
"Sepertinya aku sudah mabuk," kata gadis itu, tak jelas sambil geleng-geleng kepala.
"Masa paman disini." Lydia menepuk tiga kali pundak kanan pria itu cukup keras sampai membuat lelaki itu meringis.
Lelaki itu meraih tasnya, membuat Lydia memutar tangan pria itu, tapi entah mengapa jadi dirinya yang berputar di pangkuan pria itu.
"Lydia?" Luca membantu keponakannya berdiri. Sudah lama tak bertemu, mengapa rupanya sangat berbeda.
Lydia berusaha teriak dalam setengah kesadarannya, "paman Luca? masa!"
"Tuan, anda tidak boleh seperti itu, atau saya panggil penjaga."
Orang-orang di sekitar mulai mengerubuti karena teriakan Lydia yang walau tersamar oleh musik keras, tapi tingkah gadis itu mengambil perhatian.
"Maaf Tuan, anda bisa membayar saya. Tapi jika anda membuat masalah dengan pelanggan kami, lebih Anda-," kata-kata penjaga yang tadi menjadi penjaga Luca terpotong, saat berusaha meraih tas gadis itu.
"Saya mau lihat dentitasnya, dia seperti keponakan saya. Apa kalian mau ku tuntut ha?!" Luca meraih kasar tas, menyeret resleting membuks dompet hitam.
"Ah paman! kau bahkan muncul di mimpiku." Lydia tertawa dan kembali berdiri dan menabok-nabok meja bartender.
Jemari Luca menjepit tanda pengenal, yang di bantu sorot lampu senter dari tangan Bartender
"Lydia Clarissa Orion, betul keponakanku, astaga lihat apa yang-" Luca tak menyelesaikan kalimatnya. Dia beralih ke bartender. "Kamu bilang dia ratu pesta!??" Luca mendelik saat rahangnya mulai mengeras.
"Hah ya." Bartender itu menunjuk Lydia dengan senter yang masih menyala tapi langsung dimatikan saat menatap wajah dingin pria itu, dia tertawa garing, "mereka menyebutnya seperti itu."
Luca mengeluarkan dompet dan mendorong Black Card "Cepat proses."
Bartender itu segera memproses pembayaran saat penjaga yang pada awalnya menjaga Luca, kini mengajak empat penjaga berbadan besar lain dan tanpa banyak berkata mencengkramnya.
Bartender melebarkan mata, melihat pria Superior itu telah memuntir penjaga, mendorong dan menendangnya sampai tersungkur sejauh lima kaki.
"Kalian mau seperti dia? maju." Luca masih berdiri dengan Elegan menantang empat penjaga lain yang saling berpandangan.
"Hentikan!!" sang Bartender berteriak dengan memberi isyarat tatapan dalam pada penjaga, membuat penjaga itu mengerti dan berlalu meninggalkan Luca, setelah sang bartender mengibaskan tangan karena, lawan penjaga bukan orang yang bisa diajak ribut.
"Tuan, tolong maafkan kami, saya harap tidak ada keributan disini." Sang bartender tersenyum dengan santai, matanya melirik penjaga yang sempat tersungkur , bangkit dengan wajah meringis kesakitan, saat orang yang berkerumun membubarkan diri.
__ADS_1
"Terimalah permohonan maaf dari kami," mendorong gelas flute, dan menuangkan sampanye.
"Lydia kau dengar paman?"
"Paman, buat apa di sini?" Lydia menoleh ke kiri, meraih gelas sampanye di depan dan langsung menghabiskannya saat Luca baru mengeluarkan kartu nama, "jangan minum lagi, sumpah demi apa, kau akan dihukum." Luca meraih gelas kosong dari tangan Lydia, gadis itu turun kursi dan hendak berjoget tapi di tahan Luca.
Sang Bartender menatap berseri-seri tidak ingin kehilangan pandangan dari orang kaya didepannya terlebih saat, orang itu memberikan sebuah kartu nama.
"Kabari saya jika gadis ini masih diam-diam kemari."
"Ah iya, iya iya." Sang Bartender menunduk membaca nama perusahaan besar dan terkenal. Dia kembali memproses Bill, matanya sesekali menatap takjub pada pria yang sedang memasukan dompet hitam ke tas Lydia.
Bartender begitu terpukau, melihat pria di depannya yang kini tengah menggantung tas wanita itu ke leher. Terlihat imut. walau berumur tapi masih penuh pesona dan karisma, terlebih horang kaya.
