
-Lala-
Di ruang makan, aku pagi itu bersama ayah berbincang cukup banyak, setelah selesai sarapan yang tanpa di hadiri Kevin.
Ayah menanyakan banyak, termasuk apa rencana setelah aku menikah nanti, aku bilang padanya aku akan melanjutkan kuliah sama seperti apa yang telah aku diskusikan dengan Kevin.
Dua pengawal berdiri di ujung pintu, mereka terus diam seperti patung.
"Menikah dengannya, apa kamu benar yakin, Nak? atau dia mengancam mu? jujurlah." Ayah berkata dengan suara lirih seraya memegang tanganku, matanya menatap dalam seolah sedang menyelidiki sesuatu.
Mataku sedikit menghindarinya, "Mengapa pertanyaan ayah seperti itu? apa ada sesuatu? Kevin tak mengancam ku ayah, aku merasa nyaman bersamanya, dia juga selalu sopan dan lembut, tapi ada sedikit yang mengganggu pikiranku."
Kulihat wajah Ayah yang seperti mengetahui sesuatu, dia menyelipkan benda kecil seperti lipatan kertas di balik genggamannya, "Baca ini, jangan membukanya selain di kamar mandi mu, kau tahu cctv dimana-mana, sembunyikan di tangan dan masukan ke saku, jangan gugup bersikaplah normal."
"Ayah ada sebenarnya, kau membuatku takut," Seperti saran ayah aku memasukan tanganku ke saku, dari kecil ayah sudah mengajariku bermain ala dektetif conan. Kenapa aku mulai menyadari ini sekarang, Ayah juga sama mencurigakannya seperti Kevin.
"Nak, Ayah tidak percaya Kevin karena itu ayah masih menyelidiki ini. Jangan memancing kemarahannya, dia bukan orang yang bisa kau buat marah, jangan membahas ini lagi sampai ayah memberitahumu langsung, bukan lewat telepon atau tulisan. Kamu paham ya."
Aku mengangguk dengan segala pertanyaan di kepalaku. Tiba-tiba ada suara keributan. Aku mengikuti langkah ayah, dan dua penjaga tadi mengikuti langakah kaki kami.
Kami di lantai dua dan langkah ayah terhenti di pinggir pembatas kaca melihat ke lantai satu, di sana asal keributan. Terlonjak aku saat melihat Om Anton berdiri sedang marah-marah pada empat orang pengawal yang hanya diam tak menjawab pertanyaan mereka.
Tak lama seorang kepala pelayan datang menghampiri om Anton dan bercakap-cakap cukup lama.
Sampai wanita paruh baya yang bersama om Anton tak sengaja melihat kearahku dan Ia terkejut membuatnya menghampiriku dengan wajah yang terlihat kebencian di matanya.
Ayah memegangiku, aku bersembunyi di belakang Ayah saat wanita itu tiba di depanku.
__ADS_1
"Kau yang bernama Lala?" Dia berkata sambil menarik tanganku, hingga aku sekarang berada di depan ayah. "Iya, maaf Anda siapa?" aku menahan tubuhku saat ayah berusaha menarikku kembali.
Wanita itu menatapku dengan bibir yang seakan merendahkanku. "Kau merayu putraku? Cih murahan sekali menggunakan itu untuk menjerat putraku. Kamu pikir pantas untuknya?! Gugurkan bayi itu! dan pergilah jauh-jauh!!" Dia berkata dengan angkuh dan mendorong keras tubuhku sampai aku setengah terjatuh, beruntung Ayah menangkapku hingga pantatku belum mendarat di lantai.
"Jaga sikap anda Nyonya, jangan berani-berani mengganggu putriku," Ayah dengan suara yang menyeramkan yang belum pernah aku dengar lalu tangan Ayah menarik tubuhku.
Mataku teralihkan pada Om Anton yang datang ke arah kami dengan langkah cepatnya. Beberapa pengawal dan kepala pelayan mengikuti om Anton.
Sementara pengawal yang bersama kami hanya menonton dan terlihat berkomunikasi dengan earpiecenya.
"Lala apa ini beneran kamu? kamu baik-baik saja?" tanya Om Anton dengan wajah terkejut terlihat senang dan terlihat bingung melihat ke arah perutku membuat aku gugup karena tidak tahu apa yang harus aku katakan. Kevin tidak memberitahu kedatangan mereka, apa mereka sudah tau ini anak Johan?
"Iya, om Anton, Lala baik-baik saja," pipiku sedikit panas, setelah lama tak bertemu om Anton, dan terus menghindari om Anton karena dia selalu meminta aku menikah dengan mas Luca.
