Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 27 : DESIRAN SEGELAS KOPI


__ADS_3

-Kilas balik Kevin-


Dapur villa kota Budaya.


Siapa yang bernyanyi? jelek sekali, aku terganggu dengan suaranya. Kuhabiskan air susu dalam tenggakanku, kuletakan kotak susu kembali ke rak. ku tutup pintu kulkasnya.  


Aku tak mempercayai dengan apa yang kulihat di depan mataku, wanita itu menjatuhkan apa yang ditangannya dan memanggil namaku.  


Kenapa ada Lala?


Apa yang dia lakukan? Lihat, tangannya terlukakan ! 


Jantungku berdetak cepat melihat dia terluka, Kenapa aku takut?  


Secepatnya aku mendatangi, dia tak apa-apakan? Jantungku semakin berdetak! 


Kulihat serpihan kaca di tangannya, aku mengambil satu serpihan kacanya, berhasil, sisa satu lagi. 


“Agh !” teriak Lala saat serpihan kacanya malah masuk kedalam. 


Sial ! Dia kesakitan, kenapa hatikupun sakit melihat dia merintih?


Tiba-tiba Luca datang memanggil Lala. 


Tunggu … Lala memanggil Luca apa? Mas?! panggilan apa itu ! Kenapa dia memanggilnya seperti itu? Mereka sudah saling kenal?  


“Pakai pinset,Vin” ucap Luca.  


Apa sih orang ini!? mengapa Luca tak pergi saja. Dadaku pun mulai naik turun, tidak ini bukan saatnya marah.  


Ku gendong gadis itu, sesak rasanya bila harus satu ruangan dengan Luca, orang yang selalu saja merebut segala yang kumiliki. 


Kulangkahkan kaki, tak peduli celotehan Lala.


Jarinya tidak akan infeksi kan? Kupercepat langkahku ke ruang tunggu. 


Seampainya disana, aku menurunkannyadi sofa. 


Dia mikir apa, sampai membuat jarinya terluka? Bagaimana bila ini membekas dan keindahannya hilang?  


Sisa serpihan kaca telah dikeluarkan, ada kelegaan tersendiri setelah aku mengobatinya. 


Gadis itu mendekatkan wajahnya, apa dia mau menciumku? Oh dia pasti akan berterimakasih! 


“Mas Luca tadi memanggil namamu, apa kalian saling mengenal?” ucap Lala.


Dia mendekatkan wajahnya hanya untuk menanyakan Luca, bukan untuk menciumku? Kenapa Lagi-lagi Luca? apa dunianya harus selalu di rebut si bajingan itu!? 


Kubiarkan Lala di ruang tunggu. Aku berjalan ke kamar mandi dengan hati yang sangat dongkol.  


Membasuh wajah dengan air dingin, mencoba menenangkan kebencian dan kemarahan. Aku tidak boleh hilang kendali seperti 6 bulan lalu, jangan sampai Lala membenciku . 


Tunggu!   


Brak! Kutendang dinding kamar mandi. 


Sial! Apa Luca yang membawa Lala kemari? Billy sialan, mengapa dia tak melapor? asisten bodoh! Semenjak kapan kebodohanmu meningkat.


Apa mereka selama ini bertemu? Mengapa nada panggilan Lala terlihat sudah lama mengenalnya, Kenapa dadaku merasakan sakit.


Akan ku bun*h kau Bill ! Kenapa, mengurus satu orang saja tidak becus.


Kupukulkan kepalan tangan ke telapak tangan kiri.


Tapi Luca tak pulang semalam. Gadis itu juga tak menjawab teleponku. Jangan-jangan mereka disini dari kemarin!? 


Aku terus menelpon Billy, Bajingan itu berani-beraninya tak mengangkat teleponku. Dia mau cari mati ! 

__ADS_1


Tidak. Luca tidak pernah berani menyentuh gadis. Luca bahkan tidak pernah mengobrol secara pribadi dengan perempuan, jadi tidak mungkin Luca macam-macam dengan Lala.


Msngguyur kepalaku dengan air yang lebih banyak kuharap pikiran ini cepat kembali normal.Kuambil handuk  dan mengeringkannya.


Namun gadis itu sangat berbeda dari kebanyakan perempuan. Apa Luca juga menemukan keunikannya?


Bagaimanapun Luca tetap pria normal. Papa menyebalkan ! Aku kan sudah bilang jangan mengganggu Lala, apa dia jadi menjodohkan mereka? Itu tidak boleh terjadi.


Ah ! Mengapa harus sibuk dengan pikiranku sendiri!   


Aku keluar dari kamar mandi, kuganti bajuku.


Oglek


Oglek


 Suara apa itu?


Aku mendapati Lala mengotak-ngatik pintu. Dia mencoba kabur? Kamu pikir bisa kabur? Kuncinya disini bodoh, kamu kira itu pintu ketinggalan jaman.


HaaHaaHaa


Dia kira bisa mengelabuhiku? alasan olahraga, konyol sekali. ternyata dia memang bodoh.


Kupanggil Lala kedalam kamar, gadis itu memandangi foto masa kecilku. Ada foto Samntha. Dia tidak akan salah pahamkan?  


Kulihat mata cantik itu terus menjelajah keseluruh kamar, apa dia terpukau?  


Aku melupakan foto Samantha di atas meja. Gadis itu kini tengah melamun memandangi foto itu. Aku memintanya menjauhi foto Samantha, aku tidak mau gadis itu salah paham. Perhatiannya kualihkan dengan menyuruhnya membuat Kopi.


