Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 218 : CINCIN HILANG


__ADS_3

-POV Lala-


Ruangan gelap seperti malam, saya berdiri memperhatikan Ars tidur, dan Damir di sebelahnya.


Sekertaris Nick meminta aku untuk menunggu, hingga pada akhirnya anak kecil duduk dengan setengah nyawanya, dia mengucek-ngucek mata lalu menoleh ke arah saya, dan tertegun, betapa lucunya Damir.


Di usia tiga tahun Damir, seharusnya Ars mencarikannya sesosok ibu kan.


"Madam, Damir kangen ... " Damir dengan suara serak mengulurkan ke dua tangan.


Guntur seakan menyambarku. Bolehkah menggendongnya? kemarin sih tidak apa-apa, tapi-


"Pipis..."


"Ya! ..." Saya langsung memutari kasur dan menggendong Damir menuju toilet. Bahkan saya kemarin memandikan Damir. Apa karena ini Ars memanggil saya? saya jadi semakin merindukan Vino.


Tanpa sadar saya mengendus-ngendus gaun, masih tersisa aroma parfum asing, aku begitu familiar, atau ini hanya perasaanku.


Di kamar luas itu, Damir bermain, dan saya duduk berlutut dengan tidak nyaman karena tanpa cela..na da..lam, jadi saya menunggu Ars bangun. Apakah lelaki itu semalam di sini? jika dia di kamar, jadi, siapa di kamarku. Apakah benar eros? Tidak mungkin. Jika Richie, dia tidak akan meninggalkan ku. Tetapi, bukankah semalam tampak nyata.


Damir berlari dengan langkah kecilnya, "Papa, ada madam."


Saya mendongak memperhatikan lelaki itu yang memutar lehernya, Ars melirik saya sebentar.


Dia baru bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Kemudian memangku Damir. "Ya Damir, tampaknya anda sangat bersemangat?"


"Damir senang, papa. Damir akan berenang dengan Madam kan, Papa."


"Apa?!" Ars dan saya menjawab bersamaan.


"Tidak, putraku. Madam tidak bisa berenang." Ars berkata dengan lembut, saya sedikit bernafas lega.


"Kalau gitu Madam ikut belajar sama papa. Damir mau madam!"


Ars menghela nafas panjang dan alisku berkerut, uh apa ini, kenapa jadi saya terbawa-bawa.


"Kita akan bicarakan nanti, Damir. Sekarang papa harus pergi ke kamar mandi." Ars menaruh pantat Damir di depan saya, aku semakin menegang karena tatapan tajam Ars.


"Buatkan kopi," perintahnya pada saya sebelum hilang ke kamar mandi. Sekarang saya hanya perlu menuruti, dia begitu menjengkelkan.


Setengah hati melangkah keluar, dan Damir terus mengekor di belakang saya sama seperti kemarin. Saya sedikit terhibur oleh Damir, anak itu cakep, lucu, dan riang. Namun, tetap saja di sisi lain semakin menyakiti hati saya, seandainya Damir bisa digantikan Vino.


Prang!! Cangkir terlepas dan aku melompat sambil mengibaskan tangan.


Air kopi menyiram ku. "Auwww!"


"Bodoh! kerja pakai mata!" Ars dari arah belakang menarik bahuku dengan tangan kerasnya, menjauh dari dispenser.


Tangan saya di dorong oleh Ars ke bawah kucuran air kran ... dingin ... tetap saja tanganku panas di bawah air. Butiran kopi mulai menyingkir dari tangan dan menjadi bersih. Aku meringis, saat itu meninggalkan warna merah menepak di punggung tangan, kuharap tidak melepuh.


"Madam kesakitan, papa?" tanya Damir dengan nada penuh tanda tanya bercampur khawatir, saya melirik ke kanan saat Damir langsung di gendong Sekertaris Nick.


"Ya, madam sakit. Damir tidak boleh ke tempat ini, berbahaya." Ars seperti memberi kode, dan Nick keluar dari dapur. Terlihat sekali Ars sangat mencemaskan putranya.


"Jika tidak bisa, bilang! kamu pura-pura melukai dirimu untuk melukai putra saya! Ini trik mu?" Dia menarik tangan saya dan mengeringkan dengan tisu.