Dua orang perempuan datang, dan satu orang bernama Parker mereka bertiga berdiri berjajar rapih memberi hormat, mereka terlihat sangat ekslusive.
Parker mendekati Ayahku dan menuntun kami mengikuti mereka. Aku baru menghadapi situasi ini, Ayah mengenggam tanganku menenangkan hatiku yang tak tenang. Sementara Siska berjalan di belakangku, dia selalu melindungiku kemana-mana.
Sampailah kami di ruangan dengan sofa yang sanga empuk dengan ornamen-ornamen indah yang menghiasi ruangan itu.
Parker mengatur posisi duduk kami, terlihat lelaki yang umurnya sedikit di bawah ayahku itu melihat jam tangannya dan berbicara di tangannya, apa disitu ada alat komunikasi semacam telepon? dia beralih memegangi sesuatu yang tak terlihat di telinganya. Ini seperti di film-film Action. Aku seperti mimpi rasanya.
Seorang pemuda datang duduk di sebelah Nyonya besar. Pandangan kami sempat bertemu, dia terlihat menganggukan kepala dengan pandangannya yang lembut. Bila di perhatikan dia mirip mas Luca. Oh ya dimana mas Luca? aku baru kepikiran, bagaimana bila ...
"Papa," panggil seseorang dari pintu yang terletak di sisi belakangku, aku menoleh benar saja, 'Mas Luca'. Mata kami bertemu, tiba-tiba aku sedikit gemetar. Pertemuan terakhir kami tak menyenangkan. Mata itu menatap dalam padaku, Ia menghampirku lebih dekat namun Siska dan pengawal menahan tubuh mas Luca membuat lelaki itu marah. Aura ayah kuat seakan bertanya sesuatu tentang hubungan kami. Ayah belum pernah ketemu mas Luca.
"Sialan lepaskan aku!" teriak mas Luca saat para pengawal menarik Mas Luca duduk di sebelah Om Anton.
__ADS_1
"Tenanglah." Om Anton yang menaruh tangannya di paha mas Luca membuat mas Luca diam dan kini menatapku. Dia juga menatap dalam ke perutku membuat aku menutupi perut dengan kedua tanganku.
Dengan sofa yang bersebrangan, seperti acara lamaran. Aku dan ayahku. Di sofa sebrang keluarga Kevin. Mas Luca terus memandangku seperti meminta penjelasan.
Lyra memberi buku yang aku tahu itu semacam profile company kepada keluarga Kevin, mereka menerima satu-satu. Aku turut mendengar penuturan Lyra soal perusahaan Sanla Corp yang didirikan Kevin lebih dari dua tahun.
Kami semua yang mendengarnya shock. Namun ayahku terlihat tenang saja atau karena ayah memang tak peduli.
Tak lama Kevin datang dengan jalan yang begitu elegan dan terlihat dingin sama seperti saat dulu Kevin mendatangi rumahku di kampung. Aku bahkan lupa dengan sikap dingin itu karena Kevin selalu memperlihatkan sikap lembutnya di depanku.
Nyonya dan Tuan besar berdiri akan menghampiri Kevin, tapi pengawal sudah menahan dan menyuruh mereka duduk. Kevin duduk di kursi tengah dengan kaki satu bertumpu pada kaki yang lain.
"Kakak..." pangil pemuda itu. Kevin terlihat dingin tak mempedulikannya. "Sayang, apa ini ... apa benar Sanla Corp milikmu? bagaimana bisa, jelaskan ke mama," kata nyonya besar dengan lembut, Kevin justru memandangiku dan sedikit tersenyum padaku.
"Lyra sudah menjelaskan bukan?" jawab Kevin dengan dingin tanpa menoleh. Aura Kevin kuat sekali menyeruak ke seluruh ruangan besar ini, "sayang, kemari," prrintah Kevin kepadaku dengan lembut, sangat berbeda saat berbicara dengan yang lain.
Aku menatap anggukan ayah yang meyakinkanku, sementara aku melirik mas Luca yang terlihat tak terima. Om Anton diam saja dengan masih terlihat wibawanya. Nyonya besar semakin terlihat membenciku.
Aku berdiri terpaku di depan Kevin. Dia menepukan tangan di paha,"Kemari sayang". Alisku berkerut. Ku lirik ke arah kanan karena mereka semua melihat arahku. Ku melirik ayah yang mengedipkan mata meyakinkanku.
Bersambung ...
_______________________________
Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍
__ADS_1