Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 99 : TAK TERDUGA


__ADS_3

Suasana hangat menyelimuti meja makan petang itu. Richi duduk di kursi ujung, dia mengambil Lancashire hotpot ke piringnya.


Sedangkan, Kevin duduk bersebelahan.


"Kamu bikin sendiri ciloknya?" tanya Lala dengan alis terangkat.


"Iya Babe, saya yang buat semuanya. Cepat! kamu cicipi."


Richie melirik Kevin yang begitu antusias dan tidak sabar menunggu peninilaian Lala.


Cih, sebagian juga aku yang membuatnya, batin Richie tak terima.


Lala mengambil garpu di depan, dia mulai menusuk cilok menilai tingkat kekenyalan, kemudian dicelupkan pada saus kacang di mangkuk sebelahnya.


Sedikit ragu ketika Lala mau memakannya karena bentuk yang di atas rata-rata. Lala melirik Kevin yang sedang manggut-manggut, tak sabar.


Dilihat baik-baik ciloknya, dia memejamkan mata melahap satu cilok yang cukup besar itu, hingga mulut Lala terasa penuh oleh satu cilok.


Pelan, Lala mengunyah dengan pelan. Kenyal, matang sempurna, pedas pas, isiannya pecah saat di gigit, bumbu cincangan ayamnya begitu terasa.


Seketika Lala tersenyum dan dia membuka matanya. Sungguh di luar dugaan Lala, makanan ini terasa begitu familiar. Lala menggeser duduknya menghadap Kevin.


"Gimana? nggak enak, ya?" tanya Kevin mulai putus asa.


Richie tersentak melihat Lala yang langsung mendekap Kevin dengan senyum lepas dan menggosok punggung Kevin.


"Luar biasa! Emmm Ini beneran lezat sayang, aku sangat suka, terimakasih! kamu pasti kesulitan... aku jadi teringat ayah saat memakannya."


Kevin beralih menyentuh lengan Lala, "serius jadi kamu suka?"


Dengan pelan Lala mengangguk sambil tersenyum, "aku suka!" tangannya mengelus pipi sang suami dengan kelembutan.


Wajah Kevin menghangat, hati Kevin begitu berbunga melihat Lala puas dengan cilok buatannya.Walaupun Kevin menyadari, ada campur tangan Richie saat membuatnya, "Yang penting aku yang merebus ciloknya!'


"Ekhem, hey jangan bermesraan di depan saya!" gerutu Richie.


"Siapa suruh menyendiri, cari pasangan sana!"


Kevin tetap memperhatikan istrinya yang terlihat bahagia.


"Ishhh! kamu ngelonjak." sahut Richie. "Lala, kau punya teman, kan? kenalkan pada saya!"


Mendengar Richie menyebut namanya, Lala tersentak.


"Teman? siapa ya... Ah Bella, ya dia sangat baik!"


Lala dengan mata berseri-seri, menyebut sahabat terdekatnya.


Sedangkan Kevin langsung terdiam mendengar nama Bella disebut. Steak dalam mulut Kevin, seketika terasa hambar.


"Mana kenalkan padaku? kamu bisa memberikan nomornya."


"Tapi___"

__ADS_1


"Tapi apa?"


"Dia tidak ada kabarnya dan belum bisa dihubungi."


"Jika begitu, kenapa kau sebut? dasar!"


"Teruskan makan mu," kata Kevin dingin menyela tiba-tiba, membuat Lala dan Richie saling berpandangan.


Mereka meneruskan makan malam. Lala dan Richie sepanjang makan malam terus mengobrol bahkan sampai ribut.


Namun, akhirnya Lala mulai menyadari sang suami banyak diam.


"Kamu tak enak badan?" tanya Lala menyentuh kening sang suami.


"Saya tidak apa, Babe," kata Kevin lalu mengecup kening Lala dengan lembut.


"Temani saya menonton, ada film baru, " seru Richie sambil menarik tangan Lala.


Kursi di dorongnya, "Saya ke toilet, pergilah dulu, Babe."


"Baiklah, jangan lama-lama," kata Lala.


Dia merasa ada yang tak beres dengan Kevin. Lala menebak-nebak apa ada masalah yang menimpa sang suami.


Lala memandangi tiap langkah kaki. Semua tentang Kevin terus memenuhi pikirannya. Lala tak tahan lagi, dia berhenti membuat tangan Richie tertarik.


Alis Richie terangkat, "kenapa?" dia melepaskan tangan Lala.


"Anda duluan, saya akan menyusul segera," kata Lala langsung berbalik meninggalkan Richie.


Lelaki itu justru belok kanan. Lala mengikuti, ternyata Kevin ke balkon menelpon seseorang dengan muka serius.