__ADS_1


"Aw uh-" rasanya tanganku begitu panas terbakar. Apa sih, omong kosong macam apa itu. Siapa yang berniat mencelakai Damir. "Maaf, saya kurang hati-hati."


"Jika itu sampai mengenai Damir ... !" Ars menggeram dan tangannya mengepal, membuang tisu di meja dapur, kenapa si dia yang kebakaran jenggot. "Tapi saya akan menjaga Damir, seperti menjaga Vino."


Saya melangkah kembali ke mesin kopi dan berjongkok akan mengelap lantai dengan tisu, mengambil pecahan cangkir.


"Biarkan itu, apa fungsinya pelayan?" kata-katanya tajam berhasil membuat saya berdiri menahan darah yang lama-lama mendidih.Tangan saya mengambil gelas baru.


"Kau mau apa? hentikan itu."


"Tenanglah, Tuan Ars, saya bisa membuatnya dalam satu menit."


Cuuuur....


Meraih gelas dari tanganku yang bahkan belum terisi penuh kopi, Ars melangkah lebih dulu membawa kpoinya. "Datang!"


Sabar-sabar, saya menggelengkan kepala mengikuti pria berjubah itu. Tangangku mengepal kuat, ingin menonjoknya. Ya, tapi memang saya salah, bisa saja tadi mengenai Damir.


Di ruangan semacam ruang santai dengan sofa mewah dengan atap kaca, cahaya ruangan menjadi terang, tampaknya ini juga ruangan tertinggi, dan bagian sis lain juga kaca. View di sini sangat luas. Ini benar-benar di tengah laut tidak tampak apapun selain lautan dan langit.


"Duduk," Ars seperti terus mengumpat, bibirnya terus terkatub, dia seperti ingin memberondongiku dengan seribu kalimat kasar.


Sebuah krim dioleskan Ars tipis-tipis pada tangannku.


"Anda lihat, Damir. Madam tidak bisa berenang, madam terluka." Ars berkata dengan lembut sambil mengulas mata penuh kelembutan pada Damir yang memegangi paha papanya.


"Madam terluka karena Damir mengajak berenang?" Bibir Damir mengerucut.


Bibirku berkedut, tak percaya dengan apa di depan mataku. Sorang anak kecil yang begitu polos, menyalahkan dirinya sendiri karena keteledoranku, saya merasa bersalah.


"Damir, Madam minta maaf. Ini bukan karena Damir mengajak madam berenang.Tetapi karena madam kurang hati-hati. Madam baik-baik, bahkan madam tidak merasa sakit. Sebentar lagi ini sembuh." Saya berkata dengan suara selembut mungkin sambil mengusap bahu kanan Damir, menghibur wajah yang tampak sedih itu, aku sangat tidak tega, wanita mana yang tega melihat wajah lucu itu muram.


"Damir tidak mau Madam sedih, nanti nggak ada yang nemenin Damir main." Ah suara Damir lucunya, ya Tuhan. Saya sontak melepas tangan dari Ars dan berlutut membuka tangan dan Damir langsung menghambur. Dalam pelukan, saya mengelus lembut pada punggungnya. Oh putraku, Vino, Ibu juga ingin mememeluk Mu. Semoga Tuhan menyampaikan pelukan ku lewat Damir.


"Damir sayang Madam," katanya serak. Mataku melebar dan dua sudut bibirku terangkat.


"Madam lebih sayang, Damir."


"Damir." Suara Ars memisahkan kami. Aku tidak mau menatap Ars.


"Mandi, dan kita akan naik kapal selam. Apa anda mau melihat paus?" Ars bertanya sambil menyingkirkan kotak p3k saat Damir melendot diantara paha papanya.


"Damir mau pergi dengan madam, papa. Boleh ya!" Damir mengangguk-ngangguk dan matanya berbinar-binar dengan penuh harap. Lagi-lagi anak kecil itu membawaku.


"Baiklah, cepat, Damir. Nanny menunggu mu." Ars melepaskan kancing-kancing kemeja Damir.


Memegangi kening, kepalaku sakit, oh kancing. kancing.


"Ambil sesuatu seperti kancing hitam di belakang westaffel, letakan itu di tempat tersembunyi di ruang kerja Ars, dimana kantor itu terdapat sebuah lukisan besar Ular berwarna coklat dengan background hijau.”


