Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 72 : H-1


__ADS_3

-LALA-


Aku terbangun karena mendengar -suara pintu- dan suara langkah sepatu yang semakin mendekat.


"Jangan pura-pura tidur, Kamu terlambat ini sudah jam 7, Babe."


Aku setengah membuka mata... Ternyata Kevin, dia berdiri di sebelah dengan gagah sedang menatapku dengan lembut.


Dia terlihat sudah rapih. Dengan senyum lebar dia duduk lalu memegang Keningku, tangan dia besar dan hangat.


Hidungku mencium aroma sensual kehijauan, wangi bunga eksotis terkadang aroma jeruk menguar.


Wangi calon suamiku. Wajahku telah menghadap perut Kevin, meski dia mengenakan kemeja, tapi otot-otot tercetak dari luar kemeja. 'Ah besok malam aku bisa melihat perutnya!! sabarlah Lala ! sebentar lagi akan jadi istrinya! Yeahhh!!!!'


"Bangunlah, Babe," Kevin meminggirkan rambut yang menutupi wajahku dan dia justru menggelitik ku.


"Mereka tidak akan makan sebelum kamu turun," ucapnya sambil terus bermain di telingaku.


"Om Anton dan tante Sheril?"


Kevin mengangguk. "Iya, Babe. Mereka sekarang juga orang tuamu. Jadi, mulai hari ini panggil mereka, papa dan mama."


Aku menelan salivaku. Tante Sheril tidak akan suka ...


Aku kemudian duduk dan mengucek mataku. Ku lihat pintu balkon yang tirainya tak tertutup membuat cahaya putih kekuningan sedikit masuk menerangi kegelapan kamar. 'Aku tidak tahu Johan pergi jam berapa? apa dia baik-baik saja?'


Aku meregangkan tubuh, ke kanan-kiri dan tiba-tiba tangan Kevin melingkar di perutku.


"Kamu tidur nyenyak?" Kevin menyingkirkan selimut dari atas pahaku dan dia mengikat rambut panjang ku.


"Aku tak bisa tidur sampai larut malam, sebab kamu tak menjawab teleponku dari kemarin siang."


"Maaf, Babe, kerjaan menumpuk," kata Kevin, terdengar menyesali lalu mengecup lembut di keningku.


Aku bersandar pada bahunya yang lebar, aku memejamkan mata, menikmati bau segar dari tubuh Kevin.

__ADS_1


Kevin menarik pinggangku. Dia mulai bergerilya dengan kecupan di pipi, telinga dan leherku.


"Sayang, hentikan, geli!!" aku menghindar.


"Geli? kalau begitu saya harus mencumbu mu lebih banyak kan, Babe?" dia berbisik dengan hembusan nafas yang berat dan terasa panas di telingaku, dia terus menggoda ku sampai pipiku terasa hangat.


"Uhh! stop! aku akan mandi," ucapku. Dia tak menanggapi ucapan ku dan aku tanpa sadar melenguh karena dia terus melancarkan aksinya pada tengkuk ku, sial jadi karena ini dia mengikat rambutku.


Aku tak tahan lagi dengan itu dan aku mendorong leher Kevin agar menjauh, kecupan bibir Kevin seperti sengatan listrik yang membuatku gila.


Mata Kevin menyipit, "Apa ini? bisa kau jelaskan apa ini?"


Tiba-tiba Kevin memegang pergelangan tanganku. Dia mengusapnya membuat jantungku berdebar-debar. Tanpa sadar kaki dan tanganku langsung gemetar tanpa aku bisa mengontrolnya.Aku melepaskan tangan Kevin.


"Babe! ulah siapa ini?" tanya Kevin.


Sekarang dia menahan kedua tanganku kembali dengan wajah yang sudah memerah. Aku mencoba menariknya.


Aku tergagap, "bu-bukan apa-apa, aku tidak menyembunyikan apa-apa."


"Jujur atau kamu merindukan hukuman, Babe?"


Aku berdiri meninggalkan Kevin.


Kevin mengetuk pintu kamar mandi tiga kali saat aku masih bersandar di balik pintu.


"Babe, keluarlah."


"Aku sedang melepas celanaku, aku tak menyembunyikan apapun. Aku mau mandi!" Aku menyalakan shower.


Aku harus beralasan apa? kulihat bekas cengkraman Johan begitu merah, ah kamu membuatku dalam masalah Jo.


Setengah jam aku keluar dari pintu dengan rambut basah dan mengenakan jubah mandi.


"Hey, Babe," ucap Kevin dan dia langsung memasang senyum palsu di bibirnya.

__ADS_1


DEG


Dia menarik tanganku dengan lembut memintaku mengikutinya sampai aku duduk di depan meja rias.


Dia menatapku di pantulan cermin, "Saya akan tau apapun yang kamu sembunyikan, Babe" bisik Kevin di telingaku.


"Ini karena terlilit pakaianku."


"Terlilit pakaian? acting mu buruk Lala," kata Kevin dan aku tiba-tiba menelan saliva ku karena dia memanggil dengan nama. Aku tahu dia serius sekarang.


Aku tidak bisa menahan gemetar, cara dia tertawa seolah-olah dia mengatakan kepada aku bahwa dia tahu apa yang aku sembunyikan.


Kevin memutar tubuhku, sampai kami saling berhadapan, dia tersenyum padaku dan dengan lembut memegang rahangku sebelum dia mengklaim bibirku dengan ciuman. Aku membalasnya.


Setelah beberapa detik, cengkeraman Kevin di rahang ku semakin menguat sampai-sampai aku kesakitan yang menyebabkan kita berhenti berciuman.


Aku menelan ludahku, sangat gugup ketika aku melihat wajah marah Kevin. "Jangan anggap saya bodoh."


"Saya tidak suka kebohongan." Kevin berkata dan rahangnya mengeras ketika dia menyadari sesuatu.


"Lima belas menit." Kevin pergi dan meletakan kotak kecil di meja.


Kotak kecil itu aku buka, "Jepit rambut? ini terlihat manis," Aku mengamati jepit rambut dengan aksen 3 bunga tulip berwarna ungu, pink dan biru. Warnanya terlihat seperti bunga tulip sungguhan."Kenapa tak memberikannya langsung?"


Setidaknya dia masih peduli terhadapku ditengah kesibukannya.


Tapi, bila Kevin tau ini cengkraman Johan...?


Bersambung ...


_______________________________


Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍


__ADS_1


__ADS_2