Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 139 : GUANACO


__ADS_3

...🇬🇧🇬🇧...


"Bedebah! lawan saya!" Kevin menendang-nendang Besi di depannya. Dia terkurung dalam ruang kotak 2m x 1meter, bahkan tinggi ruangan itu hanya sekitar 1,5 meter.


Hanya tersedia satu kran dan satu lubang pembuangan, untuk buang air besar.


Ruangan lembab, pengap, minim oksigen dan mengandalkan cahaya dari luar sebesar sepatu.


"Percuma anda berteriak. Tenaga anda akan cepat habis, Tuan." Seorang lelaki mendorong sepotong roti dan sebotol air lewat celah kecil di bagian bawah pintu.


"Bantu saya keluar, saya akan akan memberikan apapun padamu," kata Kevin mendekat ke pintu.


"Maaf Tuan, kesetiaan saya pada Tuan Richie tidak akan bisa diganti dengan apapun. Saya kecewa kepada Anda. Tuan Richie yang selalu mengutamakan Anda, justru inilah balasan Anda padanya. Percayalah, jika Tuan Richie tidak selamat, kami semua pasti akan memburu keluargamu."


"Hey! tunggu! jangan tinggalkan saya! saya belum selesai!"teriak Kevin saat suara langkah sepatu itu makin menjauh.


Besi di depannya itu ditinju berkali-kali. "Lalu sampai kapan saya di ruangan ini!"


"Bagaimana saya akan menemui putraku! Hah!" Kevin melempar roti ke dinding. Saking kerasnya sampai roti itu memantul kembali mengenai bahu. Pikirannya begitu gelap.


Billy kau tidak boleh memaksa masuk ke tempat ini. Jangan sampai, Markas ini bukanlah lawan. Kau bisa mati. Batin Kevin yang jadi memikirkan anak buahnya itu.


...🇬🇧🇬🇧...


Sang Asisten Richie dan Kepala pelayan tengah mondar mandir di depan ruang ICU di markas.


Pak Pram memandang Asisten Richie, "bagaimana ini Damar, Keadaan Tuan Richie justru semakin mengkhawatirkan."


Damar terus berpandangan dengan Pak Pram, "pasti Tuan bisa melewati masa kritisnya, kita berharap pada keajaiban."


"Kita harus membawa Nyonya Saint, cepat kau bawa dia kemari."


"Tidak Pak Pram! bukankah wanita itu penyebab Tuan jadi seperti ini!"


"Lihat! kita sudah menunggu bukan? dan Tuan semakin kritis! saya yang sudah ikut lama dengan Tuan, dan saya lebih tahu darimu. Jadi cepat bawa wanita itu kemari!"


"Hah! Baiklah beri saya waktu dua hari."


"Semakin cepat semakin baik. Sebelum Tuan benar-benar pergi meninggalkan kita. Kau dengar kan, kemungkinan hanya 30 persen Tuan akan bangun. Huh!"


Pak Pram berjalan dengan tegap meninggalkan Damar yang masih kesulitan untuk mengambil keputusan.


...🇨🇱🇨🇱...


Sore itu Johan duduk di hamparan rumput mengamati tiga Guanaco yang sedang mencari makan. Udara di pegunungan terasa dingin, tapi suara burung-burung begitu menyenangkan.



Sudah tiga hari terlewati bersama Lala, entah apa jalan pikiran wanita itu yang terlihat sangat putus asa pada hubungannya dengan Kevin.


Apakah Kevin menemui Bella? tidak mungkin, tidak ada laporan di perbatasan jika Kevin ke markas James. Tapi kemana Kevin? apa dia ada masalah? Batin Johan.


Bahu Johan di tepuk dari arah belakang. Johan tidak menoleh, masih sibuk dengan pikirannya.


"Johan, kau melamun?" tanya Lala, duduk di batang kayu besar, sebelah Johan.


"Kevin belum mengabari mu?"

__ADS_1


"Belum Jo, apa aku pulang lebih awal saja ya?"


Johan menengok kanan menatap Lala yang tengah memandangi foto-foto di kameranya dengan tatapan kosong.


"Apa dia bertemu Bella, Jo?"


"Tidak. Sangat tidak mungkin."


"Bagaimana kamu tahu? apa kamu tahu tempat Bella? oh, atau kamu memiliki kontaknya Bella? bolehkah aku minta..."


"Untuk apa kau memintanya? kamu bodoh ya, jalan pikiranmu itu apa sih?"


Lala menunduk melihat foto-foto, "aku mencintai Kevi, Jo. Dia perhatian, dia penyayang pada anak-anak. Aku bahkan tidak tahu apa kekurangannya. Diaa selalu membuatku nyaman, bahkan aku tidak kuasa melawannya saat dia membuatku kecewa, aku takut kehilangan dia," kata Lala dengan sungguh-sungguh meskipun dihati rasanya seperti terdapat lubang besar.


"Terserah kamu lah."


"Beri aku wine."


"Kamu gila, setelah mendaki tiga hari kemarin, aku baru tahu kamu hamil. Dan sekarang mau minum wine? Hey! kamu tidak memikirkan bayimu apa?" Johan benar-benar merasa kesal dengan Lala, setiap di dekat wanita itu, hawanya selalu emosi.


"Beri aku wine, sedikit saja."