Mataku melebar, apa benar itu Richie? jika aku menemukan kancing itu, benar itu Richie. Aku harus bergegas memeriksa sebelum petugas kebersihan mendapati itu.


"Tuan Ars," panggilku saat Ars melepas kemeja Damir.


"Hm."

__ADS_1


"Bolehkah saya kembali ke kamar?" saya memperhatikan wajah tidak ramah itu, lelaki itu memberi kode dan pelayan perempuan membawa Damir.


"Perlu sesuatu?"


Nah loh, saya beralasan apa. Jika aku bilang kamar mandi, jelas disini ada.


"Tampaknya anda kesulitan mandi sendiri? butuh bantuan?" Ars menatap tajam pada punggung tangan kananku.


"Saya tidak akan mandi."


"Jorok. Bagaimana jika nanti putraku terkena bakteri karenamu. Apa mau saya mengompres anda?"


Saya tertawa dalam hati, orang ini benar-benar menguji kesabaranku.


"Jadi, apakah anda semalam berkeliaran? apa anda menggoda Thyoma?"


Tangan kiriku meremas gaun, bila lebih lama aku tidak pergi pasti aku menonjok Ars. Bagaimana ini, cara aku kembali. Lala berpikirlah.


"Dimana cincin Anda?" Ars bertanya, loh bahkan aku melupakan cincinku. Ya Tuhan dimana, aku tidak pernah melepasnya.


"Di kamar, saya harus mengambilnya, Tuan Ars," ku harap itu di kamar, sekaligus alasan tepat untuk kembali, saya menggigit bibir, hati mulai gelisah, dimana cincinnya.


Eh Ars bahkan memperhatikan cincinku.


"Anda tahu berapa harga cincin itu? tampaknya pacar anda sangat kaya ya." Ars tertawa dengan nada mencibir.


"Berapa memang?" tanyaku jadi penasaran.


"Nyaris empat ratus milyard." Ars mengangkat satu sudut bibirnya ke atas. Aku menelan liurku yang mengental.


Empat ratus milyar cincin apa, saya menggelengkan kepala seperti di lempar ke luar kapal. Dan bagaimana bila cincin itu hilang, jangan hilang. Jangan katakan itu! pasti di kamar. Jantungku berdebar, mataku membayang ke semua sudut kamarku.


"Dan itu hanya batu rubby langkanya." Ars tertawa, terlihat senang oleh keterkejutanku.


"Jadi, apa yang menarik darimu? sampai pacarmu memberi ruby langka!?" Nada Ars lebih seperti sangat mengejek. hohoho. Jadi apa yang spesial. Benar juga omongan Ars, memang apa yang spesial huh, menyebalkan tapi ada benarnya.


Ars tertawa ...


"Sepuluh menit." Katanya,


"Apa!? pindah ke kamar sebelah saja bisa dua menit jika saya loncat, tuan Ars?! tidak mungkin sepuluh menit saya."


"Anda bilang cincinnya di kamar kan? anda tahu tempatnya. Jadi masalahnya dimana?"


Benar, jika itu aku tahu tempatnya. Sedangkan aku belum tahu dimana cincinku dan sepertinya aku lupa. Jika aku tidak membawa kemari, Ars tidak akan percaya, dia orang yang sangat teliti ternyata.


Jika aku bilang lupa, aku takut semua orang akan mencari, dan 'kancing penyadap' itu jadi ketahuan. Walau sepertinya tidak ada cctv di kamar itu. Oh jika semalam benar Richie mungkin cctv akan merekam kedatangan Richie.


Memusingkan!


"Tidak jadi?!" Ars bertanya dengan dingin, dan aku semakin tidak bisa menjawab. Situasiku sulit. Bukankah aku harus memeriksa 'kancing' dulu terpenting.


Aku menggigit bibir kuat, dadaku mulai turun naik.


"Anda menyembunyikan sesuatu?!" Semakin lama pertanyaan Ars semakin banyak mengintimidasiku.

__ADS_1


"Tidak," Aku mendongak dengan tatapan penuh harap, pada netra hijau itu, "tidak ada, saya hanya merindukan Vino."


Ars meraih daguku dengan jari-jarinya menarik lebih mendekat ke arahnya. Saya sangat benci tatapannya yang setajam pecahan botol!


__ADS_2