"Tuan, tolong sekali lagi maafkan mereka, tapi? apa anda benar pamannya? Bagaimana ya, masalahnya nona Lydia pelanggan kami-" Sang bartender tidak meneruskan kata-kata saat melihat tatapan dingin menghunus.
"Ah-iya Tuan Paman." Tangannya bergetar mengembalikan Black Card dan struk pembayaran.
Di pintu keluar, Luca bertemu lima penjaga tadi. "Lain kali, Jika kalian membiarkan masuk keponakan saya ini, akan ku buat kalian ..." Luca memberi isyarat dengan tangan.
"Paham Tuan." Kelima penjaga itu menjawab bersamaan dan sedikit menunduk menatap kepergian pria itu.
"Ha, bukan urusan kita, tidak perlu menyentuh orang kelas atas."
"Betul, pekerjaan kita menjadi taruhan."
"Bisa-bisa, keluarga kita mendapat masalah."
Luca yang baru memasukan Lydia ke jok depan, menarik sabuk pengaman.
"Pak, hotel laut biru."
Luca mendongak wajahnya jarak dua jengkal dari Lydia, menatap gadis mabuk itu. "Laut biru? oh kamu menginap disana?"
"Tenang pak sopir, Lydia, kasih tips." Lydia sedikit melantur dan tertunduk, hingga berbenturan dengan Luca, membuat Luca sedikit meringis dan membawa tas Lydia keluar.
Dia mencari ponsel gadis itu, tapi ponselnya mati.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Luca menelpon Haris agar menghubungi Johan, karena Johan tidak menjawab teleponnya.
Di perjalanan Lydia muntah, terpaksa dia mencari hotel terdekat. Dia menutupi dada Lydia dengan mantel, menuju kamar.
Di lift dia menatap gadis cantik perpaduan Johan dan ...
"Bagaimana jika ada pria mengganggumu hah? apa ini kesibukanmu? ratu pesta?" Luca menghela nafas.
Beruntung masih ada pelayan wanita paruh baya yang bisa dimintai tolong Luca untuk menggantikan baju Lydia.
"Sudah selesai Tuan, biar pakaiannya segera diLoundry."
Luca memberikan beberapa lembar uang berwarna merah dan mengucapkan terimakasih.
Dia melangkah ke dalam kamar. Duduk di samping Lydia, melepas sepatu dan kaus kaki.
Tangannya meraih ponsel dari saku. Terlihat Haris, asistennya mengirim pesan.
"Ibu kangennn..." Suara terisak dan merintih membuat Luca terhenti mengirim pesan pada Haris.
Meletakan hp di nakas, sekaligus meraih tisu, Luca mengelapi sudut mata gadis itu. "Memangnya ada orang tidur menangis?"
Tangan Luca di tahan Lydia. "Jangan pergi ibuu."
Mata Luca meredup, dia jadi teringat saat di Villa sang kakek. "Kamu mirip sekali. Bahkan ibumu pernah memeluk paman dan tidak mau melepasnya, sampai tante Bella membantu paman. Dan kamu tahu, ibumu juga sama menangis memanggil Ibunya yang saat itu dia mengira bahwa nenek mu telah di surga." Luca tersenyum tipis, tangan lain mengusap pipi lembut dan rambut coklat Lydia dengan penuh kasih sayang.
"Jadi dimana... kamu pernah merasakan rasanya kesepian tanpa seorang ibu. Namun, kamu juga memperlakukan putri-putrimu seperti ini," gumam Luca.
Sudah satu jam Lydia menahan tangannya. Dia berusaha melepaskan tangan itu dengan susah payah, begitu terlepas gadis itu kembali menangis.
Luca melirik jam tiga pagi, matanya mulai mengantuk. Dia mematikan lampu besar dan menyelimuti Lydia.
"Sudahlah jangan menangis terus." Luca memilin kening yang semakin sakit, entah karena tangisan gadis itu atau karena minumannya.
Luca membersihkan wajah dan sikat gigi, begitu kembali, wanita itu masih menangis.
Membuat Luca naik kasur dan duduk di tengah, dia kembali memberikan tangannya dan gadis itu kembali diam menjadikan tangan Luca bantal.
__ADS_1
Terpaksa, Luca yang sudah tidak kuat menahan sakit di kepalanya tidur dalam posisi duduk.