Apa ada masalah? batin Lala, saat Kevin menendang tembok.


"Bella Anastasya Kencana!" bentak Kevin di telpon.


Aku tak salah dengar, kan? Kevin menelpon Bella?, batin Lala. Matanya berseri-seri dengan senyum lebar, dia melangkah semakin lebar, tak sabar ingin berbicara dengan Bella.


"Kau hanya perlu melahirkan anakku, sialan!"


DEG


Bagai disambar petir, lutut Lala terasa lemas. Lala menggeleng sambil menyalahkan pendengarannya.


"Harusnya saya malam itu membunuhmu! kau menjijikan! kau kira saya senang telah meniduri mu Bella? saya hanya mabuk, camkan!"


Lutut Lala gemetar, ia akan jatuh ... tiba-tiba Richie telah menangkapnya dan menarik Lala menjauh dari Kevin yang mana tak tahu kehadiran Richie dan Lala.


Mereka berjalan beberapa langkah. Namun, Lala tidak kuat berdiri, hingga dia merosot ke lantai. Saking lemasnya Lala tak sanggup menahan tubuhnya. Ia kembali jatuh terkulai, beruntung Richie menangkap punggung Lala dan langsung menggendongnya.


Dalam gendongan Richie, perasaan tak bertenaga itu masih melanda pikiran, hati dan tubuh Lala.


Pandangan mata Lala kosong.

__ADS_1


"Lala?" panggil Richie setiba di ruang bioskop yang redup.


Lelaki itu bersimpuh di samping sofa, dia memandangi Lala yang lemas. Lala yang berusaha duduk bertumpu pada kedua tangan dengan wajah tanpa ekspresi.


Richie melihat Lala yang sangat terpukul. Wanita itu bahkan terlihat tak kuat dan merosot duduk ke lantai dan bersandar pada sofa.


Sedangkan kedua tangan Lala, terkulai di atas perut besarnya. Alis, mata dan mulut Lala telah tertarik kebelakang. Namun, wanita itu terlihat terus menahan perasaan.


"Menangis saja, anggap saya tidak ada," kata Richie.


Lala menangkup wajah. Dia menunduk begitu dalam, kesadarannya terasa begitu nyata. Kepala dan dadanya terus berdenyut kuat.


Indra pendengaran ku pasti bermasalah. Tidak, ini hanya mimpi buruk. Lala terus menyangkalnya.


Richie bingung karena tidak tahu cara menghibur. Dia bergerser ke samping, kemudian melingkarkan tangan di punggung Lala, dan memegang lengan Lala.


"Tuan Richie."


"Ya."


"Tolong, sembunyikan ini, saya tak mau Kevin tahu jika saya mendengar percakapan teleponnya."


"Begitu? terserah kamu saja."


"Apa anda bisa melacak keberadaan seseorang?"


"Bisa, memang siapa yang mau kau ..., ah apa kau mau melacak wanita itu?"


"Iya. Bisakah saya minta tolong? dia sahabat terbaik ku, Bella Anastasya Kencana. Apapun tentangnya saya ingin tahu. Bahkan, saya tak mengetahui keluarga Bella, kecuali abang Bella yang pernah ke kosku. Bella sangat tertutup."


"Kamu begitu percaya diri, jika saya akan membantumu. Padahal, belum tentu__"


"Jika anda menagih penawaran, saya akan memberi apa pun yang anda mau." Lala memotong kalimat Richie.


"Apa itu termasuk tubuhmu nyonya Saint?"


"Apapun."


"Hei, ku sudah gila." Richie membelalak, dia melepaskan tangan dari punggung Lala.


Dia menarik dagu Lala, membuat kepala Lala terdongak, dilihat mata Lala yang merah, wanita itu terlihat terus menahan perasaanya.


"Sekalipun kamu terpukul, kau tak boleh berbicara begitu."


"Bukankah itu yang kau inginkan," kata Lala dengan senyum masam dan mata kosong.


"Baik! saya akan mencarinya."


Lala menjauh dari Richie dan kembali duduk di atas sofa mendekap bantal, "mana filmnya," kata Lala datar.


"Tunggu," Richie menekan sebuah remote, lalu duduk di sofa sebrang. Dia melirik Lala yang seperti mayat hidup.


*Ada apa dengan ekspresinya? jika begitu, semua orang pun tahu kalau kau terlihat tidak baik-baik saja. Wanita itu terlihat menyeramkan saat marah. Lagi-lagi, saya terbawa-bawa dalam masalah mereka, menyebalkan.

__ADS_1


Jika dibiarkan kasian. Namun, jika saya menolongnya, saya mengkhianati Kevin?*batin Richie berkecamuk.


__ADS_2