Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 67 : MACAN BERNAMA 'TEDDY'


__ADS_3

-Lala-


Di tempat Lala masih pagi dan di tempat Johan sudah siang.


Di kamar barunya, Lala melakukan panggilan ke nomor Tiara.


Ia merasa bersalah pada Johan setelah kemarin mendengar cerita Tiara. Bahkan wanita yang pernah memulihkan -trauma Lala- itu sampai menangis.


πŸ”Š


DEG


"Iya, aku mendengarmu," sahut Lala.


Johan beralih ke panggilan video. Terlihat wajah Johan yang tampak kusut dengan mata yang sudah merah.


"Aku senang bisa lihat kamu, La. Pipi kamu seperti bakpau, kamu ternyata betah di sana ya." Johan terlihat memalingkan wajah dan mengelap kristal bening di sudut mata.


"Ada apa denganmu kau terlihat begitu kacau..." Lala duduk di kasur, menggeser rambut kebelakang telinga.


"Aku merindukanmu dasar bodoh, kau menghilang tanpa memberitahu mama Tiara ... kami semua mengkhawatirkanmu, kau tak menganggap kami keluarga?"


"Pulanglah La, kakek akan mengurus semua kepulanganmu," tambah Johan.


"Tidak bisa."


"Kenapa?" Johan memandangi Lala yang makin terlihat cantik, "kita keluarga, tempat kami terbuka lebar."


Lala menghela nafasnya. Ia diam sejenak, lantas, "Jelaskan apa yang terjadi pagi itu."


"Maksud kamu?"


"Johan, kamu pasti mengerti apa yang paling membuatku kecewa ..."


"Aku tak paham,"


"Saat kamu melamarku ...ketika Bella pergi, aku tidur, apa yang ..."


DEG


"I-itu aku tak-" sahut Johan, wajahnya semakin kelam.


"Jangan berkelit! seakan kau melupakan semuanya! kau membuatku terlihat bodoh Johan! bahkan aku selalu mempercayaimu? tega sekali kau!!"


"Bagaimana bisa kau tau..."


"Apa itu penting? kau sangat pengecut Jo," Lala sedikit berteriak.


"Aku mau menikahimu, biar aku menebus semuanya. Aku sering telpon dan kau mengabaikan padahal aku tak main-main."


Tidak kuat lagi Lala menahan kekecewaan hingga dia tak sanggup bilang soal kehamilannya, "lupakan aku, Jo. Lebih baik kita tidak mengenal seperti semula- itu terdengar baik"


"Jangan berbicara begitu! hukumlah aku semaumu ... tapi aku tak bisa tanpamu." Johan terisak.


"Aku mohon maafkan aku, jangan begini..." tambah Johan.


"Kau sendiri yang memulai ini Jo," mengelap kristal air mata yang jatuh tanpa permisi, terisak,"aku matikan ya."

__ADS_1


Klek-


Hp terlepas dari tangan Lala saat dia menatap Kevin berjalan kearahnya membuat Lala waspada, sesaat terbayang amarah tak terkendali Kevin.


"Ada apa?" JohanπŸ“ž


"Kevin," kata Lala dengan lirih saat sang pacar menengok ke bawah melihat layar ponsel.


DEG


"A-a ku baru menelpon Johan," Lala tergagap saat lelaki itu berjongkok.


Kevin duduk dengan sorot mata yang tak bisa di tebak Lala.


Wajah gadis itu pucat pasi manakala Kevin ikut duduk disebelahnya dan mengarahkan ponsel, "Apa kabarmu?" tanya Kevin pada Johan sambil menempelkan pipinya pada Lala, membuat Lala dan Johan terkejut.


Johan mendelik. Lala mematung saat Kevin menggaet pundak dan mengecup pipi di depan panggilan video.


"Datang dan bawa kartu undangan."


"Apa maksudmu?"


"kakek Lewis belum memberitahu mu? tanyakan coba."


"Undangan apa!"


"Sayang, kasih tahu dia," bisik Kevin ke Lala.


Mata Lala berkedip beberapakali dengan sedikit mulut ternganga, Ia menggeser pantatnya sedikit menjauh, tak siap menuruti perintah Kevin.


"Lihat, kekasihku ini masih malu-malu. Jadi kau tanyakan saja pada Kakek Lewis. Sebagai teman yang baik, kau wajib datang ya! Bye Johan." Kevin mematikan panggilan.


"Tadi A-aku belum bilang kehamilan ini ke dia." Lala tertunduk mengelus si kembar yang tiba-tiba menendang lebih kuat, 'Kalian terlihat senang, apa karena suara Johan?'


Lelaki itu tiba-tiba duduk bersimpuh mengelus dengan lembut perut Lala, lantas memeluk pinggang Lala merasakan tendangan kuat bayi. Apa salah bila Lala menyangka Kevin tulus padanya?


