersandar pada sofa abu-abu dengan tangan kiri menopang piring, tangan lain memisah daging dari tulang dan mencomotnya dengan nasi.
"Kamu tidak berniat kawin lagi, La? kasian Vino masih kecil," sela Ella setelah menelan makanan.
Lala memencet remot ke arah tivi besar, sekilas menatap jam dinding jam 8, saatnya doraemon tayang. Dia terlentang, dan menoleh kiri, "Doakan saja, memangnya cari pasangan gampang apa? kamu sendiri, apa nggak niat mau cari teman hidup?" tanya Lala balik.
Kangkung di tangannya diarahkan ke mulut, dia menguyah, menatap inten pada Lala yang di lendotin Vino di atas perutnya.
"Aku sudah terlanjur nyaman sendirian. Lalu, bagaimana dengan Johan? dimana dia sekarang? masa, kamu tidak menghubungi putrimu, kasian mereka. Payah kamu, La."
Lala menyingkirkan tangan Vino dari wajahnya, dia mengigiti tangan mungil Vino dengan pelan," aku akan menyiapkan diri, untuk sebulan ke depan, lalu aku akan memutuskan bagaimana cara aku menghubungi mereka. Aku rasa dengan kedatangan Richie dalam hidupku, aku lebih kuat menghadapi apapun pada akhirnya."
"Hei, Johan mau dikemanain? setelah kamu menciumnya. Itu kamu namanya memberi harapan ke dia, dasar!"
"Aku pusing Ell, kamu jangan membuatku tambah pusing."
"Ye, makannya jadi orang, itu tegas dari awal, kaya gini bingung kan elu!"
Vino menggelayut di perut sang ibu, melangkah perlahan ke arah Ella dan memeluk lehernya.
"Eh, anak cakep uh uh uh." Ella mendekap dengan tangan kiri sementara tangan lain mengangkat piring agar tidak tersempar Vino.
"Phapa...phaaaaapha."
"Apa?????" Ella menatap mata mungil yang tajam itu. "Ngomong apa chayang?" Ella merasakan rambutnya di tarik Vino, "Eh!!" Ela tertawa.
"Dia memanggil papah... padahal tidak ada yang mengajarinya. Nggak mungkin kan Bu Dennis yang biasa di titipi Vino, mengajarkan panggilan itu." Lala bangkit dari tidur, melepas cardigan putih.
"Dia kangen Kevin kali, masa iya, sekali saja dia belum melihat papahnya, kasian to Lala aduhh, kamu mesti mikirin Vino, mumpung kamu sudah move on."
"Iya Ell, aku akan mengusahakannya." Wanita itu melipat cardigannya, menaruh di sofa. "Semoga Kevin ..." Lala tidak meneruskan kalimatnya, dia mendekat ke sebelah Ella, meraih Vino yang terus menarik-narik rambut keriting Ella, "nggak boleh di tatik sayang. Tante sakit, nggak boleh," katanya dengan lembut pada Vino, melepas tangan mungil itu dari rambut Ella.
"Makan sana, coba ini." Ella mengambil daging ikan berwarna coklat mencoel ke sambal, mendorong ke mulut Lala beserta nasi.
"Emhhhhh," Lala menguyah cepat saat Vino akan memegangi mulut Lala. Dia menelan kasar, " nggak,, huaaammm pedes, tanganmu nanti pedes uhhh Vin," meraih tangan Vino.
__ADS_1
"Apa iya Vino kangen Kevin. Aku takut Kevin membawa Vino Ell?"
"Nggak ada pria yang tega memisahkan bayi dari ibunya. Itu hanya di film-film, kecuali pria itu memang bermasalah si."
Kringggg---
"Tolong angkatin La."
Lala mengambil hp di sofa, menggeser, dan menempelkan hp di telinga Ella.
"Ya udah masuk saja, kami di dalam, hum iya." Ella melirik Lala, dan memberi kode menyudahi. Dia bangkit dengan piring masih di tangan, berjalan menjauh, "bentar, La."
Lala termenung menatap ruang dengan sisi kiri dan belakangnya kaca tinggi, dengan pemandangan kolam renang dan taman. Tempat ini terang dan nyaman.
Rumah Ella yang berjarak 15 menit dari rumahnya, membuat Lala semakin betah di kota ini.
Namun, yang dikatakan Ella benar, dirinya terlanjur memberikan harapan pada Johan. Bila dipikir-pikir itu sudah lama berlalu.
"Aku nggak tahu ah pusing." Terlebih dirinya telah memberi lampu hijau pada Richie, walau belum resmi pacaran, tapi itu tetap saja memusingkan baginya. Ella mendekap punggung Vino erat-erat, menatap Vino yang asik dengan mainan boneka jerapah pemberian Ella, dia tersenyum. Anak ku begitu lucu dan selalu punya cara menghibur mamanya.