"Ya sudah aku akan memberimu nanti malam. Kamu sudah makan belum?"


Lala menggeleng, "belum lapar."


"Seharusnya kamu menjaga kehamilan mu dong," ujar Johan. Dia menaikan -penutup kepala- dari jaket woll Lala. Wanita itu sibuk mengambil foto Guanaco di depannya.


"Pendakian kemarin cukup berat, kamu hebat bisa kuat melewati trek yang cukup berat, La," kata Johan sambil tersenyum, dia tidak menyangka Lala kuat jalan kaki.


"Pemandangan yang menakjubkan," kata Lala sambil tersenyum.


"Melewati sungai, hutan asli, puncak gunung, dan lembah sempit, rasanya luar biasa." Lala semakin tersenyum setelah lama tidak melihat alam, mungkin ini pertama kali dalam hidupnya mendaki gunung dan bebatuan curam. "Itu sangat mengasikan Jo, pantas Amber dan Isla sangat suka berpetualang alam, ya kan?"


"Iya, mereka pasti antusias dengan alam. Aku mau lihat foto-foto yang kau jepret, coba mana?"


Lala memberikan kamera yang kini dipegang Johan, wanita itu memegang bahu Johan. "Itu induk serigala dengan anaknya, lucu ya!"



"Lihatlah mereka, kok jadi terlihat seperti kamu pada Amber, over proktektif!" seru Johan setelah mengamati foto itu. Dia tertawa dan Lala mencubit lengan berotot Johan.


"Sakit!!! kalau kau berani mencubit ku lagi, sumpah aku akan mencium bibir mu dan tidak akan melepasnya semalaman, paham!?" kesal Johan mengelus bahunya yang kini merah.


"...."


Johan melirik Lala yang diam saja. "Apa ini kerbau?" tanya Johan melihat Lala yang begitu dekat dengannya.



"Itu Rusa. Sepertinya, itu kaki bekas digigit, kasian. Ah ini foto peta yang kemarin kita lewati ya, 3 hari - sejauh 80 km, jauh juga. Pantas kaki aku nyeri, pegal dan panas, Jo."



Johan tertawa, dia mengusap pipi Lala, "mau aku pijit?" tawar Johan, akan berjongkok dan memegang betis Lala.


"No! sini liat foto-fotoku, apa aku ada bakat jadi fotografer?"

__ADS_1


Johan duduk menghadap Lala, "Bukankah kamu modelnya?" tanya Johan makin mendekat ke wajah Lala, disambut dengan dorongan tangan Lala.


"Ini burung kondor," kata Johan tersenyum pada Lala.



"Sayang ya, kita nggak liat dia terbang! huh!"


"Wah burung Elang??"



"Fotonya aneh nggak, Jo?"


"Bagus sih."


"Kok pake sih? Eh coba lihat ini! Si Goanaco bertahan hidup, akhirnya nasibnya gimana ya?" tanya Lala.



"Pasti sudah jadi mangsa di Puma. Yang kuat yang bertahan, maka dari itu, kamu harus kuat kan?" tegas Johan.


"Iya."


"Kamu suka Goanaco kah? kenapa fotonya Goanaco semua?" tanya Johan membulirkan foto demi foto.




"Ah ini hutan kemarin sebelum hujan, ya?" tanya Johan.



"Iya, terimakasih Jo, kemarin sudah nolongin Ivy yang nyaris jatuh. Bila tidak ada kamu, Ivy jatuh ke lembah."


"Iya. Aku juga sayang Ivy."


Johan terdiam menatap foto 3 menara, Torres Del Paine. Saat itu di danau ini lagi-lagi, Lala menangis dalam pelukannya.



"Lala, Kamu ingat janjimu di depan menara ini? kau bertekad akan melepas Kevin."


Hati Lala sakit, panas dan berdenyut, dia mengangguk menatap nanar foto tiga menara ini. Dia tidak tahu apa reaksi anak-anaknya jika tahu orang tua mereka akan bercerai.



Lala menyembunyikan wajah di kedua tangannya, ini sangat berat. Dua puluh satu tahun dilewatinya bersama Kevin. Lala merasa terus dibohongi Kevin. Sampai saat terakhir kalipun, Kevin terlihat seperti begitu memikirkan Bella.


Sepertinya tidak pernah terbesit di pikiranmu bagaimana perasaan sakitku, Kevin? Bagaimana bisa kamu begitu banyak menyimpan foto Bella! mana janjimu yang hanya ada aku dalam hidupmu! kamu tidak bisa menepatinya. Kamu bahkan menjadikan foto dia wellpaper!! dan kamu akan menemuinya? dan kamu tidak menolak perasaanmu terhadap Bella? seharusnya di depanku, kamu pura-pura tidak memiliki perasaan pada Bella dong! Sepertinya aku tidak ada lagi di hati kamu!! Jadi, bolehkah aku meminta cerai? Batin Lala.


Berpisahlah! Aku akan mengobati rasa sakitmu, Lala. Biarlah, Kevin hidup bersama Bella. Dan kita semua sama-sama bahagia, iya kan?Batin Johan sembari mengelus punggung Lala, dia benar-benar tidak kuat melihat Lala lebih lama terpuruk.


bersambung ....


...***...

__ADS_1


Selamat pagi, Othor ada pengumunan novel bagus ini, jangan lupa mampir ya...



__ADS_2