Mengelus dengan lembut helaian rambut yang terasa tebal dan sedikit kaku, nampaknya Kevin semakin menikmati elusannya saat lelaki itu membaringkan kepala di paha Lala.


Terlihat kekanak-kanakan 'akankah kamu bisa mencintai mereka, meskipun bukan darah dagingmu?'


Lelaki itu bangkit, menggendong Lala membuat Lala terkejut. "Kevin turunin! mau kemana kita?"


"Kejutan."


Ting!


Pintu kamar terbuka otomatis setelah Kevin mendekati sensor yang terletak dibawah dekat pintu.


"Kejutan apa?" Lala menautkan kedua tangan ke leher Kevin dan bersandar ke dada bidang, tetapi Kevin tak menjawabnya, mata lelaki itu menatap tajam ke depan membuat Lala terpesona.


"Ground," ucap Kevin dengan lantang saat di dalam lift, tak lama lift sudah terbuka di lantai dasar.


Lala dibawa naik -mobil Buggy terbuka- ke belakang Istana.


"Apa ini sayang?"


"Diam." Kevin menutup mata Lala dengan seutas kain hitam. Cukup Lama. Membuat Lala tak sabar.

__ADS_1


Tak berapa lama mobil berhenti, suara raungan macan mengagetkan kedatangan Lala. "Gak Lucu, Kevin."


"Wait."


"Jangankan turunkan aku!! kau mau membuat macan itu menyentuhku lagi!!"


"Sakit, turun dulu sayang."


"LALA." Panggil suara yang dikenal Lala.


Gadis yang masih dalam gendongan Kevin itu menarik kain hitam yang menutupi Mata.


Pelan-pelan Kevin menurunkan Lala.


Terlihat sosok yang sangat dikenal, Lala sedikit berlari dengan bulir air matanya, "Ayah!!"


Goarrrrrrr


Raungan macan tak lantas membuat pelukan ayah dan anak terlepas, mereka justru semakin erat, setelah lama tidak bertemu.


Hutan buatan yang rimbun dengan cuaca cerah mengakrabkan mereka di depan kandang macan.


Bertubi-tubi pertanyaan dijawab Alen dengan sabar dan sedikit kebohongan. Kevin saat itu terbawa suasana, karena Lala turut menghadirkan Kevin dalam percakapan mereka.


Sejenak Alen menangkap sikap Kevin yang berubah lunak saat di depan Lala.


Mereka makan siang di sana. Kevin juga memberi makan langsung untuk macan jinaknya setelah itu terlihat Kevin bermain dengan macan yang bahkan lebih besar dari Kevin.


Kevin memaksa Lala mengulurkan tangan untuk mengelus macan yang dinamai 'Teddy', sampai gadis itu menangis mengadu pada sang ayah.


Alen hanya diam saja, Ia juga kaget dari kemarin Kevin berusaha mengenalkan macan itu pada Alen. Apalagi kemarin macan itu terlihat marah dan lebih galak seakan mau menerkam Alen.


Macan itu sedikit agresif. Kevin memeluk Lala yang masih merengek dan kesal. Saat itu sang macan mendekati Lala lagi.


Untuk pertama kali Si macan putih mengeluskan kepala pada kaki Lala, seperti kucing.


Wanita hamil yang ketakutan itu tak mau membuka mata.


"Sayang buka matamu, Teddy menunggu."


"Jauhkan dia!!!"


Macan itu merebahkan tubuhnya menunggu perintah Kevin.


"Nak, buka matamu, tak apa. Dia terlihat jinak."


"Ayah!" Lala mengintip, macan itu menunduk terlihat matanya mengiba. Kevin menuntun tubuh Lala dan tangannya. Meskipun Lala menolak, tapi tangan kekar Kevin berhasil membuat Lala mengelus kepala macan itu. Sang macan langsung memutar kepalanya seakan meminta lebih.


Kevin mencengkram Leher ma can itu, menggoda si macan. Lala sedikit tersenyum dalam takut saat menyentuh bulu-bulu halus itu. Lala terlonjak saat macan itu menjilat kaki Lala.


"Tak apa-apa, dia tidak akan melukaimu." Kevin memeluk Lala yang terduduk di tanah itu.


Sang ayah melihat itu dilema, apa benar keputusannya menyetujui pernikahan ini. Bagaimana dengan Johan? dia masih belum bisa menanyakan siapa ayah dari kehamilan Lala, nanti dia akan berbicara empat mata dengan Lala. 'Bagaimana aku menghubungi Johan atau Lewis. Bagaimanapun Johan sudah seperti putraku sendiri, dari kecil aku melatihnya untuk kuat, aku berharap anak itu bisa menerima ini semua.'


Bersambung ...


_______________________________

__ADS_1


Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍



__ADS_2