Lala menoleh mendapati seseorang wanita berlari ke arahnya dengan histeris. "LALA !!!!!! WAH! ini Lala Clarissa, si penjual asongan kan?" Wanita itu terkikik, dia menatap bsrseri-seri pada bayi laki-laki yang melongo menatapnya, "hai, Vino ini tante Shasa, teman mamahmu, zayaang."
Shasa menerima dekapan dari wanita yang terlihat kencang wajahnya."Yeah, apa kamu tidak merindukan aku dan kue bikinan ku?"
"Tentu! aku kangen banged, Sha. Kamu terlihat bahagia." Lala tertawa.
"Hummm yah seperti inilah, sini Vino ikut tante." Shasa menggendong anak bayi itu, saat Ella masuk ke ruangan membawa kue.
"Shasa punya toko kue di kota ini, kamu kalo ke sana, jangan mau kalau di suruh bayar." Ella tertawa, meletakan kue yang telah di potongi di atas meja kotak kecil, disambut Lala yang langsung mengambil potongan kue berwarna merah dengan cream putih di atasnya.
"Enak saja, teman-teman, bisnis ya bisnis," sahut Shasa sedikit cemberut, tapi lalu tertawa di sambut tawa Lala yang menyuapi kue ke Vino.
"Iya, iya, padahal kan kue aja si, gratisi satu box setiap hari juga nggak bakal bikin kamu miskin toh," gumam Lala, menyuapi Vino lagi dalam potongan kecil.
Shasa mengamati wajah Vino dalam gendongannya. Mirip banged dengan Kevin, walaupun sudah lama tidak melihatnya, aku tahu betul wajah primadona kampus itu, yang bikin aku gedek, karena sikap dingin dan sombongnya.
Aku tidak menyangka mereka menikah, aku mendengarnya dari Johan. Apa aku perlu memberitahu Johan, kalau Lala disini?
__ADS_1
Aku cukup dekat dengan Johan. Tapi soal perceraian Lala dengan Kevin, aku baru tahu kemarin dari Ella.
Padahal selama ini Johan juga banyak bertukar pikiran, cara membesarkan anak, dan juga cara mengambil hati Lala.Wah aku harus gimana nih?
"Sha!!! ngelamunin apa sih? Ponselmu itu bunyi kenceng banged, mana lagu dangdut enak banged lagi," Seru Ella yang duduk di sofa.
"Eh, iya ..." Shasa memberikan Vino pada Lala yang tangannya belepotan krim kue.
Di buka tas slempang warna krem. Dia meraih ponsel dan terdiam beberapa saat melihat nama di layar.
Baru saja di batin, sudah langsung telepon saja, terima tidak. Kalau tidak, entar dia marah lagi.
Shasa menatap dua sahabatnya itu, dia melangkah keluar, "sebentar ya, papi ku telepon." Shasa berbohong dan berjalan ke ruang tamu yang terpisah oleh ukiran kayu.
Rumah Ella besar, jadi Shasa cukup duduk di ruang tamu, sepertinya tidak akan kedengaran.
Dia menghempaskan tubuh ke sofa kulit empuk berwarna coklat tanah. "hallo-"
"Dimana, Sha? ntar makan siang bisa temenin aku ya, bosen nih."
"Wah aku lagi ada acara sama bojo ku, Jo. Lain kali saja."
"Wah setiap hari kan sudah sama suami mu. Ayolah Sha."
"Sorry, Jo. Lagi nggak bisa. Gimana jika besok?"
"Hum, kamu nggak asik, yaudah bye!"
TUT-
Telepon mati. "Dih, lihat, ya ampun, bapak satu itu, benar-benar ya..." gerutu Shasha.
Dia memahami, saat Johan minta ditemani, itu artinya ada masalah.
Memang semenjak awal kuliah, Sasha menjadi tempat Johan curhat. Apalagi sejak putri-putri Johan masuk SMP dan memilih hidup dengan Johan. Shasa jadi sasaran utama pertanyaan cara membesarkan remaja, padahal saat itu, putra-putri Shasa belum remaja, tapi dia mempunya keponakan, jadi dia sedikit tahu mengenai itu.
Bahkan di hari pernikahan Sasha, Johan menghadiahkan rumah berlantai dua lengkap dengan kolam renang padanya.
__ADS_1
Maka dari itu, Shasa menjadi sangat dekat dengan Amber dan Lydia, yang sering datang ke rumah pemberian Johan itu.
"Wah sepertinya, aku harus menjodohkan mereka!" Shasha tersenyum berseri-seri menatap lantai marmer di bawahnya.