 


Di balkon kamar.


Landscape dengan pecahan ombak yang menghantam keras mulut pantai. Lala kian semakin terlihat seksi saat membawakan kopi, pasti dia akan jadi sosok seorang Ibu yang baik, ya.


Aku harus kehilangan proyek reklamasi dan harus merelakan Saint Morena Group diambil alih papa. Tunggulah 4 tahun lagi, setelah perusahaan itu kembali, aku akan menghukummu lagi. Lala, nikmati masa kebebasanmu dulu, aku akan memberimu kelonggaran.  


Aku tidak akan pernah melepaskanmu, sekuat apapun kau menjauhiku.  


Kugenggam tangan mungil Lala yang sedang meletakan kopi didepanku, 2 hari lalu, aku nyaris memasangkan cincin di jari manisnya. Lala meminta waktu untuk menjawab. Seharusnya kamu langsung menerimanya kan!? Seperti video tutorial yang diberikan Billy, gadis-gadis itu menerima para lamaran lelakinya. Apa aku kurang romantis?  


Bagaimana bila dengan ini.  


Kutarik tangan Lala saat Ia akan pergi. kutarik Lala duduk diatas pangkuanku. Ini romantis kan? Para wanita suka yang seperti ini kan? 


“Kevin tolong, aku mau duduk sendiri." Pinta Lala. Dia kelihatan takut, harusnya kan senang? Bukankah kamu sudah pernah membalas ciumanku, Lalu apa yang kamu takuti.


 -Kilas balik Kevin selesai-


 


***


Kevin membuang roko*nya.


"Ambilkan kopinya," bisik Kevin di telinga Lala dengan penuh penekanan.


Lala mengambilkansegelas kopi dan memberikannya, tapi Kevin masih tidak menerimanya. "Kamu mau apa? begini? ini masih panas." Jawab Lala. Dia tidak tahu apa yang diinginkan Kevin. Lala menyodorkan gelas kopi ke mulut Kevin.


"Kamu minum kopinya."


"Aku? katanya kamu yang minta kopi? aku tidak suka kopi." 


"Aku bilang kamu minum!" potong Kevin tidak sabar. 


"Iya-Iya!" 

__ADS_1


"Apa kau berani mengeraskan suara, sekarang!" bentak Kevin dengan aura mengerikan. 


"Ini aku minum, Kevin..." nada suara Lala diturunkan jadi sangat lembut dan penuh senyuman. 


Kopinya masih panas, Lala meminumnya sedikit.Kevin Menyebalkan !!! 


"Kau berani mengumpatku disini?" Kevin mengetuk-ngetuk ulu hati Lala. 


Lala berusaha senyum setulus-tulusnya. Pria gila ini bisa tahu kalau Ia sedang mengumpatnya. 


"Tidak, untuk apa seperti itu, aku sungguh sangat senang." senyum Lala setulus mungkin. 


"Kau mau menghabiskannya sendiri!?" sentak Kevin. 


"Ini sudah aku minum, aku buatkan lagi ya?" tanya Lala tersenyum. 


"Kau ingat di ruang meeting raflesia? cewek gila mana yang berani menyemburkan kopi ke mukaku?" 


Lala memejamkan matanya sejenak, itulah kesalahannya, kesalahan yang membuat Ia harus berurusan dengan orang gila di depannya. Batin Lala. 


"Kau masih mau melakukan itu?" tanya Kevin membuat Lala bingung.


"Tidak, saya tidak berani... itu kesalahan terbesar saya di masa lalu." 


"Apa kamu menyesal?" tanya Kevin tak suka. 


"Iya saya sangat menyesal," pungkas Lala perasaanya sudah mulai tidak enak. 


" Kau menyesal??!" ulangnya lagi semakin marah. 


"Aku menyesal," ucap Lala dengan penuh penyesalan. 


"Oh! jadi kau menyesal bertemu dengan aku?" geram Kevin dengan penuh penekanan.


"Bukan! bukan begitu. Justru aku sangat senang bisa bertemu dengan Kevin. Aku menyesalinya, karena sudah mengotori pakaian dan wajahmu ini yang ganteng," jelas Lala berusaha meredamkan emosi pria dihadapannya.


"Jadi aku ganteng?" emosi Kevin berganti dengan senyuman. 


Benar-benar gila. Batin Lala. 


"Sekarang lakukan lagi apa yang seperti di ruang meeting." Tegas Kevin. 


"Apa ? tidak. Tidak. Saya tidak akan berani." Lala semakin gemetar, tangannya yang gemetaran tanpa sadar beralih ke dada Kevin.


Kevin meraih dan memegang gelas di tangan Lala, menyodorkan gelasnya  ke mulut  Lala, sedangkan telapak tangan kanannya menekan punggung gadis di pangkuannya, sesekali rambut Lala terbawa angin mengenai wajah Kevin. Lelaki itu semakin mendekatkan ke pipi kiri Lala menyisakan jarak sejengkal darinya, namun karena arah angin, aroma tubuh gadis itu terus semerbak menyambut indra penciuman lelaki itu, membangkitkan gairah di dalam dirinya yang semakin membuas.


 


bersambung ...


 


____________________________________


Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini.


Kevin dan Lala akan berlanjut sampai mana?


Ada yang mengeras !!!


Yuk Simak di BAB selanjutnya🔍


Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘


Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.


Sekali lagi terimaksih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.

__ADS_1


 


__ADS_2